Sunday, January 15, 2006

Carpenters, Umur Madonna dan Mengapa Waktu Cepat Sekali Berlalu : Refleksi Tahun Baru Seorang Blogger dan Epistoholik

Oleh : Bambang Haryanto
Email : epsia@plasa.com


I know I’ve wasted too much time
I know I ask perfection of a quite imperfect world
And fool enough to think
that’s what I’ll find

(Carpenters, “I Need To Be In Love”)


PUTRI SOLO SI MACAN LAPAR. Kalau Anda mendengar ucapan Puteri Solo, sosok siapa yang segera tergambar di benak Anda ? Gusti Nurul ? Tien Soeharto ? Mooryati Sudibjo ? Poppy Dharsono ? Krisdinah Purnamaningsih ? (“Pasti !”, kata saya). Indri Hapsari ? Dyah Permatasari ? Iga Mawarni ? Tya AFI 2 ?

Terserah Anda.

Dalam kenangan bersama masyarakat Solo terlanjur dikenal luas lagu keroncong berjudul Putri Solo, yang merupakan ikon yang tidak tergerus jaman untuk menggambarkan sosok putri Solo. Salah satu baris liriknya berbunyi bahwa gaya berjalan putri Solo koyo macan luwe. Ibarat jalan seekor harimau yang sedang lapar. Pelan-pelan dan gemulai.

Gambaran ini sepertinya mencocoki hasil sebuah riset internasional yang mengungkap gaya hidup alon-alon, pelan-pelan, masyarakat Solo. Penelitinya adalah Robert Levine, profesor psikologi dari California State of University di Fresno dan kawan-kawan. Hasilnya ia tulis bersama Ellen Wolff, penulis bebas asal Los Angeles.

Lokasi riset mereka antara lain di Kantor Pos Solo, tempat saya dulu di tahun 1970-an untuk mencairkan wesel pembayaran honor menulis. Terkisah, ketika periset itu antri membeli perangko, pegawai posnya malah tertarik mengobrolkan mengenai sanak-saudaranya yang tinggal di Amerika Serikat.

Misalnya bertanya, apakah mereka mau bertemu dengan omnya yang tinggal di Cincinnati ? Manakah yang lebih baik, California atau Amerika Serikat ?

Lima pengantri di belakang periset bule itu nampak tidak protes atau mengeluh. Mereka justru ikut menguping pembicaraan yang terjadi. Pegawai kantorpos Solo itu tentu tidak tahu bila bule tersebut membawa stopwatch untuk mengukur seberapa lama waktu yang dibutuhkan pegawai pos untuk melayani pembelian sebuah perangko.

Mereka sebelumnya berkunjung ke kantorpos ini hari Jumat sore. Tentu saja, kantor sudah tutup. Aula kantor sudah disulap menjadi lapangan volley.

Artikel Levine dan Wolff yang dimuat di majalah Psychology Today, Maret 1985, dilengkapi ilustrasi foto pertandingan volley di aula kantorpos Solo tersebut. Tetapi yang mampu mengundang senyum getir, di pojok foto itu nampak sesosok kartun binatang kelinci, berpakaian model manusia.


Dalam fabel barat, kelinci adalah lambang ketergesaan. Di situ, di kota Solo itu, nampak sang kelinci lagi tertidur dengan pulasnya. Mendengkur. Sementara di halaman lain digambarkan dirinya terpontang-panting di jalanan Tokyo dan New York, walau nampak santai, enggar-enggar, ketika berjalan menyusuri jalanan kota Florence di Italia.


BINGUNG DI BRASIL. Gambaran beragam ulah kelinci tadi merupakan simbol pemaknaan atas waktu bagi tiap-tiap bangsa. Kajian yang terkait waktu itu memunculkan pertanyaan menarik.

Mengapa Brasil di Olimpiade Los Angeles 1984 hanya mampu meraih satu medali emas dari atletnya Isidro del Prado, sementara Amerika Serikat berpesta dengan memborong 30 medali emas dari ajang yang sama, yaitu kolam renang ? Padahal keduanya adalah sama-sama negara besar di benua Amerika. Untuk mencari jawab atas pertanyaan ini, diskusi memang dapat melebar ke banyak segi.

Robert Levine mengajukan tesis menggelitik menyangkut apa yang disebut sebagai waktu sosial, denyut jantung masyarakat dalam memaknai waktu. Secara matematis memang manusia hidup dalam hitungan waktu yang sama, 24 jam sehari, tetapi tidak semua budaya di dunia memaknainya secara sama. Levine yang orang Amerika, merasakan benturan budaya akibat beda pemaknaan waktu ketika mengajar di sebuah universitas di Brasil.


Hari pertama Levine di Brasil dijadwalkan mengajar jam 10. Ia datang jam 9.05, lalu berkeliling untuk mengenal kampus itu. Ia fikir dirinya baru berkeliling sekitar setengah jam, tetapi langsung panik ketika melihat jam di salah satu gedung kampus sudah menunjuk waktu 10.20.
Bergegas masuk ruang, ternyata tak ada satu pun mahasiswa. Ia tanya jam pada mahasiswa yang lewat, dijawab 9.55. Lainnya menjawab, tepat 9.43. Sebuah jam di gedung itu menunjuk waktu 3.15. Ia berpendapat, jam-jam penunjuk waktu yang ada tidak akurat, tetapi tidak ada orang yang hirau.

Ketika jam kuliah dimulai, banyak mahasiswanya yang telat masuk ruang. Beberapa baru masuk jam 10.30 dan mendekati jam 11. Semuanya nampak merasa tidak bersalah, tersenyum dan mengucap halo, dan mahasiswa lainnya pun tampak tak terganggu. Dalam risetnya, mahasiswa Brasil menyebut seseorang datang terlambat bila ia muncul rata-rata 33 menit melewati janji. Sementara mahasiswa AS menyebut 19 menit.

Setelah beberapa lama tinggal di Brasil, ia baru terbuka matanya bahwa budaya yang mempengaruhi pemaknaan waktu sosial itu. Terungkap pendapat di kalangan mahasiswa Brasil bahwa seseorang yang secara konsisten terlambat itu lebih sukses dibanding mereka yang konsisten datang lebih awal. Mereka menyetujui pendapat umum bahwa seseorang yang berstatus tinggi harus datang terlambat. Ketidaktepatan waktu merupakan simbol sukses. Melihat fenomena Brasil ini kita sebagai bangsa Indonesia seperti memperoleh cermin !


INDONESIA DI POSISI BUNCIT ! Lebih menarik, kita dapat melihat lebih detil profil tertinggalnya bangsa Indonesia ketika Levine bersama kolega sekampusnya, Kathy Bartlett, melakukan riset untuk memperkaya pemahaman tentang konsep waktu sosial pelbagai bangsa.
Mereka melakukan pengukuran waktu terhadap irama hidup di kota besar dan kota menengah di pelbagai belahan dunia.

Di antaranya Amerika Serikat (New York dan Rochester), Inggris (London dan Bristol), Jepang (Tokyo dan Sendai), Taiwan (Taipei dan Tainan), Italia (Roma dan Florence) dan Indonesia (Jakarta dan Solo).

Riset yang mereka lakukan mengkaji tiga indikasi dasar : akurasi jam pada kantor bank, kecepatan pejalan kaki dan kecepatan pegawai kantorpos melayani pembelian perangko.

Akurasi waktu terbaik diraih Jepang. Alat penunjuk waktu di setiap 15 kantor bank yang dicek dengan waktu kantor telepon setempat, hanya berselisih kurang atau lebih setengah menit. Di Indonesia, yang menempati peringkat paling buncit dari keenam negara itu, selisih beda waktunya lebih dari tiga menit. Urutannya : Jepang, Amerika Serikat, Taiwan, Inggris, Itali, dan Indonesia.

Kecepatan seseorang sendirian berjalan kaki menempuh jarak 100 kaki, kembali yang tercepat diraih oleh orang Jepang. Rata-rata waktu tempuhnya hanya 20.7 detik. Orang Inggris menempuhnya 21,6 detik, Amerika 22,5 detik, dan orang Indonesia berstatus paling alon-alon, lamban, dengan waktu tempuh 27,2 detik. Urutannya : Jepang, Inggris, Amerika Serikat, Italia, Taiwan dan Indonesia.


Hasil riset Robert Levine ketika mengukur efisiensi petugas pos melayani pembelian perangko, yang ilustrasinya seperti dikisahkan di depan, ternyata prestasi pegawai pos Indonesia berada di peringkat 5. Sebab yang paling buncit diduduki pegawai pos Italia. Waktu layanan di Jepang 25 detik dan Italia memakan waktu 47 detik. Urutannya : Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Taiwan, Indonesia, dan terakhir Italia.


KORUPSI BESAR-BESARAN DI INDONESIA. Gambaran profil waktu sosial bangsa Indonesia dalam riset Levine di atas, sedikit banyak, memberikan gambaran mengenai posisi bangsa dan negara ini dalam berpacu dengan bangsa lain di kancah internasional.

Bahasan ini pernah saya tulis di harian Kompas edisi Jawa Tengah (16/9/2004) dengan mengajukan ilustrasi betapa di bidang olahraga misalnya, seperti Brasil, atlet perenang atau lari Indonesia bahkan belum pernah tercatat punya prestasi puncak di kancah seakbar Olimpiade.

Sementara di bidang kehidupan sosial, guru besar emeritus IPB, Sjamsoe’oed Sadjad (Kompas, 17/7/2004), menandai bahwa budaya korupsi waktu kronis melanda para pegawai negeri sipil kita.

Ia pun berhitung : bila 3,5 juta PNS melakukan korupsi waktu hanya satu jam setiap hari, maka 3,5 juta jam sehari rakyat kehilangan kesempatan untuk dilayani. Hitungannya, untuk pegawai negeri bergaji Rp. 8.400.000/tahun, maka akibat korupsi waktu satu jam itu negara dirugikan sebesar Rp. 16 miliar tiap hari.

Belum lagi korupsi satu jam di sore hari. Juga belum lagi kalau gajinya lebih besar dari Rp.700.000/bulan. Bayangkan bila gajinya Rp. 150 juta seperti gaji Dirut Pertamina. Hitung saja, bila datang ke kantor jam 10.00. Seperti di Brasil, di Indonesia juga berlaku tradisi bahwa semakin tinggi pangkatnya maka pejabat Indonesia boleh dan berhak selalu datang terlambat. Belum para dosen di perguruan tinggi yang datang ke kampus hanya kalau memberi kuliah.

Anehnya, kata Prof. Sadjad, rakyat tidak merasa dirugikan. Rakyat tidak sadar uangnya “digerogoti”. Apa karena negeri ini gemah ripah loh jinawi, subur dan makmur, sehingga kehilangan Rp. 16 miliar per hari masih bisa tertawa-tawa ?


GADIS CANTIK DAN KOMPOR PANAS. Pertanyaan di atas tentu saja tidak membuat saya tertawa-tawa. Mikir-mikir mengenai diri sendiri, terlebih setiap kali mendekati akhir tahun, perasaan yang muncul dan mengusik adalah rasa sedih. Menyesali betapa cepatnya waktu terbang. Hilang. Lenyap. Dan pasti tidak pula kembali lagi.

Mengapa waktu begitu cepat berlalu ? Tahun 2006 ini saya akan memasuki umur 53 tahun. Berstatus bujangan. Tidak punya pekerjaan tetap. Kalau PNS, dua tahun lagi akan pensiun. Mengidap blogpistoholik, hipokondriak dan kesepian. Memendam banyak harapan dan bercocok tanam beragam impian.


Why time flies, so soon ?
Why time flies, so soon ?


Mengapa waktu begitu cepat berlalu ? Itulah juga pertanyaan Madonna dalam lagu berirama dansa, “Hung Up” dari album terbarunya, Confessions on a Dance Floor (2005).


Josh Tyrangiel menulis resensinya di majalah Time yang dikutip situs PopWatch, berkata : “Dalam musik dansa, kata yang hadir tampil diulang-ulang, dibengkok-bengkokan, disembunyikan atau ditonjolkan. Bagaimana suaranya muncul dalam momen tertentu jauh lebih penting dibanding makna yang diusungnya, dan Madonna paling piawai dalam kiprah yang satu ini”

Dasar Madonna, kontroversi selalu membuntutinya.

Lagu yang digarap bersama dua mantan pentolan ABBA (Benny Andersson dan Björn Ulvaeus), juga Stuart Price itu, mendapat komentar :

“Madonna merupakan penampil yang baik, tetapi bukan penyanyi yang baik. Suaranya terlalu lembek, ia tak mampu mencapai nada-nada tinggi dan juga tak mampu bernyanyi pada nada rendah. Pernah dengar peserta kontes American Idol menyanyikan lagunya Madonna ? Tak pernah, karena menyanyikan lagunya Madonna sulit sebagai bukti dirinya memiliki keterampilan menyanyi. Karena memang tidak memerlukan suara bagus untuk menyanyikan lagu-lagu Madonna”

Komentar lain lebih ketus : “Kasihan Madonna, masa kejayaan dia sudah lewat dan segala upayanya untuk tampil agar kelihatan awet muda pasti tidak dan tidak akan pernah berhasil”.


Pendukung Madonna sewot jadinya. Ganti unjuk bicara. “Madonna adalah sang ratu, dan semua pembenci yang memasalahkan umurnya hanya justru menunjukkan dirinya yang sebenarnya lebih menyedihkan. Tak peduli umur mereka, Madonna tampil lebih baik dibanding umur para pembencinya itu, pada umur berapa pun !”

“Saya tidak faham mengapa orang menggunjingkan umur Madonna. Ia baru 47, bukan 80 tahun. Mengapa orang memiliki kerangka berpikir bahwa bila Anda sudah melewati usia 40... maka Anda harus segera MATI ?

Lihat saja faktanya. Madonna di umur 47 tahun nampak lebih kece dibanding gadis Amerika usia 19 tahun pada umumnya (yang dijejali makanan McDonalds)... Madonna nampak luar biasa dan kiranya sanggup menjalani latihan marathon bertahun-tahun dalam menari dan fitness yang ketat.

Komentar mengenai umur adalah komentar yang bodoh....Cher hampir berusia 60 tahun, masih bugar dan aktif. Sementara Tina Turner melakukan hal yang sama ketika hampir menginjak umur 70 tahun !”


Why time flies, so soon ?
Why time flies, so soon ?


Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu, Madonna. Kepada St. Agustine pun ketika ditanyakan kepadanya apa definisi waktu, ia menjawab : “Bila tidak ada orang yang bertanya kepadaku, aku tahu ; tetapi bila diminta untuk menjelaskan kepada yang menanyakannya, saya tidak tahu”

Fisikawan Isaac Newton sampai Stephen Hawking juga telah mengupas masalah waktu. Tetapi waktu bagi mereka diukur dengan ayunan pendulum, atom-atom yang bervibrasi, dan bukan pengalaman waktu secara psikologis yang tidak terpatok dengan ukuran detik jam atau kalender. Muncul nama Albert Einstein (1879–1955), maha fisikawan kelahiran Ulm, Jerman.


Agak lucu bagi saya, ternyata penemu Teori Relativitas itu punya fans berat di kota kecil saya, Wonogiri. Penemuan itu pula yang kembali mengusik saya untuk menulis esai ini. Gara-garanya saya menemui sebuah mobil sedan hitam, nomor polisi Wonogiri, di mana pada kap depannya tergambar foto Einstein dengan rambut awut-awutan yang seksi itu.


Di dekatnya tertulis kalimat : ”When you sit with a pretty girl for an hour it seems like a minute, but when you are on a hot stove, a minute seems like an hour. That’s relativity.”
Ketika Anda duduk berduaan dengan gadis cantik, waktu sejam akan terasa semenit, tetapi bila Anda duduk di atas kompor panas maka semenit akan terasa sejam lamanya. Itulah relativitas.

Einstein rupanya sadar adanya perbedaan antara waktu fisik dengan waktu psikologis di balik ucapannya yang terkenal itu. Berandai-andai saja : apa yang akan terjadi dan rasakan bila kita berdua bersama gadis cantik, tetapi bersama-sama duduk di atas kompor yang membara ?


TERGANTUNG PERSPEKTIF ! Mungkin Einstein bakal menemukan teori yang lain lagi. Tetapi, jujur saja, saya bukan orang yang pandai mengatur waktu. Bahkan cenderung menghambur-hamburkannya. Ketika berkuliah di Solo, saya mendapat julukan sebagai mahasiswa komper. Terbelakang, laggard, pencorot, karena lulusnya paling belakangan.


Saya tidak terbiasa punya atau memakai jam tangan. Sekitar tahun 1997 pernah oleh teman sekos di Jakarta, Yoyok Subagyo, aku diberi jam tangan yang ada logo Citibank, kantornya bekerja. Saya juga tidak menyukai planner, tetapi menyukai diary yang polos saja. Sebagai pencinta buku, saya pun tidak begitu suka membaca-baca buku bertopik manajemen waktu. Pernah memiliki fotokopinya, tetapi tetap saja saya malas membacanya.


Tetapi di Perpustakaan LIA Jakarta, 14 Mei 1992, saya menemukan artikel menarik tentang waktu dari majalah McCall’s (10/1991). Judulnya, “Why time flies and how to slow down”, ditulis oleh Bruce Schechter, penulis sains bergelar Ph.D Fisika yang tinggal di New York. Setiap pergantian tahun saya pengin banget menceritakan tulisan tersebut, juga artikel Robert Levine dan Ellen Wolff di atas.


Tulis Bruce Schechter, waktu psikologis itu dapat melesat terbang atau merangkak lamban, ternyata tergantung bagaimana kita mengisinya. Semenit menunggu lift terasa lebih lama dari sepuluh menit saat coffee break. Tetapi kalangan psikolog mencacat bahwa satuan waktu yang lebih besar, bulan atau tahun, terasa melesat lebih cepat ketika umur seseorang bertambah.

James Walker, psikolog di Winnipeg, Manitoba, yang mempelajari masalah akselerasi waktu dan dikutip Schechter berkata : “Saat ini umur saya pertengahan 40-an, dan waktu seminggu kini bagi saya tak ada apa-apanya dibanding di tahun 70-an”. Lebih menarik ucapan Robert Southey, penyair dari Inggris : “Dua puluh tahun pertama adalah masa separo terpanjang dalam hidup Anda...waktu itu terasa panjang untuk berlalu ; juga begitu awet ketika dikenang ; dan waktu tersebut mengambil ruang lebih banyak dalam kenangan kita dibanding tahun-tahun sesudahnya”


Ilmuwan menyebut hal ini sebagai fenomena “akselerasi waktu subyektif yang terkait dengan penuaan.” Salah satu teori pendukungnya berupa matematika sederhana : satu tahun bagi anak berumur 5 tahun adalah 20 persen dari hidupnya, dan bagi mereka berussia 50 tahun hanya 2 persen saja. Jadi, setahun itu lebih lama bagi anak-anak dibanding bagi orang dewasa.

Tentu, ada faktor lain yang merubah persepsi kita tentang waktu. Charles E. Joubert, psikolog Universitas North Alabama, yang juga mengkaji akselerasi waktu mencatat bahwa semakin waktu itu terstruktur, berisi skedul dan janji, semakin cepat pula waktu itu melintas.


Sebagai contoh : seharian di kantor itu tak ada apa-apanya dibanding seharian bersantai di pantai wisata. Oleh karena sebagian besar kita lebih sedikit menghabiskan waktu di pantai, tetapi lebih banyak di kantor seiring meningkatnya umur, maka peningkatan waktu yang terstruktur itu pantas dituding sebagai biang kerok mengapa waktu terasa semakin cepat terbang seiring bertambahnya umur kita.


Akselerasi atau bergegasnya waktu, mungkin juga diakibatkan oleh fenomena fisiologis. Di tahun 1932, istri Hudson Hoagland, seorang ahli ilmu faal, terserang flu. Ketika suhu tubuhnya mencapai 104 derajat Fahrenheit, Hoagland segera bergegas menuju apotik untuk membeli obat. Perjalanannya hanya selama 20 menit, tetapi istrinya justru marah-marah, mengatakan lebih lama. Kalau suami lain pasti masalah ini mampu memicu saling tarik urat, Hoagland justru menaruh perhatian secara serius terhadap keluhan istrinya.

Hoagland pernah membaca bukunya psikolog Perancis, Henri Pieron, bahwa kecepatan proses psikologis seseorang itu dipengaruhi oleh suhu, demikian pula persepsinya tentang waktu. Karena semakin meningginya suhu akan pula meningkatkan reaksi kimia lebih cepat, hingga Pieron menyimpulkan bahwa waktu pun akan terasa lewat lebih cepat dibanding yang senyatanya.


Hoagland lalu melakukan tes untuk teori di atas, dengan meminta istrinya menghitung angka sampai 60 dengan keras-keras. Ia memperkirakan satu hitungan memakan waktu satu detik. Ia mengukurnya dengan stopwatch. Yang terjadi, istrinya menghitung paling cepat ketika demamnya meninggi, yang menjelaskan mengapa istrinya tersebut merasakan waktu senyatanya berjalan begitu lamban.

Apakah fenomena serupa juga berlaku bagi kita yang sehat ? Pada tahun 1950-an ahli biologi Semour Key menemukan bahwa otak menerima pasokan darah yang kurang dan mengonsumsi oksigen yang lebih sedikit ketika kita semakin menua. Ia pun menduga, fenomena ini akan memperlambat tingkat metabolisme otak. Apabila tingkat metabolisme berlangsung cepat membuat waktu nyata terasa lamban, sebagaimana hasil temuan Hoagland, maka tingkat metabolisme yang rendah membuat waktu terasa cepat berlalu.


MEMPERLAMBAT DETAK JARUM JAM. Orang-orang yang terdesak akselerasi waktu yang membingungkan itu mencoba mencari pelbagai solusi. Bahkan dengan cara yang tidak lajim. Dunbar, pilot pengebom dalam novel Catch-22 dari Joseph Heller, benar-benar mengharapkan waktu berjalan pelahan.

Walau ia berusia muda, ia memandang dirinya tua, karena ia dapat saja terbunuh dalam misi penerbangan yang akan datang. Untuk memperlambat waktu hidupnya yang melesat cepat, ia melakukan aktivitas yang membuat dirinya bosan : “Dunbar suka melakukan olahraga tembak sasaran terbang karena membenci menit-menit yang berlalu dan kemudian waktu pun berjalan dengan lamban pula”


Solusi Dunbar itu tentu tak lajim bagi kita orang-orang biasa. Metode yang kurang radikal pun bisa dicoba. Geoffrey Godbey, profesor kajian waktu luang dari Pennsylvania State University dan pengarang buku The Future of Leisure Services, menegaskan bahwa “hal itu bukan masalah yang dapat dipecahkan, karena kita bersifat fana. Tetapi bisa diminimalisasikan, dalam artian bahwa Anda dapat mengalahkan waktu dengan tidak menyadarinya”


Kondisi di mana kesadaran kita terhadap waktu begitu minimal seringkali disebut sebagai flow, mengalir, yang merupakan fokus baru dalam kajian psikologi. Godbey mendefinisikan flow sebagai “situasi di mana seseorang memfokuskan diri konsentrasinya dan secara total memberikan dirinya untuk terbenam dalam aktivitas, seringkali aktivitas yang terorganisasikan dan memberikan umpan balik, di mana keterampilan yang dibutuhkan dan tantangan yang terlibat sangat sepadan satu dengan lainnya”

Bukan sebuah kejutan apabila aktivitas tersebut adalah segala hal yang dilakukan banyak orang dengan sepenuh cinta, apakah itu aktivitas mendaki gunung, membaca novel misteri, menari, melukis atau membacakan cerita untuk anak-anak. Psikolog Universitas Chicago Mihaly Csikszentmihalyi mengkaji masalah flow tersebut dan menuangkannya dalam buku larisnya, Flow : The Psychology of Optimal Experience.

“Salah satu deskripsi umum mengenai pengalaman yang optimal” katanya, “ialah ketika waktu tidak lagi melesat seperti yang lajimnya”. Senyatanya memang demikian, walau sebagian besar waktu tersebut justru terasa melesat lebih cepat. Tetapi hal inti yang paling penting adalah bila seseorang mengalami pengalaman flow, mengalir, dirinya sedang merayakan pengalaman “terbebas dari tirani waktu”


WAKTU MENGGUMPAL IBARAT TASBIH. Ekspektasi dan keakraban juga membuat waktu terasa lebih cepat melesat. Hampir semua orang merasakan pengalaman ketika berkendara menuju tempat yang terasa asing. Dikepung dengan pemandangan yang belum dikenal, dengan tanpa bayangan kapan akan sampai di tujuan, perjalanan terasa begitu lama.


Tetapi ketika kembali, walau jarak kilometernya tetaplah sama, nampak waktu tempuh terasa lebih pendek rasanya. Hal-hal baru dalam perjalanan kemudian seakan-akan menjadi rutin. Apalagi kemudian rata-rata orang cenderung menjadi nyaman dengan rutinitas, ibarat bertabiat model babi hutan atau celeng yang ketika pergi atau pulang selalu melewati rute yang sama, bertahun-tahun, waktu pun akhirnya terasa seperti cepat berlalu.

Sehingga apabila kita setiap kali berinisiatif mengambil rute perjalanan yang berbeda, hal tersebut membuat kita seperti mampu memperlambat waktu.


Pengalaman pribadi : sebagai penduduk kota kecil Wonogiri, setiap kali melakukan olah raga jalan kaki pagi, saya mencoba menempuh rute yang beragam. Kadang jalan kaki ke arah timur kota, melewati jembatan, yang mengarah ke Ponorogo. Atau ke utara, menuju arah ke kota Solo dan kembalinya menyusuri hutan di tepian gunung. Atau ke selatan, menyusuri jalan yang dipayungi rimbunan bambu, di pinggir sungai Bengawan Solo. Rute ke selatan ini menuju Perancis. Maksud saya, Pracimantoro. Rute ke arah barat, tidak pernah. Tidak ada jalannya. Rute berat, karena mendaki gunung.


Variasi serupa juga saya lakukan, misalnya, ketika mendengarkan musik di pagi hari. Kadang ketemu Mozart sampai Linkin’ Park. Andrea Bocelli sampai Eros Ramazzoti. The Corrs, Spice Girls, atau Jon Bon Jovi. Demikian juga ketika membaca-baca buku.


Untuk buku, saya punya kebiasaan baca yang “jelek” : sekali memutuskan membaca, ada 5-6 buku baru yang tersedia. Membacanya pun berlompatan.

Suatu saat saya menikmati The Agenda : What Every Business Must Do To Dominate the Decade (2001) dari Michael Hammer, simultan dengan 5-Minute Therapies : Natural Remedies for Body, Mind & Spirit (1999) dari Denise Rowley, Be your own Brand (2002) karya David McNally dan Karl D. Speak, Born To Be Rich (2003) dari Promod Batra (“buku kloning yang jauh dari sempurna dari buku-bukunya Robert T. Kiyosaki”), Dragon Spirit : Bagaimana Memasarkan Sendiri Mimpi Anda (2003) dari Ron Rubin dan Stuart Avery Gold, sampai The Little Pot of Gold : 100 Keys To Success and Wealth (2003) dari Peter Spann.


“Jurang-jurang” yang menganga antara isi buku satu dengan buku lainnya biarlah dijembatani sendiri secara ajaib oleh otak atau imajinasi ketika saya tidur dan bermimpi.


Sekadar cerita : kisah tentang tokoh mitos Yunani, Prometheus, yang mencuri api dari dewa dari buku mengenai teknologi nuklir dan adegan adu balap melawan banteng gila di Pamplona dari novel The Sands of Time-nya Sidney Sheldon, ketika saya aplikasikan dalam esai mengenai revolusi suporter sepakbola, telah memenangkan The Power of Dreams Contest 2002 yang diadakan oleh Honda di Indonesia. Saya akan mempelajari buku-buku itu lagi ketika perlu untuk menuliskannya.


Tanpa variasi-variasi semacam itu maka sungguh menjengkelkan, membosankan, ketika malam tiba, ketika tuntutan harus menulis buku harian menodong saya, tetapi hanya menemukan betapa hal-hal yang ditulis hampir tidak berbeda antara hari satu dengan hari lainnya.

Tatkala hari-hari yang berlalu saling identik, ibarat bulir-bulir tasbih yang bergerombol dalam satu rangkaian, berkelompok bersama, maka waktu sebulan pun hanya nampak seperti satu hari belaka. Tidak aneh bila waktu kemudian nampak seperti cepat sekali berlari.


Untuk menangkis penggerombolan hari, maka buatlah setiap hari hidup kita seunik sidik jari. Sebagaimana dikatakan oleh Joubert bahwa struktur cenderung membuat waktu cepat berlalu. Oleh karena itu, carilah cara cerdik untuk menginterupsi struktur hari-hari Anda, untuk menghentikan laju terbangnya, ibarat kita melakukan rehat kopi di tengah jam-jam kerja kita.


Bruce Schechter memberi contoh seseorang wanita yang punya pekerjaan sibuk, tetapi saat makan siang ia memutuskan untuk menjelajah kota tempat ia berkarier itu. Ia mengunjungi kebun binatang, yang merupakan kunjungannya yang pertama. Piknik kecil-kecilan tersebut, sekadar lepas dari tuntutan kerja kantornya, telah memberikan waktu rehat yang pantas untuk dikenang, yang bila tidak maka hari-hari-hari kerjanya hanya merupakan segumpal blok yang identik satu sama lainnya.


JANGAN TAKUT JADI PEMULA. Mempelajari sesuatu hal yang baru merupakan cara ampuh lain untuk memperlambat gerak terbangnya waktu. Salah satu alasan mengapa hari-hari ketika kita masih muda terasa penuh dan panjang, karena hari-hari tersebut dipenuhi dengan masa kegairahan untuk belajar dan menemukan.

Learning and discovery.


Bagi kebanyakan kita, masa-masa belajar itu memang terkadang selesai begitu kita meninggalkan bangku sekolah atau kuliah. Tetapi bagi seorang Ronald Graham, matematikawan terkenal dari AT&T Bell Laboratories, punya kiat jitu untuk mengerem waktu : “Jangan takut menjadi pemula”.

Graham pun selalu gigih berburu keterampilan baru untuk ia kuasai.
Dalam masa waktu 40 tahun terakhir Ronald Graham mampu menguasai bahasa Cina, main piano, juggling, akrobat, menulis lusinan makalah ilmiah, dan berwisata sampai ke pojok-pojok dunia.


Mengilas balik hidup saya : ketika saya terlambat menyelesaikan kuliah di Solo atau di Jakarta dibanding teman-teman yang lain, rasanya kini saya merasa tidaklah rugi-rugi amat. Karena saya pada saat yang sama, sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan Teknik Jurusan Mesin, dikaruniai peluang untuk “bertualang” guna menjelajahi pengalaman dan menyerap ilmu-ilmu baru yang beragam yang tidak ada di bangku kuliah.


Menulis puisi, cerita pendek, esai dan drama, main teater, berorganisasi dalam kesenian, menjadi guru melukis anak-anak, belajar pers kampus, menjadi komunikator, pembawa acara, promotor seni, menikmati lukisan, menjadi wartawan budaya, belajar film, praktek bahasa Inggris dari bule-bule menawan seperti Tory, Helen sampai Marlene, dan tentu saja menulis surat-surat pembaca. Petualangan serupa, rasanya sampai kini juga masih belum membuat saya jera melakukannya.


Bruce Schechter memperluas cakarawala kita ketika ia mengatakan bahwa mengerem laju jarum jam tidak hanya berlaku untuk masa kini, tetapi juga ketika meninjau masa lalu. Menulis buku harian atau menulis otobiografi merupakan cara bagus untuk menyortir kekaburan masa-masa lalu, sehingga masa lalu tidak lagi hanya berupa satu gumpal campur aduk segala hal tanpa makna. Masa-masa lalu tersebut dapat diurai untuk membentuk pola tertentu yang membahagiakan, membanggakan, baik susunan yang terdiri dari kejadian atau pun prestasi-prestasi tertentu.


“Mendekati usia 65 tahun”, begitu tutur Bruce Schechter, “ayah saya memulai menulis kenangan hidupnya”. Ia semula beranggapan tulisan itu hanya pendek saja, tetapi ternyata tiap kenangan itu beranak pinak dengan kenangan lainnya. Karya tulisnya kemudian membengkak memenuhi sebuah buku. Anak-anaknya kemudian membelikannya sebuah komputer, kini tulisan kenangan tersebut mencapai 400 halaman yang menghadirkan pola kehidupan yang telah ia lalui, betapa indah dan ajaib kehidupan yang telah ia jalani.


Sebagai lelaki yang pemalu, introver, saya mulai intensif menulis buku harian ketika berkuliah di Jakarta. Tahun 1980. Kota yang masih asing, orang-orang yang asing dan interaksi pergaulan urban yang juga terasa asing, mendorongt saya membuat oasis sendiri agar bisa merasa nyaman dan bertahan. Oasis itu adalah buku harian.

Sampai kini.


Walau apa-apa yang saya tulis itu kadang tidak sekemilau isi lirik lagu The Corrs dalam “Dreams” sebagai ”the crystal visions”, tetapi ketika melakukan refleksi, sokurlah hari-hari lewat saya bukanlah semata himpunan peristiwa atau curahan hati tanpa makna. Kebiasaan itu pula kemudian memperoleh outlet dan momentum luar biasa, lagi menakjubkan, di era digital.

Ketika di tahun 2003 saya mulai mengenal blog, membuat tradisi menulis buku harian dalam bentuk sajian digital, personal sekaligus mondial, sepertinya semakin kaya warna. Sebagai orang yang meminati banyak hal sekaligus, kini saya secara rutin menulis blog-blog bertopik komedi, lagu-lagu Carpenters, komunitas epistoholik Indonesia, juga suporter dan sepakbola.


Menulis di blog, bagi saya, ibarat melakukan donor darah. Kalau hanya menyumbang terlalu sedikit, tidaklah bermanfaat. Kalau kebanyakan, tentu mengancam jiwa si pendonornya sendiri. Memang akhirnya tidak semua darah kita didonorkan, tetapi dengan cara ini maka dalam diri kita didorong terjadinya keseimbangan baru dalam mengakuisisi dan menyalurkan informasi.

Setelah menulis, kita secara intuitif didorong untuk melakukan akuisisi informasi-informasi baru. Artinya, dituntut untuk terus belajar dan belajar. Termasuk belajar mengakuisisi kepercayaan dari pembaca blog-blog saya.


Jay Rosen, salah seorang blogger dan pakar media baru favorit saya, dalam esai berjudul “Blogging, Journalism & Credibility” yang dibacakan di Universitas Harvard, Cambridge, 21-22 Januari 2005, telah mengutip pendapat John Hiler dalam Microcontent News (2002) : “Bagi blogger, semuanya mengenai kepercayaan, di mana blog-blog tersebut berangkat dari titik nol dalam membangun reputasinya dari bawah ke atas. Blog bertanggung jawab dan Anda membangun reputasi sebagai sumber informasi yang terpercaya. Bila tidak, Anda tidak memiliki reputasi yang harus Anda cemaskan”


Lanjut Rosen, para blogger itu memiliki keuntungan dalam memperjuangkan reputasi guna meraih kepercayaan pengguna atau pembacanya. Para blogger lebih dekat dalam melakukan transaksi di mana kepercayaan terbangun dan berada di sekitar situs-situs web yang ada. Terdapat perbedaan besar antara membangun aset, katakanlah “merek” St. Pete Times (di Indonesia, misalnya koran Kompas) dan membangun aset secara mandiri sejak sketsa awal.

Selain ibarat melakukan donor darah, menulis di blog yang antara lain guna memperoleh kepercayaan pembaca tadi, dapat juga saya ibaratkan, seperti juga ketika menerjunkan diri berangan-angan menjadi seorang stand up comedian, sebagai aksi “bersekutu dengan setan” guna memperoleh kekayaan.


Ada sebagian dari jiwa kita yang harus rela dikorbankan.
Keterbukaan. Transparansi.


Semakin transparan diri Anda sebagai manusia, tidak jaim, dan semakin rawan atau vulnerable diri Anda untuk dipertontonkan, maka justru dari hal-hal yang manusiawi itulah akan mendorong terjadinya dialog antarhati.

Kita akhirnya memang hanya manusia, dengan segala kekurangan, kedunguan, ketidaksempurnaan. Panggung dunia blog kaya sekali dengan pertunjukan bergaya “masokis” semacam itu.


Hari-hari ini, saya mulai tergerak untuk merintis dan meluncurkan blog-blog seputar penyakit asthma, hobi memelihara anjing, peristiwa terkait tanggal 28 April dan tanggal 20 Desember. Blog-blog mutakhir ini terkait dengan salah satu wanita terindah saya, Anez, kelahiran Brussels 28 April yang baru saja mencapai huruf Z dari hidupnya dalam momen yang menggetarkan, sarat misteri Illahi, di Jakarta, 20 Desember 2005 yang lalu. Semua blog itu ditulis sebagai kenangan dan kesenangan.


Labour of love.
Berkah pun pasti menanti.


Adalah seorang Lee Silber dalam bukunya Self-Promotion For The Creative Person (2001) mengutip resep sukses Chuck Green, pengarang dan seniman grafis, yang mengatakan : focus on what you love and the money will follow. Fokuskan pada semua aktivitas yang Anda cintai, maka uang pun pasti akan menyusul kemudian.

Saya sedikit banyak membuktikan kebenaran atas ucapan itu. Keyakinan akan manfaat blog dalam menunjang visi & misi saya mendirikan komunitas Epistoholik Indonesia, misalnya, telah memenangkan saya dalam Mandom Resolution Award 2004. Kemudian tercatat pula dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).


Gara-gara getol menulis esai seputar sepakbola dan suporter sepakbola sejak tahun 2003 (saya juga tercatat di MURI sebagai Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli), seorang kenalan baru, kolumnis sepakbola yang berdomisili di London mengajak saya untuk mengisi majalah baru, Freekick, yang hendak ia terbitkan bersama kawan-kawannya mulai tahun 2006 ini.


Gara-gara blog pula, seringkali hari-hari saya terasa menenggelamkan saya dalam flow sesuai tesisnya Mihaly Csikszentmihalyi tadi. Aktivitas yang memboroskan waktu. Kalau dalam hitung-hitungan pemanfaatan waktu yang konvensional, pastilah semua aktivitas saya berblog-ria itu hanya nampak sia-sia belaka.

Saya tahu, saya memang terlalu banyak menghamburkan waktu
Saya tahu, saya mendamba kesempurnaan di dunia yang tidak sempurna ini
Dan begitu dungu pula untuk berpikir
hal itu pula yang akan saya dapatkan


OK, saya memang dungu. Isi lirik lagu “I Need To Be In Love”-nya Carpenters tersebut memang benar untuk sisi cinta atau asmara dalam hidup saya. Saya sampai kini belum memperolehnya. Wanita-wanita terindah saya datang, kemudian pergi. Bahkan pergi begitu jauh sekali.


Tetapi pada sisi lain, menghambur-hamburkan waktu juga tidak jelek-jelek amat. Terutama dalam konteks era baru, Network Economy. Kevin Kelly, sokurlah, memberikan perspektif brilyan itu.


Dalam karya tulis tonggak yang inspiratif, “New Rules for the New Economy : Twelve Dependable Principles for Thriving in a Turbulent World” di majalah Wired (September 1997), mengatakan :


Peter Drucker telah mencatat bahwa dalam abad industri setiap pekerja yang mampu mengerjakan pekerjaannya secara lebih baik disebut sebagai produktivitas. Tetapi kini dalam Network Economy di mana kebanyakan mesin-mesin mengerjakan pekerjaan manufaktur yang tak cocok untuk manusia, maka tugas setiap pekerja bukanlah “bagaimana mengerjakan pekerjaan itu secara benar” melainkan “pekerjaan apa yang benar untuk dikerjakan ?"


Di era mendatang, mengerjakan segala sesuatu secara benar jauh lebih “produktif” dibanding mengerjakan hal yang sama secara lebih baik. Tetapi bagaimana seseorang dapat secara mudah mengukur sense penting dalam eksplorasi dan penemuan ? Semua ini tidak terlihat dalam parameter atau patok duga produktivitas.

Sejatinya, menghambur-hamburkan waktu dan bekerja tidak efisien merupakan jalan menuju penemuan. Sesuatu situs web yang dioperasikan oleh anak muda seumuran 20 tahun dapat terwujud karena ia mampu menghabiskan waktu 50 jam untuk menjadi ahli merancang situs web.

Sementara itu pekerja usia 40-an tahun tidak dapat mengambil cuti liburan tanpa berpikir bagaimana dia menentukan apakah berlibur itu bisa disebut sebagai produktif atau tidak, sementara si anak muda tadi tinggal mengikuti naluri dan menciptakan beragam hal baru dalam desain webnya, tanpa menghitung apa yang ia lakukan itu efisien atau tidak. Dari otak-atik yang tidak efisien itulah akan hadir masa depan.


Dalam era Network Economy, produktivitas bukan masalah krusial. Karena kemampuan kita dalam menyelesaikan masalah sosial dan ekonomi kebanyakan dibatasi terutama oleh kurangnya imajinasi dalam menemukan peluang dibanding usaha mengoptimalkan suatu solusi. Seperti simpul Peter Drucker yang dikutip oleh George Gilder, rumusnya kini berbunyi : “Jangan menyelesaikan masalah, tetapi carilah peluang.”


Apabila Anda menyelesaikan sesuatu masalah, Anda berinvestasi bagi kelemahan Anda. Tetapi bila Anda mencari peluang, maka Anda dapat mempercayai jaringan, network, Anda. Apalagi sisi menarik mengenai Network Economy sejatinya bermain seirama dengan kelebihan hakiki manusia. Repetisi, sekuel, mengopi dan otomasi kini semua cenderung bebas biaya, gratis, sementara segi-segi inovasi, orisinalitas dan imajinatif semakin menjulang nilainya.


Kerangka berpikir kita pertama kali memang terikat oleh hukum-hukum lama pertumbuhan ekonomi dan produktivitas. Tetapi dengan peka mendengarkan detak jaringan kita dapat melepaskan ikatan-katan lama tersebut. Sekali lagi, formula paten dalam era Network Economy adalah :

Janganlah menyelesaikan masalah.
Carilah peluang !


Anda setuju ?
Selamat Tahun Baru 2006.


Wonogiri 19/12/2005 – 12/1/2006

No comments:

Post a Comment