Sunday, March 26, 2006
Menulis, Musik, Inspirasi dan Senandung Cresenthya
Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner@yahoo.com
Bandung adalah kota inspirasi. Paling tidak bagi saya, karena dari kota ini pula saya memperoleh api gairah awal dan pupuk untuk menyuburkan embrio cinta aktivitas menulis.
Anda jangan salah sangka dulu. Saya tidak pernah tinggal di kotanya tim sepakbola Maung Bandung ini. Juga tidak pernah jatuh cinta sekali pun sama mojang Priangan. Inspirasi Bandung itu saya rasakan ketika saya tinggal di Yogyakarta. Tahun 1970-an.
Setelah lulus dari SMP Negeri 1 di Wonogiri, saya tinggal di Yogyakarta. Bersama ayah saya. Bersekolah di STM Negeri 2, Jurusan Mesin Yogyakarta. Sementara di Bandung saat itu telah lama diterbitkan majalah musik, Aktuil, majalah garda depan di jamannya. Majalah itu pula yang memicu saya untuk menulis, dengan mengirimkan lelucon-lelucon pendek untuk majalah yang mangkal di bilangan Lengkong Kecil ini.
Apabila dimuat, saya memperoleh nomor bukti berupa satu eksemplar majalah. Juga tentu saja, wesel honorarium menulis lelucon itu. Boleh dipastikan, saat itu saya adalah satu-satunya siswa STM Negeri 2 yang bisa menulis untuk majalah.
Terlebih lagi karena saya menyukai pelajaran Bahasa Indonesia, apalagi karena gurunya cantik Ibu Mujimah, dan juga menyukai pelajaran Bahasa Inggris yang diampu Pak Sukartolo yang rada nyentrik, oleh teman-teman yang lebih mengakrabi mesin bubut dan palu besi, saya mereka juluki sebagai siswa “STM Sastra.” Sebutan ini, ajaibnya, ternyata beberapa tahun kemudian membuahkan kenyataan. Karena saya bisa berkuliah di lingkungan Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Dalam majalah Aktuil itu, yang menarik, antara lain halaman yang memuat lirik lagu-lagu Barat. Saat itu saya menyukai lagu “For All We Know” dari Carpenters. Juga “Gipsy, Tramps and Thieves” dari duo Sonny and Cher. Saya menyukai Cher karena sensual, juga cantik sekali dengan potongan rambutnya yang poni. Seperti halnya Mariska “Venus” Veres dari Shocking Blue, Belanda, atau Henny Purwonegoro dari Indonesia.
Saya juga menyukai kelompok Uriah Heep dengan lagu “July Morning”, “Time To Live,” “Bird of Prey,” sampai “Salisbury.” Lagunya “Lady In Black” ("oh lady lend your hand, I cried / oh let me rest here at your side.") beberapa saat lalu masih saya gunakan sebagai ilustrasi untuk menyatakan kekaguman saya untuk seorang wanita mempesona yang bernama Erika.
Saat itu saya mempunyai teman sekelas asal Magelang, Bambang Tamtomo Adiguno. Ia menyukai kelompok The Bee Gees. Ia mampu bernyanyi seperti Robin Gibb. Teman lain yang juga bisa nyambung dalam ngobrol seputar musik adalah Muhammad Umar Hidayat yang tinggal di Demangan. Tinggal saya di Dagen, sisi barat Malioboro, dan sering bersepeda di waktu malam untuk main ke Demangan. Kami asyik mengobrolkan musik dan film hingga larut malam.
Wartawan majalah Aktuil yang paling terkenal saat itu adalah Denny Sabri (almarhum). Belakangan ia sebagai penemu bakat, termasuk yang mengorbitkan Nike Ardilla. Saat itu Denny Sabri tinggal di Jerman. Tulisannya yang paling mengesankan ketika ia melaporkan pertunjukan supergroup Deep Purple. Kelompoknya Ian Gillan dkk ini bahkan mampu dapat ia boyong untuk berpentas di Jakarta.
Dalam bayangan seorang murid STM saat itu, menjadi wartawan musik merupakan impian yang glamour dan mengundang kekaguman. Kekaguman itu beberapa tahun kemudian bahkan menjadi kenyataan. Di Solo, tahun 1970-an akhir, saya melakoni sebagai wartawan freelance yang menulis reportase pertunjukan musik dan kegiatan kesenian di Kota Bengawan.
Tegarlah Di Tengah Badai. Majalah Aktuil tersebut senyatanya telah memberi saya inspirasi bagi kehidupan saya di tahun-tahun mendatang. Untuk menyukai humor, aktivitas menulis, dan juga musik.
Untuk yang terakhir ini saya hanya sebagai apresiator saja. Saya sama sekali tidak punya bakat bermusik. Saking parahnya, ketika di SMP untuk mampu melagukan suatu notasi pun, maka di bawah jejeran angka-angka itu harus saya tuliskan dalam bentuk kata yang sesuai bunyinya.
Kegemaran terhadap lagu-lagu indah itulah pula yang mendorong setiap kali mengunjungi toko buku membuat saya tergoda menyempatkan diri untuk melongoki buku-buku yang menghimpun lirik-lirik lagu. Walau seingat saya, saya belum pernah sekali pun membelinya. Dengan rada sembunyi-sembunyi, saya mencatat beberapa lirik lagu yang saya sukai. Itu terjadi di toko-toko buku konvensional, di mana penjaganya mirip sipir penjara, berpandangan mata seperti elang yang waspada.
Tetapi di toko buku QB World of Books, Jalan Sunda, belakang Sarinah, Jakarta Pusat, Anda tak usah sembunyi-sembunyi. Ini toko buku bergaya kafe. Di sana terdapat sofa empuk, musik indah mengalun di latar belakang, dan atmosfir bebas bagi Anda untuk membaca-baca buku apa saja. Sepanjang hari pun, penjaga toko tidak akan menegur Anda.
Kalau ingin lebih nyaman, bawalah buku-buku yang ingin Anda baca ke kafe. Ditemani secangkir capuccino dan makanan kecil, dan silakan mengembarakan khayalan, mungkin seperti Anda sedang berduaan di Paris dengan panorama kafe jalanan sebagaimana digambarkan dalam lirik lagunya Oscar Hammerstein II (1895–1960), ”The Last Time I Saw Paris” (1940) : Her heart was warm and gay / I heard the laughter of her heart in ev'ry street café.
Di QB, September 2002 yang lalu, melalui buku The Lyric Book, aku sengaja ingin mencatat lirik lagunya Oscar Hammerstein II yang lebih terkenal, “You’ll Never Walk Alone” (1945). Kalau Anda penggemar sepakbola, saya yakin Anda akan segera tahu klub Inggris terkenal mana yang memakai lagu ini sebagai himne kebanggaan mereka. Liverpool FC !
When you walk through a storm
hold your head up high
And don’t be afraid of the dark
At the end of the storm is a golden sky
And the sweet silver song of lark
Lirik yang inspiratif bila kita sedang diterjang persoalan berat dalam kehidupan. Saya juga mencatat lirik “Bless The Beasts And Children” (Carpenters, 1971), “We’ve Only Just Begun” (Carpenters, 1970), “A Dream Is A Wish Your Heart Makes” (dari film Cinderella-nya Disney, 1948), “Misty” (Johnny Mathis, 1955), sampai “You’ve Got a Friend” (James Taylor, Carole King, 1973).
Juga “A Time For Us” (Andy Williams, 1968), yang menjadi lagu tema film Romeo & Juliet, adaptasi naskah dramanya Shakespeare, yang digarap oleh sutradara Franco Zeffireli (1968).
A Time For Us. Apa manfaat musik bagi aktivitas menulisku ? Tidak ada sesuatu hal yang boleh disebut sebagai spesial. Sebuah artikel tentang tips menulis kreatif antara lain menyebutkan aktivitas mendengarkan musik dapat menjadi sarana menuai inspirasi atau gagasan. Hal yang sama juga dapat dieptik dari buku. Saat nonton televisi. Atau film. Semua itu aku setujui. Ide menulis dapat dipetik dari sumber mana saja. Aktivitas paling favorit untuk diriku, untuk tujuan yang sama, adalah dengan melakukan olahraga jalan kaki pagi.
Bulan November 2005 yang lalu, cakrawala pemahaman saya mengenai manfaat musik, kiranya bertambah kaya. Sumbernya adalah teman yang ketemunya di jagat maya, Lasma Siregar, yang mengaku sebagai petani pemetik strawberry di hutan Vermont. Ini bukan nama negara bagian di ujung timur laut Amerika Serikat, tetapi Vermont yang konon berjarak 20 stasiun kereta api dari kota Melbourne, Australia.
Di antara setengah lusin buku yang ia kirimkan, Lasma Siregar menyelipkan sebuah buku mungil manis, bersampul ungu, dihiasi foto artistik seorang wanita tanpa busana. Tetapi sosoknya tidak menyemburkan pesona erotika yang banal. Dirinya tampil dalam pose salah satu posisi olah yoga, seolah mengambangkan tranquality, suasana keheningan. Judulnya, 5-Minute Therapies : Natural Remedies for Body, Mind & Spirit (1999). Ditulis oleh Denise Rowley. Manfaat musik dibahas dalam bab “Mind-Body Harmony”.
“Musik adalah darah kehidupan tradisi kita”, tulis Denise Rowley. Musik mampu mengangkat semangat jiwa kita, memesona, menyemaikan kesedihan dan memekarkan penghiburan. Musik terkait dengan emosi-emosi kita, memberikan ilham, meneguhkan kemanusiaan kita dan juga tempat kita di dunia ini. Musik membangkitkan kenangan dan harapan, dan memperkuat sistem kekebalan tubuh kita pula.
Inilah nasehat Denise Rowley : nikmati dan hayati musik dalam pelbagai interaksi. Bernyanyilah seirama melodi yang mengalun. Gerakkan tubuh Anda seharmoni iramanya. Rubuhkan sikap malu-malu atau menahan diri pada diri Anda.
Integrasikan musik dalam kehidupan Anda sehari-hari. Apakah Anda sedang berada di mobil, ketika meresapi sejuknya semprotan air di bawah shower, ketika makan malam, saat-saat melamun, atau ketika mengisi formulir pembayaran pajak.
Atau seperti tutur William Shakespeare dalam Twelfth Night (1601), ”If music be the food of love, play on,” maka bayangkanlah betapa indah dan bergeloranya pengalaman yang terjadi apabila musik juga dirancang serasi untuk dihadirkan saat Anda sedang bercinta.
A time for us, someday there’ll be
when chains are torn by courage born
of a love that’s free
A time when dreams, so long denied
Can flourish, as we unveil the love
we now must hide
A time for us someday there’ll be
A new world, a world of shining hope
for you and me.
Saat itu, seorang Cresenthya menarikku untuk sama-sama menyenandungkan “A Time For Us” itu. Dirinya yang begitu muda, memendam gejolak ice and desire, membuatnya berani melakukan pengembaraan fantasi yang terjauh. Terbang untuk menjadi warga Verona, sekaligus membayangkan kami masing-masing sebagai reinkarnasi anggota keluarga Montague dan Capulet yang saling berperang dan bercinta.
Bagi saya, orkestrasi totalitas dirinya saat itu ibarat musik pula, sehingga menjadi momen eternal yang sering berkelebat untuk menjadi ide tulisan ini. Sebagai ilustrasi telah diawali dengan inspirasi melambung tentang kota Bandung, kemudian dirampungkan dengan iringan jeritan khasnya Dolores O’Riordan dari The Cranberries. Dalam lagunya : “Linger.”
Wonogiri, 8-27/3/2006
Email : humorliner@yahoo.com
Bandung adalah kota inspirasi. Paling tidak bagi saya, karena dari kota ini pula saya memperoleh api gairah awal dan pupuk untuk menyuburkan embrio cinta aktivitas menulis.
Anda jangan salah sangka dulu. Saya tidak pernah tinggal di kotanya tim sepakbola Maung Bandung ini. Juga tidak pernah jatuh cinta sekali pun sama mojang Priangan. Inspirasi Bandung itu saya rasakan ketika saya tinggal di Yogyakarta. Tahun 1970-an.
Setelah lulus dari SMP Negeri 1 di Wonogiri, saya tinggal di Yogyakarta. Bersama ayah saya. Bersekolah di STM Negeri 2, Jurusan Mesin Yogyakarta. Sementara di Bandung saat itu telah lama diterbitkan majalah musik, Aktuil, majalah garda depan di jamannya. Majalah itu pula yang memicu saya untuk menulis, dengan mengirimkan lelucon-lelucon pendek untuk majalah yang mangkal di bilangan Lengkong Kecil ini.
Apabila dimuat, saya memperoleh nomor bukti berupa satu eksemplar majalah. Juga tentu saja, wesel honorarium menulis lelucon itu. Boleh dipastikan, saat itu saya adalah satu-satunya siswa STM Negeri 2 yang bisa menulis untuk majalah.
Terlebih lagi karena saya menyukai pelajaran Bahasa Indonesia, apalagi karena gurunya cantik Ibu Mujimah, dan juga menyukai pelajaran Bahasa Inggris yang diampu Pak Sukartolo yang rada nyentrik, oleh teman-teman yang lebih mengakrabi mesin bubut dan palu besi, saya mereka juluki sebagai siswa “STM Sastra.” Sebutan ini, ajaibnya, ternyata beberapa tahun kemudian membuahkan kenyataan. Karena saya bisa berkuliah di lingkungan Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Dalam majalah Aktuil itu, yang menarik, antara lain halaman yang memuat lirik lagu-lagu Barat. Saat itu saya menyukai lagu “For All We Know” dari Carpenters. Juga “Gipsy, Tramps and Thieves” dari duo Sonny and Cher. Saya menyukai Cher karena sensual, juga cantik sekali dengan potongan rambutnya yang poni. Seperti halnya Mariska “Venus” Veres dari Shocking Blue, Belanda, atau Henny Purwonegoro dari Indonesia.
Saya juga menyukai kelompok Uriah Heep dengan lagu “July Morning”, “Time To Live,” “Bird of Prey,” sampai “Salisbury.” Lagunya “Lady In Black” ("oh lady lend your hand, I cried / oh let me rest here at your side.") beberapa saat lalu masih saya gunakan sebagai ilustrasi untuk menyatakan kekaguman saya untuk seorang wanita mempesona yang bernama Erika.
Saat itu saya mempunyai teman sekelas asal Magelang, Bambang Tamtomo Adiguno. Ia menyukai kelompok The Bee Gees. Ia mampu bernyanyi seperti Robin Gibb. Teman lain yang juga bisa nyambung dalam ngobrol seputar musik adalah Muhammad Umar Hidayat yang tinggal di Demangan. Tinggal saya di Dagen, sisi barat Malioboro, dan sering bersepeda di waktu malam untuk main ke Demangan. Kami asyik mengobrolkan musik dan film hingga larut malam.
Wartawan majalah Aktuil yang paling terkenal saat itu adalah Denny Sabri (almarhum). Belakangan ia sebagai penemu bakat, termasuk yang mengorbitkan Nike Ardilla. Saat itu Denny Sabri tinggal di Jerman. Tulisannya yang paling mengesankan ketika ia melaporkan pertunjukan supergroup Deep Purple. Kelompoknya Ian Gillan dkk ini bahkan mampu dapat ia boyong untuk berpentas di Jakarta.
Dalam bayangan seorang murid STM saat itu, menjadi wartawan musik merupakan impian yang glamour dan mengundang kekaguman. Kekaguman itu beberapa tahun kemudian bahkan menjadi kenyataan. Di Solo, tahun 1970-an akhir, saya melakoni sebagai wartawan freelance yang menulis reportase pertunjukan musik dan kegiatan kesenian di Kota Bengawan.
Tegarlah Di Tengah Badai. Majalah Aktuil tersebut senyatanya telah memberi saya inspirasi bagi kehidupan saya di tahun-tahun mendatang. Untuk menyukai humor, aktivitas menulis, dan juga musik.
Untuk yang terakhir ini saya hanya sebagai apresiator saja. Saya sama sekali tidak punya bakat bermusik. Saking parahnya, ketika di SMP untuk mampu melagukan suatu notasi pun, maka di bawah jejeran angka-angka itu harus saya tuliskan dalam bentuk kata yang sesuai bunyinya.
Kegemaran terhadap lagu-lagu indah itulah pula yang mendorong setiap kali mengunjungi toko buku membuat saya tergoda menyempatkan diri untuk melongoki buku-buku yang menghimpun lirik-lirik lagu. Walau seingat saya, saya belum pernah sekali pun membelinya. Dengan rada sembunyi-sembunyi, saya mencatat beberapa lirik lagu yang saya sukai. Itu terjadi di toko-toko buku konvensional, di mana penjaganya mirip sipir penjara, berpandangan mata seperti elang yang waspada.
Tetapi di toko buku QB World of Books, Jalan Sunda, belakang Sarinah, Jakarta Pusat, Anda tak usah sembunyi-sembunyi. Ini toko buku bergaya kafe. Di sana terdapat sofa empuk, musik indah mengalun di latar belakang, dan atmosfir bebas bagi Anda untuk membaca-baca buku apa saja. Sepanjang hari pun, penjaga toko tidak akan menegur Anda.
Kalau ingin lebih nyaman, bawalah buku-buku yang ingin Anda baca ke kafe. Ditemani secangkir capuccino dan makanan kecil, dan silakan mengembarakan khayalan, mungkin seperti Anda sedang berduaan di Paris dengan panorama kafe jalanan sebagaimana digambarkan dalam lirik lagunya Oscar Hammerstein II (1895–1960), ”The Last Time I Saw Paris” (1940) : Her heart was warm and gay / I heard the laughter of her heart in ev'ry street café.
Di QB, September 2002 yang lalu, melalui buku The Lyric Book, aku sengaja ingin mencatat lirik lagunya Oscar Hammerstein II yang lebih terkenal, “You’ll Never Walk Alone” (1945). Kalau Anda penggemar sepakbola, saya yakin Anda akan segera tahu klub Inggris terkenal mana yang memakai lagu ini sebagai himne kebanggaan mereka. Liverpool FC !
When you walk through a storm
hold your head up high
And don’t be afraid of the dark
At the end of the storm is a golden sky
And the sweet silver song of lark
Lirik yang inspiratif bila kita sedang diterjang persoalan berat dalam kehidupan. Saya juga mencatat lirik “Bless The Beasts And Children” (Carpenters, 1971), “We’ve Only Just Begun” (Carpenters, 1970), “A Dream Is A Wish Your Heart Makes” (dari film Cinderella-nya Disney, 1948), “Misty” (Johnny Mathis, 1955), sampai “You’ve Got a Friend” (James Taylor, Carole King, 1973).
Juga “A Time For Us” (Andy Williams, 1968), yang menjadi lagu tema film Romeo & Juliet, adaptasi naskah dramanya Shakespeare, yang digarap oleh sutradara Franco Zeffireli (1968).
A Time For Us. Apa manfaat musik bagi aktivitas menulisku ? Tidak ada sesuatu hal yang boleh disebut sebagai spesial. Sebuah artikel tentang tips menulis kreatif antara lain menyebutkan aktivitas mendengarkan musik dapat menjadi sarana menuai inspirasi atau gagasan. Hal yang sama juga dapat dieptik dari buku. Saat nonton televisi. Atau film. Semua itu aku setujui. Ide menulis dapat dipetik dari sumber mana saja. Aktivitas paling favorit untuk diriku, untuk tujuan yang sama, adalah dengan melakukan olahraga jalan kaki pagi.
Bulan November 2005 yang lalu, cakrawala pemahaman saya mengenai manfaat musik, kiranya bertambah kaya. Sumbernya adalah teman yang ketemunya di jagat maya, Lasma Siregar, yang mengaku sebagai petani pemetik strawberry di hutan Vermont. Ini bukan nama negara bagian di ujung timur laut Amerika Serikat, tetapi Vermont yang konon berjarak 20 stasiun kereta api dari kota Melbourne, Australia.
Di antara setengah lusin buku yang ia kirimkan, Lasma Siregar menyelipkan sebuah buku mungil manis, bersampul ungu, dihiasi foto artistik seorang wanita tanpa busana. Tetapi sosoknya tidak menyemburkan pesona erotika yang banal. Dirinya tampil dalam pose salah satu posisi olah yoga, seolah mengambangkan tranquality, suasana keheningan. Judulnya, 5-Minute Therapies : Natural Remedies for Body, Mind & Spirit (1999). Ditulis oleh Denise Rowley. Manfaat musik dibahas dalam bab “Mind-Body Harmony”.
“Musik adalah darah kehidupan tradisi kita”, tulis Denise Rowley. Musik mampu mengangkat semangat jiwa kita, memesona, menyemaikan kesedihan dan memekarkan penghiburan. Musik terkait dengan emosi-emosi kita, memberikan ilham, meneguhkan kemanusiaan kita dan juga tempat kita di dunia ini. Musik membangkitkan kenangan dan harapan, dan memperkuat sistem kekebalan tubuh kita pula.
Inilah nasehat Denise Rowley : nikmati dan hayati musik dalam pelbagai interaksi. Bernyanyilah seirama melodi yang mengalun. Gerakkan tubuh Anda seharmoni iramanya. Rubuhkan sikap malu-malu atau menahan diri pada diri Anda.
Integrasikan musik dalam kehidupan Anda sehari-hari. Apakah Anda sedang berada di mobil, ketika meresapi sejuknya semprotan air di bawah shower, ketika makan malam, saat-saat melamun, atau ketika mengisi formulir pembayaran pajak.
Atau seperti tutur William Shakespeare dalam Twelfth Night (1601), ”If music be the food of love, play on,” maka bayangkanlah betapa indah dan bergeloranya pengalaman yang terjadi apabila musik juga dirancang serasi untuk dihadirkan saat Anda sedang bercinta.
A time for us, someday there’ll be
when chains are torn by courage born
of a love that’s free
A time when dreams, so long denied
Can flourish, as we unveil the love
we now must hide
A time for us someday there’ll be
A new world, a world of shining hope
for you and me.
Saat itu, seorang Cresenthya menarikku untuk sama-sama menyenandungkan “A Time For Us” itu. Dirinya yang begitu muda, memendam gejolak ice and desire, membuatnya berani melakukan pengembaraan fantasi yang terjauh. Terbang untuk menjadi warga Verona, sekaligus membayangkan kami masing-masing sebagai reinkarnasi anggota keluarga Montague dan Capulet yang saling berperang dan bercinta.
Bagi saya, orkestrasi totalitas dirinya saat itu ibarat musik pula, sehingga menjadi momen eternal yang sering berkelebat untuk menjadi ide tulisan ini. Sebagai ilustrasi telah diawali dengan inspirasi melambung tentang kota Bandung, kemudian dirampungkan dengan iringan jeritan khasnya Dolores O’Riordan dari The Cranberries. Dalam lagunya : “Linger.”
Wonogiri, 8-27/3/2006
Monday, January 23, 2006
”Now she's walking through the clouds” : Mengenang Anez, Asma, Anjing dan Asmara
Oleh : Bambang Haryanto
Email : epsia@plasa.com
Now she's walking through the clouds
With a circus mind
That's running wild
Butterflies and zebras
And moonbeams and fairytales
All she ever thinks about is riding with the wind
(Jimi Hendrix, “Little Wing”)
ANJING YANG MEROKOK. Komedian Steve Allen mengidap sakit asma. Tetapi dirinya merasa tidak punya masalah dengan penyakit gangguan kronis pernafasan itu.
Ia bilang : “Asma bukanlah gangguan bagi saya, kecuali bila saya berdekatan dengan rokok dan anjing. Satu hal yang sangat dan paling mengganggu saya adalah bila anjing-anjing itu merokok pula”
Bagi Riaty, Cresenthya Hartati atau pun Widhiana Laneza, pastilah saya pantas mereka daulat sebagai “anjing yang merokok pula.” Alias sebagai oknum pengganggu yang berpotensi membahayakan kesehatan mereka.
Karena memang mereka memiliki kesamaan yang saya tidak tahu mengapa terjadi begitu saja. Ketiganya sama-sama mempunyai sakit asma. Dan saat itu, saya adalah seorang perokok berat pula.
Perokok dan pengidap penyakit asma, jelas tidak matching. Inilah kemudian ilustrasi dari interaksi yang terjadi : bersama Ria yang saat itu berkuliah di Jurusan Ilmu Politik FISIP UI, kami pernah melakukan date “aneh” kala mengunjungi pameran buku Ikapi di kompleks Jakarta Fair di sekitar Monas.
Problem pribadi pun segera muncul. Karena memiliki gangguan asma, Ria pasti sangat menderita apabila berdampingan dengan diriku yang juga tidak tahan untuk tidak merokok. Kompromi yang terjadi antara kita adalah : dalam mengelilingi stan-stan, mencari buku-buku kesukaan, kami kemudian memilih saling jalan sendiri-sendiri.
Jalan bareng macam apa pula ini ?
HI-TECH, HI-TOUCH. Acara date dengan skenario aneh itu, secara tak terduga, sebenarnya juga menyelesaikan masalah tambahan lainnya di antara kami. Aku dan Ria, selain untuk buku-buku humor, sebenarnya kami tidak memiliki selera terhadap subjek buku yang sama.
Ria yang beragama Islam, tetapi saat SMP dan SMA ia belajar di sekolah Katholik, menyukai (saat itu) buku-buku agama. Sementara saat itu, tahun 1986, aku menyukai buku-buku komputer.
Begitulah, setelah keliling-keliling pelbagai stan buku secara solo itu berakhir, kami lalu ketemuan lagi. Kami kemudian saling unjuk masing-masing buku yang dibeli, yang segera menampakkan betapa kontras selera kita. Ria dengan buku-buku agama dan saya dengan buku-buku komputer.
Kekontrasan itu memicu saya untuk mengeluarkan canda. Saya merujuk ucapan terkenal futuris John Naisbitt dan Patricia Aburdene dengan buku topnya, Megatrends. yang saat itu lagi berkibar-kibar di dunia.
Dalam buku itu mereka sebutkan bahwa di masa depan akan hadir fenomena hi-tech, hi-touch. Artinya, ketika seseorang semakin terlibat dalam pemanfaatan teknologi-teknologi tinggi maka dirinya akan tergerak pula untuk menjadi semakin relijius.
Canda serius saya : “betapa ramalan Naisbitt dan Aburdene itu bukankah bicara tentang kita, Ria ?” Canda itu saya sampaikan ke Ria dalam bentuk surat. Memang begitulah salah satu ujud ritual antara kami selama ini.
Walau sudah ketemuan, atau telpon-telponan, tetapi untuk hal-hal yang masih perlu diobrolkan, kita senang hati saling menambahkannya dalam bentuk surat-surat yang panjang. Karena Ria suka bilang, “surat-surat Mas Hari sering saya baca tidak hanya satu kali”.
Yang Ria mungkin tidak tahu bahwa dalam menulis surat itu saya harus melek separo malam. Juga menghabiskan rokok berbatang-batang pula.
ORTU TERLALU PROTEKTIF ? Ria sebenarnya belum banyak bercerita mengenai sakit asmanya. Ia juga tidak rewel tentang kebiasaan jelekku, merokok itu. Yang bisa saya kerjakan : saya tidak akan merokok ketika ketemuan sama dia.
Ria adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang pemimpin redaksi sebuah newsletter ekonomi yang terkenal. Kalau di rumah, saat dipanggil oleh ibunya dengan “Ria sayang”, terdengar Ria segera membalasnya : “Ya, mama, sayang”.
Bagi saya, yang berasal dari kultur kota kecil Wonogiri, sahut-sahutan dengan menonjolkan kata “sayang” seperti itu menurut saya rada berlebihan. Silakan mencap saya sebagai kampungan. Mungkin saya sedang mengalami benturan budaya, budaya urban vs. budaya desa.
Tetapi ekspresi kasih sayang yang bagiku rada-rada too much itu, mungkinkah merupakan wujud sikap orang tua yang terlalu protektif, terlalu melindungi anak-anaknya ? Dan ini hanya kabar burung, bukan info medis yang sahih, konon justru sikap orang tua yang terlalu melindungi tersebut merupakan pemicu utama timbulnya penyakit asma pada anak-anak mereka. Itukah pula yang terjadi pada diri Ria ?
Saya tidak tahu.
Dalam suatu kesempatan lain, Ria saya jemput di kampus dan kami bersepakat keluyuran ke Pasar Seni Ancol. Ia nampak menikmati jalan-jalan seperti itu. Ia bilang, sejak SMP ia belum pernah mengalami “kebebasan” seperti ini. Juga menambahkan, kalau saja ketahuan orang tuanya, pasti dirinya akan habis-habisan dimarahi.
Benarkah limpahan kasih sayang yang berlebihan justru menjadi penyebab timbulnya penyakit asma ? Diagnosa yang mungkin, sekali lagi, kampungan. Barangkali yang benar justru yang sebaliknya.
Karena anaknya menderita sakit asma, maka kondisi rawan tersebut memicu orang tua untuk memperlakukan anak-anaknya secara ekstra dalam memberikan perhatian, perlindungan dan kasih sayang. Pendekatan yang dapat kita maklumi.
MENGAKU SAKIT ASMA. Diagnosa yang sama mungkin berlaku atau tidak berlaku untuk seorang Cresenthya Hartati. Ia anak terkecil dari enam bersaudara.
Gadis artistik lulusan SMA Tarakanita 2 Pluit Jakarta ini, yang kadang rada-rada reckless, punya tulisan tangan yang indah serta dikaruniai kaki menawan ini, ketika berkuliah di Desain Produksi Universitas Trisakti mengaku memiliki kedekatan dengan mamanya.
Tetapi karena mamanya keburu meninggal dunia saat Hartati masih duduk di sekolah dasar, ia kurasa seperti merasakan sebuah “lubang besar”, kekurangan kasih sayang dalam masa-masa ia menginjak dewasa.
“Mas Hari, aku punya sakit asma”, akunya terus terang. Itulah sebagian ritual “buka-bukaan” yang masih saya ingat. Ketika kita bersepakat untuk jadian maka kita saling membuka diri tentang diri kita apa adanya.
Hartati melakukannya secara agak sistematis. Dengan membuka catatan-catatan riwayat pribadi yang ia tulis sendiri. Ia pun menambahkan, “untuk semua sedihku, hanya pernah aku ceritakan kepada kamu.”
Aku kini menjadi rada bingung. Dalam kasus Ria, limpahan kasih sayang yang berlebih diduga menjadi penyebab ia menderita asma. Sebaliknya pada kasus Hartati, yang mengalami defisit kasih sayang dari orang tuanya, toh dirinya terus terang mengaku mengidap sakit asma juga. Bagaimana pula ini ?
Baiklah, biarlah kebingungan itu biar aku simpan sendiri saja.
Di sisi lain dari pengakuan Hartati itu, bagi saya, malah terasa sebagai suatu ofensif. Serangan untuk pribadi. Apalagi kemudian, berbeda dengan Ria yang tidak rewel dengan kebiasaan merokok saya, Hartati justru berkali-kali menjadikan topik ini sebagai obrolan.
Misalnya dengan mengirimkan majalah atau guntingan artikel yang membahas mengenai bahaya merokok. “Aku pengin Mas Hari sehat-sehat, juga bisa berumur panjang”, katanya lembut.
Itulah ujud perhatian dia.
Ujud cinta dia.
Tetapi sebagai lelaki, seperti halnya suatu pemerintahan, saya merasa tidak ada yang salah dalam kebiasaan merokok saya. Dengan merokok saya merasa lebih kreatif. Itulah sikap keras kepala. Merasa benar sendiri. Tidak menghargai pendapat pasangan tercinta.
Mungkin situasi yang terjadi antara dia dan saya tersebut mencocoki sebuah tesis bahwa wanita selalu ingin melihat pasangannya berubah, sementara lelaki tidak ingin pasangan perempuannya berubah, tetapi pada akhirnya keduanya hanya akan menjadi kecewa.
Desperado
Why don't you come to your senses
Come down from your fences
Open the gate
Memang sangat sulit merubah keyakinan seseorang. Juga untuk kebiasaan merokok. Seperti lirik lagu “Desperado” dari Eagles (1973), yang juga dinyanyikan oleh kelompok musik favorit saya, Carpenters, perubahan itu hanya bisa dimulai dari “dalam” diri orang bersangkutan
Bajingan tengik,
dengarkan kata hatimu
keluarlah dari pagar yang mengurungmu
dan bukalah pintu gerbangmu
Bujukan Hartati itu akhirnya memang menjadi kenyataan. Saya mau membuka pintu gerbang perubahan dari dalam. Hal itu terjadi ketika suatu malam saya dipaksa berbaring sendirian di rumah sakit Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur.
Saat itu saya merasa ada rasa perih-perih di dada saya. Mungkin istilah kedokterannya terkena angina pectoris. Istilah yang terdengar indah, tetapi menggambarkan kondisi defisit pasokan oksigen ke jantung yang bila berlanjut dapat mengancam jiwa.
Saat itu slang pemasok oksigen terpatok dalam lubang hidung saya. Saya tergeletak sendirian sambil cemas menyaksikan grafik berwarna kehijauan dengan latar belatang hitam itu menari, menggambarkan irama denyut jantung pada monitor peralatan eletrocardiograf. Itulah irama kehidupan atau kematian yang saat itu telah menantiku.
Pengalaman mendebarkan itu, lalu peringatan dokter agar saya berhenti merokok, mendorong saya rela berjuang untuk berhenti merokok. Dan berhasil. Tetapi semua itu justru terjadi ketika saya dengan Hartati sudah bubaran.
Kembali ke masalah asma. Bagi saya, ada satu hal penting yang belum pernah Hartati ceritakan kepada saya. Kalau dirinya mengidap sakit asma, mengapa ia memelihara anjing-anjing di rumahnya ? Lebih berbahaya mana antara asap rokok dibandingkan dengan partikel dari bulu-bulu anjingnya ?
Apakah Hartati mencampur adukkan antara alergi dengan asma ? Ia sebenarnya hanya alergi terhadap asap rokok, tetapi tidak dengan bulu-bulu anjingnya, lalu membesar-besarkannya sebagai berpenyakit asma ?
Buku Corinne T. Netzer’s Big Book of Miracle Cures (1999) menjelaskan bahwa alergi dan asma bukan penyakit yang sama. Walau pun demikian, terdapat kaitan erat, tidak hanya gejala dan pengobatannya, tetapi faktanya penderita asma seringkali menderita akibat alergi.
Asma, faktanya, merupakan salah satu ujud alergi (baik alergi terhadap makanan mau pun alergi terhadap zat-zat yang terdapat udara) yang muncul. Walau pun demikian, penting untuk diingat, tidak semua penderita asma itu memiliki alergi.
Perbedaan besar antara asma dan sebagian besar alergi terletak pada tingkat keparahannya. Sementara beberapa alergi (misalnya tersengat lebah) mungkin perlu dirujuk ke unit gawat darurat, tetapi sebagian besar alergi merupakan gangguan kesehatan yang hanya membuat tidak nyaman dan menjengkelkan. Sementara itu, asma merupakan gangguan kesehatan yang kronis dan dapat mengancam jiwa penderitanya.
Gejala umum alergi meliputi : hidung mengeluarkan ingus (cairan bening, kuning pekat atau kehijauan yang mengindikasikan gangguan flu atau infeksi sinus), sesek, bersin-bersin, hidung dan mata gatal, mata berair dan bergetah, kulit secara temporer berbisul, bengkak atau ruam.
Berbeda dari alergi, serangan asma tidak melibatkan organ hidung atau mata, walau pun batuk-batuk di pagi hari merupakan gejala yang umum.. Asma merupakan penyakit saluran udara dari paru-paru yang terkena radang dan iritasi. Ketika serangan terjadi, otot-otot pembuluh tenggorokan berkontraksi, menyempit, menimbulkan gejala utama asma, meliputi : mengi, nafas mencuit-cuit, megap-megap, kesulitan menarik dan menghembuskan nafas, sampai irama bernafas yang cepat dan pendek-pendek.
Pengakuan Hartati mengenai penyakit asmanya, bagi saya, kemudian merupakan teka-teki yang belum terpecahkan. Yang pasti, saya belum pernah satu kali pun mendapati dirinya saat terkena serangan alergi atau pun asma.
Pernah ia agak kolokan, katanya tiba-tiba merasakan melihat objek yang ia pandang menjadi dua. Mirip pandangan seseorang yang mabuk alkohol. Tetapi keluhan aneh Hartati itu tidak perlu berlanjut lama-lama.
Seseorang di dekatnya meminta ia memejamkan mata dan segera Hartati mampu melupakan gangguan penglihatan yang dobel semacam itu. Apalagi ia lalu tenggelam, atau terbang melayang saat merasakan bibirnya dilumat oleh pria yang mencintainya.
ANEZ, ANJING KESAYANGAN DAN ASMA. Pada penghujung Desember 2005, asma tiba-tiba kembali menjadi perhatian yang sangat mengagetkan saya. Pemicunya adalah ketika saya memperoleh kiriman e-mail dari Verdi Amaranto, 22 Desember 2005 yang lalu.
Mas Anto ini adalah kakak tertua dari Widhiana Laneza, atau Anez, wanita indah semampai, yang membuat saya jatuh cinta kepadanya di tahun 1981 sampai tahun 1987.
Anez berkuliah di Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Anez memiliki beberapa ekor anjing kesayangan, baik yang ia beri nama Grigri (jimat dalam bahasa Perancis), Pancho atau Cakil, Bobi sampai Minggo.
Sejak kecil Anez rupanya sudah suka terhadap anjing. Lihatlah, dalam foto di bawah ini yang dijepret di tahun 1969, di Hanoi, Vietnam Utara saat itu.

Widhiana Laneza (1969)
Pesona sosok Anez dan relasi uniknya dengan satwa-satwa kesayangannya itu telah memercikkan ilham bagi saya untuk menulis buku kumpulan lelucon satwa, Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa (Andi, 1987).

Buku Untuk Anez
Anez, anak ketiga dari empat bersaudara. Adiknya Liana Rasanti, meninggal dunia saat baru berumur setahun, 1965.
Anez memiliki sakit asma.
Dirinya menderita seperti halnya tokoh-tokoh dunia dari Peter Agung (Kaisar Rusia), Ludwig von Beethoven, Charles Dickens (pengarang), Marcel Proust (Novelis Perancis), Theodore Roosevelt (Presiden AS ke 26), John F. Kennedy (Presiden AS ke 42), Elizabeth Taylor (aktris), Martin Scorsese (sutradara film), sampai Dennis Rodman, pemain bola basket AS kontroversial yang nyaris sekujur badannya penuh “seni batik” tato itu.
Pertimbangan terkait sakit asmanya itu pula yang membuat Anez memilih bekerja di Bali, dibanding kota Jakarta yang tingkat polusinya begitu tinggi, yang pasti tidaklah ramah bagi penyakit asmanya itu.
Anez, kelahiran Brussels 28 April 1963, meninggal dunia di Jakarta dalam momen yang menggetarkan hati. Yaitu 3 hari setelah pernikahannya. Pada tanggal 20 Desember 2005 yang lalu.
Apakah Anez meninggal dunia akibat dari sakit asmanya juga ? Mas Anto belum secara eksplisit bercerita tentang hal itu. Aku pun, dengan ikut sedih, hanya bisa menduga-duga.
ANCAMAN ASMA DAN KITA. Awal bulan Desember 2005, menjelang liburan panjang Natal dan Tahun Baru, American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) telah mengeluarkan peringatan, bahwa bagi para penderita asma dan alergi lainnya, musim liburan menyimpan ancaman potensial bagi mereka.
“Apakah Anda bersibuk-ria menyiapkan pohon Natal, menengok binatang peliharaan sanak-saudara, atau berpesta menyambut liburan, ancaman pemicu timbulnya alergi mengintai di setiap sudut.”
“Akibat ketatnya skedul dan perjalanan yang terus-menerus sepanjang musim liburan, banyak orang mudah terlupa untuk merawat kesehatannya secara tertib bila menyangkut ancaman alergi dan asma”, kata Wanda Phipatanakul, MD, MS, FAAAAI, wakil ketua Komite Indoor Allergen dari AAAAI.
“Senantiasa mengingat pemakaian obat dan menghindari pemicu yang potensial merupakan hal penting agar gejala penyakit asmanya dapat terkendalikan”
Ancaman serangan asma memang bukan hal yang dapat kita sepelekan. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, menurut ISL Consulting Co., terdapat sekitar 31,3 juta penderita asma. Angka ini naik dari 26 juta di tahun 1997. Terdapat angka 12 juta serangan sakit asma dalam 12 bulan terakhir.
Sebanyak 9,2 juta penderita asma berumur di bawah 18 tahun. Sebanyak 4,2 juta anak muda menderita asma dalam 12 bulan terakhir. Kematian akibat asma tercatat 4.487 orang, turun dari angka 5.000 di tahun 1997 dan 4.657 di tahun 1999.
Asma merupakan penyakit kronis paling utama yang menyerang anak-anak. Untuk mereka yang berumur 5 sd 17 tahun, asma merupakan penyakit nomor satu yang mengakibatkan mereka mangkir sekolah akibat kekronisan penyakitnya.
Sebanyak 10 juta hari sekolah hilang akibat penyakit asma. Anak-anak penderita asma tergeletak di ranjang sekitar 7,3 juta hari tiap tahunnya.
KAMPANYE ASMA GLOBAL. Untuk mengkampanyekan kesadaran masyarakat luas mengenai asma dan langkah penanggulangannya, telah dicanangkan gerakan Inisiatif Global Penanggulangan Asma (Global Initiative For Asthma /GINA) yang antara lain mencanangkan Hari Asma Sedunia, yang jatuh hari Selasa pertama bulan Mei. Hari Asma Sedunia tahun 2006 jatuh hari Selasa, 2 Mei 2006.
Salah satu gagasan untuk mengkampanyekan kesadaran terhadap asma tersebut, antara lain dengan meluncurkan situs web di Internet yang berisikan edukasi dan petunjuk penanggulangan asma. Juga mengampanyekan lingkungan yang bersih dari asap rokok dan debu pencetus alergi lainnya.
Sebagai orang yang bersyukur bisa berhenti dari kebiasaan buruk merokok dan membanggakannya sebagai salah satu prestasi hebat dalam hidup saya, sejak tahun 1989, maka program-program GINA tersebut menantang saya untuk ikut berperan serta di dalamnya.
UNTUK MENGENANGMU, ANEZ. Mengilas balik hidup saya, ternyata wanita-wanita terindah yang pernah membuat saya jatuh cinta, diakui atau tidak diakui, termasuk yang dalam fase hidupnya pernah mengidap penyakit asma. Untuk mengenang kebaikan-kebaikan mereka, situs blog tentang asma ini saya luncurkan.
Amor tussisque non celantur.
Love and a cough cannot be hid.
Asmara dan batuk tidak dapat disembunyikan Pepatah latin itu pun saya modifikasi : asmara dan asma tidak dapat disembunyikan. Bahkan, lebih lanjut, bagi saya kemudian, asmara yang terantuk pun juga tidak perlu disembunyikan.
Kekasih boleh hilang atau pergi, tetapi cinta tetap bisa abadi. Meninggalnya seorang Mumtaz-i-Mahal telah mampu menggerakkan suaminya, Syah Jehan, membangun Taj Mahal di Agra. Kiranya tak kurang eloknya apabila saya tergerak membuat satu-dua blog untuk mengenang wanita-wanita terindah yang pernah membuat saya jatuh cinta.
Terutama untuk mengenang almarhumah wanita indah, penuh pesona, Widhiana Laneza, “yang kini telah berjalan menembus awan,” now she's walking through the clouds, blog tersebut saya beri judul untuk mengabadikan Anez, nama panggilannya yang indah :
Anez :
Asthmatics New Environment Zone
Blog ini dicita-citakan sebagai sarana untuk mempromosikan zona atau lingkungan baru yang ramah terhadap para penderita asma. Juga diniatkan menjadi salah satu mata rantai yang menghubungkan para penderita asma, keluarganya dan fihak-fihak yang menaruh simpati dan empati, dalam semangat saling asah-asih dan asuh untuk berbagi cerita, solusi, dan terutama saling meneguhkan satu dengan lainnya.
Semoga bermanfaat.
Wonogiri, 16 Januari 2006
PS : Saya bukan seorang dokter. Blog ini berisikan informasi-informasi yang bersifat non-medis. Untuk menanggulangi penyakit asma Anda, pastikan Anda tetap berkonsultasi dengan dokter yang berkompeten. Terima kasih.
Email : epsia@plasa.com
Now she's walking through the clouds
With a circus mind
That's running wild
Butterflies and zebras
And moonbeams and fairytales
All she ever thinks about is riding with the wind
(Jimi Hendrix, “Little Wing”)
ANJING YANG MEROKOK. Komedian Steve Allen mengidap sakit asma. Tetapi dirinya merasa tidak punya masalah dengan penyakit gangguan kronis pernafasan itu.
Ia bilang : “Asma bukanlah gangguan bagi saya, kecuali bila saya berdekatan dengan rokok dan anjing. Satu hal yang sangat dan paling mengganggu saya adalah bila anjing-anjing itu merokok pula”
Bagi Riaty, Cresenthya Hartati atau pun Widhiana Laneza, pastilah saya pantas mereka daulat sebagai “anjing yang merokok pula.” Alias sebagai oknum pengganggu yang berpotensi membahayakan kesehatan mereka.
Karena memang mereka memiliki kesamaan yang saya tidak tahu mengapa terjadi begitu saja. Ketiganya sama-sama mempunyai sakit asma. Dan saat itu, saya adalah seorang perokok berat pula.
Perokok dan pengidap penyakit asma, jelas tidak matching. Inilah kemudian ilustrasi dari interaksi yang terjadi : bersama Ria yang saat itu berkuliah di Jurusan Ilmu Politik FISIP UI, kami pernah melakukan date “aneh” kala mengunjungi pameran buku Ikapi di kompleks Jakarta Fair di sekitar Monas.
Problem pribadi pun segera muncul. Karena memiliki gangguan asma, Ria pasti sangat menderita apabila berdampingan dengan diriku yang juga tidak tahan untuk tidak merokok. Kompromi yang terjadi antara kita adalah : dalam mengelilingi stan-stan, mencari buku-buku kesukaan, kami kemudian memilih saling jalan sendiri-sendiri.
Jalan bareng macam apa pula ini ?
HI-TECH, HI-TOUCH. Acara date dengan skenario aneh itu, secara tak terduga, sebenarnya juga menyelesaikan masalah tambahan lainnya di antara kami. Aku dan Ria, selain untuk buku-buku humor, sebenarnya kami tidak memiliki selera terhadap subjek buku yang sama.
Ria yang beragama Islam, tetapi saat SMP dan SMA ia belajar di sekolah Katholik, menyukai (saat itu) buku-buku agama. Sementara saat itu, tahun 1986, aku menyukai buku-buku komputer.
Begitulah, setelah keliling-keliling pelbagai stan buku secara solo itu berakhir, kami lalu ketemuan lagi. Kami kemudian saling unjuk masing-masing buku yang dibeli, yang segera menampakkan betapa kontras selera kita. Ria dengan buku-buku agama dan saya dengan buku-buku komputer.
Kekontrasan itu memicu saya untuk mengeluarkan canda. Saya merujuk ucapan terkenal futuris John Naisbitt dan Patricia Aburdene dengan buku topnya, Megatrends. yang saat itu lagi berkibar-kibar di dunia.
Dalam buku itu mereka sebutkan bahwa di masa depan akan hadir fenomena hi-tech, hi-touch. Artinya, ketika seseorang semakin terlibat dalam pemanfaatan teknologi-teknologi tinggi maka dirinya akan tergerak pula untuk menjadi semakin relijius.
Canda serius saya : “betapa ramalan Naisbitt dan Aburdene itu bukankah bicara tentang kita, Ria ?” Canda itu saya sampaikan ke Ria dalam bentuk surat. Memang begitulah salah satu ujud ritual antara kami selama ini.
Walau sudah ketemuan, atau telpon-telponan, tetapi untuk hal-hal yang masih perlu diobrolkan, kita senang hati saling menambahkannya dalam bentuk surat-surat yang panjang. Karena Ria suka bilang, “surat-surat Mas Hari sering saya baca tidak hanya satu kali”.
Yang Ria mungkin tidak tahu bahwa dalam menulis surat itu saya harus melek separo malam. Juga menghabiskan rokok berbatang-batang pula.
ORTU TERLALU PROTEKTIF ? Ria sebenarnya belum banyak bercerita mengenai sakit asmanya. Ia juga tidak rewel tentang kebiasaan jelekku, merokok itu. Yang bisa saya kerjakan : saya tidak akan merokok ketika ketemuan sama dia.
Ria adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang pemimpin redaksi sebuah newsletter ekonomi yang terkenal. Kalau di rumah, saat dipanggil oleh ibunya dengan “Ria sayang”, terdengar Ria segera membalasnya : “Ya, mama, sayang”.
Bagi saya, yang berasal dari kultur kota kecil Wonogiri, sahut-sahutan dengan menonjolkan kata “sayang” seperti itu menurut saya rada berlebihan. Silakan mencap saya sebagai kampungan. Mungkin saya sedang mengalami benturan budaya, budaya urban vs. budaya desa.
Tetapi ekspresi kasih sayang yang bagiku rada-rada too much itu, mungkinkah merupakan wujud sikap orang tua yang terlalu protektif, terlalu melindungi anak-anaknya ? Dan ini hanya kabar burung, bukan info medis yang sahih, konon justru sikap orang tua yang terlalu melindungi tersebut merupakan pemicu utama timbulnya penyakit asma pada anak-anak mereka. Itukah pula yang terjadi pada diri Ria ?
Saya tidak tahu.
Dalam suatu kesempatan lain, Ria saya jemput di kampus dan kami bersepakat keluyuran ke Pasar Seni Ancol. Ia nampak menikmati jalan-jalan seperti itu. Ia bilang, sejak SMP ia belum pernah mengalami “kebebasan” seperti ini. Juga menambahkan, kalau saja ketahuan orang tuanya, pasti dirinya akan habis-habisan dimarahi.
Benarkah limpahan kasih sayang yang berlebihan justru menjadi penyebab timbulnya penyakit asma ? Diagnosa yang mungkin, sekali lagi, kampungan. Barangkali yang benar justru yang sebaliknya.
Karena anaknya menderita sakit asma, maka kondisi rawan tersebut memicu orang tua untuk memperlakukan anak-anaknya secara ekstra dalam memberikan perhatian, perlindungan dan kasih sayang. Pendekatan yang dapat kita maklumi.
MENGAKU SAKIT ASMA. Diagnosa yang sama mungkin berlaku atau tidak berlaku untuk seorang Cresenthya Hartati. Ia anak terkecil dari enam bersaudara.
Gadis artistik lulusan SMA Tarakanita 2 Pluit Jakarta ini, yang kadang rada-rada reckless, punya tulisan tangan yang indah serta dikaruniai kaki menawan ini, ketika berkuliah di Desain Produksi Universitas Trisakti mengaku memiliki kedekatan dengan mamanya.
Tetapi karena mamanya keburu meninggal dunia saat Hartati masih duduk di sekolah dasar, ia kurasa seperti merasakan sebuah “lubang besar”, kekurangan kasih sayang dalam masa-masa ia menginjak dewasa.
“Mas Hari, aku punya sakit asma”, akunya terus terang. Itulah sebagian ritual “buka-bukaan” yang masih saya ingat. Ketika kita bersepakat untuk jadian maka kita saling membuka diri tentang diri kita apa adanya.
Hartati melakukannya secara agak sistematis. Dengan membuka catatan-catatan riwayat pribadi yang ia tulis sendiri. Ia pun menambahkan, “untuk semua sedihku, hanya pernah aku ceritakan kepada kamu.”
Aku kini menjadi rada bingung. Dalam kasus Ria, limpahan kasih sayang yang berlebih diduga menjadi penyebab ia menderita asma. Sebaliknya pada kasus Hartati, yang mengalami defisit kasih sayang dari orang tuanya, toh dirinya terus terang mengaku mengidap sakit asma juga. Bagaimana pula ini ?
Baiklah, biarlah kebingungan itu biar aku simpan sendiri saja.
Di sisi lain dari pengakuan Hartati itu, bagi saya, malah terasa sebagai suatu ofensif. Serangan untuk pribadi. Apalagi kemudian, berbeda dengan Ria yang tidak rewel dengan kebiasaan merokok saya, Hartati justru berkali-kali menjadikan topik ini sebagai obrolan.
Misalnya dengan mengirimkan majalah atau guntingan artikel yang membahas mengenai bahaya merokok. “Aku pengin Mas Hari sehat-sehat, juga bisa berumur panjang”, katanya lembut.
Itulah ujud perhatian dia.
Ujud cinta dia.
Tetapi sebagai lelaki, seperti halnya suatu pemerintahan, saya merasa tidak ada yang salah dalam kebiasaan merokok saya. Dengan merokok saya merasa lebih kreatif. Itulah sikap keras kepala. Merasa benar sendiri. Tidak menghargai pendapat pasangan tercinta.
Mungkin situasi yang terjadi antara dia dan saya tersebut mencocoki sebuah tesis bahwa wanita selalu ingin melihat pasangannya berubah, sementara lelaki tidak ingin pasangan perempuannya berubah, tetapi pada akhirnya keduanya hanya akan menjadi kecewa.
Desperado
Why don't you come to your senses
Come down from your fences
Open the gate
Memang sangat sulit merubah keyakinan seseorang. Juga untuk kebiasaan merokok. Seperti lirik lagu “Desperado” dari Eagles (1973), yang juga dinyanyikan oleh kelompok musik favorit saya, Carpenters, perubahan itu hanya bisa dimulai dari “dalam” diri orang bersangkutan
Bajingan tengik,
dengarkan kata hatimu
keluarlah dari pagar yang mengurungmu
dan bukalah pintu gerbangmu
Bujukan Hartati itu akhirnya memang menjadi kenyataan. Saya mau membuka pintu gerbang perubahan dari dalam. Hal itu terjadi ketika suatu malam saya dipaksa berbaring sendirian di rumah sakit Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur.
Saat itu saya merasa ada rasa perih-perih di dada saya. Mungkin istilah kedokterannya terkena angina pectoris. Istilah yang terdengar indah, tetapi menggambarkan kondisi defisit pasokan oksigen ke jantung yang bila berlanjut dapat mengancam jiwa.
Saat itu slang pemasok oksigen terpatok dalam lubang hidung saya. Saya tergeletak sendirian sambil cemas menyaksikan grafik berwarna kehijauan dengan latar belatang hitam itu menari, menggambarkan irama denyut jantung pada monitor peralatan eletrocardiograf. Itulah irama kehidupan atau kematian yang saat itu telah menantiku.
Pengalaman mendebarkan itu, lalu peringatan dokter agar saya berhenti merokok, mendorong saya rela berjuang untuk berhenti merokok. Dan berhasil. Tetapi semua itu justru terjadi ketika saya dengan Hartati sudah bubaran.
Kembali ke masalah asma. Bagi saya, ada satu hal penting yang belum pernah Hartati ceritakan kepada saya. Kalau dirinya mengidap sakit asma, mengapa ia memelihara anjing-anjing di rumahnya ? Lebih berbahaya mana antara asap rokok dibandingkan dengan partikel dari bulu-bulu anjingnya ?
Apakah Hartati mencampur adukkan antara alergi dengan asma ? Ia sebenarnya hanya alergi terhadap asap rokok, tetapi tidak dengan bulu-bulu anjingnya, lalu membesar-besarkannya sebagai berpenyakit asma ?
Buku Corinne T. Netzer’s Big Book of Miracle Cures (1999) menjelaskan bahwa alergi dan asma bukan penyakit yang sama. Walau pun demikian, terdapat kaitan erat, tidak hanya gejala dan pengobatannya, tetapi faktanya penderita asma seringkali menderita akibat alergi.
Asma, faktanya, merupakan salah satu ujud alergi (baik alergi terhadap makanan mau pun alergi terhadap zat-zat yang terdapat udara) yang muncul. Walau pun demikian, penting untuk diingat, tidak semua penderita asma itu memiliki alergi.
Perbedaan besar antara asma dan sebagian besar alergi terletak pada tingkat keparahannya. Sementara beberapa alergi (misalnya tersengat lebah) mungkin perlu dirujuk ke unit gawat darurat, tetapi sebagian besar alergi merupakan gangguan kesehatan yang hanya membuat tidak nyaman dan menjengkelkan. Sementara itu, asma merupakan gangguan kesehatan yang kronis dan dapat mengancam jiwa penderitanya.
Gejala umum alergi meliputi : hidung mengeluarkan ingus (cairan bening, kuning pekat atau kehijauan yang mengindikasikan gangguan flu atau infeksi sinus), sesek, bersin-bersin, hidung dan mata gatal, mata berair dan bergetah, kulit secara temporer berbisul, bengkak atau ruam.
Berbeda dari alergi, serangan asma tidak melibatkan organ hidung atau mata, walau pun batuk-batuk di pagi hari merupakan gejala yang umum.. Asma merupakan penyakit saluran udara dari paru-paru yang terkena radang dan iritasi. Ketika serangan terjadi, otot-otot pembuluh tenggorokan berkontraksi, menyempit, menimbulkan gejala utama asma, meliputi : mengi, nafas mencuit-cuit, megap-megap, kesulitan menarik dan menghembuskan nafas, sampai irama bernafas yang cepat dan pendek-pendek.
Pengakuan Hartati mengenai penyakit asmanya, bagi saya, kemudian merupakan teka-teki yang belum terpecahkan. Yang pasti, saya belum pernah satu kali pun mendapati dirinya saat terkena serangan alergi atau pun asma.
Pernah ia agak kolokan, katanya tiba-tiba merasakan melihat objek yang ia pandang menjadi dua. Mirip pandangan seseorang yang mabuk alkohol. Tetapi keluhan aneh Hartati itu tidak perlu berlanjut lama-lama.
Seseorang di dekatnya meminta ia memejamkan mata dan segera Hartati mampu melupakan gangguan penglihatan yang dobel semacam itu. Apalagi ia lalu tenggelam, atau terbang melayang saat merasakan bibirnya dilumat oleh pria yang mencintainya.
ANEZ, ANJING KESAYANGAN DAN ASMA. Pada penghujung Desember 2005, asma tiba-tiba kembali menjadi perhatian yang sangat mengagetkan saya. Pemicunya adalah ketika saya memperoleh kiriman e-mail dari Verdi Amaranto, 22 Desember 2005 yang lalu.
Mas Anto ini adalah kakak tertua dari Widhiana Laneza, atau Anez, wanita indah semampai, yang membuat saya jatuh cinta kepadanya di tahun 1981 sampai tahun 1987.
Anez berkuliah di Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Anez memiliki beberapa ekor anjing kesayangan, baik yang ia beri nama Grigri (jimat dalam bahasa Perancis), Pancho atau Cakil, Bobi sampai Minggo.
Sejak kecil Anez rupanya sudah suka terhadap anjing. Lihatlah, dalam foto di bawah ini yang dijepret di tahun 1969, di Hanoi, Vietnam Utara saat itu.
Widhiana Laneza (1969)
Pesona sosok Anez dan relasi uniknya dengan satwa-satwa kesayangannya itu telah memercikkan ilham bagi saya untuk menulis buku kumpulan lelucon satwa, Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa (Andi, 1987).
Buku Untuk Anez
Anez, anak ketiga dari empat bersaudara. Adiknya Liana Rasanti, meninggal dunia saat baru berumur setahun, 1965.
Anez memiliki sakit asma.
Dirinya menderita seperti halnya tokoh-tokoh dunia dari Peter Agung (Kaisar Rusia), Ludwig von Beethoven, Charles Dickens (pengarang), Marcel Proust (Novelis Perancis), Theodore Roosevelt (Presiden AS ke 26), John F. Kennedy (Presiden AS ke 42), Elizabeth Taylor (aktris), Martin Scorsese (sutradara film), sampai Dennis Rodman, pemain bola basket AS kontroversial yang nyaris sekujur badannya penuh “seni batik” tato itu.
Pertimbangan terkait sakit asmanya itu pula yang membuat Anez memilih bekerja di Bali, dibanding kota Jakarta yang tingkat polusinya begitu tinggi, yang pasti tidaklah ramah bagi penyakit asmanya itu.
Anez, kelahiran Brussels 28 April 1963, meninggal dunia di Jakarta dalam momen yang menggetarkan hati. Yaitu 3 hari setelah pernikahannya. Pada tanggal 20 Desember 2005 yang lalu.
Apakah Anez meninggal dunia akibat dari sakit asmanya juga ? Mas Anto belum secara eksplisit bercerita tentang hal itu. Aku pun, dengan ikut sedih, hanya bisa menduga-duga.
ANCAMAN ASMA DAN KITA. Awal bulan Desember 2005, menjelang liburan panjang Natal dan Tahun Baru, American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) telah mengeluarkan peringatan, bahwa bagi para penderita asma dan alergi lainnya, musim liburan menyimpan ancaman potensial bagi mereka.
“Apakah Anda bersibuk-ria menyiapkan pohon Natal, menengok binatang peliharaan sanak-saudara, atau berpesta menyambut liburan, ancaman pemicu timbulnya alergi mengintai di setiap sudut.”
“Akibat ketatnya skedul dan perjalanan yang terus-menerus sepanjang musim liburan, banyak orang mudah terlupa untuk merawat kesehatannya secara tertib bila menyangkut ancaman alergi dan asma”, kata Wanda Phipatanakul, MD, MS, FAAAAI, wakil ketua Komite Indoor Allergen dari AAAAI.
“Senantiasa mengingat pemakaian obat dan menghindari pemicu yang potensial merupakan hal penting agar gejala penyakit asmanya dapat terkendalikan”
Ancaman serangan asma memang bukan hal yang dapat kita sepelekan. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, menurut ISL Consulting Co., terdapat sekitar 31,3 juta penderita asma. Angka ini naik dari 26 juta di tahun 1997. Terdapat angka 12 juta serangan sakit asma dalam 12 bulan terakhir.
Sebanyak 9,2 juta penderita asma berumur di bawah 18 tahun. Sebanyak 4,2 juta anak muda menderita asma dalam 12 bulan terakhir. Kematian akibat asma tercatat 4.487 orang, turun dari angka 5.000 di tahun 1997 dan 4.657 di tahun 1999.
Asma merupakan penyakit kronis paling utama yang menyerang anak-anak. Untuk mereka yang berumur 5 sd 17 tahun, asma merupakan penyakit nomor satu yang mengakibatkan mereka mangkir sekolah akibat kekronisan penyakitnya.
Sebanyak 10 juta hari sekolah hilang akibat penyakit asma. Anak-anak penderita asma tergeletak di ranjang sekitar 7,3 juta hari tiap tahunnya.
KAMPANYE ASMA GLOBAL. Untuk mengkampanyekan kesadaran masyarakat luas mengenai asma dan langkah penanggulangannya, telah dicanangkan gerakan Inisiatif Global Penanggulangan Asma (Global Initiative For Asthma /GINA) yang antara lain mencanangkan Hari Asma Sedunia, yang jatuh hari Selasa pertama bulan Mei. Hari Asma Sedunia tahun 2006 jatuh hari Selasa, 2 Mei 2006.
Salah satu gagasan untuk mengkampanyekan kesadaran terhadap asma tersebut, antara lain dengan meluncurkan situs web di Internet yang berisikan edukasi dan petunjuk penanggulangan asma. Juga mengampanyekan lingkungan yang bersih dari asap rokok dan debu pencetus alergi lainnya.
Sebagai orang yang bersyukur bisa berhenti dari kebiasaan buruk merokok dan membanggakannya sebagai salah satu prestasi hebat dalam hidup saya, sejak tahun 1989, maka program-program GINA tersebut menantang saya untuk ikut berperan serta di dalamnya.
UNTUK MENGENANGMU, ANEZ. Mengilas balik hidup saya, ternyata wanita-wanita terindah yang pernah membuat saya jatuh cinta, diakui atau tidak diakui, termasuk yang dalam fase hidupnya pernah mengidap penyakit asma. Untuk mengenang kebaikan-kebaikan mereka, situs blog tentang asma ini saya luncurkan.
Amor tussisque non celantur.
Love and a cough cannot be hid.
Asmara dan batuk tidak dapat disembunyikan Pepatah latin itu pun saya modifikasi : asmara dan asma tidak dapat disembunyikan. Bahkan, lebih lanjut, bagi saya kemudian, asmara yang terantuk pun juga tidak perlu disembunyikan.
Kekasih boleh hilang atau pergi, tetapi cinta tetap bisa abadi. Meninggalnya seorang Mumtaz-i-Mahal telah mampu menggerakkan suaminya, Syah Jehan, membangun Taj Mahal di Agra. Kiranya tak kurang eloknya apabila saya tergerak membuat satu-dua blog untuk mengenang wanita-wanita terindah yang pernah membuat saya jatuh cinta.
Terutama untuk mengenang almarhumah wanita indah, penuh pesona, Widhiana Laneza, “yang kini telah berjalan menembus awan,” now she's walking through the clouds, blog tersebut saya beri judul untuk mengabadikan Anez, nama panggilannya yang indah :
Anez :
Asthmatics New Environment Zone
Blog ini dicita-citakan sebagai sarana untuk mempromosikan zona atau lingkungan baru yang ramah terhadap para penderita asma. Juga diniatkan menjadi salah satu mata rantai yang menghubungkan para penderita asma, keluarganya dan fihak-fihak yang menaruh simpati dan empati, dalam semangat saling asah-asih dan asuh untuk berbagi cerita, solusi, dan terutama saling meneguhkan satu dengan lainnya.
Semoga bermanfaat.
Wonogiri, 16 Januari 2006
PS : Saya bukan seorang dokter. Blog ini berisikan informasi-informasi yang bersifat non-medis. Untuk menanggulangi penyakit asma Anda, pastikan Anda tetap berkonsultasi dengan dokter yang berkompeten. Terima kasih.
Sunday, January 15, 2006
Carpenters, Umur Madonna dan Mengapa Waktu Cepat Sekali Berlalu : Refleksi Tahun Baru Seorang Blogger dan Epistoholik
Oleh : Bambang Haryanto
Email : epsia@plasa.com
I know I’ve wasted too much time
I know I ask perfection of a quite imperfect world
And fool enough to think
that’s what I’ll find
(Carpenters, “I Need To Be In Love”)
PUTRI SOLO SI MACAN LAPAR. Kalau Anda mendengar ucapan Puteri Solo, sosok siapa yang segera tergambar di benak Anda ? Gusti Nurul ? Tien Soeharto ? Mooryati Sudibjo ? Poppy Dharsono ? Krisdinah Purnamaningsih ? (“Pasti !”, kata saya). Indri Hapsari ? Dyah Permatasari ? Iga Mawarni ? Tya AFI 2 ?
Terserah Anda.
Dalam kenangan bersama masyarakat Solo terlanjur dikenal luas lagu keroncong berjudul Putri Solo, yang merupakan ikon yang tidak tergerus jaman untuk menggambarkan sosok putri Solo. Salah satu baris liriknya berbunyi bahwa gaya berjalan putri Solo koyo macan luwe. Ibarat jalan seekor harimau yang sedang lapar. Pelan-pelan dan gemulai.
Gambaran ini sepertinya mencocoki hasil sebuah riset internasional yang mengungkap gaya hidup alon-alon, pelan-pelan, masyarakat Solo. Penelitinya adalah Robert Levine, profesor psikologi dari California State of University di Fresno dan kawan-kawan. Hasilnya ia tulis bersama Ellen Wolff, penulis bebas asal Los Angeles.
Lokasi riset mereka antara lain di Kantor Pos Solo, tempat saya dulu di tahun 1970-an untuk mencairkan wesel pembayaran honor menulis. Terkisah, ketika periset itu antri membeli perangko, pegawai posnya malah tertarik mengobrolkan mengenai sanak-saudaranya yang tinggal di Amerika Serikat.
Misalnya bertanya, apakah mereka mau bertemu dengan omnya yang tinggal di Cincinnati ? Manakah yang lebih baik, California atau Amerika Serikat ?
Lima pengantri di belakang periset bule itu nampak tidak protes atau mengeluh. Mereka justru ikut menguping pembicaraan yang terjadi. Pegawai kantorpos Solo itu tentu tidak tahu bila bule tersebut membawa stopwatch untuk mengukur seberapa lama waktu yang dibutuhkan pegawai pos untuk melayani pembelian sebuah perangko.
Mereka sebelumnya berkunjung ke kantorpos ini hari Jumat sore. Tentu saja, kantor sudah tutup. Aula kantor sudah disulap menjadi lapangan volley.
Artikel Levine dan Wolff yang dimuat di majalah Psychology Today, Maret 1985, dilengkapi ilustrasi foto pertandingan volley di aula kantorpos Solo tersebut. Tetapi yang mampu mengundang senyum getir, di pojok foto itu nampak sesosok kartun binatang kelinci, berpakaian model manusia.
Dalam fabel barat, kelinci adalah lambang ketergesaan. Di situ, di kota Solo itu, nampak sang kelinci lagi tertidur dengan pulasnya. Mendengkur. Sementara di halaman lain digambarkan dirinya terpontang-panting di jalanan Tokyo dan New York, walau nampak santai, enggar-enggar, ketika berjalan menyusuri jalanan kota Florence di Italia.
BINGUNG DI BRASIL. Gambaran beragam ulah kelinci tadi merupakan simbol pemaknaan atas waktu bagi tiap-tiap bangsa. Kajian yang terkait waktu itu memunculkan pertanyaan menarik.
Mengapa Brasil di Olimpiade Los Angeles 1984 hanya mampu meraih satu medali emas dari atletnya Isidro del Prado, sementara Amerika Serikat berpesta dengan memborong 30 medali emas dari ajang yang sama, yaitu kolam renang ? Padahal keduanya adalah sama-sama negara besar di benua Amerika. Untuk mencari jawab atas pertanyaan ini, diskusi memang dapat melebar ke banyak segi.
Robert Levine mengajukan tesis menggelitik menyangkut apa yang disebut sebagai waktu sosial, denyut jantung masyarakat dalam memaknai waktu. Secara matematis memang manusia hidup dalam hitungan waktu yang sama, 24 jam sehari, tetapi tidak semua budaya di dunia memaknainya secara sama. Levine yang orang Amerika, merasakan benturan budaya akibat beda pemaknaan waktu ketika mengajar di sebuah universitas di Brasil.
Hari pertama Levine di Brasil dijadwalkan mengajar jam 10. Ia datang jam 9.05, lalu berkeliling untuk mengenal kampus itu. Ia fikir dirinya baru berkeliling sekitar setengah jam, tetapi langsung panik ketika melihat jam di salah satu gedung kampus sudah menunjuk waktu 10.20.
Bergegas masuk ruang, ternyata tak ada satu pun mahasiswa. Ia tanya jam pada mahasiswa yang lewat, dijawab 9.55. Lainnya menjawab, tepat 9.43. Sebuah jam di gedung itu menunjuk waktu 3.15. Ia berpendapat, jam-jam penunjuk waktu yang ada tidak akurat, tetapi tidak ada orang yang hirau.
Ketika jam kuliah dimulai, banyak mahasiswanya yang telat masuk ruang. Beberapa baru masuk jam 10.30 dan mendekati jam 11. Semuanya nampak merasa tidak bersalah, tersenyum dan mengucap halo, dan mahasiswa lainnya pun tampak tak terganggu. Dalam risetnya, mahasiswa Brasil menyebut seseorang datang terlambat bila ia muncul rata-rata 33 menit melewati janji. Sementara mahasiswa AS menyebut 19 menit.
Setelah beberapa lama tinggal di Brasil, ia baru terbuka matanya bahwa budaya yang mempengaruhi pemaknaan waktu sosial itu. Terungkap pendapat di kalangan mahasiswa Brasil bahwa seseorang yang secara konsisten terlambat itu lebih sukses dibanding mereka yang konsisten datang lebih awal. Mereka menyetujui pendapat umum bahwa seseorang yang berstatus tinggi harus datang terlambat. Ketidaktepatan waktu merupakan simbol sukses. Melihat fenomena Brasil ini kita sebagai bangsa Indonesia seperti memperoleh cermin !
INDONESIA DI POSISI BUNCIT ! Lebih menarik, kita dapat melihat lebih detil profil tertinggalnya bangsa Indonesia ketika Levine bersama kolega sekampusnya, Kathy Bartlett, melakukan riset untuk memperkaya pemahaman tentang konsep waktu sosial pelbagai bangsa.
Mereka melakukan pengukuran waktu terhadap irama hidup di kota besar dan kota menengah di pelbagai belahan dunia.
Di antaranya Amerika Serikat (New York dan Rochester), Inggris (London dan Bristol), Jepang (Tokyo dan Sendai), Taiwan (Taipei dan Tainan), Italia (Roma dan Florence) dan Indonesia (Jakarta dan Solo).
Riset yang mereka lakukan mengkaji tiga indikasi dasar : akurasi jam pada kantor bank, kecepatan pejalan kaki dan kecepatan pegawai kantorpos melayani pembelian perangko.
Akurasi waktu terbaik diraih Jepang. Alat penunjuk waktu di setiap 15 kantor bank yang dicek dengan waktu kantor telepon setempat, hanya berselisih kurang atau lebih setengah menit. Di Indonesia, yang menempati peringkat paling buncit dari keenam negara itu, selisih beda waktunya lebih dari tiga menit. Urutannya : Jepang, Amerika Serikat, Taiwan, Inggris, Itali, dan Indonesia.
Kecepatan seseorang sendirian berjalan kaki menempuh jarak 100 kaki, kembali yang tercepat diraih oleh orang Jepang. Rata-rata waktu tempuhnya hanya 20.7 detik. Orang Inggris menempuhnya 21,6 detik, Amerika 22,5 detik, dan orang Indonesia berstatus paling alon-alon, lamban, dengan waktu tempuh 27,2 detik. Urutannya : Jepang, Inggris, Amerika Serikat, Italia, Taiwan dan Indonesia.
Hasil riset Robert Levine ketika mengukur efisiensi petugas pos melayani pembelian perangko, yang ilustrasinya seperti dikisahkan di depan, ternyata prestasi pegawai pos Indonesia berada di peringkat 5. Sebab yang paling buncit diduduki pegawai pos Italia. Waktu layanan di Jepang 25 detik dan Italia memakan waktu 47 detik. Urutannya : Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Taiwan, Indonesia, dan terakhir Italia.
KORUPSI BESAR-BESARAN DI INDONESIA. Gambaran profil waktu sosial bangsa Indonesia dalam riset Levine di atas, sedikit banyak, memberikan gambaran mengenai posisi bangsa dan negara ini dalam berpacu dengan bangsa lain di kancah internasional.
Bahasan ini pernah saya tulis di harian Kompas edisi Jawa Tengah (16/9/2004) dengan mengajukan ilustrasi betapa di bidang olahraga misalnya, seperti Brasil, atlet perenang atau lari Indonesia bahkan belum pernah tercatat punya prestasi puncak di kancah seakbar Olimpiade.
Sementara di bidang kehidupan sosial, guru besar emeritus IPB, Sjamsoe’oed Sadjad (Kompas, 17/7/2004), menandai bahwa budaya korupsi waktu kronis melanda para pegawai negeri sipil kita.
Ia pun berhitung : bila 3,5 juta PNS melakukan korupsi waktu hanya satu jam setiap hari, maka 3,5 juta jam sehari rakyat kehilangan kesempatan untuk dilayani. Hitungannya, untuk pegawai negeri bergaji Rp. 8.400.000/tahun, maka akibat korupsi waktu satu jam itu negara dirugikan sebesar Rp. 16 miliar tiap hari.
Belum lagi korupsi satu jam di sore hari. Juga belum lagi kalau gajinya lebih besar dari Rp.700.000/bulan. Bayangkan bila gajinya Rp. 150 juta seperti gaji Dirut Pertamina. Hitung saja, bila datang ke kantor jam 10.00. Seperti di Brasil, di Indonesia juga berlaku tradisi bahwa semakin tinggi pangkatnya maka pejabat Indonesia boleh dan berhak selalu datang terlambat. Belum para dosen di perguruan tinggi yang datang ke kampus hanya kalau memberi kuliah.
Anehnya, kata Prof. Sadjad, rakyat tidak merasa dirugikan. Rakyat tidak sadar uangnya “digerogoti”. Apa karena negeri ini gemah ripah loh jinawi, subur dan makmur, sehingga kehilangan Rp. 16 miliar per hari masih bisa tertawa-tawa ?
GADIS CANTIK DAN KOMPOR PANAS. Pertanyaan di atas tentu saja tidak membuat saya tertawa-tawa. Mikir-mikir mengenai diri sendiri, terlebih setiap kali mendekati akhir tahun, perasaan yang muncul dan mengusik adalah rasa sedih. Menyesali betapa cepatnya waktu terbang. Hilang. Lenyap. Dan pasti tidak pula kembali lagi.
Mengapa waktu begitu cepat berlalu ? Tahun 2006 ini saya akan memasuki umur 53 tahun. Berstatus bujangan. Tidak punya pekerjaan tetap. Kalau PNS, dua tahun lagi akan pensiun. Mengidap blogpistoholik, hipokondriak dan kesepian. Memendam banyak harapan dan bercocok tanam beragam impian.
Why time flies, so soon ?
Why time flies, so soon ?
Mengapa waktu begitu cepat berlalu ? Itulah juga pertanyaan Madonna dalam lagu berirama dansa, “Hung Up” dari album terbarunya, Confessions on a Dance Floor (2005).
Josh Tyrangiel menulis resensinya di majalah Time yang dikutip situs PopWatch, berkata : “Dalam musik dansa, kata yang hadir tampil diulang-ulang, dibengkok-bengkokan, disembunyikan atau ditonjolkan. Bagaimana suaranya muncul dalam momen tertentu jauh lebih penting dibanding makna yang diusungnya, dan Madonna paling piawai dalam kiprah yang satu ini”
Dasar Madonna, kontroversi selalu membuntutinya.
Lagu yang digarap bersama dua mantan pentolan ABBA (Benny Andersson dan Björn Ulvaeus), juga Stuart Price itu, mendapat komentar :
“Madonna merupakan penampil yang baik, tetapi bukan penyanyi yang baik. Suaranya terlalu lembek, ia tak mampu mencapai nada-nada tinggi dan juga tak mampu bernyanyi pada nada rendah. Pernah dengar peserta kontes American Idol menyanyikan lagunya Madonna ? Tak pernah, karena menyanyikan lagunya Madonna sulit sebagai bukti dirinya memiliki keterampilan menyanyi. Karena memang tidak memerlukan suara bagus untuk menyanyikan lagu-lagu Madonna”
Komentar lain lebih ketus : “Kasihan Madonna, masa kejayaan dia sudah lewat dan segala upayanya untuk tampil agar kelihatan awet muda pasti tidak dan tidak akan pernah berhasil”.
Pendukung Madonna sewot jadinya. Ganti unjuk bicara. “Madonna adalah sang ratu, dan semua pembenci yang memasalahkan umurnya hanya justru menunjukkan dirinya yang sebenarnya lebih menyedihkan. Tak peduli umur mereka, Madonna tampil lebih baik dibanding umur para pembencinya itu, pada umur berapa pun !”
“Saya tidak faham mengapa orang menggunjingkan umur Madonna. Ia baru 47, bukan 80 tahun. Mengapa orang memiliki kerangka berpikir bahwa bila Anda sudah melewati usia 40... maka Anda harus segera MATI ?
Lihat saja faktanya. Madonna di umur 47 tahun nampak lebih kece dibanding gadis Amerika usia 19 tahun pada umumnya (yang dijejali makanan McDonalds)... Madonna nampak luar biasa dan kiranya sanggup menjalani latihan marathon bertahun-tahun dalam menari dan fitness yang ketat.
Komentar mengenai umur adalah komentar yang bodoh....Cher hampir berusia 60 tahun, masih bugar dan aktif. Sementara Tina Turner melakukan hal yang sama ketika hampir menginjak umur 70 tahun !”
Why time flies, so soon ?
Why time flies, so soon ?
Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu, Madonna. Kepada St. Agustine pun ketika ditanyakan kepadanya apa definisi waktu, ia menjawab : “Bila tidak ada orang yang bertanya kepadaku, aku tahu ; tetapi bila diminta untuk menjelaskan kepada yang menanyakannya, saya tidak tahu”
Fisikawan Isaac Newton sampai Stephen Hawking juga telah mengupas masalah waktu. Tetapi waktu bagi mereka diukur dengan ayunan pendulum, atom-atom yang bervibrasi, dan bukan pengalaman waktu secara psikologis yang tidak terpatok dengan ukuran detik jam atau kalender. Muncul nama Albert Einstein (1879–1955), maha fisikawan kelahiran Ulm, Jerman.
Agak lucu bagi saya, ternyata penemu Teori Relativitas itu punya fans berat di kota kecil saya, Wonogiri. Penemuan itu pula yang kembali mengusik saya untuk menulis esai ini. Gara-garanya saya menemui sebuah mobil sedan hitam, nomor polisi Wonogiri, di mana pada kap depannya tergambar foto Einstein dengan rambut awut-awutan yang seksi itu.
Di dekatnya tertulis kalimat : ”When you sit with a pretty girl for an hour it seems like a minute, but when you are on a hot stove, a minute seems like an hour. That’s relativity.”
Ketika Anda duduk berduaan dengan gadis cantik, waktu sejam akan terasa semenit, tetapi bila Anda duduk di atas kompor panas maka semenit akan terasa sejam lamanya. Itulah relativitas.
Einstein rupanya sadar adanya perbedaan antara waktu fisik dengan waktu psikologis di balik ucapannya yang terkenal itu. Berandai-andai saja : apa yang akan terjadi dan rasakan bila kita berdua bersama gadis cantik, tetapi bersama-sama duduk di atas kompor yang membara ?
TERGANTUNG PERSPEKTIF ! Mungkin Einstein bakal menemukan teori yang lain lagi. Tetapi, jujur saja, saya bukan orang yang pandai mengatur waktu. Bahkan cenderung menghambur-hamburkannya. Ketika berkuliah di Solo, saya mendapat julukan sebagai mahasiswa komper. Terbelakang, laggard, pencorot, karena lulusnya paling belakangan.
Saya tidak terbiasa punya atau memakai jam tangan. Sekitar tahun 1997 pernah oleh teman sekos di Jakarta, Yoyok Subagyo, aku diberi jam tangan yang ada logo Citibank, kantornya bekerja. Saya juga tidak menyukai planner, tetapi menyukai diary yang polos saja. Sebagai pencinta buku, saya pun tidak begitu suka membaca-baca buku bertopik manajemen waktu. Pernah memiliki fotokopinya, tetapi tetap saja saya malas membacanya.
Tetapi di Perpustakaan LIA Jakarta, 14 Mei 1992, saya menemukan artikel menarik tentang waktu dari majalah McCall’s (10/1991). Judulnya, “Why time flies and how to slow down”, ditulis oleh Bruce Schechter, penulis sains bergelar Ph.D Fisika yang tinggal di New York. Setiap pergantian tahun saya pengin banget menceritakan tulisan tersebut, juga artikel Robert Levine dan Ellen Wolff di atas.
Tulis Bruce Schechter, waktu psikologis itu dapat melesat terbang atau merangkak lamban, ternyata tergantung bagaimana kita mengisinya. Semenit menunggu lift terasa lebih lama dari sepuluh menit saat coffee break. Tetapi kalangan psikolog mencacat bahwa satuan waktu yang lebih besar, bulan atau tahun, terasa melesat lebih cepat ketika umur seseorang bertambah.
James Walker, psikolog di Winnipeg, Manitoba, yang mempelajari masalah akselerasi waktu dan dikutip Schechter berkata : “Saat ini umur saya pertengahan 40-an, dan waktu seminggu kini bagi saya tak ada apa-apanya dibanding di tahun 70-an”. Lebih menarik ucapan Robert Southey, penyair dari Inggris : “Dua puluh tahun pertama adalah masa separo terpanjang dalam hidup Anda...waktu itu terasa panjang untuk berlalu ; juga begitu awet ketika dikenang ; dan waktu tersebut mengambil ruang lebih banyak dalam kenangan kita dibanding tahun-tahun sesudahnya”
Ilmuwan menyebut hal ini sebagai fenomena “akselerasi waktu subyektif yang terkait dengan penuaan.” Salah satu teori pendukungnya berupa matematika sederhana : satu tahun bagi anak berumur 5 tahun adalah 20 persen dari hidupnya, dan bagi mereka berussia 50 tahun hanya 2 persen saja. Jadi, setahun itu lebih lama bagi anak-anak dibanding bagi orang dewasa.
Tentu, ada faktor lain yang merubah persepsi kita tentang waktu. Charles E. Joubert, psikolog Universitas North Alabama, yang juga mengkaji akselerasi waktu mencatat bahwa semakin waktu itu terstruktur, berisi skedul dan janji, semakin cepat pula waktu itu melintas.
Sebagai contoh : seharian di kantor itu tak ada apa-apanya dibanding seharian bersantai di pantai wisata. Oleh karena sebagian besar kita lebih sedikit menghabiskan waktu di pantai, tetapi lebih banyak di kantor seiring meningkatnya umur, maka peningkatan waktu yang terstruktur itu pantas dituding sebagai biang kerok mengapa waktu terasa semakin cepat terbang seiring bertambahnya umur kita.
Akselerasi atau bergegasnya waktu, mungkin juga diakibatkan oleh fenomena fisiologis. Di tahun 1932, istri Hudson Hoagland, seorang ahli ilmu faal, terserang flu. Ketika suhu tubuhnya mencapai 104 derajat Fahrenheit, Hoagland segera bergegas menuju apotik untuk membeli obat. Perjalanannya hanya selama 20 menit, tetapi istrinya justru marah-marah, mengatakan lebih lama. Kalau suami lain pasti masalah ini mampu memicu saling tarik urat, Hoagland justru menaruh perhatian secara serius terhadap keluhan istrinya.
Hoagland pernah membaca bukunya psikolog Perancis, Henri Pieron, bahwa kecepatan proses psikologis seseorang itu dipengaruhi oleh suhu, demikian pula persepsinya tentang waktu. Karena semakin meningginya suhu akan pula meningkatkan reaksi kimia lebih cepat, hingga Pieron menyimpulkan bahwa waktu pun akan terasa lewat lebih cepat dibanding yang senyatanya.
Hoagland lalu melakukan tes untuk teori di atas, dengan meminta istrinya menghitung angka sampai 60 dengan keras-keras. Ia memperkirakan satu hitungan memakan waktu satu detik. Ia mengukurnya dengan stopwatch. Yang terjadi, istrinya menghitung paling cepat ketika demamnya meninggi, yang menjelaskan mengapa istrinya tersebut merasakan waktu senyatanya berjalan begitu lamban.
Apakah fenomena serupa juga berlaku bagi kita yang sehat ? Pada tahun 1950-an ahli biologi Semour Key menemukan bahwa otak menerima pasokan darah yang kurang dan mengonsumsi oksigen yang lebih sedikit ketika kita semakin menua. Ia pun menduga, fenomena ini akan memperlambat tingkat metabolisme otak. Apabila tingkat metabolisme berlangsung cepat membuat waktu nyata terasa lamban, sebagaimana hasil temuan Hoagland, maka tingkat metabolisme yang rendah membuat waktu terasa cepat berlalu.
MEMPERLAMBAT DETAK JARUM JAM. Orang-orang yang terdesak akselerasi waktu yang membingungkan itu mencoba mencari pelbagai solusi. Bahkan dengan cara yang tidak lajim. Dunbar, pilot pengebom dalam novel Catch-22 dari Joseph Heller, benar-benar mengharapkan waktu berjalan pelahan.
Walau ia berusia muda, ia memandang dirinya tua, karena ia dapat saja terbunuh dalam misi penerbangan yang akan datang. Untuk memperlambat waktu hidupnya yang melesat cepat, ia melakukan aktivitas yang membuat dirinya bosan : “Dunbar suka melakukan olahraga tembak sasaran terbang karena membenci menit-menit yang berlalu dan kemudian waktu pun berjalan dengan lamban pula”
Solusi Dunbar itu tentu tak lajim bagi kita orang-orang biasa. Metode yang kurang radikal pun bisa dicoba. Geoffrey Godbey, profesor kajian waktu luang dari Pennsylvania State University dan pengarang buku The Future of Leisure Services, menegaskan bahwa “hal itu bukan masalah yang dapat dipecahkan, karena kita bersifat fana. Tetapi bisa diminimalisasikan, dalam artian bahwa Anda dapat mengalahkan waktu dengan tidak menyadarinya”
Kondisi di mana kesadaran kita terhadap waktu begitu minimal seringkali disebut sebagai flow, mengalir, yang merupakan fokus baru dalam kajian psikologi. Godbey mendefinisikan flow sebagai “situasi di mana seseorang memfokuskan diri konsentrasinya dan secara total memberikan dirinya untuk terbenam dalam aktivitas, seringkali aktivitas yang terorganisasikan dan memberikan umpan balik, di mana keterampilan yang dibutuhkan dan tantangan yang terlibat sangat sepadan satu dengan lainnya”
Bukan sebuah kejutan apabila aktivitas tersebut adalah segala hal yang dilakukan banyak orang dengan sepenuh cinta, apakah itu aktivitas mendaki gunung, membaca novel misteri, menari, melukis atau membacakan cerita untuk anak-anak. Psikolog Universitas Chicago Mihaly Csikszentmihalyi mengkaji masalah flow tersebut dan menuangkannya dalam buku larisnya, Flow : The Psychology of Optimal Experience.
“Salah satu deskripsi umum mengenai pengalaman yang optimal” katanya, “ialah ketika waktu tidak lagi melesat seperti yang lajimnya”. Senyatanya memang demikian, walau sebagian besar waktu tersebut justru terasa melesat lebih cepat. Tetapi hal inti yang paling penting adalah bila seseorang mengalami pengalaman flow, mengalir, dirinya sedang merayakan pengalaman “terbebas dari tirani waktu”
WAKTU MENGGUMPAL IBARAT TASBIH. Ekspektasi dan keakraban juga membuat waktu terasa lebih cepat melesat. Hampir semua orang merasakan pengalaman ketika berkendara menuju tempat yang terasa asing. Dikepung dengan pemandangan yang belum dikenal, dengan tanpa bayangan kapan akan sampai di tujuan, perjalanan terasa begitu lama.
Tetapi ketika kembali, walau jarak kilometernya tetaplah sama, nampak waktu tempuh terasa lebih pendek rasanya. Hal-hal baru dalam perjalanan kemudian seakan-akan menjadi rutin. Apalagi kemudian rata-rata orang cenderung menjadi nyaman dengan rutinitas, ibarat bertabiat model babi hutan atau celeng yang ketika pergi atau pulang selalu melewati rute yang sama, bertahun-tahun, waktu pun akhirnya terasa seperti cepat berlalu.
Sehingga apabila kita setiap kali berinisiatif mengambil rute perjalanan yang berbeda, hal tersebut membuat kita seperti mampu memperlambat waktu.
Pengalaman pribadi : sebagai penduduk kota kecil Wonogiri, setiap kali melakukan olah raga jalan kaki pagi, saya mencoba menempuh rute yang beragam. Kadang jalan kaki ke arah timur kota, melewati jembatan, yang mengarah ke Ponorogo. Atau ke utara, menuju arah ke kota Solo dan kembalinya menyusuri hutan di tepian gunung. Atau ke selatan, menyusuri jalan yang dipayungi rimbunan bambu, di pinggir sungai Bengawan Solo. Rute ke selatan ini menuju Perancis. Maksud saya, Pracimantoro. Rute ke arah barat, tidak pernah. Tidak ada jalannya. Rute berat, karena mendaki gunung.
Variasi serupa juga saya lakukan, misalnya, ketika mendengarkan musik di pagi hari. Kadang ketemu Mozart sampai Linkin’ Park. Andrea Bocelli sampai Eros Ramazzoti. The Corrs, Spice Girls, atau Jon Bon Jovi. Demikian juga ketika membaca-baca buku.
Untuk buku, saya punya kebiasaan baca yang “jelek” : sekali memutuskan membaca, ada 5-6 buku baru yang tersedia. Membacanya pun berlompatan.
Suatu saat saya menikmati The Agenda : What Every Business Must Do To Dominate the Decade (2001) dari Michael Hammer, simultan dengan 5-Minute Therapies : Natural Remedies for Body, Mind & Spirit (1999) dari Denise Rowley, Be your own Brand (2002) karya David McNally dan Karl D. Speak, Born To Be Rich (2003) dari Promod Batra (“buku kloning yang jauh dari sempurna dari buku-bukunya Robert T. Kiyosaki”), Dragon Spirit : Bagaimana Memasarkan Sendiri Mimpi Anda (2003) dari Ron Rubin dan Stuart Avery Gold, sampai The Little Pot of Gold : 100 Keys To Success and Wealth (2003) dari Peter Spann.
“Jurang-jurang” yang menganga antara isi buku satu dengan buku lainnya biarlah dijembatani sendiri secara ajaib oleh otak atau imajinasi ketika saya tidur dan bermimpi.
Sekadar cerita : kisah tentang tokoh mitos Yunani, Prometheus, yang mencuri api dari dewa dari buku mengenai teknologi nuklir dan adegan adu balap melawan banteng gila di Pamplona dari novel The Sands of Time-nya Sidney Sheldon, ketika saya aplikasikan dalam esai mengenai revolusi suporter sepakbola, telah memenangkan The Power of Dreams Contest 2002 yang diadakan oleh Honda di Indonesia. Saya akan mempelajari buku-buku itu lagi ketika perlu untuk menuliskannya.
Tanpa variasi-variasi semacam itu maka sungguh menjengkelkan, membosankan, ketika malam tiba, ketika tuntutan harus menulis buku harian menodong saya, tetapi hanya menemukan betapa hal-hal yang ditulis hampir tidak berbeda antara hari satu dengan hari lainnya.
Tatkala hari-hari yang berlalu saling identik, ibarat bulir-bulir tasbih yang bergerombol dalam satu rangkaian, berkelompok bersama, maka waktu sebulan pun hanya nampak seperti satu hari belaka. Tidak aneh bila waktu kemudian nampak seperti cepat sekali berlari.
Untuk menangkis penggerombolan hari, maka buatlah setiap hari hidup kita seunik sidik jari. Sebagaimana dikatakan oleh Joubert bahwa struktur cenderung membuat waktu cepat berlalu. Oleh karena itu, carilah cara cerdik untuk menginterupsi struktur hari-hari Anda, untuk menghentikan laju terbangnya, ibarat kita melakukan rehat kopi di tengah jam-jam kerja kita.
Bruce Schechter memberi contoh seseorang wanita yang punya pekerjaan sibuk, tetapi saat makan siang ia memutuskan untuk menjelajah kota tempat ia berkarier itu. Ia mengunjungi kebun binatang, yang merupakan kunjungannya yang pertama. Piknik kecil-kecilan tersebut, sekadar lepas dari tuntutan kerja kantornya, telah memberikan waktu rehat yang pantas untuk dikenang, yang bila tidak maka hari-hari-hari kerjanya hanya merupakan segumpal blok yang identik satu sama lainnya.
JANGAN TAKUT JADI PEMULA. Mempelajari sesuatu hal yang baru merupakan cara ampuh lain untuk memperlambat gerak terbangnya waktu. Salah satu alasan mengapa hari-hari ketika kita masih muda terasa penuh dan panjang, karena hari-hari tersebut dipenuhi dengan masa kegairahan untuk belajar dan menemukan.
Learning and discovery.
Bagi kebanyakan kita, masa-masa belajar itu memang terkadang selesai begitu kita meninggalkan bangku sekolah atau kuliah. Tetapi bagi seorang Ronald Graham, matematikawan terkenal dari AT&T Bell Laboratories, punya kiat jitu untuk mengerem waktu : “Jangan takut menjadi pemula”.
Graham pun selalu gigih berburu keterampilan baru untuk ia kuasai.
Dalam masa waktu 40 tahun terakhir Ronald Graham mampu menguasai bahasa Cina, main piano, juggling, akrobat, menulis lusinan makalah ilmiah, dan berwisata sampai ke pojok-pojok dunia.
Mengilas balik hidup saya : ketika saya terlambat menyelesaikan kuliah di Solo atau di Jakarta dibanding teman-teman yang lain, rasanya kini saya merasa tidaklah rugi-rugi amat. Karena saya pada saat yang sama, sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan Teknik Jurusan Mesin, dikaruniai peluang untuk “bertualang” guna menjelajahi pengalaman dan menyerap ilmu-ilmu baru yang beragam yang tidak ada di bangku kuliah.
Menulis puisi, cerita pendek, esai dan drama, main teater, berorganisasi dalam kesenian, menjadi guru melukis anak-anak, belajar pers kampus, menjadi komunikator, pembawa acara, promotor seni, menikmati lukisan, menjadi wartawan budaya, belajar film, praktek bahasa Inggris dari bule-bule menawan seperti Tory, Helen sampai Marlene, dan tentu saja menulis surat-surat pembaca. Petualangan serupa, rasanya sampai kini juga masih belum membuat saya jera melakukannya.
Bruce Schechter memperluas cakarawala kita ketika ia mengatakan bahwa mengerem laju jarum jam tidak hanya berlaku untuk masa kini, tetapi juga ketika meninjau masa lalu. Menulis buku harian atau menulis otobiografi merupakan cara bagus untuk menyortir kekaburan masa-masa lalu, sehingga masa lalu tidak lagi hanya berupa satu gumpal campur aduk segala hal tanpa makna. Masa-masa lalu tersebut dapat diurai untuk membentuk pola tertentu yang membahagiakan, membanggakan, baik susunan yang terdiri dari kejadian atau pun prestasi-prestasi tertentu.
“Mendekati usia 65 tahun”, begitu tutur Bruce Schechter, “ayah saya memulai menulis kenangan hidupnya”. Ia semula beranggapan tulisan itu hanya pendek saja, tetapi ternyata tiap kenangan itu beranak pinak dengan kenangan lainnya. Karya tulisnya kemudian membengkak memenuhi sebuah buku. Anak-anaknya kemudian membelikannya sebuah komputer, kini tulisan kenangan tersebut mencapai 400 halaman yang menghadirkan pola kehidupan yang telah ia lalui, betapa indah dan ajaib kehidupan yang telah ia jalani.
Sebagai lelaki yang pemalu, introver, saya mulai intensif menulis buku harian ketika berkuliah di Jakarta. Tahun 1980. Kota yang masih asing, orang-orang yang asing dan interaksi pergaulan urban yang juga terasa asing, mendorongt saya membuat oasis sendiri agar bisa merasa nyaman dan bertahan. Oasis itu adalah buku harian.
Sampai kini.
Walau apa-apa yang saya tulis itu kadang tidak sekemilau isi lirik lagu The Corrs dalam “Dreams” sebagai ”the crystal visions”, tetapi ketika melakukan refleksi, sokurlah hari-hari lewat saya bukanlah semata himpunan peristiwa atau curahan hati tanpa makna. Kebiasaan itu pula kemudian memperoleh outlet dan momentum luar biasa, lagi menakjubkan, di era digital.
Ketika di tahun 2003 saya mulai mengenal blog, membuat tradisi menulis buku harian dalam bentuk sajian digital, personal sekaligus mondial, sepertinya semakin kaya warna. Sebagai orang yang meminati banyak hal sekaligus, kini saya secara rutin menulis blog-blog bertopik komedi, lagu-lagu Carpenters, komunitas epistoholik Indonesia, juga suporter dan sepakbola.
Menulis di blog, bagi saya, ibarat melakukan donor darah. Kalau hanya menyumbang terlalu sedikit, tidaklah bermanfaat. Kalau kebanyakan, tentu mengancam jiwa si pendonornya sendiri. Memang akhirnya tidak semua darah kita didonorkan, tetapi dengan cara ini maka dalam diri kita didorong terjadinya keseimbangan baru dalam mengakuisisi dan menyalurkan informasi.
Setelah menulis, kita secara intuitif didorong untuk melakukan akuisisi informasi-informasi baru. Artinya, dituntut untuk terus belajar dan belajar. Termasuk belajar mengakuisisi kepercayaan dari pembaca blog-blog saya.
Jay Rosen, salah seorang blogger dan pakar media baru favorit saya, dalam esai berjudul “Blogging, Journalism & Credibility” yang dibacakan di Universitas Harvard, Cambridge, 21-22 Januari 2005, telah mengutip pendapat John Hiler dalam Microcontent News (2002) : “Bagi blogger, semuanya mengenai kepercayaan, di mana blog-blog tersebut berangkat dari titik nol dalam membangun reputasinya dari bawah ke atas. Blog bertanggung jawab dan Anda membangun reputasi sebagai sumber informasi yang terpercaya. Bila tidak, Anda tidak memiliki reputasi yang harus Anda cemaskan”
Lanjut Rosen, para blogger itu memiliki keuntungan dalam memperjuangkan reputasi guna meraih kepercayaan pengguna atau pembacanya. Para blogger lebih dekat dalam melakukan transaksi di mana kepercayaan terbangun dan berada di sekitar situs-situs web yang ada. Terdapat perbedaan besar antara membangun aset, katakanlah “merek” St. Pete Times (di Indonesia, misalnya koran Kompas) dan membangun aset secara mandiri sejak sketsa awal.
Selain ibarat melakukan donor darah, menulis di blog yang antara lain guna memperoleh kepercayaan pembaca tadi, dapat juga saya ibaratkan, seperti juga ketika menerjunkan diri berangan-angan menjadi seorang stand up comedian, sebagai aksi “bersekutu dengan setan” guna memperoleh kekayaan.
Ada sebagian dari jiwa kita yang harus rela dikorbankan.
Keterbukaan. Transparansi.
Semakin transparan diri Anda sebagai manusia, tidak jaim, dan semakin rawan atau vulnerable diri Anda untuk dipertontonkan, maka justru dari hal-hal yang manusiawi itulah akan mendorong terjadinya dialog antarhati.
Kita akhirnya memang hanya manusia, dengan segala kekurangan, kedunguan, ketidaksempurnaan. Panggung dunia blog kaya sekali dengan pertunjukan bergaya “masokis” semacam itu.
Hari-hari ini, saya mulai tergerak untuk merintis dan meluncurkan blog-blog seputar penyakit asthma, hobi memelihara anjing, peristiwa terkait tanggal 28 April dan tanggal 20 Desember. Blog-blog mutakhir ini terkait dengan salah satu wanita terindah saya, Anez, kelahiran Brussels 28 April yang baru saja mencapai huruf Z dari hidupnya dalam momen yang menggetarkan, sarat misteri Illahi, di Jakarta, 20 Desember 2005 yang lalu. Semua blog itu ditulis sebagai kenangan dan kesenangan.
Labour of love.
Berkah pun pasti menanti.
Adalah seorang Lee Silber dalam bukunya Self-Promotion For The Creative Person (2001) mengutip resep sukses Chuck Green, pengarang dan seniman grafis, yang mengatakan : focus on what you love and the money will follow. Fokuskan pada semua aktivitas yang Anda cintai, maka uang pun pasti akan menyusul kemudian.
Saya sedikit banyak membuktikan kebenaran atas ucapan itu. Keyakinan akan manfaat blog dalam menunjang visi & misi saya mendirikan komunitas Epistoholik Indonesia, misalnya, telah memenangkan saya dalam Mandom Resolution Award 2004. Kemudian tercatat pula dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).
Gara-gara getol menulis esai seputar sepakbola dan suporter sepakbola sejak tahun 2003 (saya juga tercatat di MURI sebagai Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli), seorang kenalan baru, kolumnis sepakbola yang berdomisili di London mengajak saya untuk mengisi majalah baru, Freekick, yang hendak ia terbitkan bersama kawan-kawannya mulai tahun 2006 ini.
Gara-gara blog pula, seringkali hari-hari saya terasa menenggelamkan saya dalam flow sesuai tesisnya Mihaly Csikszentmihalyi tadi. Aktivitas yang memboroskan waktu. Kalau dalam hitung-hitungan pemanfaatan waktu yang konvensional, pastilah semua aktivitas saya berblog-ria itu hanya nampak sia-sia belaka.
Saya tahu, saya memang terlalu banyak menghamburkan waktu
Saya tahu, saya mendamba kesempurnaan di dunia yang tidak sempurna ini
Dan begitu dungu pula untuk berpikir
hal itu pula yang akan saya dapatkan
OK, saya memang dungu. Isi lirik lagu “I Need To Be In Love”-nya Carpenters tersebut memang benar untuk sisi cinta atau asmara dalam hidup saya. Saya sampai kini belum memperolehnya. Wanita-wanita terindah saya datang, kemudian pergi. Bahkan pergi begitu jauh sekali.
Tetapi pada sisi lain, menghambur-hamburkan waktu juga tidak jelek-jelek amat. Terutama dalam konteks era baru, Network Economy. Kevin Kelly, sokurlah, memberikan perspektif brilyan itu.
Dalam karya tulis tonggak yang inspiratif, “New Rules for the New Economy : Twelve Dependable Principles for Thriving in a Turbulent World” di majalah Wired (September 1997), mengatakan :
Peter Drucker telah mencatat bahwa dalam abad industri setiap pekerja yang mampu mengerjakan pekerjaannya secara lebih baik disebut sebagai produktivitas. Tetapi kini dalam Network Economy di mana kebanyakan mesin-mesin mengerjakan pekerjaan manufaktur yang tak cocok untuk manusia, maka tugas setiap pekerja bukanlah “bagaimana mengerjakan pekerjaan itu secara benar” melainkan “pekerjaan apa yang benar untuk dikerjakan ?"
Di era mendatang, mengerjakan segala sesuatu secara benar jauh lebih “produktif” dibanding mengerjakan hal yang sama secara lebih baik. Tetapi bagaimana seseorang dapat secara mudah mengukur sense penting dalam eksplorasi dan penemuan ? Semua ini tidak terlihat dalam parameter atau patok duga produktivitas.
Sejatinya, menghambur-hamburkan waktu dan bekerja tidak efisien merupakan jalan menuju penemuan. Sesuatu situs web yang dioperasikan oleh anak muda seumuran 20 tahun dapat terwujud karena ia mampu menghabiskan waktu 50 jam untuk menjadi ahli merancang situs web.
Sementara itu pekerja usia 40-an tahun tidak dapat mengambil cuti liburan tanpa berpikir bagaimana dia menentukan apakah berlibur itu bisa disebut sebagai produktif atau tidak, sementara si anak muda tadi tinggal mengikuti naluri dan menciptakan beragam hal baru dalam desain webnya, tanpa menghitung apa yang ia lakukan itu efisien atau tidak. Dari otak-atik yang tidak efisien itulah akan hadir masa depan.
Dalam era Network Economy, produktivitas bukan masalah krusial. Karena kemampuan kita dalam menyelesaikan masalah sosial dan ekonomi kebanyakan dibatasi terutama oleh kurangnya imajinasi dalam menemukan peluang dibanding usaha mengoptimalkan suatu solusi. Seperti simpul Peter Drucker yang dikutip oleh George Gilder, rumusnya kini berbunyi : “Jangan menyelesaikan masalah, tetapi carilah peluang.”
Apabila Anda menyelesaikan sesuatu masalah, Anda berinvestasi bagi kelemahan Anda. Tetapi bila Anda mencari peluang, maka Anda dapat mempercayai jaringan, network, Anda. Apalagi sisi menarik mengenai Network Economy sejatinya bermain seirama dengan kelebihan hakiki manusia. Repetisi, sekuel, mengopi dan otomasi kini semua cenderung bebas biaya, gratis, sementara segi-segi inovasi, orisinalitas dan imajinatif semakin menjulang nilainya.
Kerangka berpikir kita pertama kali memang terikat oleh hukum-hukum lama pertumbuhan ekonomi dan produktivitas. Tetapi dengan peka mendengarkan detak jaringan kita dapat melepaskan ikatan-katan lama tersebut. Sekali lagi, formula paten dalam era Network Economy adalah :
Janganlah menyelesaikan masalah.
Carilah peluang !
Anda setuju ?
Selamat Tahun Baru 2006.
Wonogiri 19/12/2005 – 12/1/2006
Email : epsia@plasa.com
I know I’ve wasted too much time
I know I ask perfection of a quite imperfect world
And fool enough to think
that’s what I’ll find
(Carpenters, “I Need To Be In Love”)
PUTRI SOLO SI MACAN LAPAR. Kalau Anda mendengar ucapan Puteri Solo, sosok siapa yang segera tergambar di benak Anda ? Gusti Nurul ? Tien Soeharto ? Mooryati Sudibjo ? Poppy Dharsono ? Krisdinah Purnamaningsih ? (“Pasti !”, kata saya). Indri Hapsari ? Dyah Permatasari ? Iga Mawarni ? Tya AFI 2 ?
Terserah Anda.
Dalam kenangan bersama masyarakat Solo terlanjur dikenal luas lagu keroncong berjudul Putri Solo, yang merupakan ikon yang tidak tergerus jaman untuk menggambarkan sosok putri Solo. Salah satu baris liriknya berbunyi bahwa gaya berjalan putri Solo koyo macan luwe. Ibarat jalan seekor harimau yang sedang lapar. Pelan-pelan dan gemulai.
Gambaran ini sepertinya mencocoki hasil sebuah riset internasional yang mengungkap gaya hidup alon-alon, pelan-pelan, masyarakat Solo. Penelitinya adalah Robert Levine, profesor psikologi dari California State of University di Fresno dan kawan-kawan. Hasilnya ia tulis bersama Ellen Wolff, penulis bebas asal Los Angeles.
Lokasi riset mereka antara lain di Kantor Pos Solo, tempat saya dulu di tahun 1970-an untuk mencairkan wesel pembayaran honor menulis. Terkisah, ketika periset itu antri membeli perangko, pegawai posnya malah tertarik mengobrolkan mengenai sanak-saudaranya yang tinggal di Amerika Serikat.
Misalnya bertanya, apakah mereka mau bertemu dengan omnya yang tinggal di Cincinnati ? Manakah yang lebih baik, California atau Amerika Serikat ?
Lima pengantri di belakang periset bule itu nampak tidak protes atau mengeluh. Mereka justru ikut menguping pembicaraan yang terjadi. Pegawai kantorpos Solo itu tentu tidak tahu bila bule tersebut membawa stopwatch untuk mengukur seberapa lama waktu yang dibutuhkan pegawai pos untuk melayani pembelian sebuah perangko.
Mereka sebelumnya berkunjung ke kantorpos ini hari Jumat sore. Tentu saja, kantor sudah tutup. Aula kantor sudah disulap menjadi lapangan volley.
Artikel Levine dan Wolff yang dimuat di majalah Psychology Today, Maret 1985, dilengkapi ilustrasi foto pertandingan volley di aula kantorpos Solo tersebut. Tetapi yang mampu mengundang senyum getir, di pojok foto itu nampak sesosok kartun binatang kelinci, berpakaian model manusia.
Dalam fabel barat, kelinci adalah lambang ketergesaan. Di situ, di kota Solo itu, nampak sang kelinci lagi tertidur dengan pulasnya. Mendengkur. Sementara di halaman lain digambarkan dirinya terpontang-panting di jalanan Tokyo dan New York, walau nampak santai, enggar-enggar, ketika berjalan menyusuri jalanan kota Florence di Italia.
BINGUNG DI BRASIL. Gambaran beragam ulah kelinci tadi merupakan simbol pemaknaan atas waktu bagi tiap-tiap bangsa. Kajian yang terkait waktu itu memunculkan pertanyaan menarik.
Mengapa Brasil di Olimpiade Los Angeles 1984 hanya mampu meraih satu medali emas dari atletnya Isidro del Prado, sementara Amerika Serikat berpesta dengan memborong 30 medali emas dari ajang yang sama, yaitu kolam renang ? Padahal keduanya adalah sama-sama negara besar di benua Amerika. Untuk mencari jawab atas pertanyaan ini, diskusi memang dapat melebar ke banyak segi.
Robert Levine mengajukan tesis menggelitik menyangkut apa yang disebut sebagai waktu sosial, denyut jantung masyarakat dalam memaknai waktu. Secara matematis memang manusia hidup dalam hitungan waktu yang sama, 24 jam sehari, tetapi tidak semua budaya di dunia memaknainya secara sama. Levine yang orang Amerika, merasakan benturan budaya akibat beda pemaknaan waktu ketika mengajar di sebuah universitas di Brasil.
Hari pertama Levine di Brasil dijadwalkan mengajar jam 10. Ia datang jam 9.05, lalu berkeliling untuk mengenal kampus itu. Ia fikir dirinya baru berkeliling sekitar setengah jam, tetapi langsung panik ketika melihat jam di salah satu gedung kampus sudah menunjuk waktu 10.20.
Bergegas masuk ruang, ternyata tak ada satu pun mahasiswa. Ia tanya jam pada mahasiswa yang lewat, dijawab 9.55. Lainnya menjawab, tepat 9.43. Sebuah jam di gedung itu menunjuk waktu 3.15. Ia berpendapat, jam-jam penunjuk waktu yang ada tidak akurat, tetapi tidak ada orang yang hirau.
Ketika jam kuliah dimulai, banyak mahasiswanya yang telat masuk ruang. Beberapa baru masuk jam 10.30 dan mendekati jam 11. Semuanya nampak merasa tidak bersalah, tersenyum dan mengucap halo, dan mahasiswa lainnya pun tampak tak terganggu. Dalam risetnya, mahasiswa Brasil menyebut seseorang datang terlambat bila ia muncul rata-rata 33 menit melewati janji. Sementara mahasiswa AS menyebut 19 menit.
Setelah beberapa lama tinggal di Brasil, ia baru terbuka matanya bahwa budaya yang mempengaruhi pemaknaan waktu sosial itu. Terungkap pendapat di kalangan mahasiswa Brasil bahwa seseorang yang secara konsisten terlambat itu lebih sukses dibanding mereka yang konsisten datang lebih awal. Mereka menyetujui pendapat umum bahwa seseorang yang berstatus tinggi harus datang terlambat. Ketidaktepatan waktu merupakan simbol sukses. Melihat fenomena Brasil ini kita sebagai bangsa Indonesia seperti memperoleh cermin !
INDONESIA DI POSISI BUNCIT ! Lebih menarik, kita dapat melihat lebih detil profil tertinggalnya bangsa Indonesia ketika Levine bersama kolega sekampusnya, Kathy Bartlett, melakukan riset untuk memperkaya pemahaman tentang konsep waktu sosial pelbagai bangsa.
Mereka melakukan pengukuran waktu terhadap irama hidup di kota besar dan kota menengah di pelbagai belahan dunia.
Di antaranya Amerika Serikat (New York dan Rochester), Inggris (London dan Bristol), Jepang (Tokyo dan Sendai), Taiwan (Taipei dan Tainan), Italia (Roma dan Florence) dan Indonesia (Jakarta dan Solo).
Riset yang mereka lakukan mengkaji tiga indikasi dasar : akurasi jam pada kantor bank, kecepatan pejalan kaki dan kecepatan pegawai kantorpos melayani pembelian perangko.
Akurasi waktu terbaik diraih Jepang. Alat penunjuk waktu di setiap 15 kantor bank yang dicek dengan waktu kantor telepon setempat, hanya berselisih kurang atau lebih setengah menit. Di Indonesia, yang menempati peringkat paling buncit dari keenam negara itu, selisih beda waktunya lebih dari tiga menit. Urutannya : Jepang, Amerika Serikat, Taiwan, Inggris, Itali, dan Indonesia.
Kecepatan seseorang sendirian berjalan kaki menempuh jarak 100 kaki, kembali yang tercepat diraih oleh orang Jepang. Rata-rata waktu tempuhnya hanya 20.7 detik. Orang Inggris menempuhnya 21,6 detik, Amerika 22,5 detik, dan orang Indonesia berstatus paling alon-alon, lamban, dengan waktu tempuh 27,2 detik. Urutannya : Jepang, Inggris, Amerika Serikat, Italia, Taiwan dan Indonesia.
Hasil riset Robert Levine ketika mengukur efisiensi petugas pos melayani pembelian perangko, yang ilustrasinya seperti dikisahkan di depan, ternyata prestasi pegawai pos Indonesia berada di peringkat 5. Sebab yang paling buncit diduduki pegawai pos Italia. Waktu layanan di Jepang 25 detik dan Italia memakan waktu 47 detik. Urutannya : Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Taiwan, Indonesia, dan terakhir Italia.
KORUPSI BESAR-BESARAN DI INDONESIA. Gambaran profil waktu sosial bangsa Indonesia dalam riset Levine di atas, sedikit banyak, memberikan gambaran mengenai posisi bangsa dan negara ini dalam berpacu dengan bangsa lain di kancah internasional.
Bahasan ini pernah saya tulis di harian Kompas edisi Jawa Tengah (16/9/2004) dengan mengajukan ilustrasi betapa di bidang olahraga misalnya, seperti Brasil, atlet perenang atau lari Indonesia bahkan belum pernah tercatat punya prestasi puncak di kancah seakbar Olimpiade.
Sementara di bidang kehidupan sosial, guru besar emeritus IPB, Sjamsoe’oed Sadjad (Kompas, 17/7/2004), menandai bahwa budaya korupsi waktu kronis melanda para pegawai negeri sipil kita.
Ia pun berhitung : bila 3,5 juta PNS melakukan korupsi waktu hanya satu jam setiap hari, maka 3,5 juta jam sehari rakyat kehilangan kesempatan untuk dilayani. Hitungannya, untuk pegawai negeri bergaji Rp. 8.400.000/tahun, maka akibat korupsi waktu satu jam itu negara dirugikan sebesar Rp. 16 miliar tiap hari.
Belum lagi korupsi satu jam di sore hari. Juga belum lagi kalau gajinya lebih besar dari Rp.700.000/bulan. Bayangkan bila gajinya Rp. 150 juta seperti gaji Dirut Pertamina. Hitung saja, bila datang ke kantor jam 10.00. Seperti di Brasil, di Indonesia juga berlaku tradisi bahwa semakin tinggi pangkatnya maka pejabat Indonesia boleh dan berhak selalu datang terlambat. Belum para dosen di perguruan tinggi yang datang ke kampus hanya kalau memberi kuliah.
Anehnya, kata Prof. Sadjad, rakyat tidak merasa dirugikan. Rakyat tidak sadar uangnya “digerogoti”. Apa karena negeri ini gemah ripah loh jinawi, subur dan makmur, sehingga kehilangan Rp. 16 miliar per hari masih bisa tertawa-tawa ?
GADIS CANTIK DAN KOMPOR PANAS. Pertanyaan di atas tentu saja tidak membuat saya tertawa-tawa. Mikir-mikir mengenai diri sendiri, terlebih setiap kali mendekati akhir tahun, perasaan yang muncul dan mengusik adalah rasa sedih. Menyesali betapa cepatnya waktu terbang. Hilang. Lenyap. Dan pasti tidak pula kembali lagi.
Mengapa waktu begitu cepat berlalu ? Tahun 2006 ini saya akan memasuki umur 53 tahun. Berstatus bujangan. Tidak punya pekerjaan tetap. Kalau PNS, dua tahun lagi akan pensiun. Mengidap blogpistoholik, hipokondriak dan kesepian. Memendam banyak harapan dan bercocok tanam beragam impian.
Why time flies, so soon ?
Why time flies, so soon ?
Mengapa waktu begitu cepat berlalu ? Itulah juga pertanyaan Madonna dalam lagu berirama dansa, “Hung Up” dari album terbarunya, Confessions on a Dance Floor (2005).
Josh Tyrangiel menulis resensinya di majalah Time yang dikutip situs PopWatch, berkata : “Dalam musik dansa, kata yang hadir tampil diulang-ulang, dibengkok-bengkokan, disembunyikan atau ditonjolkan. Bagaimana suaranya muncul dalam momen tertentu jauh lebih penting dibanding makna yang diusungnya, dan Madonna paling piawai dalam kiprah yang satu ini”
Dasar Madonna, kontroversi selalu membuntutinya.
Lagu yang digarap bersama dua mantan pentolan ABBA (Benny Andersson dan Björn Ulvaeus), juga Stuart Price itu, mendapat komentar :
“Madonna merupakan penampil yang baik, tetapi bukan penyanyi yang baik. Suaranya terlalu lembek, ia tak mampu mencapai nada-nada tinggi dan juga tak mampu bernyanyi pada nada rendah. Pernah dengar peserta kontes American Idol menyanyikan lagunya Madonna ? Tak pernah, karena menyanyikan lagunya Madonna sulit sebagai bukti dirinya memiliki keterampilan menyanyi. Karena memang tidak memerlukan suara bagus untuk menyanyikan lagu-lagu Madonna”
Komentar lain lebih ketus : “Kasihan Madonna, masa kejayaan dia sudah lewat dan segala upayanya untuk tampil agar kelihatan awet muda pasti tidak dan tidak akan pernah berhasil”.
Pendukung Madonna sewot jadinya. Ganti unjuk bicara. “Madonna adalah sang ratu, dan semua pembenci yang memasalahkan umurnya hanya justru menunjukkan dirinya yang sebenarnya lebih menyedihkan. Tak peduli umur mereka, Madonna tampil lebih baik dibanding umur para pembencinya itu, pada umur berapa pun !”
“Saya tidak faham mengapa orang menggunjingkan umur Madonna. Ia baru 47, bukan 80 tahun. Mengapa orang memiliki kerangka berpikir bahwa bila Anda sudah melewati usia 40... maka Anda harus segera MATI ?
Lihat saja faktanya. Madonna di umur 47 tahun nampak lebih kece dibanding gadis Amerika usia 19 tahun pada umumnya (yang dijejali makanan McDonalds)... Madonna nampak luar biasa dan kiranya sanggup menjalani latihan marathon bertahun-tahun dalam menari dan fitness yang ketat.
Komentar mengenai umur adalah komentar yang bodoh....Cher hampir berusia 60 tahun, masih bugar dan aktif. Sementara Tina Turner melakukan hal yang sama ketika hampir menginjak umur 70 tahun !”
Why time flies, so soon ?
Why time flies, so soon ?
Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu, Madonna. Kepada St. Agustine pun ketika ditanyakan kepadanya apa definisi waktu, ia menjawab : “Bila tidak ada orang yang bertanya kepadaku, aku tahu ; tetapi bila diminta untuk menjelaskan kepada yang menanyakannya, saya tidak tahu”
Fisikawan Isaac Newton sampai Stephen Hawking juga telah mengupas masalah waktu. Tetapi waktu bagi mereka diukur dengan ayunan pendulum, atom-atom yang bervibrasi, dan bukan pengalaman waktu secara psikologis yang tidak terpatok dengan ukuran detik jam atau kalender. Muncul nama Albert Einstein (1879–1955), maha fisikawan kelahiran Ulm, Jerman.
Agak lucu bagi saya, ternyata penemu Teori Relativitas itu punya fans berat di kota kecil saya, Wonogiri. Penemuan itu pula yang kembali mengusik saya untuk menulis esai ini. Gara-garanya saya menemui sebuah mobil sedan hitam, nomor polisi Wonogiri, di mana pada kap depannya tergambar foto Einstein dengan rambut awut-awutan yang seksi itu.
Di dekatnya tertulis kalimat : ”When you sit with a pretty girl for an hour it seems like a minute, but when you are on a hot stove, a minute seems like an hour. That’s relativity.”
Ketika Anda duduk berduaan dengan gadis cantik, waktu sejam akan terasa semenit, tetapi bila Anda duduk di atas kompor panas maka semenit akan terasa sejam lamanya. Itulah relativitas.
Einstein rupanya sadar adanya perbedaan antara waktu fisik dengan waktu psikologis di balik ucapannya yang terkenal itu. Berandai-andai saja : apa yang akan terjadi dan rasakan bila kita berdua bersama gadis cantik, tetapi bersama-sama duduk di atas kompor yang membara ?
TERGANTUNG PERSPEKTIF ! Mungkin Einstein bakal menemukan teori yang lain lagi. Tetapi, jujur saja, saya bukan orang yang pandai mengatur waktu. Bahkan cenderung menghambur-hamburkannya. Ketika berkuliah di Solo, saya mendapat julukan sebagai mahasiswa komper. Terbelakang, laggard, pencorot, karena lulusnya paling belakangan.
Saya tidak terbiasa punya atau memakai jam tangan. Sekitar tahun 1997 pernah oleh teman sekos di Jakarta, Yoyok Subagyo, aku diberi jam tangan yang ada logo Citibank, kantornya bekerja. Saya juga tidak menyukai planner, tetapi menyukai diary yang polos saja. Sebagai pencinta buku, saya pun tidak begitu suka membaca-baca buku bertopik manajemen waktu. Pernah memiliki fotokopinya, tetapi tetap saja saya malas membacanya.
Tetapi di Perpustakaan LIA Jakarta, 14 Mei 1992, saya menemukan artikel menarik tentang waktu dari majalah McCall’s (10/1991). Judulnya, “Why time flies and how to slow down”, ditulis oleh Bruce Schechter, penulis sains bergelar Ph.D Fisika yang tinggal di New York. Setiap pergantian tahun saya pengin banget menceritakan tulisan tersebut, juga artikel Robert Levine dan Ellen Wolff di atas.
Tulis Bruce Schechter, waktu psikologis itu dapat melesat terbang atau merangkak lamban, ternyata tergantung bagaimana kita mengisinya. Semenit menunggu lift terasa lebih lama dari sepuluh menit saat coffee break. Tetapi kalangan psikolog mencacat bahwa satuan waktu yang lebih besar, bulan atau tahun, terasa melesat lebih cepat ketika umur seseorang bertambah.
James Walker, psikolog di Winnipeg, Manitoba, yang mempelajari masalah akselerasi waktu dan dikutip Schechter berkata : “Saat ini umur saya pertengahan 40-an, dan waktu seminggu kini bagi saya tak ada apa-apanya dibanding di tahun 70-an”. Lebih menarik ucapan Robert Southey, penyair dari Inggris : “Dua puluh tahun pertama adalah masa separo terpanjang dalam hidup Anda...waktu itu terasa panjang untuk berlalu ; juga begitu awet ketika dikenang ; dan waktu tersebut mengambil ruang lebih banyak dalam kenangan kita dibanding tahun-tahun sesudahnya”
Ilmuwan menyebut hal ini sebagai fenomena “akselerasi waktu subyektif yang terkait dengan penuaan.” Salah satu teori pendukungnya berupa matematika sederhana : satu tahun bagi anak berumur 5 tahun adalah 20 persen dari hidupnya, dan bagi mereka berussia 50 tahun hanya 2 persen saja. Jadi, setahun itu lebih lama bagi anak-anak dibanding bagi orang dewasa.
Tentu, ada faktor lain yang merubah persepsi kita tentang waktu. Charles E. Joubert, psikolog Universitas North Alabama, yang juga mengkaji akselerasi waktu mencatat bahwa semakin waktu itu terstruktur, berisi skedul dan janji, semakin cepat pula waktu itu melintas.
Sebagai contoh : seharian di kantor itu tak ada apa-apanya dibanding seharian bersantai di pantai wisata. Oleh karena sebagian besar kita lebih sedikit menghabiskan waktu di pantai, tetapi lebih banyak di kantor seiring meningkatnya umur, maka peningkatan waktu yang terstruktur itu pantas dituding sebagai biang kerok mengapa waktu terasa semakin cepat terbang seiring bertambahnya umur kita.
Akselerasi atau bergegasnya waktu, mungkin juga diakibatkan oleh fenomena fisiologis. Di tahun 1932, istri Hudson Hoagland, seorang ahli ilmu faal, terserang flu. Ketika suhu tubuhnya mencapai 104 derajat Fahrenheit, Hoagland segera bergegas menuju apotik untuk membeli obat. Perjalanannya hanya selama 20 menit, tetapi istrinya justru marah-marah, mengatakan lebih lama. Kalau suami lain pasti masalah ini mampu memicu saling tarik urat, Hoagland justru menaruh perhatian secara serius terhadap keluhan istrinya.
Hoagland pernah membaca bukunya psikolog Perancis, Henri Pieron, bahwa kecepatan proses psikologis seseorang itu dipengaruhi oleh suhu, demikian pula persepsinya tentang waktu. Karena semakin meningginya suhu akan pula meningkatkan reaksi kimia lebih cepat, hingga Pieron menyimpulkan bahwa waktu pun akan terasa lewat lebih cepat dibanding yang senyatanya.
Hoagland lalu melakukan tes untuk teori di atas, dengan meminta istrinya menghitung angka sampai 60 dengan keras-keras. Ia memperkirakan satu hitungan memakan waktu satu detik. Ia mengukurnya dengan stopwatch. Yang terjadi, istrinya menghitung paling cepat ketika demamnya meninggi, yang menjelaskan mengapa istrinya tersebut merasakan waktu senyatanya berjalan begitu lamban.
Apakah fenomena serupa juga berlaku bagi kita yang sehat ? Pada tahun 1950-an ahli biologi Semour Key menemukan bahwa otak menerima pasokan darah yang kurang dan mengonsumsi oksigen yang lebih sedikit ketika kita semakin menua. Ia pun menduga, fenomena ini akan memperlambat tingkat metabolisme otak. Apabila tingkat metabolisme berlangsung cepat membuat waktu nyata terasa lamban, sebagaimana hasil temuan Hoagland, maka tingkat metabolisme yang rendah membuat waktu terasa cepat berlalu.
MEMPERLAMBAT DETAK JARUM JAM. Orang-orang yang terdesak akselerasi waktu yang membingungkan itu mencoba mencari pelbagai solusi. Bahkan dengan cara yang tidak lajim. Dunbar, pilot pengebom dalam novel Catch-22 dari Joseph Heller, benar-benar mengharapkan waktu berjalan pelahan.
Walau ia berusia muda, ia memandang dirinya tua, karena ia dapat saja terbunuh dalam misi penerbangan yang akan datang. Untuk memperlambat waktu hidupnya yang melesat cepat, ia melakukan aktivitas yang membuat dirinya bosan : “Dunbar suka melakukan olahraga tembak sasaran terbang karena membenci menit-menit yang berlalu dan kemudian waktu pun berjalan dengan lamban pula”
Solusi Dunbar itu tentu tak lajim bagi kita orang-orang biasa. Metode yang kurang radikal pun bisa dicoba. Geoffrey Godbey, profesor kajian waktu luang dari Pennsylvania State University dan pengarang buku The Future of Leisure Services, menegaskan bahwa “hal itu bukan masalah yang dapat dipecahkan, karena kita bersifat fana. Tetapi bisa diminimalisasikan, dalam artian bahwa Anda dapat mengalahkan waktu dengan tidak menyadarinya”
Kondisi di mana kesadaran kita terhadap waktu begitu minimal seringkali disebut sebagai flow, mengalir, yang merupakan fokus baru dalam kajian psikologi. Godbey mendefinisikan flow sebagai “situasi di mana seseorang memfokuskan diri konsentrasinya dan secara total memberikan dirinya untuk terbenam dalam aktivitas, seringkali aktivitas yang terorganisasikan dan memberikan umpan balik, di mana keterampilan yang dibutuhkan dan tantangan yang terlibat sangat sepadan satu dengan lainnya”
Bukan sebuah kejutan apabila aktivitas tersebut adalah segala hal yang dilakukan banyak orang dengan sepenuh cinta, apakah itu aktivitas mendaki gunung, membaca novel misteri, menari, melukis atau membacakan cerita untuk anak-anak. Psikolog Universitas Chicago Mihaly Csikszentmihalyi mengkaji masalah flow tersebut dan menuangkannya dalam buku larisnya, Flow : The Psychology of Optimal Experience.
“Salah satu deskripsi umum mengenai pengalaman yang optimal” katanya, “ialah ketika waktu tidak lagi melesat seperti yang lajimnya”. Senyatanya memang demikian, walau sebagian besar waktu tersebut justru terasa melesat lebih cepat. Tetapi hal inti yang paling penting adalah bila seseorang mengalami pengalaman flow, mengalir, dirinya sedang merayakan pengalaman “terbebas dari tirani waktu”
WAKTU MENGGUMPAL IBARAT TASBIH. Ekspektasi dan keakraban juga membuat waktu terasa lebih cepat melesat. Hampir semua orang merasakan pengalaman ketika berkendara menuju tempat yang terasa asing. Dikepung dengan pemandangan yang belum dikenal, dengan tanpa bayangan kapan akan sampai di tujuan, perjalanan terasa begitu lama.
Tetapi ketika kembali, walau jarak kilometernya tetaplah sama, nampak waktu tempuh terasa lebih pendek rasanya. Hal-hal baru dalam perjalanan kemudian seakan-akan menjadi rutin. Apalagi kemudian rata-rata orang cenderung menjadi nyaman dengan rutinitas, ibarat bertabiat model babi hutan atau celeng yang ketika pergi atau pulang selalu melewati rute yang sama, bertahun-tahun, waktu pun akhirnya terasa seperti cepat berlalu.
Sehingga apabila kita setiap kali berinisiatif mengambil rute perjalanan yang berbeda, hal tersebut membuat kita seperti mampu memperlambat waktu.
Pengalaman pribadi : sebagai penduduk kota kecil Wonogiri, setiap kali melakukan olah raga jalan kaki pagi, saya mencoba menempuh rute yang beragam. Kadang jalan kaki ke arah timur kota, melewati jembatan, yang mengarah ke Ponorogo. Atau ke utara, menuju arah ke kota Solo dan kembalinya menyusuri hutan di tepian gunung. Atau ke selatan, menyusuri jalan yang dipayungi rimbunan bambu, di pinggir sungai Bengawan Solo. Rute ke selatan ini menuju Perancis. Maksud saya, Pracimantoro. Rute ke arah barat, tidak pernah. Tidak ada jalannya. Rute berat, karena mendaki gunung.
Variasi serupa juga saya lakukan, misalnya, ketika mendengarkan musik di pagi hari. Kadang ketemu Mozart sampai Linkin’ Park. Andrea Bocelli sampai Eros Ramazzoti. The Corrs, Spice Girls, atau Jon Bon Jovi. Demikian juga ketika membaca-baca buku.
Untuk buku, saya punya kebiasaan baca yang “jelek” : sekali memutuskan membaca, ada 5-6 buku baru yang tersedia. Membacanya pun berlompatan.
Suatu saat saya menikmati The Agenda : What Every Business Must Do To Dominate the Decade (2001) dari Michael Hammer, simultan dengan 5-Minute Therapies : Natural Remedies for Body, Mind & Spirit (1999) dari Denise Rowley, Be your own Brand (2002) karya David McNally dan Karl D. Speak, Born To Be Rich (2003) dari Promod Batra (“buku kloning yang jauh dari sempurna dari buku-bukunya Robert T. Kiyosaki”), Dragon Spirit : Bagaimana Memasarkan Sendiri Mimpi Anda (2003) dari Ron Rubin dan Stuart Avery Gold, sampai The Little Pot of Gold : 100 Keys To Success and Wealth (2003) dari Peter Spann.
“Jurang-jurang” yang menganga antara isi buku satu dengan buku lainnya biarlah dijembatani sendiri secara ajaib oleh otak atau imajinasi ketika saya tidur dan bermimpi.
Sekadar cerita : kisah tentang tokoh mitos Yunani, Prometheus, yang mencuri api dari dewa dari buku mengenai teknologi nuklir dan adegan adu balap melawan banteng gila di Pamplona dari novel The Sands of Time-nya Sidney Sheldon, ketika saya aplikasikan dalam esai mengenai revolusi suporter sepakbola, telah memenangkan The Power of Dreams Contest 2002 yang diadakan oleh Honda di Indonesia. Saya akan mempelajari buku-buku itu lagi ketika perlu untuk menuliskannya.
Tanpa variasi-variasi semacam itu maka sungguh menjengkelkan, membosankan, ketika malam tiba, ketika tuntutan harus menulis buku harian menodong saya, tetapi hanya menemukan betapa hal-hal yang ditulis hampir tidak berbeda antara hari satu dengan hari lainnya.
Tatkala hari-hari yang berlalu saling identik, ibarat bulir-bulir tasbih yang bergerombol dalam satu rangkaian, berkelompok bersama, maka waktu sebulan pun hanya nampak seperti satu hari belaka. Tidak aneh bila waktu kemudian nampak seperti cepat sekali berlari.
Untuk menangkis penggerombolan hari, maka buatlah setiap hari hidup kita seunik sidik jari. Sebagaimana dikatakan oleh Joubert bahwa struktur cenderung membuat waktu cepat berlalu. Oleh karena itu, carilah cara cerdik untuk menginterupsi struktur hari-hari Anda, untuk menghentikan laju terbangnya, ibarat kita melakukan rehat kopi di tengah jam-jam kerja kita.
Bruce Schechter memberi contoh seseorang wanita yang punya pekerjaan sibuk, tetapi saat makan siang ia memutuskan untuk menjelajah kota tempat ia berkarier itu. Ia mengunjungi kebun binatang, yang merupakan kunjungannya yang pertama. Piknik kecil-kecilan tersebut, sekadar lepas dari tuntutan kerja kantornya, telah memberikan waktu rehat yang pantas untuk dikenang, yang bila tidak maka hari-hari-hari kerjanya hanya merupakan segumpal blok yang identik satu sama lainnya.
JANGAN TAKUT JADI PEMULA. Mempelajari sesuatu hal yang baru merupakan cara ampuh lain untuk memperlambat gerak terbangnya waktu. Salah satu alasan mengapa hari-hari ketika kita masih muda terasa penuh dan panjang, karena hari-hari tersebut dipenuhi dengan masa kegairahan untuk belajar dan menemukan.
Learning and discovery.
Bagi kebanyakan kita, masa-masa belajar itu memang terkadang selesai begitu kita meninggalkan bangku sekolah atau kuliah. Tetapi bagi seorang Ronald Graham, matematikawan terkenal dari AT&T Bell Laboratories, punya kiat jitu untuk mengerem waktu : “Jangan takut menjadi pemula”.
Graham pun selalu gigih berburu keterampilan baru untuk ia kuasai.
Dalam masa waktu 40 tahun terakhir Ronald Graham mampu menguasai bahasa Cina, main piano, juggling, akrobat, menulis lusinan makalah ilmiah, dan berwisata sampai ke pojok-pojok dunia.
Mengilas balik hidup saya : ketika saya terlambat menyelesaikan kuliah di Solo atau di Jakarta dibanding teman-teman yang lain, rasanya kini saya merasa tidaklah rugi-rugi amat. Karena saya pada saat yang sama, sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan Teknik Jurusan Mesin, dikaruniai peluang untuk “bertualang” guna menjelajahi pengalaman dan menyerap ilmu-ilmu baru yang beragam yang tidak ada di bangku kuliah.
Menulis puisi, cerita pendek, esai dan drama, main teater, berorganisasi dalam kesenian, menjadi guru melukis anak-anak, belajar pers kampus, menjadi komunikator, pembawa acara, promotor seni, menikmati lukisan, menjadi wartawan budaya, belajar film, praktek bahasa Inggris dari bule-bule menawan seperti Tory, Helen sampai Marlene, dan tentu saja menulis surat-surat pembaca. Petualangan serupa, rasanya sampai kini juga masih belum membuat saya jera melakukannya.
Bruce Schechter memperluas cakarawala kita ketika ia mengatakan bahwa mengerem laju jarum jam tidak hanya berlaku untuk masa kini, tetapi juga ketika meninjau masa lalu. Menulis buku harian atau menulis otobiografi merupakan cara bagus untuk menyortir kekaburan masa-masa lalu, sehingga masa lalu tidak lagi hanya berupa satu gumpal campur aduk segala hal tanpa makna. Masa-masa lalu tersebut dapat diurai untuk membentuk pola tertentu yang membahagiakan, membanggakan, baik susunan yang terdiri dari kejadian atau pun prestasi-prestasi tertentu.
“Mendekati usia 65 tahun”, begitu tutur Bruce Schechter, “ayah saya memulai menulis kenangan hidupnya”. Ia semula beranggapan tulisan itu hanya pendek saja, tetapi ternyata tiap kenangan itu beranak pinak dengan kenangan lainnya. Karya tulisnya kemudian membengkak memenuhi sebuah buku. Anak-anaknya kemudian membelikannya sebuah komputer, kini tulisan kenangan tersebut mencapai 400 halaman yang menghadirkan pola kehidupan yang telah ia lalui, betapa indah dan ajaib kehidupan yang telah ia jalani.
Sebagai lelaki yang pemalu, introver, saya mulai intensif menulis buku harian ketika berkuliah di Jakarta. Tahun 1980. Kota yang masih asing, orang-orang yang asing dan interaksi pergaulan urban yang juga terasa asing, mendorongt saya membuat oasis sendiri agar bisa merasa nyaman dan bertahan. Oasis itu adalah buku harian.
Sampai kini.
Walau apa-apa yang saya tulis itu kadang tidak sekemilau isi lirik lagu The Corrs dalam “Dreams” sebagai ”the crystal visions”, tetapi ketika melakukan refleksi, sokurlah hari-hari lewat saya bukanlah semata himpunan peristiwa atau curahan hati tanpa makna. Kebiasaan itu pula kemudian memperoleh outlet dan momentum luar biasa, lagi menakjubkan, di era digital.
Ketika di tahun 2003 saya mulai mengenal blog, membuat tradisi menulis buku harian dalam bentuk sajian digital, personal sekaligus mondial, sepertinya semakin kaya warna. Sebagai orang yang meminati banyak hal sekaligus, kini saya secara rutin menulis blog-blog bertopik komedi, lagu-lagu Carpenters, komunitas epistoholik Indonesia, juga suporter dan sepakbola.
Menulis di blog, bagi saya, ibarat melakukan donor darah. Kalau hanya menyumbang terlalu sedikit, tidaklah bermanfaat. Kalau kebanyakan, tentu mengancam jiwa si pendonornya sendiri. Memang akhirnya tidak semua darah kita didonorkan, tetapi dengan cara ini maka dalam diri kita didorong terjadinya keseimbangan baru dalam mengakuisisi dan menyalurkan informasi.
Setelah menulis, kita secara intuitif didorong untuk melakukan akuisisi informasi-informasi baru. Artinya, dituntut untuk terus belajar dan belajar. Termasuk belajar mengakuisisi kepercayaan dari pembaca blog-blog saya.
Jay Rosen, salah seorang blogger dan pakar media baru favorit saya, dalam esai berjudul “Blogging, Journalism & Credibility” yang dibacakan di Universitas Harvard, Cambridge, 21-22 Januari 2005, telah mengutip pendapat John Hiler dalam Microcontent News (2002) : “Bagi blogger, semuanya mengenai kepercayaan, di mana blog-blog tersebut berangkat dari titik nol dalam membangun reputasinya dari bawah ke atas. Blog bertanggung jawab dan Anda membangun reputasi sebagai sumber informasi yang terpercaya. Bila tidak, Anda tidak memiliki reputasi yang harus Anda cemaskan”
Lanjut Rosen, para blogger itu memiliki keuntungan dalam memperjuangkan reputasi guna meraih kepercayaan pengguna atau pembacanya. Para blogger lebih dekat dalam melakukan transaksi di mana kepercayaan terbangun dan berada di sekitar situs-situs web yang ada. Terdapat perbedaan besar antara membangun aset, katakanlah “merek” St. Pete Times (di Indonesia, misalnya koran Kompas) dan membangun aset secara mandiri sejak sketsa awal.
Selain ibarat melakukan donor darah, menulis di blog yang antara lain guna memperoleh kepercayaan pembaca tadi, dapat juga saya ibaratkan, seperti juga ketika menerjunkan diri berangan-angan menjadi seorang stand up comedian, sebagai aksi “bersekutu dengan setan” guna memperoleh kekayaan.
Ada sebagian dari jiwa kita yang harus rela dikorbankan.
Keterbukaan. Transparansi.
Semakin transparan diri Anda sebagai manusia, tidak jaim, dan semakin rawan atau vulnerable diri Anda untuk dipertontonkan, maka justru dari hal-hal yang manusiawi itulah akan mendorong terjadinya dialog antarhati.
Kita akhirnya memang hanya manusia, dengan segala kekurangan, kedunguan, ketidaksempurnaan. Panggung dunia blog kaya sekali dengan pertunjukan bergaya “masokis” semacam itu.
Hari-hari ini, saya mulai tergerak untuk merintis dan meluncurkan blog-blog seputar penyakit asthma, hobi memelihara anjing, peristiwa terkait tanggal 28 April dan tanggal 20 Desember. Blog-blog mutakhir ini terkait dengan salah satu wanita terindah saya, Anez, kelahiran Brussels 28 April yang baru saja mencapai huruf Z dari hidupnya dalam momen yang menggetarkan, sarat misteri Illahi, di Jakarta, 20 Desember 2005 yang lalu. Semua blog itu ditulis sebagai kenangan dan kesenangan.
Labour of love.
Berkah pun pasti menanti.
Adalah seorang Lee Silber dalam bukunya Self-Promotion For The Creative Person (2001) mengutip resep sukses Chuck Green, pengarang dan seniman grafis, yang mengatakan : focus on what you love and the money will follow. Fokuskan pada semua aktivitas yang Anda cintai, maka uang pun pasti akan menyusul kemudian.
Saya sedikit banyak membuktikan kebenaran atas ucapan itu. Keyakinan akan manfaat blog dalam menunjang visi & misi saya mendirikan komunitas Epistoholik Indonesia, misalnya, telah memenangkan saya dalam Mandom Resolution Award 2004. Kemudian tercatat pula dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).
Gara-gara getol menulis esai seputar sepakbola dan suporter sepakbola sejak tahun 2003 (saya juga tercatat di MURI sebagai Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli), seorang kenalan baru, kolumnis sepakbola yang berdomisili di London mengajak saya untuk mengisi majalah baru, Freekick, yang hendak ia terbitkan bersama kawan-kawannya mulai tahun 2006 ini.
Gara-gara blog pula, seringkali hari-hari saya terasa menenggelamkan saya dalam flow sesuai tesisnya Mihaly Csikszentmihalyi tadi. Aktivitas yang memboroskan waktu. Kalau dalam hitung-hitungan pemanfaatan waktu yang konvensional, pastilah semua aktivitas saya berblog-ria itu hanya nampak sia-sia belaka.
Saya tahu, saya memang terlalu banyak menghamburkan waktu
Saya tahu, saya mendamba kesempurnaan di dunia yang tidak sempurna ini
Dan begitu dungu pula untuk berpikir
hal itu pula yang akan saya dapatkan
OK, saya memang dungu. Isi lirik lagu “I Need To Be In Love”-nya Carpenters tersebut memang benar untuk sisi cinta atau asmara dalam hidup saya. Saya sampai kini belum memperolehnya. Wanita-wanita terindah saya datang, kemudian pergi. Bahkan pergi begitu jauh sekali.
Tetapi pada sisi lain, menghambur-hamburkan waktu juga tidak jelek-jelek amat. Terutama dalam konteks era baru, Network Economy. Kevin Kelly, sokurlah, memberikan perspektif brilyan itu.
Dalam karya tulis tonggak yang inspiratif, “New Rules for the New Economy : Twelve Dependable Principles for Thriving in a Turbulent World” di majalah Wired (September 1997), mengatakan :
Peter Drucker telah mencatat bahwa dalam abad industri setiap pekerja yang mampu mengerjakan pekerjaannya secara lebih baik disebut sebagai produktivitas. Tetapi kini dalam Network Economy di mana kebanyakan mesin-mesin mengerjakan pekerjaan manufaktur yang tak cocok untuk manusia, maka tugas setiap pekerja bukanlah “bagaimana mengerjakan pekerjaan itu secara benar” melainkan “pekerjaan apa yang benar untuk dikerjakan ?"
Di era mendatang, mengerjakan segala sesuatu secara benar jauh lebih “produktif” dibanding mengerjakan hal yang sama secara lebih baik. Tetapi bagaimana seseorang dapat secara mudah mengukur sense penting dalam eksplorasi dan penemuan ? Semua ini tidak terlihat dalam parameter atau patok duga produktivitas.
Sejatinya, menghambur-hamburkan waktu dan bekerja tidak efisien merupakan jalan menuju penemuan. Sesuatu situs web yang dioperasikan oleh anak muda seumuran 20 tahun dapat terwujud karena ia mampu menghabiskan waktu 50 jam untuk menjadi ahli merancang situs web.
Sementara itu pekerja usia 40-an tahun tidak dapat mengambil cuti liburan tanpa berpikir bagaimana dia menentukan apakah berlibur itu bisa disebut sebagai produktif atau tidak, sementara si anak muda tadi tinggal mengikuti naluri dan menciptakan beragam hal baru dalam desain webnya, tanpa menghitung apa yang ia lakukan itu efisien atau tidak. Dari otak-atik yang tidak efisien itulah akan hadir masa depan.
Dalam era Network Economy, produktivitas bukan masalah krusial. Karena kemampuan kita dalam menyelesaikan masalah sosial dan ekonomi kebanyakan dibatasi terutama oleh kurangnya imajinasi dalam menemukan peluang dibanding usaha mengoptimalkan suatu solusi. Seperti simpul Peter Drucker yang dikutip oleh George Gilder, rumusnya kini berbunyi : “Jangan menyelesaikan masalah, tetapi carilah peluang.”
Apabila Anda menyelesaikan sesuatu masalah, Anda berinvestasi bagi kelemahan Anda. Tetapi bila Anda mencari peluang, maka Anda dapat mempercayai jaringan, network, Anda. Apalagi sisi menarik mengenai Network Economy sejatinya bermain seirama dengan kelebihan hakiki manusia. Repetisi, sekuel, mengopi dan otomasi kini semua cenderung bebas biaya, gratis, sementara segi-segi inovasi, orisinalitas dan imajinatif semakin menjulang nilainya.
Kerangka berpikir kita pertama kali memang terikat oleh hukum-hukum lama pertumbuhan ekonomi dan produktivitas. Tetapi dengan peka mendengarkan detak jaringan kita dapat melepaskan ikatan-katan lama tersebut. Sekali lagi, formula paten dalam era Network Economy adalah :
Janganlah menyelesaikan masalah.
Carilah peluang !
Anda setuju ?
Selamat Tahun Baru 2006.
Wonogiri 19/12/2005 – 12/1/2006
Friday, December 23, 2005
Widhiana Laneza : 20 Desember 2005
Oleh : Bambang Haryanto
Email : epsia@plasa.com
Wir haben, wo wir lieben, ja nur dies :
einander lassen; denn dass wir uns halten,
das fällt uns leicht und ist nicht erst zu lernen.
(Rainer Maria Rilke, 1875–1926
Penyair Jerman)
The MySpace Generation. “Mereka hidup secara online. Mereka berbelanja secara online. Mereka bermain secara online. Kekuatan mereka semakin menguat.” Itulah judul laporan utama majalah bisnis terkemuka, Business Week (12/12/2005).
Anak-anak muda kini hidupnya semakin terintegrasi dengan sarana-sarana teknologi informasi dan layanan yang tersedia. Mereka juga semakin tergantung pada apa yang disebut sebagai jaringan sosial online, termasuk bersaranakan blog, untuk menancapkan identitas sosial mereka.
Situs blog seperti MySpace sampai Xanga.com, adalah tempat nongkrong online yang semakin populer. Dalam lingkar pergaulan seperti itu, virtual community center, pusat komunitas maya, mereka dapat curhat, menemukan tempat untuk mengadu saat patah hati, mendapat teman untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah dari sekolah, dan alamat serta acara pesta Sabtu malam.
Walau pun jaringan semacam ini perkembangannya masih dalam tahap awal, tetapi kalangan ahli memperkirakan bahwa kini telah tercipta suatu bentuk kebiasaan sosial yang baru, yang mengaburkan perbedaan antara interaksi secara online dengan interaksi di dunia nyata.
Artikel itu sungguh mengusik saya.
“Apakah diriku juga sudah terjerumus ke kubangan kebiasaan sosial baru di atas ?”
Seperti juga Anda, saya menulis blog untuk kesenangan. Senang pula bisa mengetahui isi kepala blogger lain, seperti Andrew Sullivan, Caterina Fake, Dan Gillmor, Dave Wiener, Glenn Reynolds, Jeff Jarvis, Jeff Rosen (ini professor sekaligus blogger), Joe Trippi, Mickey Kaus, Nick Denton, Peter Rojas, Robert Scoble sampai si rambut jabrik Xeni Jardin.
Bisa puas lagi bebas mengeluarkan uneg-uneg sampai gagasan dengan gaya personal. Semau kita. Tak ada lagi batasan tirani kolom atau diktator media. Aktivitas yang mengasyikkan, terlebih seperti diungkap oleh Bapak Pencipta Snoopy, Charles Schulz, karena pahalanya justru otomatis ternikmati ketika kita lagi mengerjakannya.
The reward is in the doing.
Bila tulisan mendapatkan komentar dari blogger lain, itu adalah bonus. Termasuk bisa berkenalan dengan teman-teman baru, tempat meminta nasehat dan bimbingan. Konsultan blog saya yang baik hatinya, Tina, tinggal di Ulm, Jerman. Atau sekadar saling bertukar cerita-cerita jenaka.
Bahkan saya punya sahabat online, Lasma Siregar, mengaku sebagai TKI di Melbourne, Australia, yang luar biasa. Dia sudah lebih dari setengah lusin kali membanjiri saya dengan hadiah : buku-buku hebat, decoder (buku unik, bukan alat TV), artikel, kaos, sampai majalah-majalah Playboy edisi era Jurrasic.
Mungkin karena saya sudah berumur 53 tahun, oleh Lasma Siregar sengaja dipilihkan edisi majalahnya Hugh Heffner itu yang khusus memuat artis-artis yang kini pasti sudah jadi nenek-nenek.
Anda tahu artis Indonesia, Ratna Assan, puteri Devi Dja dari kelompok hiburan Dardanella, yang satu jaman dengan Tan Tjeng Bok ? Ratna Assan pernah tampil polos saat ikut membintangi film Papillon bersama Steve McQueen. Di majalah Playboy edisi era brontosaurus :-)) itu Ratna Assan berpose dengan penuh pesona.
Well, dengan menulis di blog, kejutan demi kejutan juga mewarnai hidup saya. Disapa oleh seseorang yang tidak dikenal, ternyata mengaku sama-sama sebagai warga WNA. WoNogiri Asli. Atau oleh sesama mahasiswa seangkatan, tapi beda jurusan, yang dulu justru tidak saling kenal.
Blog bagiku kini juga tiba-tiba ibarat mesin waktu. Hal-hal yang selama ini nampak maya, berjarak, seperti main-main dan tidak serius, ternyata ketika menjadi realitas mampu hadir menggetarkan. Karena blog pula, masa lalu tiba-tiba di ujung Desember 2005 ini merenggutku untuk kembali. Dengan bahasa panggil yang sangat berbeda.
Oleh dia. Oleh sebuah nama.
Widhiana Laneza.
Widhiana Laneza
Satu Tahun Lalu : 2004. Kamis, 28 Oktober. Wonogiri, Jawa Tengah. (Mengenang) Wanita-Wanita Terindah : Jacquline Bisset. Isabelle Adjani. Sherry Bilsig, pramugari dalam Die Hard 2 : Die Harder. Arie Kusmiran. Miduk. Kenil. Cresenthya Hartati. Widhiana Laneza. Dwi Retno “Tutut” Setiarti. Erika "Michiko" Diana Rizanti. (Posting di blog Buka Buka Beha/28 Oktober 2004).
Lima Bulan Lalu : 2005. Senin, 11 Juli. Wonogiri, Jawa Tengah. (Mengenang Masa Kuliah : 1980-an) ”WTS-WTS” Yang Memesona. Di komplek kampus Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Rawamangun, terdapat taman yang dipayungi rimbun pepohonan yang diisi beberapa kupel dan bangku taman. Di sana-sini mangkal pedagang makanan.
Komplek ini tiap hari kuliah selalu ditaburi sosok-sosok yang mampu melahirkan inspirasi, bukan saja cantik dan jelita, tetapi juga memesona. Mereka itulah yang lajim disebut sebagai para “WTS” : Wanita Taman Sastra.
Misalnya, dari Arkeologi ada Widhiana Laneza. Bercelana jin biru, baju jin biru pula, rambut panjangnya digerai. Mirip penyanyi rock. Kacamatanya frame besar seperti yang dipakai komedian Drew Carrey. Sekilas mirip tokoh feminis Gloria Steinem. Bagiku, ini pemandangan yang memesona.
Ada pula Deasy Indriati, yang mungil dan gemintang. Dari Ilmu Perpustakaan : Saraswati, Sri Mulungsih, Arlima Mulyono (adik dari pelawak Warkop, almarhum Nanu Mulyono), Poppy sampai Evy yang mengejar-ejar cinta saya.
Dari Sastra Cina, misalnya penyanyi Christine Panjaitan. Teman kentalnya, Prianti Gagarin Singgih, yang seperti cewek bule Amerika. Sosok menawan dari Sastra Inggris antara lain, Siti Rabyah Parvati. Ayahnya dari Padang, ibunya, Ibu Poppy, priyayi dari Solo.
Rumah eyangnya di Solo kini menjadi lokasi berdirinya Balai Sudjatmoko. Intelektual raksasa dan Rektor Universitas PBB di Tokyo tersebut tidak lain adalah oomnya Siti Rabyah Parvati, yang akrab dipanggil Upik ini. Ayah Upik adalah Perdana Menteri Sutan Syahrir. (Posting di blog Esai Epistoholica No. 24/Juli 2005/11 juli 2005).
Tujuh Bulan Lalu : 2005. Selasa, 14 Juni. Wonogiri, Jawa Tengah. (Mengenang Masa Kuliah : 1980-an). Rayuan Bu Dosen Perancis. Cita rasa saya terhadap wanita yang ada “bau-bau” Perancisnya, tetapi bukan wanita impian yang hanya bergerak-gerak di layar-layar bioskop, saya temui pada diri seorang Anez.
Mahasiswi Sastra Perancis.
Juga arkeologi.
“Namamu pakai huruf z, terasa eksotis”, pujiku. Ia menerangkan bahwa namanya diilhami dari kosa kata bahasa Spanyol.
Nama Spanyol, cinta Perancis. Saking kentalnya Anez dengan Perancis, anjingnya yang kecil dan lucu, juga punya nama dalam bahasa Perancis : Grigri. Artinya, jimat. Saat itu dengan bantuan teman, saya membuat kop surat dengan komputer. Tertulis “Grigri Petshop” lengkap dengan alamat rumahnya, yang disambut Anez dengan tertawa-tawa.
Sayang, bahasa Perancisku tidaklah canggih. Aku pernah ikut dalam mata kuliah Bahasa Sumber di FSUI, kini Fakultas Ilmu Budaya UI. Di sini setiap mahasiswa, baik Arkeologi, Ilmu Perpustakaan (jurusanku) dan Filsafat (jurusannya Dian Sastro kini), Sastra Arab, Sastra Belanda, Sastra Cina, Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Sastra Jawa, Sastra Jepang, Sastra Jerman, Sastra Perancis, Sastra Rusia dan Sejarah, wajib mengikuti mata kuliah tersebut. Para mahasiswa boleh memilih : bahasa Belanda, Italia atau Perancis.
Aku memilih Perancis. Tetapi karena metode belajarku tidak efektif, selain tuntutan untuk berfokus pada mata kuliah di jurusanku sendiri, membuat mata kuliah Bahasa Perancis ini menjadi kurang membahagiakanku. Apalagi, mungkin ini bisa disebut sebagai ge-er berat, ibu dosen Perancisku yang masih muda dan charmant itu, aku rasa, terlalu berlimpah memberikan perhatian rada khusus pada diriku. Memuat rayuan terselubung. Godaan yang menggairahkan. Mendebarkan dan menggelisahkan.
Teman sekelasku dari jurusan yang berbeda, yaitu cewek-cewek yang radar atau naluri kewanitaannya peka, sering mencandaiku akan hal spesial satu ini. Termasuk pula Upik, anak Sastra Inggris dan putri mantan Perdana Menteri RI Sutan Syahrir, yang sering aku repoti ketika aku sulit mengerjakan PR atau saat tes-tes dadakan Bahasa Perancis.
Semua gunjingan itu membuatku jadi jengah. Aku seperti Benjamin Braddock yang naif di depan Mrs. Robinson yang berpengalaman. Akhirnya, aku melakukan desersi. Hanya ikut kuliah bahasa Perancis itu satu semester. Au Revoir ! Lalu pindah ke mata kuliah Bahasa Belanda.
Kembali ke Anez. Aku belum berani membelai Grigri, anjing kesayangannya itu. Aku merasa kurang yakin bahwa diriku memiliki keramahan alami untuk seekor anjing. Pernah saya bertemu seekor anjing, di mana mulutku tidak berkata apa-apa kepadanya. Hanya sorot mataku ingin berkata : “Hei, kamu anjing jelek”. Kami pun berpapasan dengan damai. Tetapi, sekejap kemudian, saya rasakan sebuah gigitan mencengkeram tumit saya. Anjing itu rupanya memahami bahasa nonverbal saya.
Untung rabies tidak mendera saya.
Grigri dan Anez, sungguh ajaib, menjadi pemicu terbitnya buku kumpulan lelucon satwa, yang saya tulis, Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa (Andi, 1987). Begitulah modal rayuan saya. Perasaan jatuh cinta yang mendalam telah berujung dengan terbitnya sebuah buku.
Kutipan sebagian isinya :
“Apakah Grigri seekor anjing penjaga yang baik, Anis ?” “Yah, lumayan. Kalau mendengar gemerisik di malam hari, aku harus membangunkan dia dan barulah ia menyalak.”
Aku telah menghabiskan waktu 5 bulan untuk melatih anjingku agar menjadi anjing penjaga yang baik dan berani. Istriku juga mengajarinya membawakan keranjang belanjaan dan surat kabar. Suatu hari rumahku didatangi pencuri, dan apa yang terjadi ? Anjing sialan itu memegangi obor dan menerangi pencuri dalam beraksi.
Sebuah perusahaan industri makanan anjing berhasil mengeruk keuntungan yang melimpah lewat produknya yang terbaru. Konon makanan itu cita rasanya persis sama dengan kaki pegawai pengantar pos !
Proses (penulisan buku) yang terjadi memang menggairahkan, mungkin tercampur dengan mabuk, terpagut ekstasi, sekaligus tidak memikirkan apa hasil akhir yang terjadi. Kalau Anda percaya, itulah fenomena menakjubkan yang disebut sebagai flow, mengalir, temuan psikolog Mihaly Csikszentmihalyi dari Universitas Chicago.
Flow adalah kondisi bahagia dan terkonsentrasi yang seakan-akan tidak dibatasi waktu, yang Anda raih ketika pekerjaan tidak terlalu sulit tetapi juga tidak terlalu sederhana, namun cukup menarik untuk memikat seluruh perhatian Anda. Flow sering bersamaku ketika menulis surat-surat rayuan yang panjang atau bergulat merampungkan tulisan-tulisan yang membahagiakan.
Mengilas balik di antara momen-momen interaksi yang istimewa dan terjadi dengan Anez, adalah ketika saya ikut makan malam dengan ayah dan ibunya. Beliau adalah seorang duta besar di pelbagai negara francophone, negara-negara yang kuat dipengaruhi budaya Perancis, di benua Afrika. Terakhir menjadi duta besar di Kamboja.
Ketika malam itu obrolan bergulir tentang makanan, saya menyinggung kegemaran orang Perancis yang keranjingan makan escargot. Bekicot. Saya memberanikan diri nyeletuk, “Orang Perancis suka makan bekicot, membuat mereka jadi lamban ketika ditagih bayar hutang”.
Pak dutabesar meledak dalam tawa. Tetapi putrinya saat itu tidak antusias untuk ikut tertawa. Sinyal lampu merah tentang masa depan pdkt, pendekatan saya telah menyala. (Cuplikan dari posting di blog Esai Epistoholica No. 21/Juni 2005/Selasa, 14 Juni 2005).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 20 September. Rawamangun, Jakarta Timur. Bangun jam 09.00, nerusin halaman 4 surat untuk Ria, tapi ogah memposinnya segera. Jam 12.00 keluar, innerku bilang, “kalau kamu pas goreh begini, tidak sarapan, pucat begini, kisruh begini...jangan-jangan ntar malah kepergok Anez.” Aku ke kantor pos : dapat 5 wesel dan 1 surat untuk ITSC (Ideas T-Shirt Club) dari tetangganya Ria, sama-sama Tawakal ; memposin surat ke Ria.
Aktivitas baru, nongkrong di shelter : jam 12.15. Innerku benar, di seberang sana, jalan sendirian, di mulut gang bertemu teman-temannya, ada cewek berjean dan baju merah kecoklatan :
Itulah Anez, Widhiana Laneza, cewek Arkeologi 82 yang sejak 1981 telah memenjarakanku dalam impian, “aku itu pengin mencintai dia, tapi jalan pengecutku selama ini, udah 5-6 kontak via surat, tak ada hasilnya”.
Saat itu, kerna perfeksionisku, aku memutuskan untuk off, ke fotokopi. “Hati gundah. Oalah, betapa kerdilnya aku ini” (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Selasa, 30 September. Rawamangun, Jakarta Timur. Bangun jam 08.00, ke JIP (kampus FSUI). Ke BAP : aku ambil ijazah SIP-ku, hari ini, dan sudah jadi. Ijazahku itu (baru dua tahun kuambil setelah kelulusanku) tak berdampak apa-apa padaku, “kenapa ya ?”. Keluar dari kampus FSUI... Jam 11.30. aku sudah di shelter, nongkrong. Ada bis 38, kukira 39, dan intuisiku berkedip-kedip, “Anez mana ?”
Dari pintu depan tak ada, ketika panning ke pintu belakang, “Ya Tuhan, itu Anez !”, gadis yang selama 4-5 tahun ini hanya hidup di angan-anganku. Hari ini ia berjean lusuh, t-shirt beige (coklat kemerah-merahan) dengan lengan dipotong, rambut tergerai nampak kusut, ia nampak kurus, berjalan tak acuh.
Seluruh badanku terasa beku : aku mau apa saat itu ? Mulutku tak bisa memanggilnya, aku cuman berjalan untuk memandanginya. Anez terus saja melangkah. Tanpa hirau. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Selasa, 4 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Hari ini, beberapa menit yang lalu, aku memberanikan diri untuk ketemu dan ngobrol a la kadarnya dengan Anez, Widhiana Laneza, di shelter Sunan Giri (15.30 WIB). Sebelumnya aku emang nunggu di shelter Rawamangun, eh dia malah lewat bersama temennya, acuh tak acuh di depanku, ke timur. “Apa yang harus aku lakukan ?”
Aku lalu membuntuti. Ia berhenti di shelter Sunan Giri : bercelana panjang warna khaki, baju garis-garis kecil warna coklat merah, menenteng tas kulit, saat itu temennya baru naik. Aku lalu berdiri di kirinya. Aku sapa :
“Anez ya ?”
Ia menengok. Aku mengajak salaman. Ia mau dan ramah. Aku bilang : “Aku yang pernah kirim surat kepada Anez” Dia tanya : “Sekarang kerja dimana ?’ Aku jawab, “bukan dimana, tetapi apa. Aku menulis”
Aku bilang, “aku malu, aku kan sulit ngomong, maka aku tulis surat”. Dia bilang, “iseng saja”. Kusahut : “tapi aku serius lho...”. Sambil ngomong itu aku memukul lembut pundaknya. Ia tak ada kesan benci atau menolak atas perlakuanku ini.
Oh ya aku tadi bilang : “Anez sekarang dimana sih ?” Ia nyebut alamat yang aku sudah tahu. “Saya pengin ngobrol atau main. Boleh engga sih ?”
Ia bilang : “boleh” (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Rabu, 12 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Terima kasih, Tuhan, aku telah ketemu lagi sama Anez, di rumahnya. Sepanjang senja dan malam tadi.
Kamar tamu yang sederhana interiornya. Di tembok kiriku ada foto besar, pengangkatan babenya Anez, Taufik Rachman Soedarbo, sebagai duta besar di Senegal (?), 11 Juni 1982. Berfoto bersama Bapak/Ibu Presiden RI. Anez dalam foto itu berkain, nampak langsing, tinggi, di dekat babenya.
Lalu Anez keluar, dikerubuti anjing-anjingnya. Yang hitam bernama Grigri (jimat dalam bahasa Perancis) dan anjing merah bernama Pancho atau Cakil. Anjing putih yang di luar, galak (yang menyalakku kemarin Sabtu) dia sebut Minggo. Anez saat itu berdress : celana jean biru, baju biru, di kaki ada gelang emas, tangan bergelang, pakai jam tangan seperti di foto opspek.
Anez nampak antusias cerita tentang anjing. Aku berusaha menimpali dengan tanya, “anjingnya Liz Taylor yang bisa dikantongi itu jenis apa ?” sampai cerita humor seputar anjing yang bikin redaksi (koran) kalang kabut. Anez juga cerita tentang kakaknya yang kuliah di Paris, Sekolah Teknik Tinggi dan satunya lagi di komputer. Anez pengin ambil kursus komputer.
Malam itu, hmmm, aku ikut makan malam bersama ayah dan ibunya Anez. “Ini orang Jawa asli”, kata Anez mengenalkanku. Pak Taufik tanya, “Dari mana ? Jawa Timur ?” Aku bilang, Jawa Tengah. Wonogiri. Solo ke selatan. Beliau tidak tahu. “Engga pernah dapat pelajaran ilmu bumi”, kilah beliau.
Bapak dan Ibu Taufik makannya pakai tangan. Muluk. Ketika saya nanya mengenai makanan khas Afrika, cerita Pak Taufik banyak sekali dan aku asyik mendengarkannya. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Kamis, 13 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Jam 19.30 : aku sampai ke rumah Ria. Ngobrol tentang buku humor dokter, juga tentang surat kabar kampus Warta UI (Ria jadi anggota redaksinya). “Kayak baca Suara Karya”, celetukku. Ria bilang, “Makasih Mas Hari”. Sambil ngakak.
Ria bilang (dirinya) udah damai sama papanya. Udah (pula) kursus Perancis. Akhirnya aku buka kartu ke Ria : “aku kini lagi berburu cewek.” Aku suka sama dia engga (ada bumbu) romantisnya, engga ada sexual drive, tapi datar-datar saja. Rasional. Cewek itu anonim bagi Ria. (Kusebut juga) suka Perancis dan aku sebut ia (sebagai) Garuda : terbang sendiri dan mandiri. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 15 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Jam 11.30 berangkat pula jadinya, dan, di shelter Rawamangun terus tergambar Anez di sana. Sampai di JIP-FSUI, temu Ibu Soma (Ketua Jurusan). Hasil revisi skrip (yang aku tulis untuk televisi) diterima.
Engga banyak obrolan. Beliau cuman nawarin ; “mbok kamu belajar komputer, biar komputer ini engga underuse”. Aku jawab ya (dengan hati senang). Pulang. Mampir PO Box : dapat 2 surat ke ITSC, 1 tagihan dari Yani, dan Infokilat PDIN, (isinya antara lain daftar isi ) majalah Discover (September) yang ada artikel arkeologi : “moga-moga Anez bulan ini juga telah menerimanya”. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 29 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Baru saja aku nelpon Anez. “Ada apa ?’, tanya Anez. Aku agak nervous nanya bab seminar Arkeologi Publik, 2-3 Desember 1986. “Sebagai pendengar boleh kok”, katanya.
“Oh ya, kabarnya Grigri ?”, tanyaku. “Baik-baik aja. Sekarang baru mau makan”, jawab Anez. “(Anjing) yang kecil, siapa sih ?”. Anez jawab, “Bobi. Dan makasih untuk fotokopinya. Sudah diterima” Aku : “Yeah, mudah-mudahan ada gunanya” (Anez mengiakan : “ada gunanya, kok”).
“Udahan ya, Anez”
Jawab dia : “Kalau mau nelpon, nelpon aja”
“Yuk. Dadag” (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Selasa, 2 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Jam 9 sudah tiba di (gedung pertemuan di komplek UI Rawamangun) Sarwahita. Upacara seminar dibuka, aku masuk. Suasana orang-orang Arkeologi FSUI adalah, “yeah, suasana jurusan yang kering, tidak favorit, underdog, tersingkir”, gitu kesanku. Seperti juga jurusanku.
Aku ikut mendengarkan makalah pertama, “Museum dan Arkeologi”, oleh Bambang Soemadio dan penanggap Aristides Katopo. Isunya : bagaimana meningkatkan kesadaran publik tentang museum dan arkeologi.
Jam 12, aku cabut, dipelototi banyak mata. Nampaknya Anez tidak ada di antara mereka. Di pintu temu Paulina, Arkeologi 1986, (sebelumnya aku kenal sebagai) anak Himpunan Astronomi Amatir Jakarta/HAAJ. Ngobrol sebentar. Lalu aku off ke (perpustakaan) PPIA.
Melihat cewek berkaki putih, innerku bilang : “Itu Upik kah ?”. Tapi aku membantah sendiri. Tapi ya, ia bener-bener Upik. Kita (lalu) terlibat ngobrol. Ia belum lulus (Sastra Inggris UI). Daftar artikelku dulu (untuknya) mubazir. Ya udahlah.
Aku berkomentar mengenai surat pembaca (yang ia tulis) di majalah Tempo. “Wah, kayak Cory Aquino”. Ia nampak senang, dengan sikap mau memukul. Komentarku lanjut : “mau jadi golput ya ?”
Upik Syahrir pergi ke rak, aku scanning majalah Scientific American. Nampak ia mau cabut, aku pura-pura tak tahu. Eh, Upik menghampiri kursiku dan bilang, “duluan, ya”.
Perpustakaan PPIA tak lagi menarik. Aku pulang, sambil menyapa “mBak PPIA” (yang kukira udah pindah). Ia bilang, “lama tidak ke sini ya ?” Aku jawab : “sore hari”. Pulang, jam 13.30. Scanning shelter UI (Rawamangun) : tak ada Anez. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Senin, 8 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Hari ketemu banyak orang : Museum Satria Mandala, aku ikut acara Pengarahan Kursus Perpustakaan Mabes ABRI 86/87. Aku tiba on time, temu banyak ABRI : letnan kolonel. Aku duduk di barisan (dosen-dosen) UI.
Ke PDII, temu mbak Jati dan Suwarto. “Untung deh gue”. Riset majalah Romantika Arkeologia (FSUI) : temu berita bagus : Anez baca makalah tentang perkotaan kuno pra-Islam di acara diskusi. “Hebat juga anak satu ini ; dan aku tidak salah pilih ya ? Ia ilmuwan, aku juga, he..he”
Ini mengkhayal bab Anez : “kurasa dia itu juga cinta ilmu seperti juga aku ; dari luar sederhana tapi isi kepalanya cukup kompleks; dan pendekatanku selama ini kira-kira cocok engga ? Ya, embuhlah.....”
Dari PDII, aku tur ke Redaksi Pelita : ambil honor artikelku (“Terorisme Media”), 4 Nov 1986, “dapat Rp. 30.950,00”. Okay. Mampir American Cultural Center (Wisma Metropolitan 2), melamar jadi anggota. Ketemu bu Is Prayoga (kepala perpustakaannya dan dosenku) : “Buset, kerjaku freelance dikaitkan sama status singleku. Dia bilang aku harus cepat-cepat kawin”. Wah, aku menjawab : “Nasehat ibu saya dengarkan”. He-he, status freelance-ku kok tidak bercitra positif ya ?
Haus fotokopi artikel, eh, ketemu bab “melatih anjing”, aku ingat Anez : 24 halaman. Aku sangsi, jadi atau engga ? Akhirnya, demi cinta, harga segitu kupandang murah atau tak seberapa. Okay, aku fotokopi aja (artikel) “Four Ways To Walk a Dog” dari majalah Atlantic Monthly (April 1986) itu. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 20 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Bangun pagi, tak ada orientasi. Seharian merampungkan desain (t-shirt) ITSC : Reagan – selesai. Pagi : menyalin dan menyalin surat cinta untuk Anez, “tapi gundah lagi, ditunda lagi”. OK.
Mandi sore untuk meredakan gundah dan bara di kepala dan dadaku sehubungan dengan cintaku pada Anez dan kesepian-kesepianku. Belum reda. Malam : box, blong, dan rasa sepi itu makin merujit-rujit. Ya Tuhan, begini hidupku. Escape : makan soto, kenyang, agak adem hati ini. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu :1986. Senin, 29 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Hari bersejarah dalam karirku sebagai penulis. Aku menyerahkan naskah kepada penerbit : naskah sebuah buku, buku kumpulan humor satwa, dengan motivasi : mempersembahkan karya itu bagi orang yang ingin aku cintai, Widhiana Laneza ! Anez, sebutannya. (Buku Harian).
Petikan isinya lagi :
”Mengapa engkau menangis, Ani ?”
“Aku sedang sedih karena anjingku mati pagi ini”
“Lho ? Mertuaku juga baru saja mati, tetapi aku tidak bersedih seperti kamu saat ini.”
“Iya, habis kamu tidak membesarkan mertuamu sejak kecil”
”Aku telah menemukan cara terbaru untuk mengusir pinjal dari tubuh anjingku.”
“Bagaimana caranya ?”
”Gampang ! Anjingku kuajak naik pesawat terbang, lalu pilotnya kusuruh untuk berakrobat di udara. Pinjal-pinjal itu menjadi ngeri dan mereka pun berhamburan pergi.”
Seekor ayam babon tua memanggil sekelompok ayam babon muda. “Maukah kalian mendengar nasehatku ?”, tanya si Tua.
“Nasehat apa ?”
“Sehari sebutir telur menjauhkan lehermu dari pisau dapur”
Sembilan Belas Tahun Lalu :1986.Rabu, 31 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Aku nelpon Anez. Ia bilang, fotokopi tentang anjing itu telah ia terima. Juga cerita tentang jadwal ujiannya, awal Januari 1987, dan bahkan ia cerita pengin kerja freelance. “Kerja apa ?”, tanyaku. “Engga tahu. Bapak yang mencarikannya”
“Pada diri Anez apa yang bisa dijual ?”, tanyaku. Bercanda secara otomatis muncul. Terdengar dia tertawa besar. Segar. “Maksudku, skillnya”, jelasku. “Bahasa”, kata Anez.
Anez nanya ; “Apa acara Tahun Baru ?”. “Evaluasi tahun 1986,” kataku, dan “rencana tahun 1987”, Anez menambahkan. Aku bilang : “biasanya semangat tinggi ada di bulan Januari, sesudah itu biasa-biasa lagi” (Buku Harian).
Delapan Belas Tahun Lalu : 1987. Jumat, 9 Januari. Rawamangun, Jakarta Timur. Aku nelpon Anez. Ia cerita anjingnya yang hilang. Si Cakil atau Pancho. Dicuri orang ? Ia cerita tentang pagar rumahnya yang bolong. “Anez nangis engga ?”, godaku. “Engga. Mudah-mudahan dicuri oleh pemiliknya”, kata Anez. “Lalu anjing baru, jenisnya apa ?”, tanyaku. Dan jawabnya : “Biasa. Anjing kampung”
“Jadi semua (anjingmu) serba kampungan ya ?”
Anez tertawa. Aku lalu nanya bab anjing Labrador, Alsatian, dan melucu tentang anjing Dachshund yang bisa dikomersilkan : untuk membersihkan cerobong asap. Anez bilang : “jangan kejam-kejam dong.” Aku me-recall humor tentang cewek yang disukai anjing bukan karena cantiknya, tetapi “she has a good bone structure. Anyway, all the dogs loves her”.
Anez inisiatif buka obrolan lain. Kali ini tentang rencana pertunjukan maestro ballet di Jakarta. “Rudolph Nureyev, kan ?”, sergahku.
Cocok.
“Tapi karcisnya mahal”. Anez menjawab : “Ya. Karcisnya mahal”. Aku usulkan : “lebih baik nonton videonya, lebih murah. Oh ya, Anez, aku sering terkicuh antara Nureyev dengan....”, dan Anez gantian cepat menjawab : “Mikhail Baryshnikov”
Cocok. Nyambung.
Aku nelpon kali ini tanganku yang pegang handle gemetaran. Lapar ? Masih soal Baryshnikov aku berkata : “kan dia kini lagi main film”. Anez kembali cepat menimpali : “White Night”.
Cocok dan nyambung lagi.
“Anez suka film semacam Return To Eden ?” Ia bilang : dulu suka, tapi sesudah melingkar-lingkar, ia bilang tidak mengikuti. “Itulah opera sabun”, kataku, dan kusambung cerita tentang penulis opera sabun versus istri tukang ledeng.
(Konon, ada penulis opera sabun yang pipa ledeng di rumahnya rusak. Ia nelpon tukang ledeng, tetapi yang menerima istrinya. Istri itu surprise setelah tahu yang menelpon itu penulis opera sabun favorit yang sering ia tonton di televisi. Ia lalu tergoda pengin tahu bagaimana kelanjutan kisah si tokoh utama. Katanya, “ kalau saya dibocorin lanjutan kisah si tokoh, saya akan meminta suami saya untuk membantu Anda. Kalau tidak dibocorin, saya akan tutup telepon ini” Si penulis opera sabun itu menyerah.)
Anez terdengar tertawa.
Aku bersiap menutup pembicaraan. Ketika koin keempat jatuh, menit ke 9 -12 mulai, aku bilang : “Tahu engga, bahwa Anez itu menarik ?” Anez tertawa. Surprise. Dapat tembakan rayuan. Tapi dia hendak mengelak : “Engga kok. Tapi engga tahu deh anggapan orang lain”
Saat itu aku hendak nerangin soal Johari Window, tapi tak jadi. Aku bilang lagi : “Bener kok, Anez itu menarik”. Ia tertawa lagi dan dengan cerdas ia berkelit. “Anyway, thank you”, katanya dengan tutur yang luwes. Sambil tertawa gembira. Aku juga.
“Yuk, dadag”, tutup Anez. (Buku Harian).
FAST FORWARD : Hari ini : 2005. Kamis, 22 Desember 2005. Wonogiri, Jawa Tengah. Saya menulis email balasan berikut ini :
Dear Mas Anto,
Terima kasih untuk email Anda, Mas Anto. Salam kenal. Saya mengingat, kalau tak salah ingat, Anez pernah cerita tentang kakaknya yang kuliah di Paris. Di elektro ? Apakah itu Mas Anto ?
Anez bercerita sepintas hal itu di rumah, sambil direcoki oleh Grigri (kata Anez, artinya "jimat" dalam bahasa Perancis) dan si Cakil, keduanya adalah anjing kesayangannya. Gara-gara anjingnya Anez itu sampai saya tergerak menyusun buku kumpulan humor satwa.
Suatu saat di telepon Anez cerita bahwa si Cakil itu pergi. Saya tanya ke Anez, apa jenis anjingnya itu ? Anez bilang, anjing kampung. Lalu saya tanya : semua anjingmu itu kampungan ya ? Anez hanya tertawa kecil.
Pernah juga saya katakan di telepon : "Anez itu menarik" Kalau saya ketemu sekarang, masih akan saya katakan : "Anez itu menarik" Saya yakin kini Tuhan Yang Maha Penyayang juga akan mengatakan bahwa Widhiana Laneza itu menarik, sehingga ia dipanggil lebih cepat untuk menghadapNya.
Saya ikut merasa kehilangan, Mas Anto.
Semoga Mas Anto, suaminya Anez, Ibu dan Bapak Taufik ("saya senang ketika diberi cerita beliau tentang makanan khas Senegal") dan keluarga besar di sini diberi ketabahan dan kekuatan iman.
"Selamat jalan Anez, semoga kau di surga sana mendapat tugas arkeologi yang lebih menantang"
Wassalam.
Hormat saya,
Bambang Haryanto
FAST FORWARD : Hari ini : 2005. Kamis, 22 Desember 2005. Wonogiri, Jawa Tengah. Sebelumnya saya mendapat email tak terduga-duga berikut ini :
Mas Bambang,
Ketika saya ketik nama adik saya, Widhiana Laneza, google.com memberikan situs blog anda "Buka Buka Beha", dan saya melihat nama adik saya termasuk dalam list “wanita-wanita terindah” Anda.
Saya hanya ingin memberi tahu bahwa adik saya telah berpulang ke pangkuan Allah SWT pada hari Selasa, tanggal 20 Desember 2005, 3 hari setelah pernikahannya.
Salam,
Anto,
kakaknya Anez.
Apa Daya Saya Hanya Manusia. Penyair Jerman Rainer Maria Rilke telah bilang, dalam cinta satu-satunya hal yang harus dipraktekkan adalah : berilah kebebasan bagi orang-orang yang Anda cintai. Kalau ingin membelenggunya, itu perkara mudah, kita tidak usah belajar tentangnya.
Kebebasan Anez, kebebasanku dan kebebasan kami, akhirnya membuat jatuh cintaku kepada Anez kandas. Aku bisa mengerti. Karen Carpenter, penyanyi favoritku yang mati muda di usia 33 tahun dalam “When I Fall In Love” seolah mengabadikan kepedihan itu :
In a restless world like this,
love is ended before it’s begun.
Hal ini pun, Anez, juga bisa aku mengerti.
Tetapi memperoleh kabar bahwa Widhiana Laneza telah dijemput kebebasan puncaknya sebagai manusia untuk kembali keharibaan Tuhan di bulan Desember ini, betapa momen menggetarkan dan penuh misteri dariNya tersebut masih terasa sulit untuk bisa aku mengerti.
Apa daya, saya hanya manusia.
Wonogiri, 22-23 Desember 2005
Email : epsia@plasa.com
Wir haben, wo wir lieben, ja nur dies :
einander lassen; denn dass wir uns halten,
das fällt uns leicht und ist nicht erst zu lernen.
(Rainer Maria Rilke, 1875–1926
Penyair Jerman)
The MySpace Generation. “Mereka hidup secara online. Mereka berbelanja secara online. Mereka bermain secara online. Kekuatan mereka semakin menguat.” Itulah judul laporan utama majalah bisnis terkemuka, Business Week (12/12/2005).
Anak-anak muda kini hidupnya semakin terintegrasi dengan sarana-sarana teknologi informasi dan layanan yang tersedia. Mereka juga semakin tergantung pada apa yang disebut sebagai jaringan sosial online, termasuk bersaranakan blog, untuk menancapkan identitas sosial mereka.
Situs blog seperti MySpace sampai Xanga.com, adalah tempat nongkrong online yang semakin populer. Dalam lingkar pergaulan seperti itu, virtual community center, pusat komunitas maya, mereka dapat curhat, menemukan tempat untuk mengadu saat patah hati, mendapat teman untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah dari sekolah, dan alamat serta acara pesta Sabtu malam.
Walau pun jaringan semacam ini perkembangannya masih dalam tahap awal, tetapi kalangan ahli memperkirakan bahwa kini telah tercipta suatu bentuk kebiasaan sosial yang baru, yang mengaburkan perbedaan antara interaksi secara online dengan interaksi di dunia nyata.
Artikel itu sungguh mengusik saya.
“Apakah diriku juga sudah terjerumus ke kubangan kebiasaan sosial baru di atas ?”
Seperti juga Anda, saya menulis blog untuk kesenangan. Senang pula bisa mengetahui isi kepala blogger lain, seperti Andrew Sullivan, Caterina Fake, Dan Gillmor, Dave Wiener, Glenn Reynolds, Jeff Jarvis, Jeff Rosen (ini professor sekaligus blogger), Joe Trippi, Mickey Kaus, Nick Denton, Peter Rojas, Robert Scoble sampai si rambut jabrik Xeni Jardin.
Bisa puas lagi bebas mengeluarkan uneg-uneg sampai gagasan dengan gaya personal. Semau kita. Tak ada lagi batasan tirani kolom atau diktator media. Aktivitas yang mengasyikkan, terlebih seperti diungkap oleh Bapak Pencipta Snoopy, Charles Schulz, karena pahalanya justru otomatis ternikmati ketika kita lagi mengerjakannya.
The reward is in the doing.
Bila tulisan mendapatkan komentar dari blogger lain, itu adalah bonus. Termasuk bisa berkenalan dengan teman-teman baru, tempat meminta nasehat dan bimbingan. Konsultan blog saya yang baik hatinya, Tina, tinggal di Ulm, Jerman. Atau sekadar saling bertukar cerita-cerita jenaka.
Bahkan saya punya sahabat online, Lasma Siregar, mengaku sebagai TKI di Melbourne, Australia, yang luar biasa. Dia sudah lebih dari setengah lusin kali membanjiri saya dengan hadiah : buku-buku hebat, decoder (buku unik, bukan alat TV), artikel, kaos, sampai majalah-majalah Playboy edisi era Jurrasic.
Mungkin karena saya sudah berumur 53 tahun, oleh Lasma Siregar sengaja dipilihkan edisi majalahnya Hugh Heffner itu yang khusus memuat artis-artis yang kini pasti sudah jadi nenek-nenek.
Anda tahu artis Indonesia, Ratna Assan, puteri Devi Dja dari kelompok hiburan Dardanella, yang satu jaman dengan Tan Tjeng Bok ? Ratna Assan pernah tampil polos saat ikut membintangi film Papillon bersama Steve McQueen. Di majalah Playboy edisi era brontosaurus :-)) itu Ratna Assan berpose dengan penuh pesona.
Well, dengan menulis di blog, kejutan demi kejutan juga mewarnai hidup saya. Disapa oleh seseorang yang tidak dikenal, ternyata mengaku sama-sama sebagai warga WNA. WoNogiri Asli. Atau oleh sesama mahasiswa seangkatan, tapi beda jurusan, yang dulu justru tidak saling kenal.
Blog bagiku kini juga tiba-tiba ibarat mesin waktu. Hal-hal yang selama ini nampak maya, berjarak, seperti main-main dan tidak serius, ternyata ketika menjadi realitas mampu hadir menggetarkan. Karena blog pula, masa lalu tiba-tiba di ujung Desember 2005 ini merenggutku untuk kembali. Dengan bahasa panggil yang sangat berbeda.
Oleh dia. Oleh sebuah nama.
Widhiana Laneza.
Widhiana Laneza
Satu Tahun Lalu : 2004. Kamis, 28 Oktober. Wonogiri, Jawa Tengah. (Mengenang) Wanita-Wanita Terindah : Jacquline Bisset. Isabelle Adjani. Sherry Bilsig, pramugari dalam Die Hard 2 : Die Harder. Arie Kusmiran. Miduk. Kenil. Cresenthya Hartati. Widhiana Laneza. Dwi Retno “Tutut” Setiarti. Erika "Michiko" Diana Rizanti. (Posting di blog Buka Buka Beha/28 Oktober 2004).
Lima Bulan Lalu : 2005. Senin, 11 Juli. Wonogiri, Jawa Tengah. (Mengenang Masa Kuliah : 1980-an) ”WTS-WTS” Yang Memesona. Di komplek kampus Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Rawamangun, terdapat taman yang dipayungi rimbun pepohonan yang diisi beberapa kupel dan bangku taman. Di sana-sini mangkal pedagang makanan.
Komplek ini tiap hari kuliah selalu ditaburi sosok-sosok yang mampu melahirkan inspirasi, bukan saja cantik dan jelita, tetapi juga memesona. Mereka itulah yang lajim disebut sebagai para “WTS” : Wanita Taman Sastra.
Misalnya, dari Arkeologi ada Widhiana Laneza. Bercelana jin biru, baju jin biru pula, rambut panjangnya digerai. Mirip penyanyi rock. Kacamatanya frame besar seperti yang dipakai komedian Drew Carrey. Sekilas mirip tokoh feminis Gloria Steinem. Bagiku, ini pemandangan yang memesona.
Ada pula Deasy Indriati, yang mungil dan gemintang. Dari Ilmu Perpustakaan : Saraswati, Sri Mulungsih, Arlima Mulyono (adik dari pelawak Warkop, almarhum Nanu Mulyono), Poppy sampai Evy yang mengejar-ejar cinta saya.
Dari Sastra Cina, misalnya penyanyi Christine Panjaitan. Teman kentalnya, Prianti Gagarin Singgih, yang seperti cewek bule Amerika. Sosok menawan dari Sastra Inggris antara lain, Siti Rabyah Parvati. Ayahnya dari Padang, ibunya, Ibu Poppy, priyayi dari Solo.
Rumah eyangnya di Solo kini menjadi lokasi berdirinya Balai Sudjatmoko. Intelektual raksasa dan Rektor Universitas PBB di Tokyo tersebut tidak lain adalah oomnya Siti Rabyah Parvati, yang akrab dipanggil Upik ini. Ayah Upik adalah Perdana Menteri Sutan Syahrir. (Posting di blog Esai Epistoholica No. 24/Juli 2005/11 juli 2005).
Tujuh Bulan Lalu : 2005. Selasa, 14 Juni. Wonogiri, Jawa Tengah. (Mengenang Masa Kuliah : 1980-an). Rayuan Bu Dosen Perancis. Cita rasa saya terhadap wanita yang ada “bau-bau” Perancisnya, tetapi bukan wanita impian yang hanya bergerak-gerak di layar-layar bioskop, saya temui pada diri seorang Anez.
Mahasiswi Sastra Perancis.
Juga arkeologi.
“Namamu pakai huruf z, terasa eksotis”, pujiku. Ia menerangkan bahwa namanya diilhami dari kosa kata bahasa Spanyol.
Nama Spanyol, cinta Perancis. Saking kentalnya Anez dengan Perancis, anjingnya yang kecil dan lucu, juga punya nama dalam bahasa Perancis : Grigri. Artinya, jimat. Saat itu dengan bantuan teman, saya membuat kop surat dengan komputer. Tertulis “Grigri Petshop” lengkap dengan alamat rumahnya, yang disambut Anez dengan tertawa-tawa.
Sayang, bahasa Perancisku tidaklah canggih. Aku pernah ikut dalam mata kuliah Bahasa Sumber di FSUI, kini Fakultas Ilmu Budaya UI. Di sini setiap mahasiswa, baik Arkeologi, Ilmu Perpustakaan (jurusanku) dan Filsafat (jurusannya Dian Sastro kini), Sastra Arab, Sastra Belanda, Sastra Cina, Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Sastra Jawa, Sastra Jepang, Sastra Jerman, Sastra Perancis, Sastra Rusia dan Sejarah, wajib mengikuti mata kuliah tersebut. Para mahasiswa boleh memilih : bahasa Belanda, Italia atau Perancis.
Aku memilih Perancis. Tetapi karena metode belajarku tidak efektif, selain tuntutan untuk berfokus pada mata kuliah di jurusanku sendiri, membuat mata kuliah Bahasa Perancis ini menjadi kurang membahagiakanku. Apalagi, mungkin ini bisa disebut sebagai ge-er berat, ibu dosen Perancisku yang masih muda dan charmant itu, aku rasa, terlalu berlimpah memberikan perhatian rada khusus pada diriku. Memuat rayuan terselubung. Godaan yang menggairahkan. Mendebarkan dan menggelisahkan.
Teman sekelasku dari jurusan yang berbeda, yaitu cewek-cewek yang radar atau naluri kewanitaannya peka, sering mencandaiku akan hal spesial satu ini. Termasuk pula Upik, anak Sastra Inggris dan putri mantan Perdana Menteri RI Sutan Syahrir, yang sering aku repoti ketika aku sulit mengerjakan PR atau saat tes-tes dadakan Bahasa Perancis.
Semua gunjingan itu membuatku jadi jengah. Aku seperti Benjamin Braddock yang naif di depan Mrs. Robinson yang berpengalaman. Akhirnya, aku melakukan desersi. Hanya ikut kuliah bahasa Perancis itu satu semester. Au Revoir ! Lalu pindah ke mata kuliah Bahasa Belanda.
Kembali ke Anez. Aku belum berani membelai Grigri, anjing kesayangannya itu. Aku merasa kurang yakin bahwa diriku memiliki keramahan alami untuk seekor anjing. Pernah saya bertemu seekor anjing, di mana mulutku tidak berkata apa-apa kepadanya. Hanya sorot mataku ingin berkata : “Hei, kamu anjing jelek”. Kami pun berpapasan dengan damai. Tetapi, sekejap kemudian, saya rasakan sebuah gigitan mencengkeram tumit saya. Anjing itu rupanya memahami bahasa nonverbal saya.
Untung rabies tidak mendera saya.
Grigri dan Anez, sungguh ajaib, menjadi pemicu terbitnya buku kumpulan lelucon satwa, yang saya tulis, Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa (Andi, 1987). Begitulah modal rayuan saya. Perasaan jatuh cinta yang mendalam telah berujung dengan terbitnya sebuah buku.
Kutipan sebagian isinya :
“Apakah Grigri seekor anjing penjaga yang baik, Anis ?” “Yah, lumayan. Kalau mendengar gemerisik di malam hari, aku harus membangunkan dia dan barulah ia menyalak.”
Aku telah menghabiskan waktu 5 bulan untuk melatih anjingku agar menjadi anjing penjaga yang baik dan berani. Istriku juga mengajarinya membawakan keranjang belanjaan dan surat kabar. Suatu hari rumahku didatangi pencuri, dan apa yang terjadi ? Anjing sialan itu memegangi obor dan menerangi pencuri dalam beraksi.
Sebuah perusahaan industri makanan anjing berhasil mengeruk keuntungan yang melimpah lewat produknya yang terbaru. Konon makanan itu cita rasanya persis sama dengan kaki pegawai pengantar pos !
Proses (penulisan buku) yang terjadi memang menggairahkan, mungkin tercampur dengan mabuk, terpagut ekstasi, sekaligus tidak memikirkan apa hasil akhir yang terjadi. Kalau Anda percaya, itulah fenomena menakjubkan yang disebut sebagai flow, mengalir, temuan psikolog Mihaly Csikszentmihalyi dari Universitas Chicago.
Flow adalah kondisi bahagia dan terkonsentrasi yang seakan-akan tidak dibatasi waktu, yang Anda raih ketika pekerjaan tidak terlalu sulit tetapi juga tidak terlalu sederhana, namun cukup menarik untuk memikat seluruh perhatian Anda. Flow sering bersamaku ketika menulis surat-surat rayuan yang panjang atau bergulat merampungkan tulisan-tulisan yang membahagiakan.
Mengilas balik di antara momen-momen interaksi yang istimewa dan terjadi dengan Anez, adalah ketika saya ikut makan malam dengan ayah dan ibunya. Beliau adalah seorang duta besar di pelbagai negara francophone, negara-negara yang kuat dipengaruhi budaya Perancis, di benua Afrika. Terakhir menjadi duta besar di Kamboja.
Ketika malam itu obrolan bergulir tentang makanan, saya menyinggung kegemaran orang Perancis yang keranjingan makan escargot. Bekicot. Saya memberanikan diri nyeletuk, “Orang Perancis suka makan bekicot, membuat mereka jadi lamban ketika ditagih bayar hutang”.
Pak dutabesar meledak dalam tawa. Tetapi putrinya saat itu tidak antusias untuk ikut tertawa. Sinyal lampu merah tentang masa depan pdkt, pendekatan saya telah menyala. (Cuplikan dari posting di blog Esai Epistoholica No. 21/Juni 2005/Selasa, 14 Juni 2005).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 20 September. Rawamangun, Jakarta Timur. Bangun jam 09.00, nerusin halaman 4 surat untuk Ria, tapi ogah memposinnya segera. Jam 12.00 keluar, innerku bilang, “kalau kamu pas goreh begini, tidak sarapan, pucat begini, kisruh begini...jangan-jangan ntar malah kepergok Anez.” Aku ke kantor pos : dapat 5 wesel dan 1 surat untuk ITSC (Ideas T-Shirt Club) dari tetangganya Ria, sama-sama Tawakal ; memposin surat ke Ria.
Aktivitas baru, nongkrong di shelter : jam 12.15. Innerku benar, di seberang sana, jalan sendirian, di mulut gang bertemu teman-temannya, ada cewek berjean dan baju merah kecoklatan :
Itulah Anez, Widhiana Laneza, cewek Arkeologi 82 yang sejak 1981 telah memenjarakanku dalam impian, “aku itu pengin mencintai dia, tapi jalan pengecutku selama ini, udah 5-6 kontak via surat, tak ada hasilnya”.
Saat itu, kerna perfeksionisku, aku memutuskan untuk off, ke fotokopi. “Hati gundah. Oalah, betapa kerdilnya aku ini” (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Selasa, 30 September. Rawamangun, Jakarta Timur. Bangun jam 08.00, ke JIP (kampus FSUI). Ke BAP : aku ambil ijazah SIP-ku, hari ini, dan sudah jadi. Ijazahku itu (baru dua tahun kuambil setelah kelulusanku) tak berdampak apa-apa padaku, “kenapa ya ?”. Keluar dari kampus FSUI... Jam 11.30. aku sudah di shelter, nongkrong. Ada bis 38, kukira 39, dan intuisiku berkedip-kedip, “Anez mana ?”
Dari pintu depan tak ada, ketika panning ke pintu belakang, “Ya Tuhan, itu Anez !”, gadis yang selama 4-5 tahun ini hanya hidup di angan-anganku. Hari ini ia berjean lusuh, t-shirt beige (coklat kemerah-merahan) dengan lengan dipotong, rambut tergerai nampak kusut, ia nampak kurus, berjalan tak acuh.
Seluruh badanku terasa beku : aku mau apa saat itu ? Mulutku tak bisa memanggilnya, aku cuman berjalan untuk memandanginya. Anez terus saja melangkah. Tanpa hirau. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Selasa, 4 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Hari ini, beberapa menit yang lalu, aku memberanikan diri untuk ketemu dan ngobrol a la kadarnya dengan Anez, Widhiana Laneza, di shelter Sunan Giri (15.30 WIB). Sebelumnya aku emang nunggu di shelter Rawamangun, eh dia malah lewat bersama temennya, acuh tak acuh di depanku, ke timur. “Apa yang harus aku lakukan ?”
Aku lalu membuntuti. Ia berhenti di shelter Sunan Giri : bercelana panjang warna khaki, baju garis-garis kecil warna coklat merah, menenteng tas kulit, saat itu temennya baru naik. Aku lalu berdiri di kirinya. Aku sapa :
“Anez ya ?”
Ia menengok. Aku mengajak salaman. Ia mau dan ramah. Aku bilang : “Aku yang pernah kirim surat kepada Anez” Dia tanya : “Sekarang kerja dimana ?’ Aku jawab, “bukan dimana, tetapi apa. Aku menulis”
Aku bilang, “aku malu, aku kan sulit ngomong, maka aku tulis surat”. Dia bilang, “iseng saja”. Kusahut : “tapi aku serius lho...”. Sambil ngomong itu aku memukul lembut pundaknya. Ia tak ada kesan benci atau menolak atas perlakuanku ini.
Oh ya aku tadi bilang : “Anez sekarang dimana sih ?” Ia nyebut alamat yang aku sudah tahu. “Saya pengin ngobrol atau main. Boleh engga sih ?”
Ia bilang : “boleh” (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Rabu, 12 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Terima kasih, Tuhan, aku telah ketemu lagi sama Anez, di rumahnya. Sepanjang senja dan malam tadi.
Kamar tamu yang sederhana interiornya. Di tembok kiriku ada foto besar, pengangkatan babenya Anez, Taufik Rachman Soedarbo, sebagai duta besar di Senegal (?), 11 Juni 1982. Berfoto bersama Bapak/Ibu Presiden RI. Anez dalam foto itu berkain, nampak langsing, tinggi, di dekat babenya.
Lalu Anez keluar, dikerubuti anjing-anjingnya. Yang hitam bernama Grigri (jimat dalam bahasa Perancis) dan anjing merah bernama Pancho atau Cakil. Anjing putih yang di luar, galak (yang menyalakku kemarin Sabtu) dia sebut Minggo. Anez saat itu berdress : celana jean biru, baju biru, di kaki ada gelang emas, tangan bergelang, pakai jam tangan seperti di foto opspek.
Anez nampak antusias cerita tentang anjing. Aku berusaha menimpali dengan tanya, “anjingnya Liz Taylor yang bisa dikantongi itu jenis apa ?” sampai cerita humor seputar anjing yang bikin redaksi (koran) kalang kabut. Anez juga cerita tentang kakaknya yang kuliah di Paris, Sekolah Teknik Tinggi dan satunya lagi di komputer. Anez pengin ambil kursus komputer.
Malam itu, hmmm, aku ikut makan malam bersama ayah dan ibunya Anez. “Ini orang Jawa asli”, kata Anez mengenalkanku. Pak Taufik tanya, “Dari mana ? Jawa Timur ?” Aku bilang, Jawa Tengah. Wonogiri. Solo ke selatan. Beliau tidak tahu. “Engga pernah dapat pelajaran ilmu bumi”, kilah beliau.
Bapak dan Ibu Taufik makannya pakai tangan. Muluk. Ketika saya nanya mengenai makanan khas Afrika, cerita Pak Taufik banyak sekali dan aku asyik mendengarkannya. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Kamis, 13 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Jam 19.30 : aku sampai ke rumah Ria. Ngobrol tentang buku humor dokter, juga tentang surat kabar kampus Warta UI (Ria jadi anggota redaksinya). “Kayak baca Suara Karya”, celetukku. Ria bilang, “Makasih Mas Hari”. Sambil ngakak.
Ria bilang (dirinya) udah damai sama papanya. Udah (pula) kursus Perancis. Akhirnya aku buka kartu ke Ria : “aku kini lagi berburu cewek.” Aku suka sama dia engga (ada bumbu) romantisnya, engga ada sexual drive, tapi datar-datar saja. Rasional. Cewek itu anonim bagi Ria. (Kusebut juga) suka Perancis dan aku sebut ia (sebagai) Garuda : terbang sendiri dan mandiri. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 15 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Jam 11.30 berangkat pula jadinya, dan, di shelter Rawamangun terus tergambar Anez di sana. Sampai di JIP-FSUI, temu Ibu Soma (Ketua Jurusan). Hasil revisi skrip (yang aku tulis untuk televisi) diterima.
Engga banyak obrolan. Beliau cuman nawarin ; “mbok kamu belajar komputer, biar komputer ini engga underuse”. Aku jawab ya (dengan hati senang). Pulang. Mampir PO Box : dapat 2 surat ke ITSC, 1 tagihan dari Yani, dan Infokilat PDIN, (isinya antara lain daftar isi ) majalah Discover (September) yang ada artikel arkeologi : “moga-moga Anez bulan ini juga telah menerimanya”. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 29 November. Rawamangun, Jakarta Timur. Baru saja aku nelpon Anez. “Ada apa ?’, tanya Anez. Aku agak nervous nanya bab seminar Arkeologi Publik, 2-3 Desember 1986. “Sebagai pendengar boleh kok”, katanya.
“Oh ya, kabarnya Grigri ?”, tanyaku. “Baik-baik aja. Sekarang baru mau makan”, jawab Anez. “(Anjing) yang kecil, siapa sih ?”. Anez jawab, “Bobi. Dan makasih untuk fotokopinya. Sudah diterima” Aku : “Yeah, mudah-mudahan ada gunanya” (Anez mengiakan : “ada gunanya, kok”).
“Udahan ya, Anez”
Jawab dia : “Kalau mau nelpon, nelpon aja”
“Yuk. Dadag” (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Selasa, 2 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Jam 9 sudah tiba di (gedung pertemuan di komplek UI Rawamangun) Sarwahita. Upacara seminar dibuka, aku masuk. Suasana orang-orang Arkeologi FSUI adalah, “yeah, suasana jurusan yang kering, tidak favorit, underdog, tersingkir”, gitu kesanku. Seperti juga jurusanku.
Aku ikut mendengarkan makalah pertama, “Museum dan Arkeologi”, oleh Bambang Soemadio dan penanggap Aristides Katopo. Isunya : bagaimana meningkatkan kesadaran publik tentang museum dan arkeologi.
Jam 12, aku cabut, dipelototi banyak mata. Nampaknya Anez tidak ada di antara mereka. Di pintu temu Paulina, Arkeologi 1986, (sebelumnya aku kenal sebagai) anak Himpunan Astronomi Amatir Jakarta/HAAJ. Ngobrol sebentar. Lalu aku off ke (perpustakaan) PPIA.
Melihat cewek berkaki putih, innerku bilang : “Itu Upik kah ?”. Tapi aku membantah sendiri. Tapi ya, ia bener-bener Upik. Kita (lalu) terlibat ngobrol. Ia belum lulus (Sastra Inggris UI). Daftar artikelku dulu (untuknya) mubazir. Ya udahlah.
Aku berkomentar mengenai surat pembaca (yang ia tulis) di majalah Tempo. “Wah, kayak Cory Aquino”. Ia nampak senang, dengan sikap mau memukul. Komentarku lanjut : “mau jadi golput ya ?”
Upik Syahrir pergi ke rak, aku scanning majalah Scientific American. Nampak ia mau cabut, aku pura-pura tak tahu. Eh, Upik menghampiri kursiku dan bilang, “duluan, ya”.
Perpustakaan PPIA tak lagi menarik. Aku pulang, sambil menyapa “mBak PPIA” (yang kukira udah pindah). Ia bilang, “lama tidak ke sini ya ?” Aku jawab : “sore hari”. Pulang, jam 13.30. Scanning shelter UI (Rawamangun) : tak ada Anez. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Senin, 8 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Hari ketemu banyak orang : Museum Satria Mandala, aku ikut acara Pengarahan Kursus Perpustakaan Mabes ABRI 86/87. Aku tiba on time, temu banyak ABRI : letnan kolonel. Aku duduk di barisan (dosen-dosen) UI.
Ke PDII, temu mbak Jati dan Suwarto. “Untung deh gue”. Riset majalah Romantika Arkeologia (FSUI) : temu berita bagus : Anez baca makalah tentang perkotaan kuno pra-Islam di acara diskusi. “Hebat juga anak satu ini ; dan aku tidak salah pilih ya ? Ia ilmuwan, aku juga, he..he”
Ini mengkhayal bab Anez : “kurasa dia itu juga cinta ilmu seperti juga aku ; dari luar sederhana tapi isi kepalanya cukup kompleks; dan pendekatanku selama ini kira-kira cocok engga ? Ya, embuhlah.....”
Dari PDII, aku tur ke Redaksi Pelita : ambil honor artikelku (“Terorisme Media”), 4 Nov 1986, “dapat Rp. 30.950,00”. Okay. Mampir American Cultural Center (Wisma Metropolitan 2), melamar jadi anggota. Ketemu bu Is Prayoga (kepala perpustakaannya dan dosenku) : “Buset, kerjaku freelance dikaitkan sama status singleku. Dia bilang aku harus cepat-cepat kawin”. Wah, aku menjawab : “Nasehat ibu saya dengarkan”. He-he, status freelance-ku kok tidak bercitra positif ya ?
Haus fotokopi artikel, eh, ketemu bab “melatih anjing”, aku ingat Anez : 24 halaman. Aku sangsi, jadi atau engga ? Akhirnya, demi cinta, harga segitu kupandang murah atau tak seberapa. Okay, aku fotokopi aja (artikel) “Four Ways To Walk a Dog” dari majalah Atlantic Monthly (April 1986) itu. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 20 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Bangun pagi, tak ada orientasi. Seharian merampungkan desain (t-shirt) ITSC : Reagan – selesai. Pagi : menyalin dan menyalin surat cinta untuk Anez, “tapi gundah lagi, ditunda lagi”. OK.
Mandi sore untuk meredakan gundah dan bara di kepala dan dadaku sehubungan dengan cintaku pada Anez dan kesepian-kesepianku. Belum reda. Malam : box, blong, dan rasa sepi itu makin merujit-rujit. Ya Tuhan, begini hidupku. Escape : makan soto, kenyang, agak adem hati ini. (Buku Harian).
Sembilan Belas Tahun Lalu :1986. Senin, 29 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Hari bersejarah dalam karirku sebagai penulis. Aku menyerahkan naskah kepada penerbit : naskah sebuah buku, buku kumpulan humor satwa, dengan motivasi : mempersembahkan karya itu bagi orang yang ingin aku cintai, Widhiana Laneza ! Anez, sebutannya. (Buku Harian).
Petikan isinya lagi :
”Mengapa engkau menangis, Ani ?”
“Aku sedang sedih karena anjingku mati pagi ini”
“Lho ? Mertuaku juga baru saja mati, tetapi aku tidak bersedih seperti kamu saat ini.”
“Iya, habis kamu tidak membesarkan mertuamu sejak kecil”
”Aku telah menemukan cara terbaru untuk mengusir pinjal dari tubuh anjingku.”
“Bagaimana caranya ?”
”Gampang ! Anjingku kuajak naik pesawat terbang, lalu pilotnya kusuruh untuk berakrobat di udara. Pinjal-pinjal itu menjadi ngeri dan mereka pun berhamburan pergi.”
Seekor ayam babon tua memanggil sekelompok ayam babon muda. “Maukah kalian mendengar nasehatku ?”, tanya si Tua.
“Nasehat apa ?”
“Sehari sebutir telur menjauhkan lehermu dari pisau dapur”
Sembilan Belas Tahun Lalu :1986.Rabu, 31 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. Aku nelpon Anez. Ia bilang, fotokopi tentang anjing itu telah ia terima. Juga cerita tentang jadwal ujiannya, awal Januari 1987, dan bahkan ia cerita pengin kerja freelance. “Kerja apa ?”, tanyaku. “Engga tahu. Bapak yang mencarikannya”
“Pada diri Anez apa yang bisa dijual ?”, tanyaku. Bercanda secara otomatis muncul. Terdengar dia tertawa besar. Segar. “Maksudku, skillnya”, jelasku. “Bahasa”, kata Anez.
Anez nanya ; “Apa acara Tahun Baru ?”. “Evaluasi tahun 1986,” kataku, dan “rencana tahun 1987”, Anez menambahkan. Aku bilang : “biasanya semangat tinggi ada di bulan Januari, sesudah itu biasa-biasa lagi” (Buku Harian).
Delapan Belas Tahun Lalu : 1987. Jumat, 9 Januari. Rawamangun, Jakarta Timur. Aku nelpon Anez. Ia cerita anjingnya yang hilang. Si Cakil atau Pancho. Dicuri orang ? Ia cerita tentang pagar rumahnya yang bolong. “Anez nangis engga ?”, godaku. “Engga. Mudah-mudahan dicuri oleh pemiliknya”, kata Anez. “Lalu anjing baru, jenisnya apa ?”, tanyaku. Dan jawabnya : “Biasa. Anjing kampung”
“Jadi semua (anjingmu) serba kampungan ya ?”
Anez tertawa. Aku lalu nanya bab anjing Labrador, Alsatian, dan melucu tentang anjing Dachshund yang bisa dikomersilkan : untuk membersihkan cerobong asap. Anez bilang : “jangan kejam-kejam dong.” Aku me-recall humor tentang cewek yang disukai anjing bukan karena cantiknya, tetapi “she has a good bone structure. Anyway, all the dogs loves her”.
Anez inisiatif buka obrolan lain. Kali ini tentang rencana pertunjukan maestro ballet di Jakarta. “Rudolph Nureyev, kan ?”, sergahku.
Cocok.
“Tapi karcisnya mahal”. Anez menjawab : “Ya. Karcisnya mahal”. Aku usulkan : “lebih baik nonton videonya, lebih murah. Oh ya, Anez, aku sering terkicuh antara Nureyev dengan....”, dan Anez gantian cepat menjawab : “Mikhail Baryshnikov”
Cocok. Nyambung.
Aku nelpon kali ini tanganku yang pegang handle gemetaran. Lapar ? Masih soal Baryshnikov aku berkata : “kan dia kini lagi main film”. Anez kembali cepat menimpali : “White Night”.
Cocok dan nyambung lagi.
“Anez suka film semacam Return To Eden ?” Ia bilang : dulu suka, tapi sesudah melingkar-lingkar, ia bilang tidak mengikuti. “Itulah opera sabun”, kataku, dan kusambung cerita tentang penulis opera sabun versus istri tukang ledeng.
(Konon, ada penulis opera sabun yang pipa ledeng di rumahnya rusak. Ia nelpon tukang ledeng, tetapi yang menerima istrinya. Istri itu surprise setelah tahu yang menelpon itu penulis opera sabun favorit yang sering ia tonton di televisi. Ia lalu tergoda pengin tahu bagaimana kelanjutan kisah si tokoh utama. Katanya, “ kalau saya dibocorin lanjutan kisah si tokoh, saya akan meminta suami saya untuk membantu Anda. Kalau tidak dibocorin, saya akan tutup telepon ini” Si penulis opera sabun itu menyerah.)
Anez terdengar tertawa.
Aku bersiap menutup pembicaraan. Ketika koin keempat jatuh, menit ke 9 -12 mulai, aku bilang : “Tahu engga, bahwa Anez itu menarik ?” Anez tertawa. Surprise. Dapat tembakan rayuan. Tapi dia hendak mengelak : “Engga kok. Tapi engga tahu deh anggapan orang lain”
Saat itu aku hendak nerangin soal Johari Window, tapi tak jadi. Aku bilang lagi : “Bener kok, Anez itu menarik”. Ia tertawa lagi dan dengan cerdas ia berkelit. “Anyway, thank you”, katanya dengan tutur yang luwes. Sambil tertawa gembira. Aku juga.
“Yuk, dadag”, tutup Anez. (Buku Harian).
FAST FORWARD : Hari ini : 2005. Kamis, 22 Desember 2005. Wonogiri, Jawa Tengah. Saya menulis email balasan berikut ini :
Dear Mas Anto,
Terima kasih untuk email Anda, Mas Anto. Salam kenal. Saya mengingat, kalau tak salah ingat, Anez pernah cerita tentang kakaknya yang kuliah di Paris. Di elektro ? Apakah itu Mas Anto ?
Anez bercerita sepintas hal itu di rumah, sambil direcoki oleh Grigri (kata Anez, artinya "jimat" dalam bahasa Perancis) dan si Cakil, keduanya adalah anjing kesayangannya. Gara-gara anjingnya Anez itu sampai saya tergerak menyusun buku kumpulan humor satwa.
Suatu saat di telepon Anez cerita bahwa si Cakil itu pergi. Saya tanya ke Anez, apa jenis anjingnya itu ? Anez bilang, anjing kampung. Lalu saya tanya : semua anjingmu itu kampungan ya ? Anez hanya tertawa kecil.
Pernah juga saya katakan di telepon : "Anez itu menarik" Kalau saya ketemu sekarang, masih akan saya katakan : "Anez itu menarik" Saya yakin kini Tuhan Yang Maha Penyayang juga akan mengatakan bahwa Widhiana Laneza itu menarik, sehingga ia dipanggil lebih cepat untuk menghadapNya.
Saya ikut merasa kehilangan, Mas Anto.
Semoga Mas Anto, suaminya Anez, Ibu dan Bapak Taufik ("saya senang ketika diberi cerita beliau tentang makanan khas Senegal") dan keluarga besar di sini diberi ketabahan dan kekuatan iman.
"Selamat jalan Anez, semoga kau di surga sana mendapat tugas arkeologi yang lebih menantang"
Wassalam.
Hormat saya,
Bambang Haryanto
FAST FORWARD : Hari ini : 2005. Kamis, 22 Desember 2005. Wonogiri, Jawa Tengah. Sebelumnya saya mendapat email tak terduga-duga berikut ini :
Mas Bambang,
Ketika saya ketik nama adik saya, Widhiana Laneza, google.com memberikan situs blog anda "Buka Buka Beha", dan saya melihat nama adik saya termasuk dalam list “wanita-wanita terindah” Anda.
Saya hanya ingin memberi tahu bahwa adik saya telah berpulang ke pangkuan Allah SWT pada hari Selasa, tanggal 20 Desember 2005, 3 hari setelah pernikahannya.
Salam,
Anto,
kakaknya Anez.
Apa Daya Saya Hanya Manusia. Penyair Jerman Rainer Maria Rilke telah bilang, dalam cinta satu-satunya hal yang harus dipraktekkan adalah : berilah kebebasan bagi orang-orang yang Anda cintai. Kalau ingin membelenggunya, itu perkara mudah, kita tidak usah belajar tentangnya.
Kebebasan Anez, kebebasanku dan kebebasan kami, akhirnya membuat jatuh cintaku kepada Anez kandas. Aku bisa mengerti. Karen Carpenter, penyanyi favoritku yang mati muda di usia 33 tahun dalam “When I Fall In Love” seolah mengabadikan kepedihan itu :
In a restless world like this,
love is ended before it’s begun.
Hal ini pun, Anez, juga bisa aku mengerti.
Tetapi memperoleh kabar bahwa Widhiana Laneza telah dijemput kebebasan puncaknya sebagai manusia untuk kembali keharibaan Tuhan di bulan Desember ini, betapa momen menggetarkan dan penuh misteri dariNya tersebut masih terasa sulit untuk bisa aku mengerti.
Apa daya, saya hanya manusia.
Wonogiri, 22-23 Desember 2005
Subscribe to:
Posts (Atom)