<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676</id><updated>2011-04-21T13:49:44.323-07:00</updated><category term='komunikasi pria vs wanita'/><category term='facebook'/><category term='pulomas 1997'/><category term='deborah tannen'/><category term='missed connections'/><category term='carl wayne hensley'/><category term='gadis bertopi toska'/><category term='john gray'/><category term='jaringan sosial'/><title type='text'>Close To You</title><subtitle type='html'>LAGU-LAGU CARPENTERS DALAM HIDUPKU. HIDUPKU DALAM LAGU-LAGU CARPENTERS</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-418147974950356560</id><published>2009-04-03T19:22:00.000-07:00</published><updated>2009-04-12T20:56:44.098-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='jaringan sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gadis bertopi toska'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pulomas 1997'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='missed connections'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='facebook'/><title type='text'>Facebook, Beautiful Girl, Pulomas 1997</title><content type='html'>Oleh : Bambang Haryanto&lt;br /&gt;Email : humorliner (at) yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/SdbFPekZInI/AAAAAAAAARs/1B4Bdlg2eRM/s1600-h/louhan160.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 185px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/SdbFPekZInI/AAAAAAAAARs/1B4Bdlg2eRM/s320/louhan160.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320656879479235186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Gadis Pulomas minggu pagi.&lt;/b&gt; Awas : berhenti merokok mampu menimbulkan penyakit baru. Penyakit getol membual. Membual karena telah berhasil melepaskan diri dari cengkeraman kecanduan nikotin, yang bagi saya pribadi sudah berlangsung selama hampir 17 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mampu berhenti merokok tahun 1989.  Pada tahun yang sama, saya mulai melakukan &lt;a href="http://wonogirinews24.blogspot.com"&gt;olah raga jalan kaki pagi&lt;/a&gt;. Sampai kini. Beberapa orang melakukan jalan kaki pagi sebagai waktu untuk berdoa, bermeditasi atau berpikir. Secara sendirian melakukan jalan kaki akan membantu Anda memperoleh perspektif dan keseimbangan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan kaki bermanfaat untuk mengurangi stres, menjernihkan pikiran, menggali sisi kreatif Anda, menemukan gagasan-gagasan baru dan memecahkan masalah.  Demikian kesimpulan situs AARP (American Association of Retired Persons), organisasi kaum pensiunan Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, saya tinggal di Jalan Belimbing, Balai Pustaka Timur, Rawamangun, Jakarta Timur. Komplek yang dulu bernama Gedung Pola itu, di seberang Apotik Rini, kini sudah menjadi ruko. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arena favorit jalan kaki pagi saya di hari Minggu adalah lapangan Pulomas. Di bangku tribun lapangan pacuan kuda Pulomas itu pula saya mampu merampungkan buku Being Digital (1995)-nya nabi media dari Media Lab MIT, Nicholas Negroponte. Buku teknologi informasi yang mampu membuat saya menangis karena optimisme yang ia semaikan di dada ini mengenai masa depan dunia digital yang gemilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekitar area lapangan pacuan kuda itu terdapat dua lapangan yang diisi dua kelompok senam yang berbeda. Ada senam kesegaran jasmani yang dipandu dengan lagu-lagu pop/disko, yang bergairah, sementara kelompok lain melakukan senam pernafasan dengan iringan musik bernuansa Mandarin yang lebih lamban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ikut keduanya. Saya memilih memutari lapangan, 3-5 kali, berlawanan arah jarum jam. Dengan cara demikian saya bisa “mengabsen” sosok-sosok asing tetapi terasa akrab di area tersebut,  &lt;i&gt;familiar strangers&lt;/i&gt;, karena kita senantiasa bertemu di minggu pagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sekelompok bapak-bapak yang berbahasa Batak. Ada pasangan setengah baya, 2sementara anak gadisnya dibiarkan berjalan sendirian. Ada keluarga muda, berdua berkeliling dengan mendorong kereta bayi. Kelompok pria bersepeda nampak duduk-duduk di pinggir jalan yang memisahkan kedua lapangan. Mereka mengobrol sambil istirahat dan cuci mata. Ada mobil bak terbuka, di dekat mereka,  yang jualan susu kedele. Di sisi utara terdapat warung dengan kursi dan meja yang selalu  penuh pembeli.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Beautiful girl.&lt;/b&gt; Salah satu di antara &lt;i&gt;familiar strangers&lt;/i&gt; yang rasanya ingin selalu saya temui di tiap minggu pagi, antara 1996-1997 itu, adalah si &lt;i&gt;grasshopper&lt;/i&gt;.  Ah, ini hanya nama kode, nama rekaan, untuk menggambarkan sosok perempuan dengan kaki belalang yang menawan. Ia selalu datang sendirian. Menaiki sepeda. Kemudian kadang menghilang, tahu-tahu sudah &lt;i&gt;mingle&lt;/i&gt; di antara peserta senam. Tentu saja bukan pada kelompok senam pernafasan, yang didominasi kaum sepuh, para manula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia ideal untuk sosok pemain bola volley. Atau model. Tingginya sekitar 168-170 cm. Menjulang dan menonjol. Selalu memakai topi &lt;i&gt;baseball&lt;/i&gt; warna turquoise, biru kehijauan. Kuncir ekor kuda menyeruak lubang bagian belakang topinya. Kami merasa saling mengenal, ada &lt;i&gt;feeling&lt;/i&gt;,  walau tanpa tahu nama masing-masing.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Beautiful girl&lt;/i&gt;, mungkin demikian seorang Jose Mari Chan akan menyebutnya seperti cerita dalam lirik lagunya yang berjudul sama : mengenai gadis cantik menawan, berkelebat di depan matanya, yang membuatnya jatuh cinta, dan kemudian ia kuatirkan dirinya menghilang selamanya seperti “gita di waktu malam.”   Ia memang menghilang sejak minggu pagi 25 Mei 1997. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ia kecewa. Gestur  yang ia munculkan, yang menandakan keinginannya untuk bisa saling mengenal di saat itu, tidak saya tanggapi secara agresif. Minggu-minggu berikutnya ia tak muncul lagi. Craig Newmark melabeli momen seperti ini sebagai &lt;i&gt;missed connections&lt;/i&gt; dan menjadi salah satu layanan dalam situsnya yang terkenal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Januari 1998 saya pun meninggalkan Jakarta, sampai kini. Sehingga  sang belalang menawan itu tinggal berenang-renang dalam samudera kenangan.  “&lt;i&gt;Swimming forever in my head / tangled in my dreams / swimming forever&lt;/i&gt;,” meminjam lirik dari “Radio”-nya The Corrs.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Omongan tolol.&lt;/b&gt; Keriuhan setiap minggu pagi di lapangan Pulomas itu boleh jadi mirip yang Anda alami dan rasakan bila Anda terjun sebagai warga situs jaringan sosial seperti Facebook. Sebagian dari mereka yang memang Anda kenal sebagai pribadi, baik mantan kekasih sampai teman kuliah dua puluh tahun lalu,  tetapi sebagian besar boleh jadi merupakan orang-orang asing yang akrab atau hanya berlaku sok akrab bagi Anda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I want to hate Facebook, but it's getting so hard,” tulis Paul J Rose dari Merchandise Mania di &lt;a href="http://paulsmania.blogspot.com/2009/01/i-want-to-hate-facebook-but-its-getting.html"&gt;blognya&lt;/a&gt;, Januari 2009 yang lalu.  Ia bertanya : dapatkah Anda membayangkan dalam suatu pesta di mana semua orang mengenalkan dirinya sebagaimana mereka mengenalkan diri di Facebook ? “Hai, saya Paul dan saya akan mengenalkan diri dengan seseorang yang asing sekarang : maukah Anda menjadi teman saya ?” Menurutnya, cara semacam itu bukan networking. &lt;i&gt;It’s drivel&lt;/i&gt;. Begitu cetusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih, Paul. Menarik juga penilaian Anda. Yang  saya tahu, setelah omongan tolol itu memperoleh klik konfirmasi sehingga perkawanan baru terjadi, semua warga keriuhan dalam Facebook itu ingin memperebutkan atensi Anda. Bukankah Thomas Mandel dan Gerard Van der Leun dalam bukunya Rules of The Net : Online Operating Instructions for Human Beings (1996) telah menyimpulkan, &lt;i&gt;the hard currency of cyberspace is attention&lt;/i&gt; ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita memperoleh atensi, kita merasa baik. Semakin banyak atensi yang kita peroleh, semakin kita merasa berharga di depan teman-teman Facebook lainnya. Hal itu mencandu (baca : &lt;a href="http://id.news.yahoo.com/kmps/20090217/tls-10-tanda-kecanduan-facebook-8d16233.html"&gt;10 Tanda Kecanduan Facebook&lt;/a&gt;), juga diam-diam bisa menjengkangkan kita terjun bebas menghuni &lt;i&gt;lonely planet&lt;/i&gt;, istilah dari Elizabeth M. Johnson, karena hubungan yang terjadi bukanlah hubungan yang autentik. Mudah-mudahan saya bisa menuliskan topik ini secara rinci di lain kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Mana untuk saya ?&lt;/b&gt; Facebook juga membuat kita menjadi insan-insan pengintip dan penguping. Walau sejatinya, menurut saya, apa yang kita kuping atau yang kita intip dari foto-foto sampai video mereka tersebut sebagian besar seringkali hanya bermakna bagi mereka yang memajangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, bila setiap kali kita membuka akun Facebook dengan berbekal  WIIFM, &lt;i&gt;What’s In It For Me&lt;/i&gt;, mungkin kebanyakan kita akan kecewa. Mungkin rentetan kekecewaan semacam itulah yang membuat seseorang teman memposting di &lt;i&gt;wall&lt;/i&gt;-nya bahwa ia ada niatan ingin mundur dari jaringan Facebook. Tak ada nilai tambah yang ia peroleh, begitu alasannya.  Alasan yang sah. Juga patut dihargai. Walau mungkin ia kurang bersabar.  Atau memang terlalu menuntut dalam memperoleh kue-kue pergaulan dunia maya, yaitu atensi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerumunan &lt;i&gt;familiar strangers&lt;/i&gt; semacam Facebook memang telah dibuka peluang bagi kita untuk berhimpun dalam kelompok, &lt;i&gt;group&lt;/i&gt;, yang memiliki minat tertentu. Layanan yang bagus. Sayang, pengalaman pahit saya, yang terasa menjengkelkan, adalah ketika  mendapatkan rentetan &lt;i&gt;message&lt;/i&gt; dari pemilik kelompok itu yang isinya tidak sesuai dengan visi-misi sampai jati diri kelompok bersangkutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, tentu saja melayangkan protes. Bila protes ini tidak digubris, maka meninggalkan kelompok bersangkutan merupakan pilihan yang mungkin segera saya lakukan. Seperti halnya suasana kerumunan di lapangan Pulomas di minggu pagi, semua orang memang boleh datang dan juga boleh pula pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Facebook adalah media jaringan sosial yang baru bagi saya. Saya bergabung berkat diajak Rdanz Kusuma dari Malang. Tanggal 19 Juli 2008. Teman pertama yang mengkonfirm &lt;i&gt;drivel&lt;/i&gt; saya adalah : Petty Tunjung Sari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak hal yang harus saya pelajari dari Facebook. Untuk itu saya telah membuat folder tersendiri dalam file, di mana info yang terbaru antara lain &lt;a href="http://www.independent.co.uk/news/science/facebook-can-ruin-your-life-and-so-can-myspace-bebo-780521.html"&gt;Facebook can ruin your life&lt;/a&gt; sampai berita bahwa &lt;a href="http://www.detikinet.com/read/2009/03/31/101959/1107555/398/universitas-tawarkan-gelar-sarjana-facebook"&gt;Birmingham City University&lt;/a&gt; di Inggris telah menawarkan gelar master di bidang media sosial. Di sini, para mahasiswa bakal diajar intensif dengan materi kuliah mengenai situs jejaring seperti Facebook, Twitter dan Bebo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Facebook, dahsyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kali ini saya tidak ingin muluk-muluk berharap mengenai kedigdayaan Facebook tersebut. Mengutip lirik lagunya Jose Mari Chan, &lt;i&gt;”Beautiful girl, wherever you are /I knew when I saw you, you had opened the door /I knew that I'd love again after a long, long while/I'd love again&lt;/i&gt;,” siapa tahu pesan ini mampu melambung ke kosmis, menyeruak di antara jutaan pengguna Facebook di dunia, sehingga sampai kepada yang berhak menerimanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini sebuah kekonyolan. OK. Tetapi itulah satu sisi kehidupan, di mana Carpenters dalam “Those Good Old Dreams” telah bersenandung indah tentangnya : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;As a child I was known for make-believing&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;All alone I created fantasies&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;As I grew people called it self-deceiving&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;But my heart helped me hold the memories&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri, 3-4/4/2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-418147974950356560?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/418147974950356560/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2009/04/facebook-beautiful-girl-pulomas-1997.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/418147974950356560'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/418147974950356560'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2009/04/facebook-beautiful-girl-pulomas-1997.html' title='Facebook, Beautiful Girl, Pulomas 1997'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/SdbFPekZInI/AAAAAAAAARs/1B4Bdlg2eRM/s72-c/louhan160.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-8525969363952619888</id><published>2007-04-03T20:35:00.000-07:00</published><updated>2007-06-08T18:58:59.857-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='carl wayne hensley'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komunikasi pria vs wanita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='john gray'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='deborah tannen'/><title type='text'>Hurting Each Other</title><content type='html'>Oleh : Bambang Haryanto&lt;br /&gt;Email : humorliner@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;All my love I give gladly to you&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;All your love you give gladly to me&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tell me why then&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Why should it be that&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;We just go on hurting each other&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;We just go on hurting each other&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Carpenters, “Hurting Each Other”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/Rmdt81Gah-I/AAAAAAAAACI/F0RGPt7cM_0/s1600-h/bengokkuping.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/Rmdt81Gah-I/AAAAAAAAACI/F0RGPt7cM_0/s320/bengokkuping.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073144397069715426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Macetnya komunikasi.&lt;/b&gt; Perselisihan itu dikompori oleh masalah sepele. Masalah tempe. Melibatkan toko buku maya Amazon.co.uk. Menyeret-nyeret nama Carl Wayne Hensley  yang mengajarkan pentingnya sensitivitas dalam berkomunikasi. Juga Deborah Tannen yang terkenal dengan tesisnya mengenai perbedaan pola komunikasi antara pria dan wanita.  Sampai John Gray yang menggariskan bahwa pria itu dari Mars dan wanita berasal dari Venus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaku perselisihan komunikasi itu :  satu perempuan di London dan satunya lagi pria di Wonogiri. Untuk solusinya mungkin keduanya perlu berkonsultasi sama Ann Landers, Abigail Van Buren, Laura Schlessinger, atau mBak Leila C. Budiman.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maaf, bila alinea di atas membingungkan Anda. Karena otak saya telah ketularan penyakit &lt;i&gt;hyperlink-itis&lt;/i&gt; dalam menulis, akibat dari efek samping temuan Tim Berners-Lee, Bapak World Wide Web. Berkat inovasinya itu pula yang  mampu mempertemukan secara ajaib diri saya di Wonogiri dengan Niz di London, setahun lalu, kemudian di bulan lalu  terjadilah krisis komunikasi antara kita.  Gara-garanya, yaitu tadi, masalah tempe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal saya suka tempe. Suka membelinya sendiri di pasar Wonogiri. Juga menggorengnya sendiri. Karena memang hanya itu saja yang bisa saya kerjakan untuk memasak tempe. Padahal saya sangat merindukan sayur  irisan tempe yang dimasak dengan santan, bercampur banyak sekali cabe rawit, khas sayur Wuryantoro (asal ayah saya, selatan Wonogiri), yang mampu membuat kelenger karena pedas dan nikmat &lt;i&gt;nyuss&lt;/i&gt;-nya yang mencapai langit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang tempe ini, Niz punya impian jauh  lebih besar. Ia ratu dapur yang andal. Tangannya ajaib. Ia memunculkan gagasan sendiri, antara lain untuk mendanai lembaga &lt;i&gt;charity&lt;/i&gt; yang ia pimpin, ia ingin mendirikan usaha  mempromosikan manfaat tempe bagi kesehatan bagi para &lt;i&gt;bule-bule&lt;/i&gt;, kemudian memproduksi, dan menjualnya di negerinya Ratu Elizabeth II itu pula. Bahkan ia merencanakan ingin mengunjungi sentra industri tempe rakyat, baik di Jakarta mau pun di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Great idea, honey.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ikut mendukung gagasan itu, dengan memakai pendekatan pola komunikasi khas lelaki, lalu saya meriset buku-buku bertopik tempe yang tersedia di toko buku maya hasil inovasi dan pemikiran jenial Tim Bezos, boss Amazon,  di Inggris. Lalu saya kirimkan kepadanya. Ketika obrolan rutin via emailnya datang, tetapi Niz sama sekali tidak menanggapi  usulan saya terkait buku-buku yang saya usulkan, yang menurut hemat saya akan mendukung terealisasikannya  impian mengenai industri tempe itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya, saya merasa tidak memperoleh apresiasi yang memadai darinya. Apa yang aku kerjakan itu, dengan memberinya solusi,   salah ?  Apa hal seperti itu, dukungan berupa informasi semacam itu,  justru tidak ia inginkan ? Mengapa masalah seperti ini bisa jadi rumit ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/RmduKlGah_I/AAAAAAAAACQ/PlqeBWA2FRo/s1600-h/puzzle.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/RmduKlGah_I/AAAAAAAAACQ/PlqeBWA2FRo/s320/puzzle.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073144633292916722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Komunikasi Memang Rumit !&lt;/b&gt; Saya membongkar-bongkar arsip kliping saya, dari  majalah Vital Speeches of The Day (1/12/1992). Sumber publikasi ini menghimpun, memilih dan menerbitkan pidato dan makalah seminar pilihan yang berlangsung di negeri Paman Sam. Publikasi yang sama belum ada di Indonesia. Apa karena banyak pidato di sini tidak bermutu dan tidak bergizi bila diresapi secara kontemplatif ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judulnya “What You Share Is What You Get : Tips for Effective Communication.”  Oleh Carl Wayne Hensley, Professor of Speech Communication, Bethel College, disampaikan di depan forum Edina Kiwanis Golden K. Club, Edina, Minnesota,  1 September 1992. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal ceramahnya, Carl Hensley mengajukan contoh kasus menarik. Ia menceritakan seorang wanita yang mengadu ke pengacaranya bahwa ia ingin mengajukan cerai terhadap suaminya. Berhubung pembicaraan antara keduanya bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia terancam kehilangan nuansa dan makna, antara lain akibat keterbatasan diri saya sendiri dalam penerjemahan, maka saya sajikan dalam bahasa aslinya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Woman : I want to divorce my husband.&lt;br /&gt;Lawyer : Do you have any grounds ?&lt;br /&gt;Woman : About 10 acres.&lt;br /&gt;Lawyer : Do you have a grudge ?&lt;br /&gt;Woman : No, just a carport.&lt;br /&gt;Lawyer : Does your husband beat you up ?&lt;br /&gt;Woman : No, I get up up about an hour before he does every morning.&lt;br /&gt;Lawyer : Why do you want a divorce ?&lt;br /&gt;Woman : We just can’t seem to communicate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saya keliru, tetapi dialog di atas nampak lucu, sekaligus menyedihkan, karena tidak nyambung antara keduanya. Carl Hensley bilang, problem wanita itu tidaklah unik. Banyak suami-istri, orangtua dan anak, para manajer dan bawahan, para profesional dan klien mereka, tidak mampu saling berkomunikasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa hal itu terjadi ? Mengapa pribadi-pribadi cerdas, yang mampu bertutur dengan jelas, tetapi tetap saja mengalami masalah dalam berkomunikasi ?  Menurutnya, barangkali persoalannya, bahwa mereka memiliki gagasan yang keliru mengenai apa itu komunikasi. Boleh jadi mereka melandasi komunikasinya berdasar asumsi yang tidak komprehensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Anda bertanya, “Apa komunikasi ?” maka banyak orang akan menjawab, seperti “Berbicara kepada seseorang. Mengungkapkan apa yang saya pikirkan.”  Kemudian, “Bagaimana bila orang lain itu tidak memahaminya ?” dan mereka pun menjawab, “Itu salah mereka sendiri. Itu masalah yang harus mereka pecahkan sendiri pula.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/RmduYVGaiAI/AAAAAAAAACY/El6_eynhaQY/s1600-h/tukangjam.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/RmduYVGaiAI/AAAAAAAAACY/El6_eynhaQY/s320/tukangjam.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073144869516118018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Sensitif Terhadap Orang Lain.&lt;/b&gt; Profesor Hensley bilang, komunikasi bukan sekedar  berbicara untuk menyampaikan pesan dan mendengarkan guna menerima pesan. Komunikasi terjadi apabila kedua belah fihak memiliki pemahaman yang sama. Komunikasi terjadi apabila dua fihak saling berbagi makna yang sama. Bahkan ia mendefinisikan komunikasi sebagai “makna yang difahami secara bersama” sehingga komunikasi yang efektif mensyaratkan hadirnya makna yang mampu difahami secara bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian memberikan tiga tips yang menarik. “Apabila Anda mempraktekkannya, Anda memiliki peluang bagus untuk melakukan pemahaman makna secara bersama dan memperbaiki komunikasi Anda,” kata Profesor Henley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, bersikaplah sensitif atau peka terhadap orang lain yang Anda ajak berkomunikasi.  Apakah Anda mengetahui seseorang yang berkesan bagi diri Anda sebagai seorang komunikator yang baik ? Mengapa orang bersangkutan berkesan bagi Anda ?  Jawabnya, boleh jadi orang tersebut selalu menunjukkan sensitivitasnya kepada  lawan bicara dan situasi. Ia pun  secara teratur mengatakan hal yang tepat pada waktu yang tepat, juga hampir selalu menghindari mengeluarkan pernyataan yang tidak perlu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa rahasianya? Barangkali karena ia menyadari bahwa makna itu terdapat dalam diri seseorang dan bukan terdapat dalam pesan atau pun kata-kata. Sebagai ilustrasi menarik, Hensley bercerita saat ia berkunjung tahunan ke rumah ibunya. Ketika sedang rebahan di ranjang sambil membaca, sang ibu menghampiri sambil membawa vas bunga yang tidak nampak menarik. Ibunya berkata : “Maukah kau memiliki vas ini “ Serta merta dirinya menolak. Ketika ibunya hendak beringsut pergi, ia pun berubah pikiran dan menanyakan dari mana vas itu diperoleh sang ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata vas itu memiliki sejarah bagi sang ibu di masa lalu. Ia kini berumur 81 tahun. Vas itu merupakan hasil dari dirinya ketika berjualan katalog beragam barang saat ia muda, sebagai salah satu dari enam anak yang harus membantu ibunya bekerja keras menghidupi keluarga, yang ditinggal pergi ayahnya saat itu. Vas itu sangat berharga di mata sang ibu dan kini ia ingin memberikannya untuk anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spontan saja Hensley segera menyambut tawaran ibunya tersebut. Ia ceritakan,  bahwa vas itu kini menghias rumahnya sebagai simbol makna berharga yang terbagikan antara ia dan ibunya. Apabila saja Anda dan saya, katanya, tidak sensitif kepada orang lain dan terhadap makna yang terdapat dalam dirinya, maka akan muncul masalah komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain. Di radio saya pernah mendengar obrolan mengenai pentingnya kejujuran dan keterbukaan seorang pria terhadap pasangannya. Ada yang berpendapat, pria yang bersikap jujur dan terbuka ibarat menyerahkan kedua tangannya untuk dibelenggu dan sesudah itu pasangannya boleh memukuli dirinya kapan saja. Sementara itu ada pula pepatah yang mengatakan,  ketika seseorang pria tidak lagi ada yang ia sembunyikan dari dirinya terhadap pasangannya, itulah tanda bahwa pria itu benar-benar mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bayangkanlah ketika pria yang sudah dengan sukarela menunjukkan hal-hal yang rawan atau &lt;i&gt;vulnerable&lt;/i&gt;  dari dirinya, tetapi pasangannya justru menggunakan hal-hal rawan itu sebagai titik bidiknya ketika terjadi konflik antara keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum perempuan, dengarkan hal berikut ini. John Gray dalam bukunya Mars and Venus Together Forever (2003), punya pendapat untuk Anda perhatikan. Menurutnya, pria jauh lebih mudah untuk menghindar dan mengelak dalam percaturan bisnis karena dia tidak berinteraksi dengan kasih sayang yang begitu terbuka terhadap orang-orang lain.  Sedangkan dalam hubungan asmara, pria jauh lebih terbuka dan mudah terluka. Jadi kalau dia terpukul, dia akan jauh merasa lebih pedih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, begitu nasehat Hensley, bersikaplah peka, hayati dan masukilah kerangka berpikir lawan bicara Anda. Kemudian berusahalah memahami makna pesan yang diterima dan direspon oleh lawan bicara Anda, dan berusahalah menemukan interaksi murni yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/Rmdum1GaiBI/AAAAAAAAACg/0WQjDZhdNQk/s1600-h/kepalajack.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://3.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/Rmdum1GaiBI/AAAAAAAAACg/0WQjDZhdNQk/s320/kepalajack.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073145118624221202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Serius Terhadap Persepsi Lawan Bicara.&lt;/b&gt; Tips yang kedua : bersikaplah serius terhadap lawan komunikasi Anda. Yaitu menerima segala persepsi lawan bicara Anda secara valid dan menghargainya. Karena terlalu sering kita melakukan diskon terhadap makna pesan yang disampaikan oleh orang lain karena menilai hal itu tidak penting atau kurang penting dibanding pendapat kita sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang “diskon perasaan” semacam sering dan biasa terjadi. Baik antara suami-istri yang saling meremehkan satu sama lain, orang tua yang meremehkan pendapat anak-anaknya sampai manajer yang meremehkan pendapat para karyawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memberi ilustrasi : “Ingatlah, cinta monyet itu nyata dan penting bagi remaja bersangkutan yang sedang mabuk cinta.”  Tegasnya, setiap perspektif atau sudut pandang seseorang itu penting dan sangat nyata bagi diri pribadi bersangkutan.  Camkanlah, bahwa ia mampu berkomunikasi dengan kita hanya apabila dia dapat  menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang teman mengeluh. Ia pernah dengan bangga bercerita bahwa artikelnya dimuat di surat kabar nasional. Untuk bisa masuk ke kolom itu, tentu selain isinya harus aktual dan relevan, ia pun harus mau menunggu nyaris satu tahun. Ketika dimuat, ia dengan antusias menceritakan hal itu kepada kekasihnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, sang kekasih  justru sama sekali  tidak menanggapi  unjuk prestasi pasangannya tersebut. Entah kenapa pula kekasihnya itu tidak memiliki empati. Apakah ia merasa pernah diperlakukan hal yang sama di waktu lalu ? Akibatnya, batu-batu kecil yang akumulasinya kelak berpotensi mengganjal komunikasi mereka di masa datang,  mulai bertumpuk !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, komunikasi yang efektif mensyaratkan adanya makna yang saling difahami secara bersama, di mana untuk meraih hal tersebut kita harus sensitif terhadap orang lain serta kemudian mampu memperlakukan secara serius  segala hal yang mereka kemukakan tentang diri mereka kepada diri kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/Rmdu2VGaiCI/AAAAAAAAACo/_L1GJjbl-qc/s1600-h/kepalangomong.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/Rmdu2VGaiCI/AAAAAAAAACo/_L1GJjbl-qc/s320/kepalangomong.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073145384912193570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Pemilihan Kata Yang Cermat.&lt;/b&gt; Tips yang ketiga : komunikasi yang efektif mensyaratkan bangunan komunikasi yang cermat. Intinya, pemilihan kata-kata haruslah hati-hati. Sekali lagi, haruslah cermat. Bukan itu saja, tetapi berikan informasi sebanyak mungkin yang mampu diproses oleh mitra komunikasi kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga jangan sekali-kali Anda lupakan, tegas Profesor Hensley, mengenai pentingnya mencermati komunikasi yang bersifat non-verbal.  Karena 65 persen komunikasi kita berwujud non-verbal, maka kita harus waspada, cermat dan juga tepat dalam memanfaatkan tempo, ruang, gerak dan juga kontak mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata, membangun komunikasi yang cermat adalah dengan menyesuaikannya sehingga klop atau mencocoki dengan pusat makna mitra komunikasi kita. Hanya dengan hal itulah kita mampu meraih komunikasi yang berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/RmdvlFGaiEI/AAAAAAAAAC4/uVck8Svj12M/s1600-h/fireplace.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://4.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/RmdvlFGaiEI/AAAAAAAAAC4/uVck8Svj12M/s320/fireplace.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073146188071077954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Perbedaan Pria vs Perempuan.&lt;/b&gt; Komunikasi nampaknya makin diperumit dengan adanya perbedaan pola antara pria dengan wanita. Deborah Tannen dalam bukunya You Just Don’t Understand : Women and Men In Conversation (1990), mampu membukakan cakrawala yang menarik bagi kita semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukunya tersebut dapat dikatakan merupakan kelanjutan dari  buku sebelumnya, That’s Not What I Meant ! : How Conversational Style Makes or Breaks Your Relations with Others (1986).  Dalam pengantar buku ini Tannen bercerita bahwa mahasiswa yang mengikuti kuliahnya di Universitas Georgetown sempat melapor, “kuliahnya telah menyelamatkan perkawinannya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian, mahasiswa dan wanita yang sama,  kini sudah bergelar profesor, kembali mengiriminya surat. Ia berkisah, ketika berbicara dengan suaminya sering berbuntut menjadi pertengkaran. Isi suratnya terasa putus asa, “Dr. Tannen, silakan cepat-cepat menulis buku baru, karena problem  komunikasi yang paling besar tersebut kini menghantui kaum  pria dan wanita dewasa ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku You Just Don’t Understand ini saya fotokopi dari perpustakaan American Cultural Center yang dulu bertempat  di Wisma Metropolitan 2, 15 Maret 1993. Saya membacanya dengan perasaan sedih,  karena baru sadar bahwa pola komunikasi khas lelaki saya selama ini, tanpa saya sadari,  telah menyakiti  perempuan (“Har”) yang saya cintai saat itu, yang kemudian memutuskan pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti konflik komunikasi itu bersumber dari pemahaman bahwa lelaki merasa hidup dalam dunia yang hirarkis, ada yang di atas dan ada yang di bawah. Dalam hal ini maka percakapan merupakan negosiasi agar dirinya memperoleh atau mempertahankan statusnya untuk terus berada di atas, sekaligus melindungi dirinya dari upaya orang lain yang ingin menjatuhkan atau hendak menyingkirkannya. Dunia lelaki adalah dunia penuh persaingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu dalam dunia perempuan mereka memandang diri mereka sebagai warga suatu jaringan. Di dunia semacam ini percakapan antarperempuan merupakan negosiasi untuk memperoleh kedekatan di mana seseorang mencoba mencari dan memberikan peneguhan, konfirmasi, dukungan dan tercapainya konsensus. Dunia perempuan adalah komunitas, berisikan perjuangan untuk memperoleh kedekatan dan menghindarkan diri dari isolasi. Memang ada juga hirarki, tetapi hirarki yang lebih condong kepada persahabatan dan bukan untuk saling sikut demi memperebutkan kekuasaan atau pun prestasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ellen DeGeneres, komedian perempuan yang memandu upacara Oscar (25/2/2007) yang mencita-citakan hadirnya presiden perempuan di AS mengatakan, bahwa perempuan “belajar untuk sukses tanpa merasa terancam, mengajak tanpa menuntut serta memimpin tanpa merasa tertinggal di belakang. Kami adalah politisi alami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;John Gray dalam bukunya Mars and Venus Together Forever (2003) seperti menyimpulkan bahwa dalam berkomunikasi, “istri (kaum perempuan) butuh simpati yang sangat diharapkan, bukan pemecahan masaalah.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/RmdvFlGaiDI/AAAAAAAAACw/qe3d7h5G104/s1600-h/globewanita.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://2.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/RmdvFlGaiDI/AAAAAAAAACw/qe3d7h5G104/s320/globewanita.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5073145646905198642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;b&gt;Tugas Baru Perempuan.&lt;/b&gt; Nasehat Deborah Tannen sampai John Gray di atas bolehlah disebut sebagai cermin bagi diri saya. Sebagai lelaki, yang secara alamiah merasa berguna apabila mampu memecahkan masalah, justru pendekatan semacam telah menjadi masalah besar tersendiri. Ternyata bila istri Anda mengeluh sakit kepala dan Anda datang membawa obat sakit kepala dan segelas air,  atau mengajaknya ke dokter, maka yang terjadi adalah “dor !” : Anda telah melakukan bunuh diri dalam berkomunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk fakta betapa tidak mudahnya berkomunikasi antara lelaki dan perempuan, John Gray kemudian memberikan apa yang ia sebut sebagai “tugas baru kaum perempuan,”  yaitu memberitahukan kepada pria apa yang ia perlukan sebelum dirinya angkat bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasehat yang fair. Maka terkait heboh masalah tempe antara saya dan Niz, mudah-mudahan kelak ia mau memberikan peringatan seperti nasehat John Gray di atas sebelum ia mencetuskan sesuatu. Karena seingat saya, konflik komunikasi semacam ini juga terjadi sebelum “the tempe affair” ini terjadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah bunga mawar, misalnya. Ia suka menanamnya. Juga pernah berkomentar, bahwa dirinya ingin ada pria yang mau memberinya sekuntum saja. Tahun lalu, ketika menjemputnya di bandara Adisucipto, saat ia ingin mengunjungi dan menyantuni para korban gemba bumi 27 Mei 2006, saya telah menyambutnya dengan sekuntum mawar. Sesudah itu ia tidak pernah memberikan komentar tentang mawar. Konflik komunikasi itu pernah merambat dari topik mengenai pijat Swedia hingga gagasan seputar &lt;i&gt;charity shop&lt;/i&gt; dan desain situs web lembaganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempe, mawar sampai situs web mungkin memang tidaklah begitu penting sebagai bahan pertengkaran atau pun sebagai bahan pembicaraan. Demikian pula ada jutaan hal remeh-temeh lainnya yang  setiap hari menjadi bahan pembicaraan kita sebagai manusia.  Apabila kita kembali ke nasehat Hensley di atas, yang terpenting adalah memahami makna di balik hal-hal remeh-temeh tersebut, dengan berusaha berempati serta menganggap apa pun yang dikomunikasikan oleh fihak lainnya sebagai hal yang penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal remeh-temeh tersebut juga penting dalam  lembaga perkawinan. &lt;i&gt;“Chains do not hold a marriage together. It is threads, hundreds of tiny threads which sew people together through the years. That is what makes a marriage last — more than passion or even sex !”&lt;/i&gt;, demikian tutur  Simone Signoret (1921–1985), aktris Perancis, di harian &lt;i&gt;Daily Mail&lt;/i&gt;, 4 Juli 1978.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjalin helai demi helai utas benang itu memang bukan hal yang  otomatis mudah untuk kami, Niz dan saya, dalam merajutnya hari demi hari. Boleh jadi karena kami terpisah jarak ribuan kilometer. Bahkan kini, walau pun mengaku saling menyayangi, tetapi toh kita juga sampai pada tahap yang sebenarnya tidak kita ingini :    terjadinya miskomunikasi yang berbuntut perang sms atau &lt;i&gt;chatting&lt;/i&gt; dengan isi pesan yang saling menyakiti satu sama lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Can't we stop hurting each other&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Gotta stop hurting each other&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Making each other cry&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Breaking each other's heart&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tearing each other apart&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap, dengan berkali-kali meminta maaf, aksi saling menyakiti itu semoga segera dapat kami akhiri. Mumpung Niz kini berada di Aceh, yang memulai pembangunan proyek impiannya, membangun sarana pendidikan untuk menyantuni dan mendidik anak-anak  yatim piatu korban konflik  dan tsunami. Semoga ia memperoleh cinta yang melimpah dari anak-anak asuhnya, memperoleh keberhasilan dan kebahagiaan, juga berkah yang melimpah dari Allah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendoakannya dari jauh. &lt;br /&gt;Juga merindukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri, 4/4 – 6/6/2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cty&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-8525969363952619888?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/8525969363952619888/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2007/04/hurting-each-other.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/8525969363952619888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/8525969363952619888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2007/04/hurting-each-other.html' title='Hurting Each Other'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_GIh0-m4f0T4/Rmdt81Gah-I/AAAAAAAAACI/F0RGPt7cM_0/s72-c/bengokkuping.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-116899989957898387</id><published>2007-01-16T17:58:00.000-08:00</published><updated>2007-01-17T18:59:57.186-08:00</updated><title type='text'>Masa Pensiun dan We’ve Only Just Begun</title><content type='html'>Oleh : Bambang Haryanto&lt;br /&gt;Email : &lt;a href="mailto:humorliner@yahoo.com"&gt;humorliner@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Resep Sehat Voice of America.&lt;/b&gt; Penguasaan dua bahasa, &lt;i&gt;bilingual&lt;/i&gt;, berpotensi memperlambat seseorang dari ancaman kepikunan. Informasi kesehatan menarik itu saya dengar dari radio Voice of Amerika (VoA) Siaran Indonesia, 15/1/2007. Penggunaan dua bahasa secara aktif diwartakan memacu otak penggunanya menjadi lebih “cemerlang” dan “tahan lama” dibanding otak mereka para pengguna satu bahasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar ini, sekali lagi, nampaknya semakin mengukuhkan pendapat &lt;i&gt;use it or lose it&lt;/i&gt;, gunakan atau kehilangan, baik yang menyangkut otak mau pun otot Anda. Kiranya kita dapat bercermin dari pendapat Alfred Eisenstaedt (1898–1995), fotografer dan jurnalis kenamaan Amerika kelahiran Jerman. Seperti telah dikutip edisi elektronik majalah Life 24 Agustus 1995 (“tepat saya berumur 42 tahun”) ia telah berujar, &lt;i&gt;”although I am 92, my brain is 30 years old.”&lt;/i&gt; Walau saya berusia 92 tahun, tetapi otak saya berusia 30 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur saya kini menjelang 54 tahun. Juga sudah terasa mulai dihinggapi “penyakit” mudah lupa. Pernah saya ke warnet, sesudah berjalan kaki sekitar 2 km, harus kecewa karena disket yang berisi tulisan untuk di-&lt;i&gt;upload&lt;/i&gt; ke blog-blog saya dan materi untuk membalas email, lupa tidak saya bawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari-hari saya yang terlibat dalam pemakaian tiga bahasa, Jawa, Indonesia dan Inggris, tetapi ketika bercermin diri saya sungguh tidak tahu pasti sejauh mana tesis informasi dari VoA di atas berlaku untuk diri saya. Dari ketiga bahasa itu, pastilah bahasa Inggris yang paling minimal saya kuasai. Maklum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1986 pernah ikut tes TOEFL di Kedutaan Besar Amerika Serikat, nilai saya hanya 58. Padahal untuk bisa lulus harus minimal, kalau tak salah ingat, 76. Di antara yang mampu mencapai angka lulus itu adalah Rene L. Pattiradjawane, lulusan Sastra Cina FSUI, dan kini redaktur senior di Harian Kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses penguasaan saya untuk bahasa negerinya Putri Diana itu berlangsung asal-asalan. Sejak kecil hingga kini. Tetap saja asal-asalan. Termasuk setahun terakhir ini ketika saya membaca-baca email atau mendengar obrolan via telepon dengan Niz, &lt;i&gt;my sweet heart&lt;/i&gt; yang tinggal di London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Like father, like son.&lt;/b&gt; Belajar bahasa adalah masalah kebiasaan, kata Niz, suatu waktu. Konon ia sendiri saat tiba di Inggris lebih dari 20 tahun lalu, belajar berbahasa Inggrisnya dari anak-anak atau kaum manula saat bekerja sebagai &lt;i&gt;carer&lt;/i&gt;, pengasuh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa Inggris menarik saya ketika saya masih duduk di klas lima SD Negeri 3 Wonogiri, 1965. Saya tidak tahu untuk tujuan apa, tetapi saat itu ayah saya, Kastanto Hendrowiharso, yang seorang TNI Angkatan Darat, di rumah sering mengucapkan kata dan kalimat dalam bahasa Inggris. Saat itu ia bertugas di Kodim 0734 Yogyakarta. Saya punya ayah hanya setiap hari Sabtu dan Minggu. Beliau rupanya mengambil kursus bahasa Inggris di Yogyakarta dan ketika ia belajar di rumah, saya ikut mendampingi dan mendengarkan, sehingga terimbas secara alamiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, Mas Bambang Setiawan (BS), warga Wonogiri yang lama tinggal di Jakarta, kakak dari Sri Wahyuni (teman seangkatanku di SMP Negeri 1 Wonogiri), bercerita lewat email tentang ayah saya. Mas BS bisa saling mengenal dengan diri saya gara-gara saya memiliki blog di Internet. Ketika di masa kanak-kanak, kami justru tidak saling mengenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya tahu kemudian, adiknya Sri Wahyuni adalah putri dari Wakil Kapolres Wonogiri saat itu. Rumah dinasnya di tepi jalan raya, depan warung menco. Kemudian saya tahu ternyata ibunya Mas BS itu, Ibu Sudarmo, telah pula mengenal ibu saya. “Bu Kastanto itu &lt;i&gt;priyayi&lt;/i&gt;-nya tinggi besar,” kenang Ibu Sudarmo. Sebagai istri polisi rupanya beliau akrab pula dengan kalangan istri tentara di Wonogiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas BS sekarang merupakan salah satu &lt;i&gt;dedengkot&lt;/i&gt; :-) paguyuban warga Wonogiri yang tinggal di Jakarta. Kantornya di Graha Irama Building, Jl. HR Rasuna Said, Jakarta. Di antara warga paguyuban wong Wonogiri itu, begitu ceritanya, antara lain mBak Ari Selopadi. Kalau tidak salah ingat, mBak Ari yang cantik dan tinggi semampai itu, yang pernah menjadi Putri Jawa Tengah, adalah juga alumnus sekolah dasarku, SD Negeri 3 Wonogiri. Termasuk semua adiknya, Minda, Iwan sampai Jajit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warga paguyuban lainnya adalah Mas Handrio, putra Pak Pangat, yang jarak rumahnya sekitar 150 m dari rumahku. Menurut Mas Handrio, seperti ditirukan oleh Mas BS, bahwa ia mengenal ayahku sebagai “lancar berbahasa Inggris.” Maka di emailnya pada saat-saat awal kenal, Mas BS membom diriku dengan perkataan : &lt;i&gt;like father, like son.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain belajar bahasa Inggris, beberapa waktu sebelumnya ayahku bercerita bahwa dirinya juga mempelajari bahasa Rusia. Kalau tak salah ingat, beliau bercerita akan ikut tes agar bisa lolos diikutkan menempuh tugas belajar di negeri asal Nikita Khrushchev, Mikhail Baryshnikov sampai Mikhail Sergeevich Gorbachev itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari buku-buku peninggalannya yang masijh utuh, antara lain dalam Buku Bahasa Rusia : Kursus Permulaan (Moskou, 1959), ia tulis dibeli seharga Rp. 50,00 tanggal 4 Desember 1961. Tercatat ayah mulai belajar 5 Desember 1961, Jam 17.30. Saat itu saya berumur 8 tahun. Dasar anak-anak, dari buku tersebut saya terpancing untuk ikut belajar bahasa Rusia pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika SMP, saat dilanda cinta monyet, saya pernah menulis surat cinta berbahasa Indonesia tetapi dengan huruf abjad Rusia. Nasib surat itu mencocoki isi lirik lagu lama, &lt;i&gt;Night of White Satin&lt;/i&gt;-nya Moody Blues : &lt;i&gt;“letters I've written, never meaning to send.&lt;/i&gt; Surat-surat yang aku tulis tidak pernah dimaksudkan untuk dikirimkan. Kalau pun saya kirimkan, siapa yang mampu menjamin sang jantung hati akan memahami isinya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1980 ketika berkuliah di FSUI saya berteman dengan Arlima “Ipit” Mulyono, adik pelawak Warkop Prambors,  Nanu Mulyono. Ipit pernah berkuliah di Sastra Rusia. Ketika saya mencoba mengobrol dengan satu dua patah kata Rusia, Ipit mengira saya pernah ikut kursus Bahasa Rusia, Jl. Diponegoro, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Memvonis Raja Gerobak.&lt;/b&gt; Belajar bahasa Inggris secara tidak langsung lumayan menggebu di tahun 1977-1979. Saat itu saya menghuni sanggar seni rupa yang kami sebut sebagai Gallery Mandungan, Muka Kraton Surakarta. Kehidupan semi &lt;i&gt;bohemian&lt;/i&gt; di sanggar itu membuat saya berinteraksi dengan pelbagai aktivis kesenian Solo lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://photobucket.com/" target="_blank"&gt;&lt;img src="http://i143.photobucket.com/albums/r150/wonogiri/mandungan77_1.jpg" alt="Photobucket - Video and Image Hosting" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Di Luar Arena Scrabble.&lt;/b&gt; Aktivitas kesenian di Sanggar Mandungan beragam. Antara lain pementasan musik dan pembacaan puisi. Dalam foto tergambar aktivitas latihan untuk pementasan Malam Puisi 1977. Ki-ka : Murtidjono, Marsudi (membelakangi kamera), Tatah, Harsoyo dan Efix Mulyadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivis tersebut antara lain HB Sutopo, Conny Suprapto dan Narsen Afatara, ketiganya adalah pengajar di Jurusan Seni Rupa UNS Sebelas Maret. Ada pula Murtidjono atau Eyang Murti, sebutan gaulnya, yang saat itu baru lulus dari Fakultas Filsafat UGM. Dia lagi kesengsem sama Koes Murtiyah alias Gusti Mung dari Kraton Solo, yang saat itu masih duduk di SMAN 4 Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau aku sih lebih menyukai adiknya, Koes Indriyah. Juga diam-diam menyukai Kenil, putri Pak Panji Mloyosuman, pelajar SMA Ursulin, yang bermurah hati menebarkan senyum penuh pesona dan lambaian tangan ketika setiap kali melintas di depan Mandungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung setia sanggar lainnya adalah Didik “Fernando” Marsudi almarhum. Ia pegawai Pemkot Solo, aktivis teater dan kemudian dikenal sebagai seniman ketoprak Solo, Harsoyo Rajiyowiryono, mahasiswa Sastra Jawa UNS Sebelas Maret dan kini bekerja di Taman Budaya Surakarta (TBS) Solo dan juga Broto, pemuda &lt;i&gt;dompu&lt;/i&gt; asal Laweyan, &lt;i&gt;sohib&lt;/i&gt;-nya Eyang Murti, yang saat itu sepertinya tak selesai-selesai kuliahnya di FE UGM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama di atas adalah musuh-musuh utama saya dalam bermain scrabble. Papan permainan ini saya beli tanggal 6 Juni 1979. Pada boksnya tertulis : Manufactured by J.W. Spear &amp; Sons, Ltd., Enfield, Middlesex, England. Sebelumnya saya membeli yang buatan dalam negeri, tetapi kurang memuaskan. Ibarat pembagian liga dalam kancah sepakbola, maka di Gallery Mandungan sering berlangsung permainan scrabble dalam dua arena : para pemain divisi utama menggunakan papan buatan Inggris dan divisi kedua menggunakan papan scrabble buatan dalam negeri. :-)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sebagai pemain, saya sendiri didaulat sebagai pencatat kata mau pun skor. Juga penghakim karena saya yang memiliki kamus dan sekaligus sebagai motor pengejek bagi pemain lain yang kosa katanya terbatas. Mereka yang sering berulang memunculkan kata “VAN” mendapat vonis ramai-ramai dengan sebutan Raja Gerobak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arena permainan kadang tidak hanya di Mandungan, tetapi berpindah ke Baturan, rumah Pak Topo yang berada di kompleks perumahan dosen UNS. Atau berekspansi ke Laweyan, rumahnya Broto, atau rumah Marsudi, di Kauman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan scrabble ini begitu mencandu, membuat hidup kami seolah terbalik. Siang hari dijadikan untuk tidur dan malam hari digunakan untuk melek,  bertarung meramu huruf menjadi kata yang bermakna, sekaligus menggabungkan unsur penguasaan terhadap kosa kata dengan kalkulasi demi meraih nilai tertinggi dipadu strategi membunuh peluang lawan. Sebagai pencandu scrabble dan pelintas batas malam, kami pun mengeluarkan kata-kata mutiara : “Cara terampuh untuk bisa bangun pagi adalah bila semalaman tidak tidur.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Imbauan Menawan Dari Michigan.&lt;/b&gt; Sekarang ini kabar tentang teman-teman bermain scrabble di atas, kadangkala saya ketahui dari surat kabar. Sejak tahun 1980 saya meninggalkan Solo untuk berkuliah di Jakarta dan tahun-tahun sesudahnya membuat saya seperti terbuang sekaligus terputus dari seluk-beluk atmosfir sampai kiprah dunia kesenian. Seperti saya katakan via email kepada &lt;a href="http://wonogirinews24.blogspot.com/2006/12/e-mail-kejutan-untuk-kajen-dari-new.html"&gt;Tinuk R. Yampolsky &lt;/a&gt;di New Haven, Connecticut, AS, karena teman-teman sesama aktivis kesenian Solo nampak belum akrab dengan Internet, antara lain telah membuat kami yang secara geografis dekat justru sulit saling bertemu di dunia maya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1987 saya pernah menulis surat pembaca di Majalah Tempo (7/2/1987). Isinya menawarkan Buletin InfoSeksi, yaitu jasa informasi mutakhir kepada klien berupa puluhan daftar isi majalah-majalah ilmiah luar negeri. Saya saat itu sedang merintis bisnis sebagai broker informasi. Secara mengejutkan, alamat saya di majalah itu telah mengakibatkan saya mendapatkan surat dari Pak Topo. Dari Michigan, Colorado, Amerika Serikat. Beliau menceritakan berita gembira, bahwa dirinya telah meraih dua gelar master dan kini meraih gelar Ph.D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun mengompori diri saya untuk tergerak pula menempuh pendidikan lanjutan di manca negara. Nasehat hebat. Tetapi karena &lt;i&gt;kebacut&lt;/i&gt; putus asa dengan nilai TOEFL saya yang rendah itu, sehingga membuat peluang saya untuk memperoleh beasiswa Fulbright ke AS praktis tertutup karena melewati batas umur, saya mencoba menghibur diri dengan membalas : mungkin diri saya masih ada peluang untuk belajar ke Inggris. Ternyata, sampai sekarang pun impian belajar ke Inggris itu masih pula hanya sebatas sebagai impian belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pensiunan : &lt;i&gt;Untapped Resources.&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Informasi lanjutan tentang Pak Topo saya ikuti dari surat kabar, antara lain ketika beliau diangkat sebagai guru besar di UNS Sebelas Maret. Saya lupa tahunnya. Adik saya yang terkecil, Basnendar Heriprilosadoso, masih sempat menjadi mahasiswa dari Prof. HB Sutopo tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita mutakhir, koran Solopos minggu lalu (13/1/2007) mewartakan bahwa Pak Topo telah memasuki masa pensiun sejak November 2006. "”Sudah tua begini, enaknya istirahat saja,” ujar pria setengah baya yang pernah menekuni dunia seni lukis itu seperti dikutip oleh Solopos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu koran Suara Merdeka, minggu lalu pula, mewartakan Murtidjono akan pensiun sebagai PNS bulan Juni 2007, dan berarti pula pensiun dari jabatannya yang lebih dari dua puluhan tahun. sebagai Kepala Taman Budaya Surakarta (TBS) Solo itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa lucu, juga rada aneh, membaca kabar-kabar di atas untuk memergoki fakta betapa sesama teman sepermainan scrabble di akhir tahun 70-an kini telah memasuki masa pensiunnya. Mungkin bila pekerjaan boleh diibaratkan sebagai permainan scrabble, maka pak Topo dan Eyang Murti boleh disebut mereka tidak akan bermain lagi. Tetapi bila karier yang diibaratkan sebagai permainan scrabble, masa pensiun bukanlah batas akhir untuk melanjutkan karier mereka. Karena pekerjaan memang miliknya perusahaan, sedang karier adalah milik setiap pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di koran tersebut diberitakan, Pak Topo masih memiliki kesibukan sebagai konsultan di Yayasan Indonesia Sejahtera. Juga tetap mengajar di kampus. Eyang Murti konon akan membantu istrinya dalam mengelola perusahaan keluarga, Sadinoe Songkopamilih. Nama ini aku dengar dari ayah sebagai perusahaan terpandang di Solo yang menyediakan peralatan tanda pangkat, seragam sampai sepatu militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Topo dan Eyang Murti, masih sehat dan produktif. Demikian pula banyak kaum pensiunan yang lain. Nabi media digital Nicholas Negroponte dari MIT, menyebut kaum pensiunan itu sebagai &lt;i&gt;untapped resources&lt;/i&gt;, harta karun yang terbengkalai dan belum dibudi dayakan secara maksimal. Saya telah menyuarakan keprihatinan itu dalam surat pembaca, sekitar dua tahun yang lalu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Masa Pensiun, Masa Loyo ?&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah&lt;br /&gt;Rabu, 17 November 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali penerimaan pelajar atau mahasiswa baru, mirip sebuah ritual, mereka harus menjalani masa orientasi. Bagaimana mereka yang akan pensiun ? Apakah mereka juga memperoleh bimbingan dan orientasi dari para seniornya ? Pertanyaan itu muncul ketika Kompas (10/9/2004) mewartakan tahun 2004-2009 terdapat 590.000 pegawai negeri sipil, terbanyak guru, yang pensiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah yang sangat besar. Hemat saya, sangat disayangkan bila ratusan ribu kaum terdidik yang selama ini terbiasa melakukan olah intelektual, bila tanpa bimbingan dan orientasi, akan membuat sumber daya intelektual mereka jadi &lt;i&gt;muspro&lt;/i&gt;, sia-sia, di masa pensiunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Mary Furlong, pakar Internet AS yang menaruh perhatian kepada kaum lansia, menemukan istilah bahasa Perancis, &lt;i&gt;troisieme age&lt;/i&gt;, usia ketiga, untuk sebutan periode kehidupan saat seseorang bebas melakukan apa yang ia inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Periode Usia Pertama, seseorang berkembang sebagai pribadi. Periode Usia Kedua, mengejar karier dan membentuk keluarga. Di Usia Ketiga, usia pensiun, dirinya menjadi miliknya sendiri. Berbeda dari anggapan bahwa masa pensiun adalah saat dirinya tidak lagi dibutuhkan, lalu menjadi apatis dan loyo, sebenarnya masa pensiun merupakan waktu terbaik untuk mengembangkan kreativitas, terus belajar dan terus bereksplorasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Soeroyo (80 tahun), asal Solo, mungkin dapat dijadikan salah satu contoh. Bangga sebagai epistoholik, sejak pensiun dari PNS tahun 1981 beliau mengisi hari-hari kreatifnya di usia sepuh dan sehat itu dengan terus mengamuk (dalam tanda kutip), menulis surat-surat pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resepnya, banyak membaca, memperhatikan siaran radio, juga televisi. Bila ada hal-hal yang tidak laras dengan pikiran beliau, segera ia angkat pena. Tulisannya yang arif dan semangatnya yang tinggi menjadi ilham para yunior dalam komunitas &lt;a href="http://episto.blogspot.com"&gt;Epistoholik Indonesia &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga rajin menggalang silaturahmi dalam wadah PWRI. Banyak humor. Bahkan punya slogan yang pantas dicamkan oleh sesama pensiunan dan mereka yang akan pensiun. Slogannya TOPP : Tua, Optimis, Prima dan Produktif. Beda dengan TOPP di jaman Orde Baru yang berarti Tua, Ompong, Peot dan Pikun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena di AS tentang kaum lansia yang tetap aktif dan terus belajar ditunjukkan dengan data bahwa pengguna Internet yang terbanyak justru berasal dari kelompok demografis usia 50-an ke atas. Alias kaum usia ketiga, para pensiunan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAMBANG HARYANTO&lt;br /&gt;Warga Epistoholik Indonesia&lt;br /&gt;Jl. Kajen Timur 72&lt;br /&gt;Wonogiri 57612&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bagaimana diri saya sendiri ?&lt;/b&gt; Bila menurut peraturan pegawai negeri sipil, saya akan pula pensiun satu-dua tahun mendatang. Tetapi saya bukan seorang pegawai negeri. Sehingga apabila pekerjaan dan karier diibaratkan sebagai permainan scrabble, maka saya masih tidak memiliki batas waktu yang ditetapkan orang lain untuk memainkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan secara konkrit, saya pun masih memainkannya. Walau memang tidak bisa ramai-ramai lagi. Juga tidak pula harus setiap malam. Juga bukan lagi menggunakan papan scrabble buatan J.W. Spear &amp; Sons, tetapi memanfaatkan peranti lunak permainan scrabble buatan Infogrames di komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup kita memang saling memandang. Tetapi, &lt;i&gt;there is only one success – to be able to spend your life in your own way.&lt;/i&gt; Hanya ada satu keberhasilan, yaitu menuntaskan waktu hidup Anda untuk menyusuri kehidupan yang telah Anda pilih sendiri. Ucapan penulis Amerika Christopher Morley (1890–1957) di atas kiranya pantas menjadi panduan kita semua. Terutama untuk diri saya pribadi yang selama ini memang tidak pernah menerjuni  pekerjaan dan karier sebagai pegawai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika teman-teman sepermainan scrabble berangkat memasuki pensiun, seperti tergurat dalam lirik lagunya Carpenters yang saya sukai, &lt;i&gt;We've Only Just Begun&lt;/i&gt;, mungkin hidup saya dalam beberapa hal justru baru akan dimulai. Lagu indah dan ucapan Morley di atas mampu membuat senyum kecil ketika di Wonogiri ini saya membaca email Niz yang mutakhir. Isinya setengah merajuk, sekaligus mengajukan pertanyaan : kapan mas mendampingi hidup saya di London ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri, 16 Januari 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cty&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-116899989957898387?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/116899989957898387/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2007/01/masa-pensiun-dan-weve-only-just-begun.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/116899989957898387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/116899989957898387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2007/01/masa-pensiun-dan-weve-only-just-begun.html' title='Masa Pensiun dan &lt;i&gt;We’ve Only Just Begun&lt;/i&gt;'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-115569874252653885</id><published>2006-08-15T20:24:00.000-07:00</published><updated>2006-08-15T21:03:40.330-07:00</updated><title type='text'>Network Economy, Kelinci London, Aku dan Cinta</title><content type='html'>Oleh : &lt;a href="http://bukabeha.blogspot.com"&gt;Bambang Haryanto&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Email : &lt;a href="mailto:humorliner@yahoo.com"&gt;humorliner@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;If grass can grow through cement,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;love can find you at every time in your life.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cher,&lt;br /&gt;&lt;u&gt;The Times&lt;/u&gt;,30 Mei 1998&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kelinci London vs Kelinci Solo.&lt;/b&gt; Dalam fabel Barat, kelinci adalah lambang kecepatan. Menurut kajian profesor psikologi Robert Levine dari California State Universty di Fresno (1985), sang kelinci digambarkan harus lari pontang-panting mengikuti irama hidup di kota London, New York mau pun Tokyo. Sedang di Solo, kelinci itu justru tertidur dan mendengkur !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah intro artikel berjudul “Solocon Valley” yang aku tulis dan telah dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, Sabtu, 5 Agustus 2006. Aku kisahkan bahwa irama hidup di Solo sungguh berbeda dibanding kota-kota lain. Aku memang lahir di kota Solo ini. Dan tanggal 24 Agustus 2006 nanti, aku akan tepat berumur 53 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi artikel Robert Levine yang termuat di majalah &lt;u&gt;Psychology Today &lt;/u&gt;(3/1985) itu tidak aku temukan di Solo. Melainkan di Jakarta, saat &lt;i&gt;browsing&lt;/i&gt; majalah di Perpustakaan LIA, Jl. Pramuka, Jakarta Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Levine melakukan pengukuran waktu terhadap irama hidup di kota besar dan kota menengah di pelbagai belahan dunia. Diantaranya Jepang (Tokyo dan Sendai), Inggris (London dan Bristol), Taiwan (Taipei dan Tainan), Indonesia (Jakarta dan Solo), Italia (Roma dan Florence) dan Amerika Serikat (New York dan Rochester). Risetnya mengkaji tiga indikasi dasar : akurasi jam pada kantor bank, kecepatan pejalan kaki dan kecepatan pegawai kantorpos melayani pembelian perangko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akurasi waktu terbaik diraih Jepang. Indonesia menempati peringkat paling buncit dari keenam negara itu. Kecepatan seseorang sendirian berjalan kaki menempuh jarak 100 kaki, menempatkan orang Indonesia berstatus paling lambat. Levine memberikan ilustrasi ketika ia mengukur efisiensi petugas pos Solo melayani pembelian perangko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ia antri, pegawai pos yang menjual perangko itu malah asyik mengajaknya &lt;i&gt;ngobrol&lt;/i&gt;, membicarakan kerabatnya yang tinggal di Amerika. Lima orang yang antri di belakang Levine nampak sabar. Tidak mengeluh dan bahkan ikut memberi perhatian atas obrolan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat datang di Solo, kota di mana waktu tersedia melimpah di sana. Merujuk fenomena yang disebut waktu sosial atau denyut jantung masyarakat dalam memaknai waktu, masyarakat Solo khususnya dan masayarakat Jawa pada umumnya, memiliki pandangan unik. Secara matematis manusia hidup dalam hitungan waktu yang sama, 24 jam sehari, tetapi tidak semua budaya di dunia memaknainya secara sama. Masyarakat Barat memaknai waktu sebagai komoditi yang pasti habis. Waktu adalah uang. Tetapi masyarakat Jawa menganggap waktu sebagai proses siklus, sesuatu yang dapat terulang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemaknaan waktu khas Jawa itu oleh pakar pemasaran Kafi Kurnia diungkap dengan ilustrasi menarik tentang fenomena umum di Solo. Ia sebutkan pemandangan unik : tukang becak yang menunggu konsumen sambil tertidur di becaknya. Juga budaya ngobrol di lapak-lapak &lt;i&gt;wedangan&lt;/i&gt; yang juga terasa kental di Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kafi Kurnia menantang : mengapa tidak menjual kota Solo sebagai kota yang ideal untuk membunuh waktu, untuk santai-santai atau pun berbincang-bincang ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan menarik. Terlebih dalam konteks era &lt;i&gt;network economy&lt;/i&gt;, ekonomi jaringan dalam dunia digital dewasa ini, kita dapat menyimak pandangan Kevin Kelly yang mampu memberikan perspektif baru yang brilyan. Dalam karya tulis tonggak yang inspiratif, “New Rules for the New Economy : Twelve Dependable Principles for Thriving in a Turbulent World” (&lt;u&gt;Wired&lt;/u&gt;, September 1997), ia katakan : Peter Drucker mencatat bahwa dalam abad industri setiap pekerja yang mampu mengerjakan pekerjaannya secara lebih baik disebut sebagai produktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kini dalam ekonomi jaringan di mana kebanyakan mesin-mesin mengerjakan pekerjaan manufaktur yang tak cocok untuk manusia, tugas setiap pekerja bukanlah “bagaimana mengerjakan pekerjaan secara benar” melainkan “pekerjaan apa yang benar untuk dikerjakan ?” Di era mendatang, mengerjakan segala sesuatu secara benar jauh lebih produktif dibanding mengerjakan hal yang sama secara lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bagaimana seseorang dapat secara mudah mengukur &lt;i&gt;sense&lt;/i&gt; penting dalam eksplorasi dan penemuan ? Semua ini tidak terlihat dalam parameter atau patok duga produktivitas. Sejatinya, menurutnya, menghambur-hamburkan waktu dan bekerja tidak efisien merupakan jalan menuju penemuan. Suatu situs web yang dioperasikan oleh anak muda seumuran 20 tahun dapat terwujud karena ia mampu menghabiskan waktu 50 jam untuk menjadi ahli merancang situs web.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu pekerja usia 40-an tahun tidak dapat mengambil cuti liburan tanpa berpikir bagaimana dia menentukan apakah berlibur itu bisa disebut sebagai produktif atau tidak, sementara si anak muda tadi tinggal mengikuti naluri dan menciptakan beragam hal baru dalam desain webnya, tanpa menghitung apa yang ia lakukan itu efisien atau tidak. Dari otak-atik yang tidak efisien itulah akan hadir masa depan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam era ekonomi jaringan, produktivitas bukan masalah krusial. Karena kemampuan kita dalam menyelesaikan masalah sosial dan ekonomi kebanyakan dikekang, dibatasi, terutama oleh kurangnya imajinasi dalam menemukan peluang dibanding usaha mengoptimalkan suatu solusi. Seperti simpul Peter Drucker yang dikutip oleh George Gilder, rumusnya kini berbunyi : jangan menyelesaikan masalah, tetapi carilah peluang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Anda menyelesaikan sesuatu masalah, Anda berinvestasi bagi kelemahan Anda. Tetapi bila Anda mencari peluang, maka Anda dapat mempercayai jaringan, &lt;i&gt;network&lt;/i&gt;, Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi sisi menarik mengenai ekonomi jaringan yang jelas bermain seirama dengan kelebihan manusia yang hakiki. Pengulangan atau repetisi, sekuel, mengopi dan otomasi, di era digital kini semua cenderung bebas biaya. Gratis. Sementara segi-segi inovasi, orisinalitas dan imajinatif semakin menjulang nilainya ! (Catatan : alinea penting ini justru diedit, hilang, dalam artikel saya di Kompas Jawa Tengah itu !-BH).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berefleksi ke belakang, Solo pernah melahirkan tokoh-tokoh inovator seperti Ronggowarsito, Yosodipuro, Martopangrawit, sampai Sardono W. Kusumo, Rendra dan Arswendo Atmowiloto. Atau bahkan juga tokoh sekaliber Ahmad Baiquni dan Amien Rais. Termasuk juga kini, Mayor Haristanto dengan Republik Aeng-Aeng-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk modal besar Solo seperti disebut Kafi Kurnia dan terlebih peluangnya bersinergi dengan budaya ekonomi jaringan yang mengedepankan inovasi, seluruh &lt;i&gt;stakeholder&lt;/i&gt; kota Solo memiliki tantangan bagaimana mengubah kotanya menjadi magnit bagi kalangan inovator, dari mana pun di dunia, untuk datang di Solo. Sebagaimana kemajuan kota atau negara banyak dilakukan para pendatang, kehadiran mereka dapat menjadi katalisator dan stimulator bagi kalangan inovator asli Solo sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sebagai warga kelahiran Solo dan merujuk gagasan pembangunan Techno Park di Mojosongo, saya ingin beriur gagasan dengan memimpikan Solo sebagai Solocon Valley, &lt;i&gt;plesetan&lt;/i&gt; dari Silicon Valley, kluster area di negara bagian California AS yang dihuni perusahaan-perusahan teknologi informasi ternama di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjanya di sana yang merupakan otak-otak brilyan itu ibarat campuran seniman dan ilmuwan. Atmosfir suasana kerja yang tidak formal karena kekakuan birokrasi akan membunuh inovasi, mereka pun berinteraksi dan mematangkan ide-idenya di kafe-kafe, dengan obrolan hingga larut malam, yang suasananya tak jauh berbeda dari suasana lapak-lapak &lt;i&gt;wedangan&lt;/i&gt; di Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Gothendipity dan Gempa Bumi. &lt;/b&gt;Artikelku di atas mengenai &lt;i&gt;network economy&lt;/i&gt; itu, penginku suatu saat, bisa dibaca oleh Niniz, perempuan memesona, yang aku temui tanggal 18 Juli 2006 di Bandara Adisucipto, Yogyakarta. Lima hari sebelumnya ia tiba di Jakarta setelah menempuh perjalanan 12 jam lebih dari kota tempat tinggalnya, London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tinggal di Wonogiri. Niniz selama ini sudah lebih dari 20 tahun berdomisili di London. Kita ketemu melalui Internet. Tetapi dipertemukan secara nyata oleh gempa bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirinya sebagai pekerja sosial dan pendiri sebuah lembaga donor, &lt;i&gt;charity foundation&lt;/i&gt; yang berkedudukan di London, telah menjelajah sampai di daerah-daerah konflik, seperti Ambon, Poso, Ternate, sampai Aceh. Ia menaruh kepedulian terhadap nasib mereka yang sering terlupakan di daerah bencana dan konflik, yaitu anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slogan lembaganya begitu menyentuh : &lt;i&gt;Give the children hope. Please give them opportunity to go back to school and hold their pencil again&lt;/i&gt;. Secara bercanda, aku katakan padanya bahwa kelak kata &lt;em&gt;“their pencil”&lt;/em&gt; itu bisa digantikan dengan, &lt;em&gt;“their laptop again&lt;/em&gt;.” Niniz punya angan-angan lebih tinggi. “Kalau kelak lingkupnya menjadi internasional, aku dibantu ya mas ?,” rajuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam foto-foto yang ia kirimkan, ia nampak &lt;i&gt;sumringah&lt;/i&gt; dan cantik ketika berada di tengah anak-anak yatim yang menjadi anak asuhnya. Dalam dirinya nampak kental terpateri pesan luhur dari lirik lagu indahnya Carpenters, &lt;i&gt;Bless The Beast And Children&lt;/i&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bless the beasts and the children&lt;br /&gt;For in this world they have no voice&lt;br /&gt;They have no choice&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bless the beasts and the children&lt;br /&gt;For the world can never be&lt;br /&gt;The world they see&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Light their way&lt;br /&gt;When the darkness surrounds them&lt;br /&gt;Give them love&lt;br /&gt;Let it shine all around them&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bless the beasts and the children&lt;br /&gt;Give them shelter from a storm&lt;br /&gt;Keep them safe&lt;br /&gt;Keep them warm&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun, karena menyukai dirinya dan misi hidupnya, secara &lt;i&gt;sembrono&lt;/i&gt; pernah menulis dalam salah satu email untuknya dengan isi berandai-andai : bila saja Wonogiri atau Jawa terjadi bencana alam atau konflik, saya berharap ia bisa datang dari London untuk menyantuni, sehingga aku bisa bertemu dengan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata pepatah, hati-hati dengan harapan Anda. Karena sebagian besar harapan itu akan terpenuhi. Saya lalu teringat kata &lt;i&gt;gothendipity&lt;/i&gt; yang dikenalkan oleh &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Tony_Buzan"&gt;Tony Buzan &lt;/a&gt;(1942 - ), pakar &lt;i&gt;mind mapping&lt;/i&gt; dan penemu istilah &lt;i&gt;mental literacy&lt;/i&gt; yang mengajarkan bagaimana otak kita mampu belajar secara cepat dan alamiah sehingga kita mampu mempelajari apa pun yang menjadi minat-minat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata &lt;i&gt;gothendipity&lt;/i&gt; merupakan hasil amalgamasi, peleburan cerdas antara ajaran penyair, novelis dan dramawan Jerman, &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Johann_Wolfgang_von_Goethe"&gt;Johann Wolfgang von Goethe &lt;/a&gt;(1749-1832) dengan kata &lt;i&gt;&lt;a href="http://en.wiktionary.org/wiki/Serendipity"&gt;serendipity&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, yang artinya kesanggupan untuk menemukan sesuatu keterangan secara tak disengaja waktu mencari sesuatu yang lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saat seseorang benar-benar melakukan sesuatu, maka takdir juga bergerak : segala sesuatu terjadi untuk menolong saya, yang bila saya tidak melakukan sesuatu, maka itu tidak akan pernah terjadi. Seluruh aliran peristiwa berasal dari keputusan yang akan menyebabkan timbulnya semua insiden dan bantuan material yang tidak diduganya, di mana tidak seorang pun dapat menduga kalau itu akan terjadi kepadanya. Apa pun yang Anda lakukan atau impian yang Anda impikan, mulailah. Keberanian memiliki kejeniusan, kekuatan dan keajaiban di dalamnya. Mulailah saat ini,” demikian kata Tony Buzan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 27 Mei 2006, gempa besar itu melanda Yogyakarta, Klaten, dan Pantai Selatan Pulau Jawa. Satu jam sebelum terjadi gempa, jam 5 pagi, aku memperoleh SMS dari Niniz, ia pengin menelpon, ingin pamit karena sore harinya ia berangkat &lt;a href="http://www.alshahida.blogdrive.com"&gt;berwisata ke Turki. &lt;/a&gt;Obrolan pun terjadi. Ia menasehatiku untuk pergi ke dokter gigi, juga menanyakan apa aku siap untuk menikahinya di Aceh, sejurus sebelum gempa terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lari keluar rumah, tanpa bilang-bilang untuk memutus pembicaraan telepon. Ketika gempa mereda, sokurlah, Niniz di London belum menutup teleponnya. Aku menceritakan apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang hari, tanggal 18 Juli 2006, di Bandara Adisucipto, Yogyakarta, aku bertemu untuk pertama kali dengan Niniz. Setelah menyerahkan barang bawaan wajibnya ketika ia mengembara, yaitu laptop, handycam, kamera digital dan kamera semi otomatis, kepadaku, ia kembali masuk. Ia muncul lagi, mendorong &lt;i&gt;trolley&lt;/i&gt; berisi tumpukan kardus. Isinya berupa beragam mainan edukatif untuk anak-anak, biskuit, sampai kembang gula. Itulah bawaannya, yang akan ia sumbangkan untuk anak-anak korban gempa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun lalu menambahkan, “dan koper satu itu, semuanya untuk mas”. Isinya antara lain, buku peta kota London (“bikin pusing orang Wonogiri”) dan buku sepakbola pesananku, &lt;u&gt;Ingerland : Travels With A Football Nation&lt;/u&gt; (2006), karya Mark Perryman. Juga oleh-oleh kejutan : CD “I Believe I Can’t Fly”-nya &lt;i&gt;stand up comedian&lt;/i&gt; Ahmed Ahmed, keturunan Mesir asal California AS. Ia seorang komedian muslim. CD-nya itu juga berisi pentas dirinya bersama komedian Yahudi, bekas rabbi, Bob Alper, bertajuk “One Muslim, One Jew, One Stage : Two Very Funny Guys.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku hanya mampu menyambut Niniz dengan sekuntum mawar. Mawar Wonogiri. Juga bisikan : “&lt;i&gt;I love you&lt;/i&gt;.” Ia pun sering membalas dengan ungkapan canda, “&lt;i&gt;same&lt;/i&gt;, &lt;/i&gt;same&lt;/i&gt;, mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Menghamburkan Waktu dan Penemuan.&lt;/b&gt; John Howkins dalam bukunya &lt;u&gt;The Creative Economy : How People Make Money From Ideas&lt;/u&gt; (2001), antara lain telah mengatakan : “&lt;em&gt;Treat the virtual as real and vice versa. Cyberspace is merely another dimension to everyday life. Do not judge reality whether it is based on technology but by more important and eternal matters such as humanity and truth.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Aku pernah tulis dalam email : “Ninizku, alinea terakhir ini telah berbicara seratus persen pula tentang kita, bukan ? Kita ketemunya di Internet. Bukankah perasaan saling mencintai antara kita, yang tumbuh &lt;em&gt;stronger and stronger day by day&lt;/em&gt; itu adalah &lt;em&gt;eternal matters such as humanity and truth&lt;/em&gt; juga ? &lt;em&gt;You bet&lt;/em&gt;. Tak salah lagi. Hidup blog. Hidup Internet !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejatinya,” kembali menurut Kevin Kelly yang aku kutip dalam tulisanku di &lt;u&gt;Kompas Jawa Tengah&lt;/u&gt; diatas, “menghambur-hamburkan waktu dan bekerja tidak efisien merupakan jalan menuju penemuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercermin pada apa yang aku lakukan selama ini, bagiku, menghabis-habiskan waktu untuk merancang dan mengisi situs–situs blogku selama ini, ternyata merupakan jalan menuju penemuan. Bahkan terbesar untuk hidupku : menemukan seorang Niniz, untuk masa depanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja semua itu tidak terjadi dalam kesempatan dan waktu yang ideal. Niniz pun pernah menulis gugatan gemes dalam SMS (30 April 2006) : &lt;em&gt;Where were u all these times&lt;/em&gt; ? Mas kemana saja selama ini ? Kenapa baru sekarang kita jumpa ? &lt;em&gt;I miss U&lt;/em&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan Niniz yang manis. Juga menggemaskan. Kenapa aku baru menjumpainya ketika umurku mencapai 53 tahun, tepat pada tanggal 24 Agustus 2006 nanti ? Tidak masalah. Salah seorang penyanyi yang aku idolakan sejak tahun 1972 dengan lagunya &lt;em&gt;Gypsies, Tramps &amp;amp; Thieves, &lt;/em&gt;yaitu Cher, mungkin telah membantuku untuk memberikan jawaban :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;If grass can grow through cement,&lt;br /&gt;love can find you at every time in your life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Kalau rerumputan mampu tumbuh menyeruak di permukaan semen, maka cinta pun mampu menyapa dirimu, setiap saat, dalam hidupmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri, 13-16 Agustus 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cty&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-115569874252653885?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/115569874252653885/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2006/08/network-economy-kelinci-london-aku-dan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/115569874252653885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/115569874252653885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2006/08/network-economy-kelinci-london-aku-dan.html' title='Network Economy, Kelinci London, Aku dan Cinta'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-115189855591258067</id><published>2006-07-02T20:46:00.000-07:00</published><updated>2006-07-02T20:50:22.100-07:00</updated><title type='text'>Send Me An Angel, Mawar Bromley dan Mimpi Jerman Juara Dunia 2006</title><content type='html'>Oleh : &lt;a href="http://bukabeha.blogspot.com"&gt;Bambang Haryanto&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Email : &lt;a href="mailto:humorliner@yahoo.com"&gt;humorliner@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Wise man said just find your place&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;In the eye of the storm&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Seek the rose along the way&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Just beware of the thorns&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Scorpions, “Send Me An Angel”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Jembatan Budaya Antarbangsa.&lt;/b&gt; “Sepakbola merupakan salah satu aktivitas yang paling mampu mempersatukan umat manusia,” demikian pendapat Nelson Mandela. Di tengah mabuk dan demam Piala Dunia 2006 saat ini, pendapat pejuang kemanusiaan asal Afrika Selatan yang sering berpakaian batik itu tentu tak bisa dipungkiri kebenarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga bagi diri saya pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang tinggal di Wonogiri, Jawa Tengah, Indonesia, seperti mudah terkait dengan isi pikiran seorang Klaus Meine, seseorang yang tinggal di Jerman sana. Ia berkata mula-mula bahwa musik rock ‘n’ roll dan sepakbola berjalan bergandengan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepakbola dan musik mampu mengubah dunia sebagaimana yang terjadi di Jerman saat ini. Seluruh negeri terbius dalam suasana pesta dan perayaan untuk penggemar sepakbola di seluruh dunia. Perasaan yang sungguh-sungguh fantastis. Hanya sepakbola dan musik yang mampu menjembatani beragam negara dan beragam budaya karena keduanya merupakan bahasa yang bersifat universal,” tutur Klaus Meine.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klaus Meine adalah vokalis kelompok musik legendaris Jerman, Scorpions. Ketika menelusuri situs resmi Piala Dunia 2006, saya seperti terlempar kembali ke tahun 1974 ketika membaca cerita tentang dirinya dan Piala Dunia. Saat ditodong pertanyaan sejak kapan ia pertama kali menonton helat Piala Dunia, Klaus Meine menjawabnya : Tahun 1974. Ia dan kelompoknya yang menelurkan monster hit lagu “Wind of Change” (1991) kemudian mengenang pertandingan final Piala Dunia 1974 saat Jerman bertemu Belanda yang ia saksikan melalui televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Piala Dunia 1974 sangat penting maknanya bagi generasi saya dan telah mengabadikan sosok-sosok pesepakbola besar di jamannya. Tentu saja Franz Beckenbauer, tetapi juga pemain besar lainnya seperti Gerd Müller, Paul Breitner, Sepp Maier dan lainnya. Citra kejayaan tim Jerman tak terlupakan seperti halnya ketika Beckenbauer berjalan di stadion Roma saat Jerman meraih Piala Dunia ketiga kalinya di tahun 1990. Kenangan itu akan terpateri abadi pada sepanjang hidup Anda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piala Dunia 1974 saya saksikan pertandingan finalnya melalui televisi hitam putih di Tamtaman, Baluwarti, Solo. Saat itu saya berkuliah di Jurusan Mesin, Fakultas Keguruan Teknik, IKIP Surakarta. Saya ikut menumpang di rumah Eyang Laksmintorukmi, guru tarinya Guruh Soekarnoputra. Salah seorang kerabatnya, Joko Waluyono, adalah teman sekelas saya di SD Wonogiri III ketika ia mengikuti Eyang Laksmintorukmi yang suaminya, Brotopranoto, menjadi Bupati Wonogiri saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piala Dunia 1974 oleh seorang Eduardo Galeano dalam bukunya &lt;u&gt;Football In Sun And Shadow&lt;/u&gt; (2003) disebutkan betapa lawan Jerman di final, yaitu tim Belanda, oleh seorang wartawan Brazil disebutkan sebagai &lt;i&gt;disorganized organization&lt;/i&gt;, organisasi yang tidak terorganisasikan, karena tidak ada pembagian tugas yang terinci baku di antara pemainnya. Mereka menyerang secara bersama dan juga melakukan hal yang sama ketika bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim Belanda juga punya julukan sebagai &lt;i&gt;Machine&lt;/i&gt;, selain memperoleh sebutan sebagai &lt;i&gt;Clockwork Orange&lt;/i&gt;, metafora yang diambil dari judul film terkenalnya Stanley Kubrick untuk menggambarkan kreasi dahsyat permainan &lt;i&gt;total football&lt;/i&gt; yang digubah sosok-sosok jenius Johan Cruyff, Neeskens, Rensenbrink, Kroll dan pemain lainnya. Dengan dirijen pelatih Rinus Mitchels.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, saya yang berumur 21 tahun, belum tahu istilah-istilah keren di atas. Intuisi saya yang membawa untuk memilih Jerman. Pertandingan mendebarkan tersebut berakhir dengan kemenangan 2-1 untuk Jerman. Sejak saat itu saya selalu memfavoritkan tim Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengalami kekecewaan di Piala Dunia 1986 Meksiko. Kali ini saya menontonnya di rumah mBah Suroto, Jl. Belimbing, Balai Pustaka Timur, Rawamangun, Jakarta Timur. Saat itu saya sudah menyelesaikan kuliah saya di Universitas Indonesia dan menjadi penulis lepas tentang teknologi informasi di pelbagai surat kabar di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerman saat itu bisa menyamakan kedudukan 2-2 melawan Argentina. Tetapi umpan jauh lewat kaki kiri si boncel jenius Maradona ke arah Jorge “Number Seven” Burruchaga, membuat benteng Jerman bocor. Gol terjadi, 2-3 dan Argentina meraih juara Piala Dunia untuk kedua kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berhurra, di tahun 1990. Gantian Jerman dengan gol penalti pemain belakang Andreas Brehme, yang saat itu bermain bersama Lotthar Mathaeus dan Jurgen Klisnmann di Inter Milan, meremukkan hati pendukung Argentina. Jerman meraih gelar ketiganya sebagai Juara Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;The Dreadful Night.&lt;/b&gt; Bayangan masa lalu perseteruan sengit antara Jerman-Argentina itu muncul lagi, pada babak perempat final Piala Dunia 2006 Jerman, 1 Juli 2006 yang lalu. Saya menontonnya di Wonogiri. Saya menyebutnya sebagai &lt;i&gt;the dreadful night&lt;/i&gt;, malam yang mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pertandingan digambarkan tim Jerman sedang berlatih memanah. Foto kapten Michael Ballack nampak fokus sedang membidik sasaran. Latihan visualisasi untuk mampu fokus pada sasaran, yang mungkin sengaja disiapkan oleh Klinsmann untuk pemainnya guna menghadapi penentuan hidup-mati melalui adu tendangan penalti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika &lt;i&gt;kick-off&lt;/i&gt; di Olympiastadion Berlin tepat jam 22.00 WIB, saya segera dilanda ketegangan. Walau pun di stadion itu terpampang spanduk bertuliskan “GER 50 - ARG 0 Das Wunder '06'” atau “Keajaiban 2006 : Jerman 50 – Argentina 0,” saya harus terus berusaha mengontrol rasa tak nyaman itu. Upaya saya, antara lain, dengan mengirimkan SMS kepada Niniz, kekasih saya yang tinggal di London :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yankku, aku lagi &lt;i&gt;nervous&lt;/i&gt;, jagoku tim Jerman masih 0-0 vs Argentina. Aku pengiin banget memelukmu yank utk meredakan rasa tegang. &lt;i&gt;Oh, soothe me darling. I love you.&lt;/i&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun membalas : “&lt;i&gt;Dont be too frustating. Its only game. Close your eyes and let me kiss them to soothe your tension. I think I know you wish me to be there.&lt;/i&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, kalau memiliki kekasih yang tidak begitu faham akan sepakbola. Kalau aku disuruh &lt;i&gt;merem&lt;/i&gt;, memejamkan mata, mana mungkin saya bisa menonton sepakbola ? Aku pun membalas lagi : “&lt;i&gt; Thx darling. If I closed my eyes &amp; think of u, very nice &amp;amp; comforting my tension, but I missed the game. Score now, 1-1. I want u desperately &amp;amp; hug you tighter..ILU.&lt;/i&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skor akhir 90 menit adalah : 1-1. Tandukan dahsyat bek Argentina, Roberto Ayala, menerima umpan silang Juan Roman “Si Muka Dingin” Riquelme dibalas dengan tandukan hasil &lt;i&gt;set piece&lt;/i&gt; yang tak kalah brilyan. Kombinasi antara umpan terukur Ballack, disambut tandukan Borowksi (dalam adegan ulangan pada layar televisi nampak Klinsnmann melakukan gerakan simulasi yang merupakan fotokopi aksi tandukan umpan mautnya Borowski itu) yang akhirnya diselesaikan secara mematikan oleh tandukan Miroslav Klose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tim Jerman ini saya memiliki favorit, Per Mertesacker (17), &lt;i&gt;defender&lt;/i&gt; muda kelahiran 29 September 1984, jangkung (196 cm) dan tangguh asal Hannover 96. Sokurlah, akhirnya Jerman menang.dalam adu penalti. Oliver Neuville, Michael Ballack, Lukas Podolski dan Tim Borowski, secara dingin dan telak membobol gawang Argentina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jerman 4, Argentina 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penalti Roberto Ayala dan Esteban Cambiasso berhasil dihadang oleh kiper Jens Lehman. Keduanya kemudian pantas menyenandungkan lagu dari Madonna atau Julia Covington yang dipetik dari opera “Evita”-nya Andrew Louis Webber yang terkenal : “Jangan Tangisi Aku Argentina.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk seorang pendukung fanatik Argentina, Nengah Rikon Gunadharma, yang managing director majalah sepakbola &lt;u&gt;Freekick&lt;/u&gt;, telah saya kirimi SMS : “ Argentina terlalu cepat menarik &lt;i&gt;the menacing&lt;/i&gt; Riquelme. Kiper utama cedera, Messi gagal masuk. Jerman beruntung punya Lehman. &lt;i&gt;Next time better&lt;/i&gt;, bos Rikon.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun membalas : “Iya, saya sedih di tengah sorai sorai pendukung Jerman di depan &lt;i&gt;haufbahnhof&lt;/i&gt; Frankfurt. Selamat mas Bambang, Jerman bisa juara.” Rupanya Nengah Rikon menonton dari layar lebar di pelataran stasiun kereta api Frankfurt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ucapannya, sebagai fans tentu saja saya memimpikan Jerman menekuk Italia di semifinal (walau dalam pertandingan persahabatan sebelumnya di Florence, Jerman dibantai Andrea Pirlo dkk 4-1), melaju ke final, lalu meraih juara keempat kalinya dengan menghabisi jago-jago tua Perancis atau pun tim kelas dua dan kejutan, Louis Figo dan tim Portugalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari penentuan itu akan datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah eforia kemenangan Jerman atas Hernan Crespo dkk itu saya memperoleh SMS dari Niniz (London) : “Aku di train mau pulang. &lt;i&gt;I found the book and bought for you&lt;/i&gt;. Masih ada football ? Aku tiba di rumah ½ jam lagi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih, &lt;i&gt;sweetheart&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang ia beli itu adalah karya Mark Perryman, &lt;u&gt;Ingerland : Travels with a Football Nation&lt;/u&gt;. Menurut penulisnya, sejak Piala Eropa 1996 lanskap dunia sepakbola Inggris mengalami perubahan yang signifikan. Terutama yang menyangkut dunia suporternya, akibat semakin kuatnya dukungan penggemar dari kaum perempuan, ras berkulit hitam dan juga dari keluarga. Perubahan itu berdampak pada pendekatan keamanan, liputan media dan juga perilaku suporter di negara-negara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mengirim email Ke Niniz seputar buku itu telah aku katakan impianku : selain ingin menulis biografi tentang kiprah dirinya sebagai pendiri lembaga &lt;i&gt;charitiy&lt;/i&gt; kelas dunia untuk anak-anak yatim dan para dhuafa di daerah-daerah konflik di Indonesia, aku pun ingin menulis budaya sepakbola Inggris dari kacamata suporter sepakbola asal Wonogiri, Jawa Tengah, Indonesia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keajaiban cinta pun terjadi. Niniz walau tidak suka sepakbola, tetapi dirinya telah berbaik hati membelikanku buku tentang sepakbola. Perilaku bak malaikat. Malaikat satu ini, yang menyintai anak-anak yatimnya di Lhoong Aceh itu, juga menyukai tanaman bunga mawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, kalau Klaus Meine telah mampu membawaku untuk kembali mengenang peristiwa Piala Dunia 1974 untuk kemudian selalu menjagokan Jerman, ia pun juga memiliki lagu indah, “Send Me An Angel&lt;/i&gt;,” yang penuh makna bagi hidupku kini dan masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata mutiara Klaus Meine, bahwa orang bijak telah bersabda agar kita mampu menemukan jalan otentik kita masing-masing, walau pun harus melewatinya dalam badai. Temukan selalu mawar dalam perjalananmu, walau harus hati-hati pula terhadap onak di rerantingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini rasanya aku telah melewati sebuah badai bersangkutan. Badai ketegangan. Kemudian juga ikut menikmati kemenangan. Dalam perjalanan meraih itu semua aku telah ditemani dengan sepenuh atensi, juga cinta, oleh sang pemilik hati dan cinta yang aku sebut sebagai Si Pemuja Mawar. Mawar dari Bromley, London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu duri dan onaknya yang tajam. Tetapi di kelopak mawar itu pula aku telah memutuskan untuk melabuhkan impianku tentang masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri, 3 Juli 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cty&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-115189855591258067?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/115189855591258067/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2006/07/send-me-angel-mawar-bromley-dan-mimpi.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/115189855591258067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/115189855591258067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2006/07/send-me-angel-mawar-bromley-dan-mimpi.html' title='&lt;i&gt;Send Me An Angel&lt;/i&gt;, Mawar Bromley dan Mimpi Jerman Juara Dunia 2006'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-114991009462815633</id><published>2006-06-09T20:26:00.000-07:00</published><updated>2006-07-02T20:57:29.726-07:00</updated><title type='text'>Plaisir d’Amour, Museum Topkapi dan Ninizku Yang Lagi Berjalan Sendiri</title><content type='html'>Oleh : &lt;a href="http://bukabeha.blogspot.com"&gt;Bambang Haryanto&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Email : &lt;a href="mailto:humorliner@yahoo.com"&gt;humorliner@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melina Mercouri adalah aktris Yunani. Ia mengasingkan diri ketika Yunani dicengkeram oleh pemerintahan junta militer, dan kembali ke negerinya setelah pemerintahan sipil berdaulat di Yunani. Ia bahkan menjabat sebagai menteri kebudayaan , 1981-1989.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengenalnya sebagai penyanyi dengan lagu lembut dan indah. Kalau tak salah judulnya, Plaisir d’Amour. The Pleasure of Love. Ketika Niniz, perempuan London yang membuatku jatuh cinta akhir-akhir ini bercerita baru saja mengunjungi Turki, nama Melina Mercouri itu tiba-tiba muncul di ingatanku kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan info : hari saat Ninizku akan berangkat berwisata ke Turki, saat ia berpamitan di hari Sabtu Pagi, 27 Mei 2006, di tengah obrolan telepon itulah terjadi gempa bumi besar di Wonogiri. Gempa yang sama yang meluluhlantakkan Bantul, Yogyakarta, Klaten, dan kota-kota sekitarnya. Adakah sesuatu firasat di balik gempa ini, terkait antara diriku dengan Ninizku ? Aku tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ada apa dengan Turki dan kaitannya dengan Melina Mercouri ? Aku pernah menonton film di televisi, aku lupa tahun berapa, judulnya Topkapi. Memang menyangkut nama gedung bersejarah, yaitu museum indah, dengan nama yang sama di Istanbul, Turki. Bagi orang Turki, nama lengkapnya adalah Topkapi Sarayi. Cannongate Palace. Istana Topkapi. Dibangun mulai tahun 1459 atas perintah Sultan Mehmed II dan selesai tahun 1465.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bruce Geller, yaitu kreator film seri Mission : Impossible (1966) yang kini dilayarlebarkan oleh Tom Cruise, menyebutkan bahwa film Topkapi yang ia jadikan sebagai ilham. Film itu memang sebuah crime thriller, menceritakan kisah upaya maling canggih yang berusaha mencuri keris bertatahkan berlian dari museum Topkapi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu bintang dari Topkapi ini, adalah aktris Melina Mercouri tadi. Bintang lainnya adalah aktor Inggris, pemenang Oscar, Peter Ustinov. Nama komplitnya, Sir Peter Alexander Ustinov. Lahirnya, 16 April 1921. Meninggal, 28 Maret 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di tulisan ini, saya mengharapkan Ninizku akan tersenyum membacanya. Lihatlah, Niz, tanggal kelahiran Peter Ustinov itu adalah sama dengan tanggal kelahiranmu. Hari ulang tahunnya Niniz. Sama pula dengan hari lahirnya petenis Spanyol, Conchita Martinez (1972), petenis asal Belarusia, Natasha Zvereva (1971), pebasket legendaris Los Angeles Lakers, Kareem Abdul-Jabbar (1947), penyanyi Bobby Vinton (1935) yang memiliki lagu top Roses are Red (“bunga kecintaan dari Niniz”) dan Blue on Blue, Robert Stigwood (1934), produser film Saturday Night Fever (ada lagu indah yang kiranya pantas untuk aku persembahkan untuk Niniz, How Deep Is Your Love) dan film sekuelnya, Grease, yang sama-sama dibintangi oleh John Travolta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggal 16 April apa selalu terkait dengan mawar ? Aku tidak tahu. Tetapi penyanyi Vince Hill yang lahir tahun 1932 pada tanggal yang sama memiliki lagu hits berjudul Roses of Picardy dan La Vie en Rose (Life and Rose).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Roy Hamilton, penyanyi kelahiran tahun 1929, terkenal karena membawakan lagu karya duet Richard Rodgers dan Oscar Hammerstein II, yang kini menjadi lagu kebanggaan tim sepakbola Liverpool, You'll Never Walk Alone.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ninizku tercinta tinggalnya di London, bukan di Liverpool. Mungkin saja, karena faktor itulah, Niniz belum menyimaki atau mengakrabi pesan-pesan dalam lirik indah dari lagu You’ll Never Walk Alone itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When you walk through a storm&lt;br /&gt;hold your head up high&lt;br /&gt;And don’t be afraid of the dark&lt;br /&gt;At the end of the storm is a golden sky&lt;br /&gt;And the sweet silver song of lark&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirik yang inspiratif bila kita sedang diterjang persoalan berat dalam kehidupan. Karena kita tidak sedang berjalan sendirian. Tetapi, baiklah, kiranya kini Ninizku ini ingin sedang menyendiri. Ingin berjalan sendiri. Sokurlah apabila bisa ia lakukan setiap pagi. Saya bisikkan kata Raymond Inman : If you are seeking creative ideas, go out walking. Angel whisper to a man when he goes for a walk. Temukan gagasan kreatif itu, baby, guna mencerna dan mengurai persoalan-persoalan yang membelitmu kini. Kau mampu. Kau bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kini menanti Ninizku untuk bisa menyanyi, tersenyum, dan tertawa lagi. Paling tidak, semoga Ninizku ini mau mengakui makna ucapan aktor besar Inggris yang sama tanggal kelahirannya dengan dirinya, Peter Ustinov, yang bilang : “Laughter…the most civilized music in the world.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik tentang cinta, mawar, doa di Masjid Biru sampai rencana indah pernikahan kita,  untuk sementara tidak terdengar dari Ninizku ini. Aku merasa seperti kehilangan dunia. Semoga, seperti halnya cerita hilangnya keris bertatahkan berlian dari Museum Topkapi yang akhirnya bisa ditemukan kembali, dengan memohon maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahanku padanya, aku ingin agar Ninizku ini juga bisa kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I miss you. I love you.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri, 10 Juni 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;cty&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-114991009462815633?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/114991009462815633/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2006/06/plaisir-damour-museum-topkapi-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/114991009462815633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/114991009462815633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2006/06/plaisir-damour-museum-topkapi-dan.html' title='Plaisir d’Amour, Museum Topkapi dan Ninizku Yang Lagi Berjalan Sendiri'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-114731256558594331</id><published>2006-05-10T18:50:00.000-07:00</published><updated>2006-05-16T20:43:31.000-07:00</updated><title type='text'>We’ve Only Just Begun, Netnizing  dan Pesan Cinta Yang Melintasi Benua</title><content type='html'>Oleh : &lt;a href="http://bukabeha.blogspot.com"&gt;Bambang Haryanto&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Email : &lt;a href="mailto:humorliner@yahoo.com"&gt;humorliner@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Before the rising sun we fly&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;So many roads to choose&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;We start out walking and learn to run&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sharing horizons that are near to us&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Watching the signs along the way&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Talking it over just the two of us&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Working together day to day, together&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And yes we're just begun to live&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;White lace and promises&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;A kiss for luck and we're on our way&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Carpenters, “We’ve Only Just Begun”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Lelaki Dungu Umur 53 Tahun.&lt;/b&gt; Ucapan teolog Protestan Jerman yang terkenal, Martin Luther (1483–1546), pernah membuat saya senyum-senyum. Tokoh yang pernah menjadi guru besar di Universitas di Wittenberg University (1511) itu telah bilang :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Wer nicht liebt Wein, Weib und Gesang, Der bleibt ein Narr sein Leben lang.&lt;/i&gt; Mereka yang tidak mencintai perempuan, anggur dan lagu, akan tetap menjadi orang dungu pada seluruh sepanjang hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi, jelas tidak pernah meminum anggur. Kalau boleh dibilang pernah, itu sudah lama sekali. Saya mencuri minum anggur milik ibu saya, yaitu anggur untuk kaum ibu yang baru saja melahirkan anak. Saya juga sudah terlalu lama menikmati liburan panjang dalam hal urusan mencintai perempuan. Saya hanya menyukai lagu-lagu saja. Termasuk, tentu saja, lagunya Carpenters.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam posisi seperti ini, bagi lelaki berumur 53 tahun dan bujangan ini, bolehlah saya disebut berstatus setengah dungu atau bahkan dua pertiga dungu. Seratus persen dungu, juga OK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini tidak lagi. Saya masih tetap menyukai lagu-lagu indah. Terakhir, saya terpesona akan pesan ketegaran dari lagu lamanya Dido, “White Flag” yang menawan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;I will go down with this ship&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And I won't put my hands up and surrender&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;There will be no white flag above my door&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;I'm in love and always will be&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kini pun bisa kembali menyukai perempuan yang indah. Mencintainya. &lt;i&gt;I'm in love and always will be&lt;/i&gt;. Walau demikian, saya tetap tidak terbiasa meminum anggur. Hari-hari belakangan ini muncul perbincangan asyik mengenai minuman lain yang tidak kalah berkelas disamping anggur. Tetapi bukan kopi. Selamat tinggal, Howard Schulz dan imperium Starbucknya. Aku kini lebih orientalis,dengan memilih teh.&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Camellia sinensis&lt;/i&gt;, begitu nama latin untuk teh. Perbincangan tentang teh dan teh itu saya lakukan dengan dia yang tercinta, dengan &lt;i&gt;teteh&lt;/i&gt;, begitu nama yang saya kenal saat kenalan pertama. Tak sangka ia begitu mendamba teh. Sehingga kalau seorang novelis dan dramawan Inggris Henry Fielding (1707-1754) berkata bahwa &lt;i&gt; love and scandal are the best sweeteners of tea&lt;/i&gt;, maka cinta yang kita rajut memang terasa menjadi klop adanya. Teh kiranya bakal menjadi menu utama pemanis bagi cinta kita&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berdua.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu penyair, kritikus dan penyusun kamus terkenal dari Ingggris, Samuel Johnson (1709-1784), menambahkan pula komentar elok tentang teh. Katanya, “&lt;i&gt;with tea amuses the evening, with tea solaces the midnight, and with tea welcomes the morning.&lt;/i&gt;” Dengan teh menghibur di senja hari, dengan teh melipur duka nestapa di puncak malam, dengan teh mengucap salam untuk menjemput pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara penyair perempuan Amerika, Alice Walker (1944), dalam kumpulan buku puisinya yang terkenal, &lt;u&gt;The Color Purple&lt;/u&gt; (1982), menyinggung teh dan orang Inggris. Katanya, “&lt;i&gt;Tea to the English is really a picnic indoors.&lt;/i&gt;”  Teh bagi orang Inggris merupakan aktivitas berwisata dalam ruangan. Saya setuju, &lt;i&gt;mbak&lt;/i&gt; Alice. Saya pun tergoda untuk berfantasi telah mengerjakannya pula. Untuk pemuja teh yang tercinta. Pasti, dengan &lt;i&gt;setting&lt;/i&gt; Inggris juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan,suatu pagi musim semi di Bromley, pinggiran kota London yang di sana-sini masih menyisakan hutan, aku menunggui seorang perempuan memesona yang masih dipeluk mimpi-mimpinya. Aku memiliki nama panggilan sayang, Niniz, kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pernah mendapatkan cerita dari dirinya, bahwa ia pernah dalam mimpinya telah menikah dengan seorang pria misterius, berbaju kotak-kotak. Mimpi unik itu kemudian aku jadikan sebagai bahan &lt;i&gt;ledekan&lt;/i&gt;, canda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya katakan, “pria dalam mimpimu itu pasti orang Skotlandia. Bukankah mereka memiliki tradisi unik, memakai &lt;i&gt;kilt&lt;/i&gt;, rok pria, yang bermotif kotak-kotak ? Nah, malam itu, dalam mimpimu, rok itu ia jadikan sebagai baju. Sementara bagian bawahnya ia tak memakai apa-apa. Pantas bila pria misterius itu segera menjauh, ketika kau berusaha mendekatinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niniz pula yang mengajarkan makna dari ritus minum teh orang Inggris kepada saya. “Orang Inggris,” katanya, “kalau sedang terjadi adu argumentasi dan macet, maka salah satu dari mereka akan meminta ijin untuk membuat teh. Itulah momen gencatan senjata.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirinya, pagi itu, dalam fantasiku, masih saja belum terbangun. Dengan sabar, aku menyiapkan beberapa cangkir teh hangat. &lt;i&gt;And with tea welcomes the morning.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umpama Niniz yang lebih dulu terbangun, dirinya telah punya ikrar terhadapku : "&lt;i&gt;When I opened my eyes I whispered “I Love You” as if you are next to me. Done this recently and I’ll do this when we marry. Goodbye to sorrow and loneliness, you are my hero."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harap Anda catat : sang &lt;i&gt;hero&lt;/i&gt; itu, rencana jangka panjangnya punya pekerjaan tetap tiap pagi -- ya menjadi tukang teh baginya. Menyeduh lalu membawa ke ranjang tempat tidurnya. Untuk memberikan salam selamat pagi bagi bangunnya sang bidadari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mulusnya ritus spesial ini, saya telah belajar dari seorang aktris Lynn Fontanne yang pernah memberikan nasehat bagaimana menyajikan minuman teh yang sungguh-sungguh nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan info : aktris Hollywood yang istri bintang film Alfred Lunt selama 55 tahun ini, memang rada unik. Pernah ia berterus terang seperti dimuat di surat kabar &lt;u&gt;The New York Times&lt;/u&gt; (24/4/1978), bahwa dirinya suka berdusta. “Saya berdusta kepada semua orang. Saya pandai berdusta, secara alamiah sebagai seorang aktris layaknya” tegasnya. Yang ia dustakan itu adalah umurnya. Bahkan kepada sang suami, Lynn Fontanne sampai tega dan tidak pernah mengaku umur dia yang sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk "kebohongan" khas wanita yang satu ini, Lynn Fontanne, jelas tidak sendirian. Kita hormati saja hak istimewa, &lt;i&gt;privilege&lt;/i&gt;. kaum perempuan yang satu ini. Bicara umur dan wanita, memang masalah yang peka. Seorang Ellen Kreidman, Ph.D., guru saya dalam hal keterampilan &lt;a href="http://esaiei.blogspot.com/2005/06/seni-merayu-dan-kisah-seorang.html"&gt;merayu wanita &lt;/a&gt;(“&lt;i&gt;so&lt;/i&gt; pasti, saya adalah murid paling bodoh ”), menyatakan isu itu sebagai &lt;i&gt;hot button&lt;/i&gt;. Ultra sensitif.  Tetapi untuk seorang Niniz, aku telah mendapatkan akolade darinya sebagai &lt;i&gt;Qualified !&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau pun demikian, sebagai lelaki, ijinkanlah saya berbagi rahasia kecil kepada kaum pria lainnya. Kalau seseorang perempuan telah sudi mengaku umur dia yang sebenarnya, atau telah memberi Anda beberapa buah foto dirinya, itulah pertanda dirinya telah mengibarkan bendera putih. &lt;i&gt;Sweet, sweet surrender.&lt;/i&gt; Dirinya telah menyerah. Kini saya memiliki belasan fotonya Niniz, dari pelbagai rekaman peristiwa. Akhir bulan ini ia mau ke Turki, aku sudah memesan foto-foto (“ia punya hobi fotografi”) jepretannya dari negara Kemal Attaturk ini pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke teh. Inilah resep menyajikan teh nikmat menurut metode aktris Lynn Fontanne : hangatkan tekonya dulu, tuang teh dua sendok penuh ke dalam teko, jangan berupa teh celup, yang berisi air yang mendidih. Aduk. “Ketika Anda sajikan kepada saya, gantian saya yang akan mengaduknya lagi,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Hati, sayap dan naga terbang.&lt;/b&gt; Teh yang ingin saya sajikan untuk menyapa selamat pagi bagi Niniz memang bukan sembarang teh. Kita kenal tiga varietas besar tanaman teh, yaitu yang berasal dari Cina, Assam (India) dan Kamboja. Teh yang ingin kukenalkan untuk Niniz adalah teh spesial dari Cina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niniz, sayang, teh ini berasal dari propinsi Fujian di Cina. Untuk sampai ke sana pemetik teh harus menaiki rakit-rakit bambu menelusuri ngarai &lt;i&gt;Jiuqu Xi&lt;/i&gt; (Ngarai Berkelok Sembilan). Menembusi kabut. Sesudah itu harus mendaki bukit demi bukit, menaiki karang-karang pegunungan Wuyi yang legendaris untuk mencari Yancha atau teh karang yang langka. Yang kadang-kadang disebut sebagai Teh Yang Dipetik Oleh Monyet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda sangsi atas kisah ini, bacalah bukunya Ron Rubin dan Stuart Avery Gold, &lt;u&gt;Dragon Spirit : How to Self-Market Your Dreams&lt;/u&gt;. (2003). Sebagai orang yang memiliki kredo hidup &lt;i&gt;dreams is my business&lt;/i&gt;, buku ini adalah termasuk yang inspiratif untuk saya baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata mereka berdua, ketika orang Jepang di dalam ritual resminya memerlukan waktu untuk penghayatan penuh yang ditampilkan dalam upacara mempersiapkan dan menyajikan teh pada tamu-tamu mereka, orang Cina secara sederhana menghabiskan waktu justru untuk teh. Mengetahui bahwa teh pada bagian terdalam dari setiap manusia terdapat rasa spiritual teh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan memegang semangkuk teh dan menghirup ketenangan alaminya, Anda dapat merasakan keheningan alam. Segera teh itu merasuki Anda dan Anda merasuki teh tersebut. “Dengan menyerahkan diri pada apa yang telah memasukimu, kau meraih suatu keadaan bahagia yang tidak terucapkan, menjadi satu dengan segala sesuatu, mendapatkan suatu penerangan yang memungkinkan untuk merasakan makna dasar kehidupan, yang tidak lain adalah napas paling dasar dari bumi ini sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Niniz, tahukah kau bahwa teh menciptakan Pikiran Teh ? “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pikiran Teh adalah puncak dari semua misteri. Tidak ada tangan yang dapat melukiskannya. Tidak ada suara yang dapat menjelaskannya. Ia adalah keheningan di dalam aktivitas dan aktivitas dalam keheningan – sumber untuk semua kemungkinan, tempat pertanyaan-pertanyaan bagus dan ide-ide cerdas sedang menunggu untuk dilahirkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Niniz, kau adalah pekerja kreatif, bahkan pendiri dan &lt;i&gt;chairwoman&lt;/i&gt; sebuah lembaga karitas, &lt;i&gt;charity&lt;/i&gt; kelas dunia. Hematku, kau sangat membutuhkan asupan teh Yancha ini. Dan lahirkanlah ide-ide cerdas untuk program lembaga karitasmu itu di masa depan nanti. Coba lihat kertas ini. Ada tulisan Cina. Ini artinya, camkan dalam hatimu, sayang : seekor naga yang tidak memberikan sayap pada hatinya tidak akan pernah terbang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niniz, kau selalu memberi sayap pada hatimu. Hatimu pula yang membawa kau berani menempuh perjalanan, yang mungkin dapat disebut sebagai &lt;i&gt;one way ticket&lt;/i&gt; : musim gugur 1998 di bulan Oktober, telah kau tuliskan, “kusaksikan spektakularnya Eropa. Antara London-Bosnia, merayap lewat Dover lanjut ke Belgium lalu Humberg, Austria, Croatia hingga kota Mostar, Bosnia. Suasana &lt;i&gt;autumn&lt;/i&gt; inilah yang menggoreskan kenangan lama akan sebuah permulaan di mana kami menyaksikan sisa sisa perang baik reruntuhan serta yatim dan janda sekaligus trauma. yang tragis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penamu meneruskan catatanmu : “Lalu di &lt;i&gt;autumn&lt;/i&gt; lainnya aku berada di ujung timur Indonesia, di gugusan pulau seribu sana. Hatilah yang telah menerbangkanku kesana, dibarengi rasa penasaran dan determinasi dan rasa nekad yang membuatku sampai kesana. Tiba di sana saat konflik mereda, saat semua biduk telah kehabisan bekal, tenaga, spirit, saat hampir beranjak semua, kecuali 7 biduk-biduk raksasa tak akan hengkang karena misi dan agendanya baru saja memulai. Aku sungguh terhenyak – menyaksikan sebuah kerusakan total.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pertemuan Hati Dipandu Kerlipan Bintang. &lt;/b&gt;Aku kenal Niniz dipandu oleh momen dan media yang mudah membuat kita tidak mudah mempercayainya. Bagiku, suatu keajaiban. Kami bertemu melalui blog. Melalui Internet. Satu di Wonogiri. Satunya lagi di London. Hitung berapa ribu kilometer jaraknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menggambarkan nuansa kontak antara kami, simak SMS-nya Niniz yang sungguh &lt;em&gt;graphic&lt;/em&gt;, mampu menghadirkan lanskap penuh makna pada benak pembaca antara lain yang berbunyi, &lt;em&gt;"I read your lovely mail on the train to London City. You make me alive again. Agreed that we just begun. Thanks for loving me. You are so wonderful. I LOVE YOU."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Atau yang berbau promosi pariwisata&lt;em&gt;, "Yank, aku lagi di Westminter, Big Ben. Wish you were here. Wonderful weather like our love."&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Merujuk fenomena semacam ini, dan kalau selama ini kita mengenal istilah &lt;i&gt;networking&lt;/i&gt;, membina koneksi atau jaringan, gara-gara Niniz saya kini ingin mengenalkan istilah baru. Semoga penyusun kamus Oxford bisa mengesahkannya. Istilah baru itu adalah &lt;i&gt;netnizing&lt;/i&gt;, yang berarti menggalang kontak melalui Internet yang dipandu oleh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua, setelah saling mencocokan isi buku harian, merasa yakin telah dipandu oleh getar-getar kosmik, pesan yang terpancar pada kerlipan bintang, yang mungkin sudah tergurat di sana ribuan tahun lalu, untuk mampu bersatu. Nora Ephron telah memvisualisasikan secara indah, dengan bintang Tom Hank dan Meg Ryan, dalam &lt;em&gt;Sleepless in Seattle&lt;/em&gt; yang saya sukai pula&lt;em&gt;. "The twinkle stars have told me your wish. I love you and I do,"&lt;/em&gt; tulis Niniz padaku&lt;em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Simak saja pertanyaan dan gugatan Niniz kemudian ketika asmara mengamuk di hati kami &lt;em&gt;: "My heart is singing with joy. Where were you all these times ? Mas kemana saja selama ini ? Kenapa baru sekarang kita jumpa ? I miss you."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Dirinya memang telah sekitar 20 tahun lebih tinggal di London sana. Tetapi hatinya, derai air matanya dan senyumnya menyertai anak-anak yatim, para janda, kaum dhuafa di Aceh, daerah konflik di Poso, Ambon, dan bahkan Bosnia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengerahkan segala macam daya dan dana, di Inggris sana, lalu terjun untuk menyantuni mereka-mereka yang papa. Langsung di tengah-tengah mereka. Ia kini ibarat menjadi album berisi rekaman tragika dan selaksa kepedihan sebagian anak bangsa kita yang terlalu mudah untuk dilupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirinya tidak melupakan mereka yang papa. Ia terus saja bekerja. Ia tak mau dikenal secara umum. Ia agak alergi terhadap publisitas media. Ia maunya hanya bekerja dan bekerja, katanya, agar kelak mampu mengantarnya ke emperan jannah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu isyarat langit apa yang telah terjadi, karena kini saya bisa mengenalnya. Mengetahui impiannya. Mengetahui kegelisahannya. Adalah suatu perjudian besar ketika saya menyatakan diri bahwa saya menyukai dirinya&lt;em&gt;. The stakes are high. The risks are enormous.&lt;/em&gt; Taruhannya besar. Resikonya besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi anehnya, ternyata ibaratnya ia mau saya ajak berjalan berdua ke bibir jurang. Lalu, bersama, &lt;em&gt;let’s jump !&lt;/em&gt; Keberanian memang memiliki power dan magisnya tersendiri, demikian kata Johann Wolfgang von Goethe (1749–1832), sehingga membuat kami tidak terantuk cadas atau bebatuan hitam di dasar jurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua kini justru mampu terbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan baru jadian yang belum lama, sudah muncul kecenderungan yang mudah mengingatkan kata novelis Inggris, Jane Austen (1775–1817)&lt;em&gt; : A lady’s imagination is very rapid; it jumps from admiration to love, from love to matrimony in a moment. &lt;/em&gt;Kami mengibarkan “We’ve Only Just Begun”-nya Carpenters sebagai lagu kebangsaan&lt;em&gt;. "Agreed we just begun,&lt;/em&gt;" tulisnya dalam SMS. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;Begitulah akibatnya, hari-hari ini komunikasi kami selalu diwarnai istilah ILU atau IMU. Mungkin lema yang tidak termuat dalam kamus-kamus standar. Ritus penggunaan istilah itu sebenarnya juga sudah belasan tahun terbengkalai di padang &lt;em&gt;dried loneliness&lt;/em&gt;, di hati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, oh, kini kami sering dan wajib memakainya. Di SMS, email, juga obrolan real time di pucuk malam dengan pesan bolak-balik yang melintasi benua. Memang benarlah, &lt;em&gt;love will find a way&lt;/em&gt;. Tanggal 6 Mei 2006 lalu, ketika saya memberanikan diri untuk melamarnya, dari Wonogiri tempat tinggal saya kini, ia di London sana telah pula memberikan jawaban : I&lt;em&gt; will.&lt;/em&gt; Ia pun kemudian bernyanyi dalam puisi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hujan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Cintamu ibarat derainya hujan yang menyiram bumi kerontang&lt;br /&gt;mengguyur reranting mawar yang hampir mati kekeringan&lt;br /&gt;Namun di kedalaman sang bumi masih tersisa akar yang terbenam&lt;br /&gt;Lalu hujanmu merambah, menghujam ke dasar tanah paling dalam&lt;br /&gt;menjadikan sang akar dan reranting yang kerontang menggeliat&lt;br /&gt;Curah hujanmu adalah curah cinta, curah kasih sayang&lt;br /&gt;Kini, pucuk dan kuntum senyum menyambut kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mawarku kemarin buram&lt;em&gt;, gruesome&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;kini ia bugar dan tegar&lt;br /&gt;siap menata hidup&lt;br /&gt;bersamamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niniz&lt;br /&gt;yang mencintaimu&lt;br /&gt;Ash Row, 9 Mei 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari baru bagi kami berdua memang baru saja dimulai. Tetapi mungkin kita telah pernah berjumpa ribuan tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku membayangkan dirimu sebagai seorang gadis remaja yang cantik. Berbaju putih-putih. Di tengah padang hijau maha luas. Ia asyik bermain. Menganyam angan. Berbisik-bisik, berbicara kepada angin. Kapas-kapas putih yang terbang. Gelembung-gelembung sabun dengan warna-warna pelangi. Memandang dunia ini dengan kedamaian. &lt;em&gt;Tranquality.&lt;/em&gt; Kesentosaan. Tanpa rasa kuatir, tabula rasa, lalu kau mengajakku untuk ikut bermain pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita berdua mengejar kupu-kupu. Sampai di batas hutan. Dalam rerimbunan yang sunyi, selain tetes air di kelopak daun talas yang kemilau bak air raksa, yang ada kemudian adalah debaran hati dan jantung kita. Kita saling menyukai. Kita saling mencintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kita-kita ini sudah ditautkan oleh masa ribuan tahun silam. Masa sebanyak itu lalu digambarkan dalam barisan ribuan kupu-kupu raja&lt;em&gt;, monarch,&lt;/em&gt; yang mungkin terusik kehadiran kita, lalu berhamburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita melepaskan pelukan dan kembali mengejar mereka, menangkapnya satu persatu, lalu mengagumi keindahan ukir dan pahatan warna di sayap-sayapnya. Itulah keindahan cinta kita berdua, sayangku. Kita membincangkannya sampai sore. Sampai tak terasa, merah senja di barat telah semburat tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo kita pulang, kekasihku. Mungkin kita kecapekan. Lalu melanjutkan &lt;em&gt;journey&lt;/em&gt; kita tadi dalam mimpi-mimpi kita. Juga esok hari, yang masih panjang. Sampai jumpa, Ninizku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri, 11 Mei 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;cty&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-114731256558594331?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/114731256558594331/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2006/05/weve-only-just-begun-netnizing-dan.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/114731256558594331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/114731256558594331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2006/05/weve-only-just-begun-netnizing-dan.html' title='We’ve Only Just Begun, &lt;i&gt;Netnizing&lt;/i&gt;  dan Pesan Cinta Yang Melintasi Benua'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-114342749744521690</id><published>2006-03-26T18:42:00.000-08:00</published><updated>2006-03-27T17:58:12.216-08:00</updated><title type='text'>Menulis, Musik, Inspirasi dan Senandung Cresenthya</title><content type='html'>Oleh : &lt;a href="http://bukabeha.blogspot.com"&gt;Bambang Haryanto&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Email : &lt;a href="mailto:humorliner@yahoo.com"&gt;humorliner@yahoo.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bandung adalah kota  inspirasi.&lt;/b&gt;  Paling tidak bagi saya, karena dari kota ini pula saya memperoleh api gairah awal dan pupuk untuk menyuburkan embrio cinta aktivitas menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda jangan salah sangka dulu. Saya tidak pernah tinggal di kotanya tim sepakbola Maung Bandung ini. Juga tidak pernah jatuh cinta sekali pun sama &lt;i&gt;mojang&lt;/i&gt;  Priangan. Inspirasi Bandung itu saya rasakan ketika saya tinggal di Yogyakarta. Tahun 1970-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus dari SMP Negeri 1 di Wonogiri, saya tinggal di Yogyakarta. Bersama ayah saya. Bersekolah di STM Negeri 2, Jurusan Mesin Yogyakarta. Sementara di Bandung saat itu telah lama diterbitkan majalah musik, &lt;u&gt;Aktuil&lt;/u&gt;,  majalah garda depan di jamannya. Majalah itu pula yang memicu saya untuk menulis, dengan  mengirimkan lelucon-lelucon pendek untuk majalah yang mangkal di bilangan Lengkong Kecil ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dimuat, saya memperoleh nomor bukti berupa satu eksemplar majalah. Juga tentu saja, wesel honorarium menulis lelucon itu. Boleh dipastikan, saat itu saya adalah satu-satunya siswa STM Negeri 2 yang bisa menulis untuk majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih lagi karena saya menyukai pelajaran Bahasa Indonesia, apalagi karena gurunya cantik Ibu Mujimah, dan juga menyukai pelajaran Bahasa Inggris yang diampu Pak Sukartolo yang rada nyentrik, oleh teman-teman yang lebih mengakrabi mesin bubut dan  palu besi,  saya mereka juluki sebagai siswa “STM Sastra.” Sebutan ini, ajaibnya,  ternyata beberapa tahun kemudian membuahkan kenyataan. Karena saya bisa berkuliah di lingkungan Fakultas Sastra Universitas Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam majalah &lt;u&gt;Aktuil&lt;/u&gt; itu, yang menarik, antara lain halaman yang memuat lirik lagu-lagu Barat. Saat itu saya menyukai lagu  “For All We Know” dari Carpenters.  Juga “Gipsy, Tramps and Thieves” dari duo Sonny and Cher.  Saya menyukai Cher karena sensual, juga cantik sekali  dengan potongan rambutnya yang poni. Seperti halnya Mariska “Venus” Veres dari Shocking Blue, Belanda,  atau Henny Purwonegoro dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga menyukai kelompok Uriah Heep dengan lagu “July Morning”, “Time To Live,” “Bird of Prey,” sampai “Salisbury.”  Lagunya “Lady In Black” (&lt;i&gt;"oh lady lend your hand, I cried / oh let me rest here at your side."&lt;/i&gt;) beberapa saat lalu masih saya gunakan sebagai ilustrasi untuk menyatakan kekaguman saya untuk  seorang wanita mempesona yang bernama Erika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya mempunyai teman sekelas asal Magelang, Bambang Tamtomo Adiguno. Ia menyukai  kelompok The Bee Gees. Ia mampu bernyanyi seperti Robin Gibb. Teman lain yang juga bisa &lt;i&gt;nyambung&lt;/i&gt; dalam ngobrol seputar musik adalah Muhammad Umar Hidayat yang tinggal di Demangan. Tinggal saya di Dagen, sisi barat Malioboro, dan sering bersepeda di waktu malam untuk main ke Demangan. Kami asyik mengobrolkan musik dan film hingga larut malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan majalah &lt;u&gt;Aktuil&lt;/u&gt; yang paling terkenal saat itu adalah Denny Sabri (almarhum). Belakangan ia sebagai penemu bakat, termasuk yang mengorbitkan Nike Ardilla.  Saat itu Denny Sabri  tinggal di Jerman. Tulisannya yang paling mengesankan ketika ia melaporkan pertunjukan supergroup Deep Purple. Kelompoknya Ian Gillan dkk ini bahkan mampu  dapat ia boyong untuk berpentas di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bayangan seorang murid STM saat itu, menjadi wartawan musik merupakan impian yang &lt;i&gt;glamour&lt;/i&gt; dan mengundang kekaguman. Kekaguman itu beberapa tahun kemudian bahkan menjadi kenyataan. Di Solo, tahun 1970-an akhir, saya melakoni sebagai wartawan &lt;i&gt;freelance&lt;/i&gt; yang menulis reportase pertunjukan musik dan kegiatan kesenian di Kota Bengawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tegarlah Di Tengah Badai.&lt;/b&gt; Majalah &lt;u&gt;Aktuil&lt;/u&gt; tersebut senyatanya telah memberi saya  inspirasi bagi kehidupan saya di tahun-tahun mendatang. Untuk menyukai humor, aktivitas menulis, dan juga musik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang terakhir ini  saya hanya sebagai apresiator saja. Saya sama sekali tidak punya bakat bermusik. &lt;i&gt;Saking&lt;/i&gt;  parahnya, ketika di SMP  untuk mampu melagukan suatu notasi pun, maka di bawah jejeran angka-angka itu harus saya tuliskan dalam bentuk kata yang sesuai bunyinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegemaran terhadap lagu-lagu indah itulah  pula yang mendorong setiap kali mengunjungi toko buku  membuat  saya tergoda menyempatkan diri untuk melongoki buku-buku yang menghimpun lirik-lirik lagu. Walau seingat saya, saya belum pernah sekali pun membelinya.  Dengan rada sembunyi-sembunyi, saya mencatat beberapa lirik lagu yang saya  sukai. Itu terjadi di toko-toko buku konvensional, di mana penjaganya mirip sipir penjara, berpandangan mata seperti elang yang waspada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi di toko buku QB World of Books, Jalan Sunda, belakang Sarinah, Jakarta Pusat, Anda tak usah sembunyi-sembunyi. Ini toko buku bergaya kafe. Di sana terdapat sofa empuk, musik indah mengalun di latar belakang, dan atmosfir  bebas bagi Anda untuk membaca-baca buku apa saja. Sepanjang hari pun, penjaga toko  tidak akan menegur Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ingin lebih nyaman, bawalah buku-buku yang ingin Anda baca ke kafe.  Ditemani secangkir capuccino dan makanan kecil, dan silakan mengembarakan khayalan, mungkin seperti Anda sedang berduaan di Paris dengan panorama kafe jalanan sebagaimana digambarkan dalam  lirik lagunya Oscar Hammerstein II (1895–1960),  ”The Last Time I Saw Paris” (1940) :  &lt;i&gt;Her heart was warm and gay / I heard the laughter of her heart in ev'ry street café.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di QB, September 2002 yang lalu, melalui buku &lt;u&gt;The Lyric Book&lt;/u&gt;, aku sengaja ingin mencatat lirik lagunya  Oscar Hammerstein II yang lebih terkenal, “You’ll Never  Walk Alone” (1945). Kalau Anda penggemar sepakbola, saya yakin Anda akan segera tahu klub Inggris terkenal mana yang memakai lagu ini sebagai himne kebanggaan mereka. Liverpool FC !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;When you walk through a storm&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;hold your head up high&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And don’t be afraid of the dark&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;At the end of the storm is a golden sky&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And the sweet silver song of lark&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lirik yang inspiratif bila kita sedang diterjang persoalan berat dalam kehidupan. Saya juga mencatat lirik “Bless The Beasts And Children” (Carpenters, 1971), “We’ve Only Just Begun” (Carpenters, 1970), “A Dream Is A Wish Your Heart Makes” (dari film &lt;i&gt;Cinderella&lt;/i&gt;-nya Disney, 1948), “Misty” (Johnny Mathis, 1955), sampai “You’ve Got a Friend” (James Taylor, Carole King, 1973).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga  “A Time For Us” (Andy Williams, 1968), yang menjadi lagu tema film &lt;u&gt;Romeo &amp; Juliet&lt;/u&gt;, adaptasi naskah dramanya Shakespeare, yang digarap oleh sutradara Franco Zeffireli (1968).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;A Time For Us.&lt;/b&gt;  Apa manfaat musik bagi aktivitas menulisku ?  Tidak ada sesuatu hal yang boleh disebut sebagai spesial. Sebuah artikel tentang &lt;a href="http://www.korepetycje.com/creative-writing.html"&gt;tips menulis kreatif &lt;/a&gt;antara lain  menyebutkan aktivitas mendengarkan musik dapat menjadi sarana menuai inspirasi atau  gagasan. Hal yang sama juga dapat dieptik dari buku. Saat nonton televisi. Atau film.  Semua itu aku setujui. Ide menulis dapat dipetik dari sumber mana saja.  Aktivitas paling favorit untuk diriku, untuk tujuan yang sama, adalah dengan melakukan olahraga jalan kaki pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan November 2005 yang lalu, cakrawala pemahaman saya mengenai manfaat musik, kiranya bertambah kaya. Sumbernya adalah teman yang ketemunya di jagat maya, Lasma Siregar,  yang mengaku sebagai petani pemetik strawberry di hutan Vermont. Ini bukan nama negara bagian di ujung timur laut Amerika Serikat, tetapi Vermont yang konon berjarak 20 stasiun kereta api dari kota Melbourne, Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara setengah lusin buku yang ia kirimkan,  Lasma Siregar  menyelipkan sebuah  buku mungil manis, bersampul ungu, dihiasi foto artistik seorang wanita tanpa busana. Tetapi sosoknya tidak menyemburkan  pesona erotika yang banal. Dirinya tampil dalam pose salah satu posisi olah yoga, seolah mengambangkan &lt;i&gt;tranquality&lt;/i&gt;, suasana keheningan. Judulnya, &lt;u&gt;5-Minute Therapies : Natural Remedies for Body, Mind &amp; Spirit&lt;/u&gt; (1999). Ditulis oleh Denise Rowley. Manfaat musik dibahas dalam bab “Mind-Body Harmony”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Musik adalah darah kehidupan tradisi kita”, tulis Denise Rowley.  Musik mampu mengangkat semangat jiwa kita, memesona, menyemaikan kesedihan dan memekarkan penghiburan.  Musik terkait dengan emosi-emosi kita,  memberikan ilham, meneguhkan kemanusiaan kita dan juga tempat kita di dunia ini. Musik membangkitkan kenangan dan harapan, dan memperkuat sistem kekebalan tubuh kita pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah nasehat Denise Rowley : nikmati dan hayati musik dalam pelbagai interaksi. Bernyanyilah seirama melodi yang mengalun. Gerakkan tubuh Anda seharmoni iramanya. Rubuhkan sikap malu-malu atau menahan diri pada diri Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Integrasikan musik dalam kehidupan Anda sehari-hari. Apakah Anda sedang berada di mobil, ketika meresapi sejuknya semprotan air di bawah &lt;i&gt;shower&lt;/i&gt;, ketika makan malam, saat-saat melamun, atau ketika mengisi formulir pembayaran pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau seperti tutur William Shakespeare dalam &lt;u&gt;Twelfth Night&lt;/u&gt; (1601), &lt;i&gt;”If music be the food of love, play on,”&lt;/i&gt; maka bayangkanlah betapa indah dan bergeloranya  pengalaman yang terjadi apabila musik juga dirancang serasi untuk dihadirkan saat Anda sedang bercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;A time for us, someday there’ll be&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;when chains are torn by courage born&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;of a love that’s free&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;A time when dreams, so long denied&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Can flourish, as we unveil the love&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;we now must hide&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;A time for us someday there’ll be&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;A new world, a world of shining hope&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;for you and me.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, seorang Cresenthya menarikku untuk sama-sama menyenandungkan “A Time For Us” itu. Dirinya yang begitu muda, memendam gejolak &lt;i&gt;ice and desire&lt;/i&gt;,  membuatnya berani melakukan pengembaraan  fantasi yang terjauh. Terbang untuk menjadi warga Verona, sekaligus membayangkan kami masing-masing sebagai reinkarnasi anggota keluarga Montague dan Capulet yang saling berperang dan bercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya,  orkestrasi totalitas dirinya saat itu ibarat musik pula, sehingga menjadi momen &lt;i&gt;eternal&lt;/i&gt; yang sering  berkelebat  untuk menjadi ide tulisan ini. Sebagai ilustrasi telah diawali dengan inspirasi melambung tentang kota Bandung, kemudian dirampungkan dengan iringan jeritan khasnya  Dolores O’Riordan  dari  The Cranberries.  Dalam lagunya : “Linger.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri,  8-27/3/2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-114342749744521690?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/114342749744521690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2006/03/menulis-musik-inspirasi-dan-senandung.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/114342749744521690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/114342749744521690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2006/03/menulis-musik-inspirasi-dan-senandung.html' title='Menulis, Musik, Inspirasi dan Senandung Cresenthya'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-113806813465502598</id><published>2006-01-23T17:52:00.000-08:00</published><updated>2006-01-29T18:20:53.436-08:00</updated><title type='text'>”Now she's walking through the clouds” : Mengenang Anez, Asma, Anjing dan Asmara</title><content type='html'>Oleh : &lt;a href="http://bukabeha.blogspot.com"&gt;Bambang Haryanto&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Email : &lt;a href="mailto:epsia@plasa.com"&gt;epsia@plasa.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Now she's walking through the clouds&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;With a circus mind&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;That's running wild&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Butterflies and zebras &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And moonbeams and fairytales &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;All she ever thinks about is riding with the wind&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jimi Hendrix, “Little Wing”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;ANJING YANG MEROKOK.&lt;/b&gt; Komedian Steve Allen mengidap sakit asma. Tetapi dirinya merasa tidak punya masalah dengan penyakit gangguan kronis pernafasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bilang : “Asma bukanlah gangguan bagi saya, kecuali bila saya berdekatan dengan rokok dan anjing. Satu hal yang sangat dan paling mengganggu saya adalah bila anjing-anjing itu merokok pula”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Riaty, Cresenthya Hartati atau pun Widhiana Laneza, pastilah saya pantas mereka daulat sebagai “anjing yang merokok pula.” Alias sebagai oknum pengganggu yang berpotensi membahayakan kesehatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena memang mereka memiliki kesamaan yang saya tidak tahu mengapa terjadi begitu saja. Ketiganya sama-sama mempunyai sakit asma. Dan saat itu, saya adalah seorang perokok berat pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perokok dan pengidap penyakit asma, jelas tidak &lt;i&gt;matching&lt;/i&gt;. Inilah kemudian ilustrasi dari interaksi yang terjadi : bersama Ria yang saat itu berkuliah di Jurusan Ilmu Politik FISIP UI, kami pernah melakukan &lt;i&gt;date&lt;/i&gt; “aneh” kala mengunjungi pameran buku Ikapi di kompleks Jakarta Fair di sekitar Monas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problem pribadi pun segera muncul. Karena memiliki gangguan asma, Ria pasti sangat menderita apabila berdampingan dengan diriku yang juga tidak tahan untuk tidak merokok. Kompromi yang terjadi antara kita adalah : dalam mengelilingi stan-stan, mencari buku-buku kesukaan, kami kemudian memilih saling jalan sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan &lt;i&gt;bareng&lt;/i&gt; macam apa pula ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;HI-TECH, HI-TOUCH.&lt;/b&gt; Acara &lt;a href="http://esaiei.blogspot.com/2005/03/muri-ku-yang-kedua-sebagai-pencetus.html"&gt;&lt;i&gt;date&lt;/i&gt; dengan skenario aneh &lt;/a&gt;itu, secara tak terduga, sebenarnya juga menyelesaikan masalah tambahan lainnya di antara kami. Aku dan Ria, selain untuk buku-buku humor, sebenarnya kami tidak memiliki selera terhadap subjek buku yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ria yang beragama Islam, tetapi saat SMP dan SMA ia belajar di sekolah Katholik, menyukai (saat itu) buku-buku agama. Sementara saat itu, tahun 1986, aku menyukai buku-buku komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, setelah keliling-keliling pelbagai stan buku secara &lt;i&gt;solo&lt;/i&gt; itu berakhir, kami lalu ketemuan lagi. Kami kemudian saling unjuk masing-masing buku yang dibeli, yang segera menampakkan betapa kontras selera kita. Ria dengan buku-buku agama dan saya dengan buku-buku komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekontrasan itu memicu saya untuk mengeluarkan canda. Saya merujuk ucapan terkenal futuris John Naisbitt dan Patricia Aburdene dengan buku topnya, &lt;u&gt;Megatrends&lt;/u&gt;. yang saat itu lagi berkibar-kibar di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku itu mereka sebutkan bahwa di masa depan akan hadir fenomena &lt;i&gt;hi-tech, hi-touch&lt;/i&gt;. Artinya, ketika seseorang semakin terlibat dalam pemanfaatan teknologi-teknologi tinggi maka dirinya akan tergerak pula untuk menjadi semakin relijius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Canda serius saya : “betapa ramalan Naisbitt dan Aburdene itu bukankah bicara tentang kita, Ria ?” Canda itu saya sampaikan ke Ria dalam bentuk surat. Memang begitulah salah satu ujud ritual antara kami selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau sudah ketemuan, atau telpon-telponan, tetapi untuk hal-hal yang masih perlu diobrolkan, kita senang hati saling menambahkannya dalam bentuk surat-surat yang panjang. Karena Ria suka bilang, “surat-surat Mas Hari sering saya baca tidak hanya satu kali”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang Ria mungkin tidak tahu bahwa dalam menulis surat itu saya harus &lt;i&gt;melek&lt;/i&gt; separo malam. Juga menghabiskan rokok berbatang-batang pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;ORTU TERLALU PROTEKTIF ?&lt;/b&gt; Ria sebenarnya belum banyak bercerita mengenai sakit asmanya. Ia juga tidak rewel tentang kebiasaan jelekku, merokok itu. Yang bisa saya kerjakan : saya tidak akan merokok ketika ketemuan sama dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ria adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang pemimpin redaksi sebuah &lt;i&gt;newsletter&lt;/i&gt; ekonomi yang terkenal. Kalau di rumah, saat dipanggil oleh ibunya dengan “Ria sayang”, terdengar Ria segera membalasnya : “Ya, mama, sayang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, yang berasal dari kultur kota kecil Wonogiri, sahut-sahutan dengan menonjolkan kata “sayang” seperti itu menurut saya rada berlebihan. Silakan mencap saya sebagai &lt;i&gt;kampungan&lt;/i&gt;. Mungkin saya sedang mengalami benturan budaya, budaya urban vs. budaya desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ekspresi kasih sayang yang bagiku rada-rada &lt;i&gt;too much&lt;/i&gt; itu, mungkinkah merupakan wujud sikap orang tua yang terlalu protektif, terlalu melindungi anak-anaknya ? Dan ini hanya kabar burung, bukan info medis yang sahih, konon justru sikap orang tua yang terlalu melindungi tersebut merupakan pemicu utama timbulnya penyakit asma pada anak-anak mereka. Itukah pula yang terjadi pada diri Ria ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu kesempatan lain, Ria saya jemput di kampus dan kami bersepakat &lt;i&gt;keluyuran&lt;/i&gt; ke Pasar Seni Ancol. Ia nampak menikmati jalan-jalan seperti itu. Ia bilang, sejak SMP ia belum pernah mengalami “kebebasan” seperti ini. Juga menambahkan, kalau saja ketahuan orang tuanya, pasti dirinya akan habis-habisan dimarahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah limpahan kasih sayang yang berlebihan justru menjadi penyebab timbulnya penyakit asma ? Diagnosa yang mungkin, sekali lagi, &lt;i&gt;kampungan&lt;/i&gt;. Barangkali yang benar justru yang sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena anaknya menderita sakit asma, maka kondisi rawan tersebut memicu orang tua untuk memperlakukan anak-anaknya secara ekstra dalam memberikan perhatian, perlindungan dan kasih sayang. Pendekatan yang dapat kita maklumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MENGAKU SAKIT ASMA.&lt;/b&gt; Diagnosa yang sama mungkin berlaku atau tidak berlaku untuk seorang Cresenthya Hartati. Ia anak terkecil dari enam bersaudara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis artistik lulusan SMA Tarakanita 2 Pluit Jakarta ini, yang kadang rada-rada &lt;i&gt;reckless&lt;/i&gt;, punya tulisan tangan yang indah serta dikaruniai kaki menawan ini, ketika berkuliah di Desain Produksi Universitas Trisakti mengaku memiliki kedekatan dengan mamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi karena mamanya keburu meninggal dunia saat Hartati masih duduk di sekolah dasar, ia kurasa seperti merasakan sebuah “lubang besar”, kekurangan kasih sayang dalam masa-masa ia menginjak dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Hari, aku punya sakit asma”, akunya terus terang. Itulah sebagian ritual “buka-bukaan” yang masih saya ingat. Ketika kita bersepakat untuk &lt;i&gt;jadian&lt;/i&gt; maka kita saling membuka diri tentang diri kita apa adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hartati melakukannya secara agak sistematis. Dengan membuka catatan-catatan riwayat pribadi yang ia tulis sendiri. Ia pun menambahkan, “untuk semua sedihku, hanya pernah aku ceritakan kepada kamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kini menjadi rada bingung. Dalam kasus Ria, limpahan kasih sayang yang berlebih diduga menjadi penyebab ia menderita asma. Sebaliknya pada kasus Hartati, yang mengalami defisit kasih sayang dari orang tuanya, toh dirinya terus terang mengaku mengidap sakit asma juga. Bagaimana pula ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, biarlah kebingungan itu biar aku simpan sendiri saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain dari pengakuan Hartati itu, bagi saya, malah terasa sebagai suatu ofensif. Serangan untuk pribadi. Apalagi kemudian, berbeda dengan Ria yang tidak rewel dengan kebiasaan merokok saya, Hartati justru berkali-kali menjadikan topik ini sebagai obrolan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya dengan mengirimkan majalah atau guntingan artikel yang membahas mengenai bahaya merokok. “Aku pengin Mas Hari sehat-sehat, juga bisa berumur panjang”, katanya lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah ujud perhatian dia.&lt;br /&gt;Ujud cinta dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sebagai lelaki, seperti halnya suatu pemerintahan, saya merasa tidak ada yang salah dalam kebiasaan merokok saya. Dengan merokok saya merasa lebih kreatif. Itulah sikap keras kepala. Merasa benar sendiri. Tidak menghargai pendapat pasangan tercinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin situasi yang terjadi antara dia dan saya tersebut mencocoki sebuah tesis bahwa wanita selalu ingin melihat pasangannya berubah, sementara lelaki tidak ingin pasangan perempuannya berubah, tetapi pada akhirnya keduanya hanya akan menjadi kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Desperado&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Why don't you come to your senses&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Come down from your fences&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Open the gate&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sangat sulit merubah keyakinan seseorang. Juga untuk kebiasaan merokok. Seperti lirik lagu “Desperado” dari Eagles (1973), yang juga dinyanyikan oleh kelompok musik favorit saya, Carpenters, perubahan itu hanya bisa dimulai dari “dalam” diri orang bersangkutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bajingan tengik, &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;dengarkan kata hatimu &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;keluarlah dari pagar yang mengurungmu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;dan bukalah pintu gerbangmu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujukan Hartati itu akhirnya memang menjadi kenyataan. Saya mau membuka pintu gerbang perubahan dari dalam. Hal itu terjadi ketika suatu malam saya dipaksa berbaring sendirian di rumah sakit Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu saya merasa ada rasa perih-perih di dada saya. Mungkin istilah kedokterannya terkena &lt;i&gt;angina pectoris&lt;/i&gt;. Istilah yang terdengar indah, tetapi menggambarkan kondisi defisit pasokan oksigen ke jantung yang bila berlanjut dapat mengancam jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu slang pemasok oksigen terpatok dalam lubang hidung saya. Saya tergeletak sendirian sambil cemas menyaksikan grafik berwarna kehijauan dengan latar belatang hitam itu menari, menggambarkan irama denyut jantung pada monitor peralatan eletrocardiograf. Itulah irama kehidupan atau kematian yang saat itu telah menantiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman mendebarkan itu, lalu peringatan dokter agar saya berhenti merokok, mendorong saya rela berjuang untuk berhenti merokok. Dan berhasil. Tetapi semua itu justru terjadi ketika saya dengan Hartati sudah bubaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masalah asma. Bagi saya, ada satu hal penting yang belum pernah Hartati ceritakan kepada saya. Kalau dirinya mengidap sakit asma, mengapa ia &lt;a href="http://www.cure-your-asthma.com/articles/asthma01.htm"&gt;memelihara anjing-anjing &lt;/a&gt;di rumahnya ? Lebih berbahaya mana antara asap rokok dibandingkan dengan partikel dari bulu-bulu anjingnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Hartati mencampur adukkan antara alergi dengan asma ? Ia sebenarnya hanya alergi terhadap asap rokok, tetapi tidak dengan bulu-bulu anjingnya, lalu membesar-besarkannya sebagai berpenyakit asma ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku &lt;u&gt;Corinne T. Netzer’s Big Book of Miracle Cures&lt;/u&gt; (1999) menjelaskan bahwa alergi dan asma bukan penyakit yang sama. Walau pun demikian, terdapat kaitan erat, tidak hanya gejala dan pengobatannya, tetapi faktanya penderita asma seringkali menderita akibat alergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asma, faktanya, merupakan salah satu ujud alergi (baik alergi terhadap makanan mau pun alergi terhadap zat-zat yang terdapat udara) yang muncul. Walau pun demikian, penting untuk diingat, tidak semua penderita asma itu memiliki alergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan besar antara asma dan sebagian besar alergi terletak pada tingkat keparahannya. Sementara beberapa alergi (misalnya tersengat lebah) mungkin perlu dirujuk ke unit gawat darurat, tetapi sebagian besar alergi merupakan gangguan kesehatan yang hanya membuat tidak nyaman dan menjengkelkan. Sementara itu, asma merupakan gangguan kesehatan yang kronis dan dapat mengancam jiwa penderitanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala umum alergi meliputi : hidung mengeluarkan ingus (cairan bening, kuning pekat atau kehijauan yang mengindikasikan gangguan flu atau infeksi sinus), &lt;i&gt;sesek&lt;/i&gt;, bersin-bersin, hidung dan mata gatal, mata berair dan bergetah, kulit secara temporer berbisul, bengkak atau ruam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dari alergi, serangan asma tidak melibatkan organ hidung atau mata, walau pun batuk-batuk di pagi hari merupakan gejala yang umum.. Asma merupakan penyakit saluran udara dari paru-paru yang terkena radang dan iritasi. Ketika serangan terjadi, otot-otot pembuluh tenggorokan berkontraksi, menyempit, menimbulkan gejala utama asma, meliputi : &lt;i&gt;mengi&lt;/i&gt;, nafas mencuit-cuit, megap-megap, kesulitan menarik dan menghembuskan nafas, sampai irama bernafas yang cepat dan pendek-pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan Hartati mengenai penyakit asmanya, bagi saya, kemudian merupakan teka-teki yang belum terpecahkan. Yang pasti, saya belum pernah satu kali pun mendapati dirinya saat terkena serangan alergi atau pun asma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ia agak &lt;i&gt;kolokan&lt;/i&gt;, katanya tiba-tiba merasakan melihat objek yang ia pandang menjadi dua. Mirip pandangan seseorang yang mabuk alkohol. Tetapi keluhan aneh Hartati itu tidak perlu berlanjut lama-lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang di dekatnya meminta ia memejamkan mata dan segera Hartati mampu melupakan gangguan penglihatan yang dobel semacam itu. Apalagi ia lalu tenggelam, atau terbang melayang saat merasakan bibirnya dilumat oleh pria yang mencintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;ANEZ, ANJING KESAYANGAN DAN ASMA. &lt;/b&gt;Pada penghujung Desember 2005, asma tiba-tiba kembali menjadi perhatian yang sangat mengagetkan saya. Pemicunya adalah ketika saya memperoleh kiriman e-mail dari Verdi Amaranto, 22 Desember 2005 yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Anto ini adalah kakak tertua dari Widhiana Laneza, atau Anez, wanita indah semampai, yang membuat saya jatuh cinta kepadanya di tahun 1981 sampai tahun 1987.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anez berkuliah di Jurusan Arkeologi, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Anez memiliki beberapa ekor anjing kesayangan, baik yang ia beri nama Grigri (jimat dalam bahasa Perancis), Pancho atau Cakil, Bobi sampai Minggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil Anez rupanya sudah suka terhadap anjing. Lihatlah, dalam foto di bawah ini yang dijepret di tahun 1969, di Hanoi, Vietnam Utara saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Anez_Hanoi1_200.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Widhiana Laneza (1969)&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesona sosok Anez dan relasi uniknya dengan satwa-satwa kesayangannya itu telah memercikkan ilham bagi saya untuk menulis buku kumpulan lelucon satwa, &lt;u&gt;Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa&lt;/u&gt; (Andi, 1987).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img alt="Image hosted by Photobucket.com" src="http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Buku_2_8cm.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;u&gt;Buku Untuk Anez&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anez, anak ketiga dari empat bersaudara. Adiknya Liana Rasanti, meninggal dunia saat baru berumur setahun, 1965.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anez memiliki sakit asma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirinya menderita seperti halnya &lt;a href="http://asthma.about.com/od/famousasthmatics/a/artfameasthma.htm"&gt;tokoh-tokoh dunia &lt;/a&gt;dari Peter Agung (Kaisar Rusia), Ludwig von Beethoven, Charles Dickens (pengarang), Marcel Proust (Novelis Perancis), Theodore Roosevelt (Presiden AS ke 26), John F. Kennedy (Presiden AS ke 42), Elizabeth Taylor (aktris), Martin Scorsese (sutradara film), sampai Dennis Rodman, pemain bola basket AS kontroversial yang nyaris sekujur badannya penuh “seni batik” tato itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertimbangan terkait sakit asmanya itu pula yang membuat Anez memilih bekerja di Bali, dibanding kota Jakarta yang tingkat polusinya begitu tinggi, yang pasti tidaklah ramah bagi penyakit asmanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anez, kelahiran Brussels 28 April 1963, meninggal dunia di Jakarta dalam momen yang menggetarkan hati. Yaitu 3 hari setelah pernikahannya. Pada tanggal 20 Desember 2005 yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Anez meninggal dunia akibat dari sakit asmanya juga ? Mas Anto belum secara eksplisit bercerita tentang hal itu. Aku pun, dengan ikut sedih, hanya bisa menduga-duga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;ANCAMAN ASMA DAN KITA.&lt;/b&gt; Awal bulan Desember 2005, menjelang liburan panjang Natal dan Tahun Baru, American Academy of Allergy, Asthma and Immunology (AAAAI) telah mengeluarkan peringatan, bahwa bagi para penderita asma dan alergi lainnya, musim liburan menyimpan ancaman potensial bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah Anda bersibuk-ria menyiapkan pohon Natal, menengok binatang peliharaan sanak-saudara, atau berpesta menyambut liburan, ancaman pemicu timbulnya alergi mengintai di setiap sudut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akibat ketatnya skedul dan perjalanan yang terus-menerus sepanjang musim liburan, banyak orang mudah terlupa untuk merawat kesehatannya secara tertib bila menyangkut ancaman alergi dan asma”, kata &lt;a href="http://www."&gt;Wanda Phipatanakul&lt;/a&gt;,  MD, MS, FAAAAI, wakil ketua Komite Indoor Allergen dari AAAAI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senantiasa mengingat pemakaian obat dan menghindari pemicu yang potensial merupakan hal penting agar gejala penyakit asmanya dapat terkendalikan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ancaman serangan asma memang bukan hal yang dapat kita sepelekan. Sebagai contoh, di Amerika Serikat, menurut &lt;a href="http://health.yahoo.com/centers/asthma/153"&gt;ISL Consulting Co&lt;/a&gt;., terdapat sekitar 31,3 juta penderita asma. Angka ini naik dari 26 juta di tahun 1997. Terdapat angka 12 juta serangan sakit asma dalam 12 bulan terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 9,2 juta penderita asma berumur di bawah 18 tahun. Sebanyak 4,2 juta anak muda menderita asma dalam 12 bulan terakhir. Kematian akibat asma tercatat 4.487 orang, turun dari angka 5.000 di tahun 1997 dan 4.657 di tahun 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asma merupakan penyakit kronis paling utama yang menyerang anak-anak. Untuk mereka yang berumur 5 sd 17 tahun, asma merupakan penyakit nomor satu yang mengakibatkan mereka mangkir sekolah akibat kekronisan penyakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebanyak 10 juta hari sekolah hilang akibat penyakit asma. Anak-anak penderita asma tergeletak di ranjang sekitar 7,3 juta hari tiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KAMPANYE ASMA GLOBAL.&lt;/b&gt; Untuk mengkampanyekan kesadaran masyarakat luas mengenai asma dan langkah penanggulangannya, telah dicanangkan gerakan Inisiatif Global Penanggulangan Asma (Global Initiative For Asthma /&lt;a href="http://www.ginasthma.com/"&gt;GINA&lt;/a&gt;) yang antara lain mencanangkan Hari Asma Sedunia, yang jatuh hari Selasa pertama bulan Mei. Hari Asma Sedunia tahun 2006 jatuh hari Selasa, 2 Mei 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu gagasan untuk mengkampanyekan kesadaran terhadap asma tersebut, antara lain dengan meluncurkan situs web di Internet yang berisikan edukasi dan petunjuk penanggulangan asma. Juga mengampanyekan lingkungan yang bersih dari asap rokok dan debu pencetus alergi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang bersyukur bisa berhenti dari kebiasaan buruk merokok dan membanggakannya sebagai salah satu prestasi hebat dalam hidup saya, sejak tahun 1989, maka program-program GINA tersebut menantang saya untuk ikut berperan serta di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;UNTUK MENGENANGMU, ANEZ.&lt;/b&gt; Mengilas balik hidup saya, ternyata wanita-wanita terindah yang pernah membuat saya jatuh cinta, diakui atau tidak diakui, termasuk yang dalam fase hidupnya pernah mengidap penyakit asma. Untuk mengenang kebaikan-kebaikan mereka, situs blog tentang asma ini saya luncurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Amor tussisque non celantur.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Love and a cough cannot be hid.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asmara dan batuk tidak dapat disembunyikan Pepatah latin itu pun saya modifikasi : asmara dan asma tidak dapat disembunyikan. Bahkan, lebih lanjut, bagi saya kemudian, asmara yang terantuk pun juga tidak perlu disembunyikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekasih boleh hilang atau pergi, tetapi cinta tetap bisa abadi. Meninggalnya seorang Mumtaz-i-Mahal telah mampu menggerakkan suaminya, Syah Jehan, membangun Taj Mahal di Agra. Kiranya tak kurang eloknya apabila saya tergerak membuat satu-dua blog untuk mengenang wanita-wanita terindah yang pernah membuat saya jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terutama untuk mengenang almarhumah wanita indah, penuh pesona, Widhiana Laneza, “yang kini telah berjalan menembus awan,” &lt;i&gt;now she's walking through the clouds&lt;/i&gt;, blog tersebut saya beri judul untuk mengabadikan Anez, nama panggilannya yang indah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://song4anez3.blogspot.com"&gt;Anez :  &lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://song4anez3.blogspot.com"&gt;Asthmatics New Environment Zone&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog ini dicita-citakan sebagai sarana untuk mempromosikan zona atau lingkungan baru yang ramah terhadap  para penderita asma. Juga diniatkan menjadi salah satu mata rantai yang menghubungkan para penderita asma,  keluarganya dan fihak-fihak yang menaruh simpati dan empati, dalam semangat saling asah-asih dan asuh untuk berbagi  cerita, solusi, dan terutama saling meneguhkan satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri, 16 Januari 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PS &lt;/strong&gt;: Saya bukan seorang dokter. Blog ini berisikan informasi-informasi yang bersifat non-medis. Untuk menanggulangi penyakit asma Anda, pastikan Anda tetap berkonsultasi dengan dokter yang berkompeten. Terima kasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-113806813465502598?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/113806813465502598/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2006/01/now-shes-walking-through-clouds.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/113806813465502598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/113806813465502598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2006/01/now-shes-walking-through-clouds.html' title='&lt;i&gt;”Now she&apos;s walking through the clouds”&lt;/i&gt; : Mengenang Anez, Asma, Anjing dan Asmara'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-113738216627932977</id><published>2006-01-15T18:56:00.000-08:00</published><updated>2006-01-15T19:29:26.616-08:00</updated><title type='text'>Carpenters, Umur Madonna dan Mengapa Waktu Cepat Sekali Berlalu : Refleksi Tahun Baru Seorang Blogger dan Epistoholik</title><content type='html'>Oleh : &lt;a href="http://bukabeha.blogspot.com"&gt;Bambang Haryanto&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Email : &lt;a href="mailto:epsia@plasa.com"&gt;epsia@plasa.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;I know I’ve wasted too much time&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;I know I ask perfection of a quite imperfect world&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And fool enough to think&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;that’s what I’ll find&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Carpenters, “I Need To Be In Love”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PUTRI SOLO SI MACAN LAPAR.&lt;/b&gt; Kalau Anda mendengar ucapan &lt;i&gt;Puteri Solo&lt;/i&gt;, sosok siapa yang segera tergambar di benak Anda ? Gusti Nurul ? Tien Soeharto ? Mooryati Sudibjo ? Poppy Dharsono ? Krisdinah Purnamaningsih ? (“Pasti !”, kata saya). Indri Hapsari ? Dyah Permatasari ? Iga Mawarni ? Tya AFI 2 ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terserah Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kenangan bersama masyarakat Solo terlanjur dikenal luas lagu keroncong berjudul &lt;i&gt;Putri Solo&lt;/i&gt;, yang merupakan ikon yang tidak tergerus jaman untuk menggambarkan sosok putri Solo. Salah satu baris liriknya berbunyi bahwa gaya berjalan putri Solo &lt;i&gt;koyo macan luwe&lt;/i&gt;. Ibarat jalan seekor harimau yang sedang lapar. Pelan-pelan dan gemulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran ini sepertinya mencocoki hasil sebuah riset internasional yang mengungkap gaya hidup &lt;i&gt;alon-alon&lt;/i&gt;, pelan-pelan, masyarakat Solo. Penelitinya adalah Robert Levine, profesor psikologi dari California State of University di Fresno dan kawan-kawan. Hasilnya ia tulis bersama Ellen Wolff, penulis bebas asal Los Angeles.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi riset mereka antara lain di Kantor Pos Solo, tempat saya dulu di tahun 1970-an untuk mencairkan wesel pembayaran honor menulis. Terkisah, ketika periset itu antri membeli perangko, pegawai posnya malah tertarik mengobrolkan mengenai sanak-saudaranya yang tinggal di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya bertanya, apakah mereka mau bertemu dengan omnya yang tinggal di Cincinnati ? Manakah yang lebih baik, California atau Amerika Serikat ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima pengantri di belakang periset &lt;i&gt;bule&lt;/i&gt; itu nampak tidak protes atau mengeluh. Mereka justru ikut menguping pembicaraan yang terjadi. Pegawai kantorpos Solo itu tentu tidak tahu bila &lt;i&gt;bule&lt;/i&gt; tersebut membawa &lt;i&gt;stopwatch&lt;/i&gt; untuk mengukur seberapa lama waktu yang dibutuhkan pegawai pos untuk melayani pembelian sebuah perangko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sebelumnya berkunjung ke kantorpos ini hari Jumat sore. Tentu saja, kantor sudah tutup. Aula kantor sudah disulap menjadi lapangan volley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel Levine dan Wolff yang dimuat di majalah &lt;u&gt;Psychology Today&lt;/u&gt;, Maret 1985, dilengkapi ilustrasi foto pertandingan volley di aula kantorpos Solo tersebut. Tetapi yang mampu mengundang senyum getir, di pojok foto itu nampak sesosok kartun binatang kelinci, berpakaian model manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam fabel barat, kelinci adalah lambang ketergesaan. Di situ, di kota Solo itu, nampak sang kelinci lagi tertidur dengan pulasnya. Mendengkur. Sementara di halaman lain digambarkan dirinya terpontang-panting di jalanan Tokyo dan New York, walau nampak santai, &lt;i&gt;enggar-enggar&lt;/i&gt;, ketika berjalan menyusuri jalanan kota Florence di Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;BINGUNG DI BRASIL.&lt;/b&gt; Gambaran beragam ulah kelinci tadi merupakan simbol pemaknaan atas waktu bagi tiap-tiap bangsa. Kajian yang terkait waktu itu memunculkan pertanyaan menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Brasil di Olimpiade Los Angeles 1984 hanya mampu meraih satu medali emas dari atletnya Isidro del Prado, sementara Amerika Serikat berpesta dengan memborong 30 medali emas dari ajang yang sama, yaitu kolam renang ? Padahal keduanya adalah sama-sama negara besar di benua Amerika. Untuk mencari jawab atas pertanyaan ini, diskusi memang dapat melebar ke banyak segi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert Levine mengajukan tesis menggelitik menyangkut apa yang disebut sebagai waktu sosial, denyut jantung masyarakat dalam memaknai waktu. Secara matematis memang manusia hidup dalam hitungan waktu yang sama, 24 jam sehari, tetapi tidak semua budaya di dunia memaknainya secara sama. Levine yang orang Amerika, merasakan benturan budaya akibat beda pemaknaan waktu ketika mengajar di sebuah universitas di Brasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama Levine di Brasil dijadwalkan mengajar jam 10. Ia datang jam 9.05, lalu berkeliling untuk mengenal kampus itu. Ia fikir dirinya baru berkeliling sekitar setengah jam, tetapi langsung panik ketika melihat jam di salah satu gedung kampus sudah menunjuk waktu 10.20.&lt;br /&gt;Bergegas masuk ruang, ternyata tak ada satu pun mahasiswa. Ia tanya jam pada mahasiswa yang lewat, dijawab 9.55. Lainnya menjawab, tepat 9.43. Sebuah jam di gedung itu menunjuk waktu 3.15. Ia berpendapat, jam-jam penunjuk waktu yang ada tidak akurat, tetapi tidak ada orang yang hirau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika jam kuliah dimulai, banyak mahasiswanya yang telat masuk ruang. Beberapa baru masuk jam 10.30 dan mendekati jam 11. Semuanya nampak merasa tidak bersalah, tersenyum dan mengucap halo, dan mahasiswa lainnya pun tampak tak terganggu. Dalam risetnya, mahasiswa Brasil menyebut seseorang datang terlambat bila ia muncul rata-rata 33 menit melewati janji. Sementara mahasiswa AS menyebut 19 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama tinggal di Brasil, ia baru terbuka matanya bahwa budaya yang mempengaruhi pemaknaan waktu sosial itu. Terungkap pendapat di kalangan mahasiswa Brasil bahwa seseorang yang secara konsisten terlambat itu lebih sukses dibanding mereka yang konsisten datang lebih awal. Mereka menyetujui pendapat umum bahwa seseorang yang berstatus tinggi harus datang terlambat. Ketidaktepatan waktu merupakan simbol sukses. Melihat fenomena Brasil ini kita sebagai bangsa Indonesia seperti memperoleh cermin !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;INDONESIA DI POSISI BUNCIT !&lt;/b&gt; Lebih menarik, kita dapat melihat lebih detil profil tertinggalnya bangsa Indonesia ketika Levine bersama kolega sekampusnya, Kathy Bartlett, melakukan riset untuk memperkaya pemahaman tentang konsep waktu sosial pelbagai bangsa.&lt;br /&gt;Mereka melakukan pengukuran waktu terhadap irama hidup di kota besar dan kota menengah di pelbagai belahan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya Amerika Serikat (New York dan Rochester), Inggris (London dan Bristol), Jepang (Tokyo dan Sendai), Taiwan (Taipei dan Tainan), Italia (Roma dan Florence) dan Indonesia (Jakarta dan Solo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset yang mereka lakukan mengkaji tiga indikasi dasar : akurasi jam pada kantor bank, kecepatan pejalan kaki dan kecepatan pegawai kantorpos melayani pembelian perangko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akurasi waktu terbaik diraih Jepang. Alat penunjuk waktu di setiap 15 kantor bank yang dicek dengan waktu kantor telepon setempat, hanya berselisih kurang atau lebih setengah menit. Di Indonesia, yang menempati peringkat paling buncit dari keenam negara itu, selisih beda waktunya lebih dari tiga menit. Urutannya : Jepang, Amerika Serikat, Taiwan, Inggris, Itali, dan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecepatan seseorang sendirian berjalan kaki menempuh jarak 100 kaki, kembali yang tercepat diraih oleh orang Jepang. Rata-rata waktu tempuhnya hanya 20.7 detik. Orang Inggris menempuhnya 21,6 detik, Amerika 22,5 detik, dan orang Indonesia berstatus paling &lt;i&gt;alon-alon&lt;/i&gt;, lamban, dengan waktu tempuh 27,2 detik. Urutannya : Jepang, Inggris, Amerika Serikat, Italia, Taiwan dan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil riset Robert Levine ketika mengukur efisiensi petugas pos melayani pembelian perangko, yang ilustrasinya seperti dikisahkan di depan, ternyata prestasi pegawai pos Indonesia berada di peringkat 5. Sebab yang paling buncit diduduki pegawai pos Italia. Waktu layanan di Jepang 25 detik dan Italia memakan waktu 47 detik. Urutannya : Jepang, Amerika Serikat, Inggris, Taiwan, Indonesia, dan terakhir Italia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KORUPSI BESAR-BESARAN DI INDONESIA.&lt;/b&gt; Gambaran profil waktu sosial bangsa Indonesia dalam riset Levine di atas, sedikit banyak, memberikan gambaran mengenai posisi bangsa dan negara ini dalam berpacu dengan bangsa lain di kancah internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasan ini pernah saya tulis di harian &lt;u&gt;Kompas&lt;/u&gt; edisi Jawa Tengah (16/9/2004) dengan mengajukan ilustrasi betapa di bidang olahraga misalnya, seperti Brasil, atlet perenang atau lari Indonesia bahkan belum pernah tercatat punya prestasi puncak di kancah seakbar Olimpiade.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di bidang kehidupan sosial, guru besar emeritus IPB, Sjamsoe’oed Sadjad (&lt;u&gt;Kompas&lt;/u&gt;, 17/7/2004), menandai bahwa budaya korupsi waktu kronis melanda para pegawai negeri sipil kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun berhitung : bila 3,5 juta PNS melakukan korupsi waktu hanya satu jam setiap hari, maka 3,5 juta jam sehari rakyat kehilangan kesempatan untuk dilayani. Hitungannya, untuk pegawai negeri bergaji Rp. 8.400.000/tahun, maka akibat korupsi waktu satu jam itu negara dirugikan sebesar Rp. 16 miliar tiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi korupsi satu jam di sore hari. Juga belum lagi kalau gajinya lebih besar dari Rp.700.000/bulan. Bayangkan bila gajinya Rp. 150 juta seperti gaji Dirut Pertamina. Hitung saja, bila datang ke kantor jam 10.00. Seperti di Brasil, di Indonesia juga berlaku tradisi bahwa semakin tinggi pangkatnya maka pejabat Indonesia boleh dan berhak selalu datang terlambat. Belum para dosen di perguruan tinggi yang datang ke kampus hanya kalau memberi kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, kata Prof. Sadjad, rakyat tidak merasa dirugikan. Rakyat tidak sadar uangnya “digerogoti”. Apa karena negeri ini &lt;i&gt;gemah ripah loh jinawi&lt;/i&gt;, subur dan makmur, sehingga kehilangan Rp. 16 miliar per hari masih bisa tertawa-tawa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;GADIS CANTIK DAN KOMPOR PANAS&lt;/b&gt;. Pertanyaan di atas tentu saja tidak membuat saya tertawa-tawa. Mikir-mikir mengenai diri sendiri, terlebih setiap kali mendekati akhir tahun, perasaan yang muncul dan mengusik adalah rasa sedih. Menyesali betapa cepatnya waktu terbang. Hilang. Lenyap. Dan pasti tidak pula kembali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa waktu begitu cepat berlalu ? Tahun 2006 ini saya akan memasuki umur 53 tahun. Berstatus bujangan. Tidak punya pekerjaan tetap. Kalau PNS, dua tahun lagi akan pensiun. Mengidap blogpistoholik, hipokondriak dan kesepian. Memendam banyak harapan dan bercocok tanam beragam impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Why time flies, so soon ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Why time flies, so soon ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa waktu begitu cepat berlalu ? Itulah juga pertanyaan Madonna dalam lagu berirama dansa, “Hung Up” dari album terbarunya, &lt;u&gt;Confessions on a Dance Floor &lt;/u&gt; (2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Josh Tyrangiel menulis resensinya di majalah &lt;u&gt;Time&lt;/u&gt; yang dikutip situs &lt;a href="http://popwatch.ew.com/popwatch/2005/11/what_are_the_cr.html"&gt;PopWatch, &lt;/a&gt;berkata : “Dalam musik dansa, kata yang hadir tampil diulang-ulang, dibengkok-bengkokan, disembunyikan atau ditonjolkan. Bagaimana suaranya muncul dalam momen tertentu jauh lebih penting dibanding makna yang diusungnya, dan Madonna paling piawai dalam kiprah yang satu ini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar Madonna, kontroversi selalu membuntutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu yang digarap bersama dua mantan pentolan ABBA (Benny Andersson dan Björn Ulvaeus), juga Stuart Price itu, mendapat komentar :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Madonna merupakan penampil yang baik, tetapi bukan penyanyi yang baik. Suaranya terlalu lembek, ia tak mampu mencapai nada-nada tinggi dan juga tak mampu bernyanyi pada nada rendah. Pernah dengar peserta kontes American Idol menyanyikan lagunya Madonna ? Tak pernah, karena menyanyikan lagunya Madonna sulit sebagai bukti dirinya memiliki keterampilan menyanyi. Karena memang tidak memerlukan suara bagus untuk menyanyikan lagu-lagu Madonna”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar lain lebih ketus : “Kasihan Madonna, masa kejayaan dia sudah lewat dan segala upayanya untuk tampil agar kelihatan awet muda pasti tidak dan tidak akan pernah berhasil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendukung Madonna &lt;i&gt;sewot&lt;/i&gt; jadinya. Ganti unjuk bicara. “Madonna adalah sang ratu, dan semua pembenci yang memasalahkan umurnya hanya justru menunjukkan dirinya yang sebenarnya lebih menyedihkan. Tak peduli umur mereka, Madonna tampil lebih baik dibanding umur para pembencinya itu, pada umur berapa pun !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya tidak faham mengapa orang menggunjingkan umur Madonna. Ia baru 47, bukan 80 tahun. Mengapa orang memiliki kerangka berpikir bahwa bila Anda sudah melewati usia 40... maka Anda harus segera MATI ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja faktanya. Madonna di umur 47 tahun nampak lebih &lt;i&gt;kece&lt;/i&gt; dibanding gadis Amerika usia 19 tahun pada umumnya (yang dijejali makanan McDonalds)... Madonna nampak luar biasa dan kiranya sanggup menjalani latihan marathon bertahun-tahun dalam menari dan &lt;i&gt;fitness&lt;/i&gt; yang ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komentar mengenai umur adalah komentar yang bodoh....Cher hampir berusia 60 tahun, masih bugar dan aktif. Sementara Tina Turner melakukan hal yang sama ketika hampir menginjak umur 70 tahun !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Why time flies, so soon ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Why time flies, so soon ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu itu, Madonna. Kepada St. Agustine pun ketika ditanyakan kepadanya apa definisi waktu, ia menjawab : “Bila tidak ada orang yang bertanya kepadaku, aku tahu ; tetapi bila diminta untuk menjelaskan kepada yang menanyakannya, saya tidak tahu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fisikawan Isaac Newton sampai Stephen Hawking juga telah mengupas masalah waktu. Tetapi waktu bagi mereka diukur dengan ayunan pendulum, atom-atom yang bervibrasi, dan bukan pengalaman waktu secara psikologis yang tidak terpatok dengan ukuran detik jam atau kalender. Muncul nama Albert Einstein (1879–1955), maha fisikawan kelahiran Ulm, Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agak lucu bagi saya, ternyata penemu Teori Relativitas itu punya fans berat di kota kecil saya, Wonogiri. Penemuan itu pula yang kembali mengusik saya untuk menulis esai ini. Gara-garanya saya menemui sebuah mobil sedan hitam, nomor polisi Wonogiri, di mana pada kap depannya tergambar foto Einstein dengan rambut &lt;i&gt;awut-awutan&lt;/i&gt; yang seksi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dekatnya tertulis kalimat : &lt;i&gt;”When you sit with a pretty girl for an hour it seems like a minute, but when you are on a hot stove, a minute seems like an hour. That’s relativity.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Ketika Anda duduk berduaan dengan gadis cantik, waktu sejam akan terasa semenit, tetapi bila Anda duduk di atas kompor panas maka semenit akan terasa sejam lamanya. Itulah relativitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Einstein rupanya sadar adanya perbedaan antara waktu fisik dengan waktu psikologis di balik ucapannya yang terkenal itu. Berandai-andai saja : apa yang akan terjadi dan rasakan bila kita berdua bersama gadis cantik, tetapi bersama-sama duduk di atas kompor yang membara ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;TERGANTUNG PERSPEKTIF !&lt;/b&gt; Mungkin Einstein bakal menemukan teori yang lain lagi. Tetapi, jujur saja, saya bukan orang yang pandai mengatur waktu. Bahkan cenderung menghambur-hamburkannya. Ketika berkuliah di Solo, saya mendapat julukan sebagai mahasiswa &lt;i&gt;komper&lt;/i&gt;. Terbelakang, &lt;i&gt;laggard&lt;/i&gt;, pencorot, karena lulusnya paling belakangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak terbiasa punya atau memakai jam tangan. Sekitar tahun 1997 pernah oleh teman sekos di Jakarta, Yoyok Subagyo, aku diberi jam tangan yang ada logo Citibank, kantornya bekerja. Saya juga tidak menyukai &lt;i&gt;planner&lt;/i&gt;, tetapi menyukai &lt;i&gt;diary&lt;/i&gt; yang polos saja. Sebagai pencinta buku, saya pun tidak begitu suka membaca-baca buku bertopik manajemen waktu. Pernah memiliki fotokopinya, tetapi tetap saja saya malas membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi di Perpustakaan LIA Jakarta, 14 Mei 1992, saya menemukan artikel menarik tentang waktu dari majalah &lt;u&gt;McCall’s&lt;/u&gt; (10/1991). Judulnya, “Why time flies and how to slow down”, ditulis oleh Bruce Schechter, penulis sains bergelar Ph.D Fisika yang tinggal di New York. Setiap pergantian tahun saya pengin &lt;i&gt;banget&lt;/i&gt; menceritakan tulisan tersebut, juga artikel Robert Levine dan Ellen Wolff di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulis Bruce Schechter, waktu psikologis itu dapat melesat terbang atau merangkak lamban, ternyata tergantung bagaimana kita mengisinya. Semenit menunggu lift terasa lebih lama dari sepuluh menit saat &lt;i&gt;coffee break&lt;/i&gt;. Tetapi kalangan psikolog mencacat bahwa satuan waktu yang lebih besar, bulan atau tahun, terasa melesat lebih cepat ketika umur seseorang bertambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;James Walker, psikolog di Winnipeg, Manitoba, yang mempelajari masalah akselerasi waktu dan dikutip Schechter berkata : “Saat ini umur saya pertengahan 40-an, dan waktu seminggu kini bagi saya tak ada apa-apanya dibanding di tahun 70-an”. Lebih menarik ucapan Robert Southey, penyair dari Inggris : “Dua puluh tahun pertama adalah masa separo terpanjang dalam hidup Anda...waktu itu terasa panjang untuk berlalu ; juga begitu awet ketika dikenang ; dan waktu tersebut mengambil ruang lebih banyak dalam kenangan kita dibanding tahun-tahun sesudahnya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmuwan menyebut hal ini sebagai fenomena “akselerasi waktu subyektif yang terkait dengan penuaan.” Salah satu teori pendukungnya berupa matematika sederhana : satu tahun bagi anak berumur 5 tahun adalah 20 persen dari hidupnya, dan bagi mereka berussia 50 tahun hanya 2 persen saja. Jadi, setahun itu lebih lama bagi anak-anak dibanding bagi orang dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, ada faktor lain yang merubah persepsi kita tentang waktu. Charles E. Joubert, psikolog Universitas North Alabama, yang juga mengkaji akselerasi waktu mencatat bahwa semakin waktu itu terstruktur, berisi skedul dan janji, semakin cepat pula waktu itu melintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh : seharian di kantor itu tak ada apa-apanya dibanding seharian bersantai di pantai wisata. Oleh karena sebagian besar kita lebih sedikit menghabiskan waktu di pantai, tetapi lebih banyak di kantor seiring meningkatnya umur, maka peningkatan waktu yang terstruktur itu pantas dituding sebagai biang kerok mengapa waktu terasa semakin cepat terbang seiring bertambahnya umur kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akselerasi atau bergegasnya waktu, mungkin juga diakibatkan oleh fenomena fisiologis. Di tahun 1932, istri Hudson Hoagland, seorang ahli ilmu faal, terserang flu. Ketika suhu tubuhnya mencapai 104 derajat Fahrenheit, Hoagland segera bergegas menuju apotik untuk membeli obat. Perjalanannya hanya selama 20 menit, tetapi istrinya justru marah-marah, mengatakan lebih lama. Kalau suami lain pasti masalah ini mampu memicu saling tarik urat, Hoagland justru menaruh perhatian secara serius terhadap keluhan istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hoagland pernah membaca bukunya psikolog Perancis, Henri Pieron, bahwa kecepatan proses psikologis seseorang itu dipengaruhi oleh suhu, demikian pula persepsinya tentang waktu. Karena semakin meningginya suhu akan pula meningkatkan reaksi kimia lebih cepat, hingga Pieron menyimpulkan bahwa waktu pun akan terasa lewat lebih cepat dibanding yang senyatanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hoagland lalu melakukan tes untuk teori di atas, dengan meminta istrinya menghitung angka sampai 60 dengan keras-keras. Ia memperkirakan satu hitungan memakan waktu satu detik. Ia mengukurnya dengan &lt;i&gt;stopwatch&lt;/i&gt;. Yang terjadi, istrinya menghitung paling cepat ketika demamnya meninggi, yang menjelaskan mengapa istrinya tersebut merasakan waktu senyatanya berjalan begitu lamban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah fenomena serupa juga berlaku bagi kita yang sehat ? Pada tahun 1950-an ahli biologi Semour Key menemukan bahwa otak menerima pasokan darah yang kurang dan mengonsumsi oksigen yang lebih sedikit ketika kita semakin menua. Ia pun menduga, fenomena ini akan memperlambat tingkat metabolisme otak. Apabila tingkat metabolisme berlangsung cepat membuat waktu nyata terasa lamban, sebagaimana hasil temuan Hoagland, maka tingkat metabolisme yang rendah membuat waktu terasa cepat berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MEMPERLAMBAT DETAK JARUM JAM.&lt;/b&gt; Orang-orang yang terdesak akselerasi waktu yang membingungkan itu mencoba mencari pelbagai solusi. Bahkan dengan cara yang tidak lajim. Dunbar, pilot pengebom dalam novel &lt;u&gt;Catch-22&lt;/u&gt; dari Joseph Heller, benar-benar mengharapkan waktu berjalan pelahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau ia berusia muda, ia memandang dirinya tua, karena ia dapat saja terbunuh dalam misi penerbangan yang akan datang. Untuk memperlambat waktu hidupnya yang melesat cepat, ia melakukan aktivitas yang membuat dirinya bosan : “Dunbar suka melakukan olahraga tembak sasaran terbang karena membenci menit-menit yang berlalu dan kemudian waktu pun berjalan dengan lamban pula”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi Dunbar itu tentu tak lajim bagi kita orang-orang biasa. Metode yang kurang radikal pun bisa dicoba. Geoffrey Godbey, profesor kajian waktu luang dari Pennsylvania State University dan pengarang buku &lt;u&gt;The Future of Leisure Services&lt;/u&gt;, menegaskan bahwa “hal itu bukan masalah yang dapat dipecahkan, karena kita bersifat fana. Tetapi bisa diminimalisasikan, dalam artian bahwa Anda dapat mengalahkan waktu dengan tidak menyadarinya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi di mana kesadaran kita terhadap waktu begitu minimal seringkali disebut sebagai &lt;i&gt;flow&lt;/i&gt;, mengalir, yang merupakan fokus baru dalam kajian psikologi. Godbey mendefinisikan &lt;i&gt;flow&lt;/i&gt; sebagai “situasi di mana seseorang memfokuskan diri konsentrasinya dan secara total memberikan dirinya untuk terbenam dalam aktivitas, seringkali aktivitas yang terorganisasikan dan memberikan umpan balik, di mana keterampilan yang dibutuhkan dan tantangan yang terlibat sangat sepadan satu dengan lainnya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan sebuah kejutan apabila aktivitas tersebut adalah segala hal yang dilakukan banyak orang dengan sepenuh cinta, apakah itu aktivitas mendaki gunung, membaca novel misteri, menari, melukis atau membacakan cerita untuk anak-anak. Psikolog Universitas Chicago Mihaly Csikszentmihalyi mengkaji masalah &lt;i&gt;flow&lt;/i&gt; tersebut dan menuangkannya dalam buku larisnya, &lt;u&gt;Flow : The Psychology of Optimal Experience&lt;/u&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Salah satu deskripsi umum mengenai pengalaman yang optimal” katanya, “ialah ketika waktu tidak lagi melesat seperti yang lajimnya”. Senyatanya memang demikian, walau sebagian besar waktu tersebut justru terasa melesat lebih cepat. Tetapi hal inti yang paling penting adalah bila seseorang mengalami pengalaman &lt;i&gt;flow&lt;/i&gt;, mengalir, dirinya sedang merayakan pengalaman “terbebas dari tirani waktu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;WAKTU MENGGUMPAL IBARAT TASBIH.&lt;/b&gt; Ekspektasi dan keakraban juga membuat waktu terasa lebih cepat melesat. Hampir semua orang merasakan pengalaman ketika berkendara menuju tempat yang terasa asing. Dikepung dengan pemandangan yang belum dikenal, dengan tanpa bayangan kapan akan sampai di tujuan, perjalanan terasa begitu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi ketika kembali, walau jarak kilometernya tetaplah sama, nampak waktu tempuh terasa lebih pendek rasanya. Hal-hal baru dalam perjalanan kemudian seakan-akan menjadi rutin. Apalagi kemudian rata-rata orang cenderung menjadi nyaman dengan rutinitas, ibarat bertabiat model babi hutan atau &lt;i&gt;celeng&lt;/i&gt; yang ketika pergi atau pulang selalu melewati rute yang sama, bertahun-tahun, waktu pun akhirnya terasa seperti cepat berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga apabila kita setiap kali berinisiatif mengambil rute perjalanan yang berbeda, hal tersebut membuat kita seperti mampu memperlambat waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pribadi : sebagai penduduk kota kecil Wonogiri, setiap kali melakukan olah raga jalan kaki pagi, saya mencoba menempuh rute yang beragam. Kadang jalan kaki ke arah timur kota, melewati jembatan, yang mengarah ke Ponorogo. Atau ke utara, menuju arah ke kota Solo dan kembalinya menyusuri hutan di tepian gunung. Atau ke selatan, menyusuri jalan yang dipayungi rimbunan bambu, di pinggir sungai Bengawan Solo. Rute ke selatan ini menuju Perancis. Maksud saya, Pracimantoro. Rute ke arah barat, tidak pernah. Tidak ada jalannya. Rute berat, karena mendaki gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Variasi serupa juga saya lakukan, misalnya, ketika mendengarkan musik di pagi hari. Kadang ketemu Mozart sampai Linkin’ Park. Andrea Bocelli sampai Eros Ramazzoti. The Corrs, Spice Girls, atau Jon Bon Jovi. Demikian juga ketika membaca-baca buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk buku, saya punya kebiasaan baca yang “jelek” : sekali memutuskan membaca, ada 5-6 buku baru yang tersedia. Membacanya pun berlompatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat saya menikmati &lt;u&gt; The Agenda : What Every Business Must Do To Dominate the Decade&lt;/u&gt; (2001) dari Michael Hammer, simultan dengan &lt;u&gt;5-Minute Therapies : Natural Remedies for Body, Mind &amp; Spirit&lt;/u&gt; (1999) dari Denise Rowley, &lt;u&gt;Be your own Brand&lt;/u&gt; (2002) karya David McNally dan Karl D. Speak, &lt;u&gt;Born To Be Rich&lt;/u&gt; (2003) dari Promod Batra (“buku kloning yang jauh dari sempurna dari buku-bukunya Robert T. Kiyosaki”), &lt;u&gt;Dragon Spirit : Bagaimana Memasarkan Sendiri Mimpi Anda&lt;/u&gt; (2003) dari Ron Rubin dan Stuart Avery Gold, sampai &lt;u&gt;The Little Pot of Gold : 100 Keys To Success and Wealth&lt;/u&gt; (2003) dari Peter Spann.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jurang-jurang” yang menganga antara isi buku satu dengan buku lainnya biarlah dijembatani sendiri secara ajaib oleh otak atau imajinasi ketika saya tidur dan bermimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar cerita : kisah tentang tokoh mitos Yunani, Prometheus, yang mencuri api dari dewa dari buku mengenai teknologi nuklir dan adegan adu balap melawan banteng gila di Pamplona dari novel &lt;i&gt;The Sands of Time&lt;/i&gt;-nya Sidney Sheldon, ketika saya aplikasikan dalam esai mengenai revolusi suporter sepakbola, telah memenangkan The Power of Dreams Contest 2002 yang diadakan oleh Honda di Indonesia. Saya akan mempelajari buku-buku itu lagi ketika perlu untuk menuliskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa variasi-variasi semacam itu maka sungguh menjengkelkan, membosankan, ketika malam tiba, ketika tuntutan harus menulis buku harian menodong saya, tetapi hanya menemukan betapa hal-hal yang ditulis hampir tidak berbeda antara hari satu dengan hari lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala hari-hari yang berlalu saling identik, ibarat bulir-bulir tasbih yang bergerombol dalam satu rangkaian, berkelompok bersama, maka waktu sebulan pun hanya nampak seperti satu hari belaka. Tidak aneh bila waktu kemudian nampak seperti cepat sekali berlari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menangkis penggerombolan hari, maka buatlah setiap hari hidup kita seunik sidik jari. Sebagaimana dikatakan oleh Joubert bahwa struktur cenderung membuat waktu cepat berlalu. Oleh karena itu, carilah cara cerdik untuk menginterupsi struktur hari-hari Anda, untuk menghentikan laju terbangnya, ibarat kita melakukan rehat kopi di tengah jam-jam kerja kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bruce Schechter memberi contoh seseorang wanita yang punya pekerjaan sibuk, tetapi saat makan siang ia memutuskan untuk menjelajah kota tempat ia berkarier itu. Ia mengunjungi kebun binatang, yang merupakan kunjungannya yang pertama. Piknik kecil-kecilan tersebut, sekadar lepas dari tuntutan kerja kantornya, telah memberikan waktu rehat yang pantas untuk dikenang, yang bila tidak maka hari-hari-hari kerjanya hanya merupakan segumpal blok yang identik satu sama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;JANGAN TAKUT JADI PEMULA.&lt;/b&gt; Mempelajari sesuatu hal yang baru merupakan cara ampuh lain untuk memperlambat gerak terbangnya waktu. Salah satu alasan mengapa hari-hari ketika kita masih muda terasa penuh dan panjang, karena hari-hari tersebut dipenuhi dengan masa kegairahan untuk belajar dan menemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Learning and discovery&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kebanyakan kita, masa-masa belajar itu memang terkadang selesai begitu kita meninggalkan bangku sekolah atau kuliah. Tetapi bagi seorang Ronald Graham, matematikawan terkenal dari AT&amp;T Bell Laboratories, punya kiat jitu untuk mengerem waktu : “Jangan takut menjadi pemula”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Graham pun selalu gigih berburu keterampilan baru untuk ia kuasai.&lt;br /&gt;Dalam masa waktu 40 tahun terakhir Ronald Graham mampu menguasai bahasa Cina, main piano, &lt;i&gt;juggling&lt;/i&gt;, akrobat, menulis lusinan makalah ilmiah, dan berwisata sampai ke pojok-pojok dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengilas balik hidup saya : ketika saya terlambat menyelesaikan kuliah di Solo atau di Jakarta dibanding teman-teman yang lain, rasanya kini saya merasa tidaklah rugi-rugi amat. Karena saya pada saat yang sama, sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan Teknik Jurusan Mesin, dikaruniai peluang untuk “bertualang” guna menjelajahi pengalaman dan menyerap ilmu-ilmu baru yang beragam yang tidak ada di bangku kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis puisi, cerita pendek, esai dan drama, main teater, berorganisasi dalam kesenian, menjadi guru melukis anak-anak, belajar pers kampus, menjadi komunikator, pembawa acara, promotor seni, menikmati lukisan, menjadi wartawan budaya, belajar film, praktek bahasa Inggris dari &lt;i&gt;bule-bule&lt;/i&gt; menawan seperti Tory, Helen sampai Marlene, dan tentu saja menulis surat-surat pembaca. Petualangan serupa, rasanya sampai kini juga masih belum membuat saya jera melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bruce Schechter memperluas cakarawala kita ketika ia mengatakan bahwa mengerem laju jarum jam tidak hanya berlaku untuk masa kini, tetapi juga ketika meninjau masa lalu. Menulis buku harian atau menulis otobiografi merupakan cara bagus untuk menyortir kekaburan masa-masa lalu, sehingga masa lalu tidak lagi hanya berupa satu gumpal campur aduk segala hal tanpa makna. Masa-masa lalu tersebut dapat diurai untuk membentuk pola tertentu yang membahagiakan, membanggakan, baik susunan yang terdiri dari kejadian atau pun prestasi-prestasi tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mendekati usia 65 tahun”, begitu tutur Bruce Schechter, “ayah saya memulai menulis kenangan hidupnya”. Ia semula beranggapan tulisan itu hanya pendek saja, tetapi ternyata tiap kenangan itu beranak pinak dengan kenangan lainnya. Karya tulisnya kemudian membengkak memenuhi sebuah buku. Anak-anaknya kemudian membelikannya sebuah komputer, kini tulisan kenangan tersebut mencapai 400 halaman yang menghadirkan pola kehidupan yang telah ia lalui, betapa indah dan ajaib kehidupan yang telah ia jalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai lelaki yang pemalu, introver, saya mulai intensif menulis buku harian ketika berkuliah di Jakarta. Tahun 1980. Kota yang masih asing, orang-orang yang asing dan interaksi pergaulan urban yang juga terasa asing, mendorongt saya membuat oasis sendiri agar bisa merasa nyaman dan bertahan. Oasis itu adalah buku harian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau apa-apa yang saya tulis itu kadang tidak sekemilau isi lirik lagu The Corrs dalam “Dreams” sebagai &lt;i&gt;”the crystal visions”&lt;/i&gt;, tetapi ketika melakukan refleksi, sokurlah hari-hari lewat saya bukanlah semata himpunan peristiwa atau curahan hati tanpa makna. Kebiasaan itu pula kemudian memperoleh &lt;i&gt;outlet&lt;/i&gt; dan momentum luar biasa, lagi menakjubkan, di era digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika di tahun 2003 saya mulai mengenal blog, membuat tradisi menulis buku harian dalam bentuk sajian digital, personal sekaligus mondial, sepertinya semakin kaya warna. Sebagai orang yang meminati banyak hal sekaligus, kini saya secara rutin menulis blog-blog bertopik komedi, lagu-lagu Carpenters, komunitas epistoholik Indonesia, juga suporter dan sepakbola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menulis di blog, bagi saya, ibarat melakukan donor darah. Kalau hanya menyumbang terlalu sedikit, tidaklah bermanfaat. Kalau kebanyakan, tentu mengancam jiwa si pendonornya sendiri. Memang akhirnya tidak semua darah kita didonorkan, tetapi dengan cara ini maka dalam diri kita didorong terjadinya keseimbangan baru dalam mengakuisisi dan menyalurkan informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menulis, kita secara intuitif didorong untuk melakukan akuisisi informasi-informasi baru. Artinya, dituntut untuk terus belajar dan belajar. Termasuk belajar mengakuisisi kepercayaan dari pembaca blog-blog saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://journalism.nyu.edu/pubzone/weblogs/pressthink"&gt;Jay Rosen&lt;/a&gt;, salah seorang blogger dan pakar media baru favorit saya, dalam esai berjudul “Blogging, Journalism &amp; Credibility” yang dibacakan di Universitas Harvard, Cambridge, 21-22 Januari 2005, telah mengutip pendapat John Hiler dalam &lt;u&gt;Microcontent News&lt;/u&gt; (2002) : “Bagi blogger, semuanya mengenai kepercayaan, di mana blog-blog tersebut berangkat dari titik nol dalam membangun reputasinya dari bawah ke atas. Blog bertanggung jawab dan Anda membangun reputasi sebagai sumber informasi yang terpercaya. Bila tidak, Anda tidak memiliki reputasi yang harus Anda cemaskan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjut Rosen, para blogger itu memiliki keuntungan dalam memperjuangkan reputasi guna meraih kepercayaan pengguna atau pembacanya. Para blogger lebih dekat dalam melakukan transaksi di mana kepercayaan terbangun dan berada di sekitar situs-situs web yang ada. Terdapat perbedaan besar antara membangun aset, katakanlah “merek” St. Pete Times (di Indonesia, misalnya koran &lt;u&gt;Kompas&lt;/u&gt;) dan membangun aset secara mandiri sejak sketsa awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ibarat melakukan donor darah, menulis di blog yang antara lain guna memperoleh kepercayaan pembaca tadi, dapat juga saya ibaratkan, seperti juga ketika menerjunkan diri berangan-angan menjadi seorang &lt;i&gt;stand up comedian&lt;/i&gt;, sebagai aksi “bersekutu dengan setan” guna memperoleh kekayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebagian dari jiwa kita yang harus rela dikorbankan.&lt;br /&gt;Keterbukaan. Transparansi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin transparan diri Anda sebagai manusia, tidak &lt;i&gt;jaim&lt;/i&gt;, dan semakin rawan atau &lt;i&gt;vulnerable&lt;/i&gt; diri Anda untuk dipertontonkan, maka justru dari hal-hal yang manusiawi itulah akan mendorong terjadinya dialog antarhati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akhirnya memang hanya manusia, dengan segala kekurangan, kedunguan, ketidaksempurnaan. Panggung dunia blog kaya sekali dengan pertunjukan bergaya “masokis” semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari ini, saya mulai tergerak untuk merintis dan meluncurkan blog-blog seputar penyakit asthma, hobi memelihara anjing, peristiwa terkait tanggal 28 April dan tanggal 20 Desember. Blog-blog mutakhir ini terkait dengan salah satu wanita terindah saya, &lt;a href="http://song4anez.blogspot.com"&gt;Anez&lt;/a&gt;, kelahiran Brussels 28 April yang baru saja mencapai huruf Z dari hidupnya dalam momen yang menggetarkan, sarat misteri Illahi, di Jakarta, 20 Desember 2005 yang lalu. Semua blog itu ditulis sebagai kenangan dan kesenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Labour of love.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Berkah pun pasti menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah seorang Lee Silber dalam bukunya &lt;i&gt;Self-Promotion For The Creative Person&lt;/i&gt; (2001) mengutip resep sukses Chuck Green, pengarang dan seniman grafis, yang mengatakan : &lt;i&gt;focus on what you love and the money will follow&lt;/i&gt;. Fokuskan pada semua aktivitas yang Anda cintai, maka uang pun pasti akan menyusul kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedikit banyak membuktikan kebenaran atas ucapan itu. Keyakinan akan manfaat blog dalam menunjang visi &amp; misi saya mendirikan komunitas Epistoholik Indonesia, misalnya, telah memenangkan saya dalam Mandom Resolution Award 2004. Kemudian tercatat pula dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara getol menulis esai seputar sepakbola dan suporter sepakbola sejak tahun 2003 (saya juga tercatat di MURI sebagai Pencetus Hari Suporter Nasional 12 Juli), seorang kenalan baru, kolumnis sepakbola yang berdomisili di London mengajak saya untuk mengisi majalah baru, &lt;u&gt;Freekick&lt;/u&gt;, yang hendak ia terbitkan bersama kawan-kawannya mulai tahun 2006 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara blog pula, seringkali hari-hari saya terasa menenggelamkan saya dalam &lt;i&gt;flow&lt;/i&gt; sesuai tesisnya Mihaly Csikszentmihalyi tadi. Aktivitas yang memboroskan waktu. Kalau dalam hitung-hitungan pemanfaatan waktu yang konvensional, pastilah semua aktivitas saya berblog-ria itu hanya nampak sia-sia belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Saya tahu, saya memang terlalu banyak menghamburkan waktu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Saya tahu, saya mendamba kesempurnaan di dunia yang tidak sempurna ini&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Dan begitu dungu pula untuk berpikir&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;hal itu pula yang akan saya dapatkan&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK, saya memang dungu. Isi lirik lagu “I Need To Be In Love”-nya Carpenters tersebut memang benar untuk sisi cinta atau asmara dalam hidup saya. Saya sampai kini belum memperolehnya. Wanita-wanita terindah saya datang, kemudian pergi. Bahkan pergi begitu jauh sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pada sisi lain, menghambur-hamburkan waktu juga tidak jelek-jelek amat. Terutama dalam konteks era baru, Network Economy. Kevin Kelly, sokurlah, memberikan perspektif brilyan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam karya tulis tonggak yang inspiratif, “New Rules for the New Economy : Twelve Dependable Principles for Thriving in a Turbulent World” di majalah &lt;u&gt;Wired&lt;/u&gt; (September 1997), mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peter Drucker telah mencatat bahwa dalam abad industri setiap pekerja yang mampu mengerjakan pekerjaannya secara lebih baik disebut sebagai produktivitas. Tetapi kini dalam Network Economy di mana kebanyakan mesin-mesin mengerjakan pekerjaan manufaktur yang tak cocok untuk manusia, maka tugas setiap pekerja bukanlah “bagaimana mengerjakan pekerjaan itu secara benar” melainkan “pekerjaan apa yang benar untuk dikerjakan ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era mendatang, mengerjakan segala sesuatu secara benar jauh lebih “produktif” dibanding mengerjakan hal yang sama secara lebih baik. Tetapi bagaimana seseorang dapat secara mudah mengukur &lt;i&gt;sense&lt;/i&gt; penting dalam eksplorasi dan penemuan ? Semua ini tidak terlihat dalam parameter atau patok duga produktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, menghambur-hamburkan waktu dan bekerja tidak efisien merupakan jalan menuju penemuan. Sesuatu situs web yang dioperasikan oleh anak muda seumuran 20 tahun dapat terwujud karena ia mampu menghabiskan waktu 50 jam untuk menjadi ahli merancang situs web.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu pekerja usia 40-an tahun tidak dapat mengambil cuti liburan tanpa berpikir bagaimana dia menentukan apakah berlibur itu bisa disebut sebagai produktif atau tidak, sementara si anak muda tadi tinggal mengikuti naluri dan menciptakan beragam hal baru dalam desain webnya, tanpa menghitung apa yang ia lakukan itu efisien atau tidak. Dari otak-atik yang tidak efisien itulah akan hadir masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam era Network Economy, produktivitas bukan masalah krusial. Karena kemampuan kita dalam menyelesaikan masalah sosial dan ekonomi kebanyakan dibatasi terutama oleh kurangnya imajinasi dalam menemukan peluang dibanding usaha mengoptimalkan suatu solusi. Seperti simpul Peter Drucker yang dikutip oleh George Gilder, rumusnya kini berbunyi : “Jangan menyelesaikan masalah, tetapi carilah peluang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila Anda menyelesaikan sesuatu masalah, Anda berinvestasi bagi kelemahan Anda. Tetapi bila Anda mencari peluang, maka Anda dapat mempercayai jaringan, &lt;i&gt;network&lt;/i&gt;, Anda. Apalagi sisi menarik mengenai Network Economy sejatinya bermain seirama dengan kelebihan hakiki manusia. Repetisi, sekuel, mengopi dan otomasi kini semua cenderung bebas biaya, gratis, sementara segi-segi inovasi, orisinalitas dan imajinatif semakin menjulang nilainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerangka berpikir kita pertama kali memang terikat oleh hukum-hukum lama pertumbuhan ekonomi dan produktivitas. Tetapi dengan peka mendengarkan detak jaringan kita dapat melepaskan ikatan-katan lama tersebut. Sekali lagi, formula paten dalam era Network Economy adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janganlah menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;Carilah peluang !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda setuju ?&lt;br /&gt;Selamat Tahun Baru 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri 19/12/2005 – 12/1/2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-113738216627932977?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/113738216627932977/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2006/01/carpenters-umur-madonna-dan-mengapa_15.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/113738216627932977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/113738216627932977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2006/01/carpenters-umur-madonna-dan-mengapa_15.html' title='Carpenters, Umur Madonna dan Mengapa Waktu Cepat Sekali Berlalu : Refleksi Tahun Baru Seorang Blogger dan Epistoholik'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-113539029680810898</id><published>2005-12-23T18:00:00.000-08:00</published><updated>2005-12-29T19:10:41.603-08:00</updated><title type='text'>Widhiana Laneza :   20 Desember 2005</title><content type='html'>Oleh : &lt;a href="http://bukabeha.blogspot.com"&gt;Bambang Haryanto&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Email : &lt;a href="mailto:epsia@plasa.com"&gt;epsia@plasa.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Wir haben, wo wir lieben, ja nur dies : &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;einander lassen; denn dass wir uns halten, &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;das fällt uns leicht und ist nicht erst zu lernen. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Rainer Maria Rilke, 1875–1926&lt;br /&gt;Penyair Jerman)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;The MySpace Generation.&lt;/b&gt; “Mereka hidup secara online. Mereka berbelanja secara online. Mereka bermain secara online. Kekuatan mereka semakin menguat.” Itulah judul laporan utama majalah bisnis terkemuka, &lt;a href="http://www.businessweek.com/magazine/"&gt;Business Week&lt;/a&gt; (12/12/2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak muda kini hidupnya semakin terintegrasi dengan sarana-sarana teknologi informasi dan layanan yang tersedia. Mereka juga semakin tergantung pada apa yang disebut sebagai jaringan sosial online, termasuk bersaranakan blog, untuk menancapkan identitas sosial mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs blog seperti MySpace sampai Xanga.com, adalah tempat nongkrong online yang semakin populer.  Dalam lingkar pergaulan seperti itu, &lt;i&gt;virtual community center&lt;/i&gt;, pusat komunitas maya,  mereka dapat curhat, menemukan tempat untuk mengadu saat patah hati, mendapat teman untuk membantu menyelesaikan pekerjaan rumah dari sekolah, dan alamat serta acara pesta Sabtu malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau pun jaringan semacam ini perkembangannya masih dalam tahap awal, tetapi kalangan ahli memperkirakan bahwa kini telah tercipta suatu bentuk kebiasaan sosial  yang baru, yang mengaburkan perbedaan antara interaksi secara online dengan interaksi di dunia nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel itu sungguh mengusik saya.&lt;br /&gt;“Apakah diriku juga sudah terjerumus ke kubangan kebiasaan sosial baru di atas ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti juga Anda, saya menulis blog  untuk kesenangan. Senang pula bisa mengetahui isi kepala blogger lain, seperti Andrew Sullivan, Caterina Fake, Dan Gillmor, Dave Wiener, Glenn Reynolds,  Jeff Jarvis, Jeff Rosen (ini professor sekaligus blogger), Joe Trippi, Mickey Kaus, Nick Denton, Peter Rojas, Robert Scoble sampai si rambut jabrik Xeni Jardin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa puas lagi bebas mengeluarkan &lt;i&gt;uneg-uneg&lt;/i&gt; sampai gagasan dengan gaya personal.  Semau kita. Tak ada lagi batasan tirani kolom atau diktator media. Aktivitas  yang mengasyikkan,  terlebih seperti diungkap oleh Bapak Pencipta &lt;i&gt;Snoopy&lt;/i&gt;, Charles Schulz, karena pahalanya  justru otomatis ternikmati ketika kita lagi mengerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;The reward is in the doing&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila tulisan mendapatkan komentar dari blogger lain, itu adalah bonus. Termasuk bisa berkenalan dengan teman-teman baru, tempat meminta nasehat dan bimbingan.  Konsultan blog saya yang baik hatinya, Tina, tinggal di Ulm, Jerman.   Atau sekadar saling bertukar cerita-cerita jenaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan saya punya sahabat online,  Lasma Siregar,  mengaku sebagai TKI di Melbourne, Australia, yang luar biasa. Dia sudah lebih dari setengah lusin kali membanjiri saya dengan hadiah : buku-buku hebat, decoder (buku unik, bukan alat TV), artikel, kaos,  sampai majalah-majalah &lt;u&gt;Playboy&lt;/u&gt; edisi era Jurrasic. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena saya sudah berumur 53 tahun, oleh Lasma Siregar sengaja dipilihkan  edisi majalahnya Hugh Heffner itu yang khusus memuat  artis-artis yang kini pasti sudah jadi nenek-nenek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tahu artis Indonesia, Ratna Assan, puteri Devi Dja dari kelompok hiburan Dardanella, yang satu  jaman dengan Tan Tjeng Bok ? Ratna Assan pernah tampil polos saat ikut membintangi film &lt;i&gt;Papillon&lt;/i&gt; bersama Steve McQueen.  Di majalah &lt;u&gt;Playboy&lt;/u&gt; edisi era brontosaurus :-)) itu Ratna Assan berpose dengan penuh pesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Well&lt;/i&gt;, dengan menulis di blog, kejutan demi kejutan juga mewarnai hidup saya. Disapa oleh seseorang yang tidak dikenal, ternyata mengaku sama-sama sebagai warga WNA. WoNogiri Asli. Atau oleh sesama mahasiswa seangkatan, tapi beda jurusan, yang dulu justru tidak saling kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog bagiku kini juga tiba-tiba  ibarat mesin waktu. Hal-hal yang selama ini nampak maya,  berjarak, seperti main-main dan tidak serius, ternyata ketika menjadi realitas mampu hadir menggetarkan. Karena blog pula, masa lalu tiba-tiba di ujung Desember 2005 ini merenggutku untuk kembali. Dengan bahasa panggil  yang sangat berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh dia. Oleh sebuah nama.&lt;br /&gt;Widhiana Laneza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="”left”"&gt;&lt;img src="http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Anez_1.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;Widhiana Laneza&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Satu Tahun Lalu : 2004. Kamis, 28 Oktober. Wonogiri, Jawa Tengah. &lt;/b&gt; (Mengenang) Wanita-Wanita Terindah : Jacquline Bisset. Isabelle Adjani. Sherry Bilsig, pramugari dalam &lt;i&gt;Die Hard 2 : Die Harder.&lt;/i&gt; Arie Kusmiran. Miduk. Kenil. Cresenthya Hartati. Widhiana Laneza. Dwi Retno “Tutut” Setiarti. Erika "Michiko" Diana Rizanti. (Posting di blog Buka Buka Beha/28 Oktober 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Lima Bulan Lalu : 2005. Senin, 11 Juli. Wonogiri, Jawa Tengah.&lt;/b&gt; (Mengenang Masa Kuliah : 1980-an)  ”WTS-WTS” Yang Memesona. Di komplek kampus Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Rawamangun, terdapat taman yang dipayungi rimbun pepohonan yang diisi beberapa kupel dan bangku taman. Di sana-sini mangkal pedagang makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komplek ini tiap hari kuliah selalu ditaburi sosok-sosok yang mampu melahirkan inspirasi, bukan saja cantik dan jelita, tetapi juga  memesona. Mereka itulah yang lajim  disebut sebagai para “WTS” : Wanita Taman Sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, dari Arkeologi ada Widhiana Laneza. Bercelana jin biru, baju jin biru pula, rambut panjangnya digerai. Mirip penyanyi rock. Kacamatanya frame besar seperti yang dipakai komedian Drew Carrey. Sekilas mirip tokoh feminis Gloria Steinem. Bagiku, ini pemandangan yang memesona. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula Deasy Indriati, yang mungil dan gemintang. Dari Ilmu Perpustakaan :  Saraswati, Sri Mulungsih, Arlima Mulyono (adik dari pelawak Warkop, almarhum Nanu Mulyono), Poppy  sampai Evy yang mengejar-ejar cinta  saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Sastra Cina, misalnya  penyanyi Christine Panjaitan. Teman kentalnya, Prianti Gagarin Singgih, yang seperti cewek bule Amerika. Sosok menawan dari Sastra Inggris antara lain,  Siti Rabyah Parvati. Ayahnya dari Padang, ibunya, Ibu Poppy, &lt;i&gt;priyayi&lt;/i&gt; dari Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah eyangnya di Solo kini menjadi lokasi berdirinya Balai Sudjatmoko. Intelektual raksasa dan Rektor Universitas PBB di Tokyo tersebut tidak lain  adalah oomnya Siti Rabyah Parvati, yang akrab dipanggil Upik ini. Ayah Upik adalah Perdana Menteri Sutan Syahrir. (Posting di blog Esai Epistoholica No. 24/Juli 2005/11 juli 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tujuh Bulan Lalu : 2005. Selasa, 14 Juni. Wonogiri, Jawa Tengah.&lt;/b&gt; (Mengenang Masa Kuliah : 1980-an).  Rayuan Bu Dosen Perancis. Cita rasa saya terhadap wanita yang ada “bau-bau” Perancisnya, tetapi bukan wanita impian yang hanya bergerak-gerak  di layar-layar bioskop, saya temui pada diri seorang Anez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswi Sastra Perancis.&lt;br /&gt;Juga arkeologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Namamu pakai huruf z, terasa eksotis”, pujiku. Ia menerangkan bahwa namanya diilhami dari kosa kata bahasa Spanyol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Spanyol, cinta Perancis. Saking kentalnya Anez dengan Perancis, anjingnya yang kecil dan lucu, juga punya nama dalam bahasa Perancis : &lt;i&gt;Grigri&lt;/i&gt;. Artinya, jimat.  Saat itu dengan bantuan teman, saya membuat kop surat dengan komputer. Tertulis “Grigri Petshop” lengkap dengan alamat rumahnya, yang disambut Anez dengan tertawa-tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, bahasa Perancisku tidaklah canggih. Aku pernah ikut  dalam mata kuliah Bahasa Sumber di FSUI, kini Fakultas Ilmu Budaya UI. Di sini setiap mahasiswa, baik Arkeologi, Ilmu Perpustakaan (jurusanku) dan Filsafat (jurusannya Dian Sastro kini), Sastra Arab, Sastra Belanda, Sastra Cina, Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Sastra Jawa, Sastra Jepang, Sastra Jerman, Sastra Perancis,  Sastra Rusia dan Sejarah, wajib  mengikuti mata kuliah tersebut. Para mahasiswa boleh memilih  : bahasa Belanda, Italia atau Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memilih Perancis. Tetapi karena metode belajarku tidak efektif, selain tuntutan untuk berfokus pada mata kuliah di jurusanku sendiri, membuat mata kuliah Bahasa Perancis ini menjadi kurang membahagiakanku. Apalagi,  mungkin ini bisa disebut sebagai &lt;i&gt;ge-er&lt;/i&gt; berat, ibu dosen Perancisku yang masih muda dan &lt;i&gt;charmant&lt;/i&gt; itu, aku rasa,  terlalu berlimpah memberikan perhatian rada khusus pada diriku. Memuat rayuan terselubung. Godaan yang menggairahkan. Mendebarkan dan menggelisahkan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman sekelasku dari jurusan yang berbeda, yaitu cewek-cewek yang radar  atau naluri kewanitaannya peka, sering mencandaiku akan hal spesial satu ini. Termasuk pula Upik, anak Sastra Inggris dan putri mantan Perdana Menteri RI Sutan Syahrir, yang sering aku repoti ketika aku sulit mengerjakan PR atau saat tes-tes dadakan Bahasa Perancis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua gunjingan itu membuatku jadi jengah. Aku seperti Benjamin Braddock yang naif di depan Mrs. Robinson yang berpengalaman. Akhirnya, aku melakukan desersi. Hanya ikut kuliah bahasa Perancis itu satu semester. &lt;i&gt;Au Revoir !&lt;/i&gt; Lalu pindah ke mata kuliah Bahasa Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Anez. Aku belum berani membelai Grigri, anjing kesayangannya itu.  Aku merasa kurang yakin bahwa diriku memiliki keramahan alami untuk seekor anjing.  Pernah saya bertemu seekor anjing, di mana mulutku tidak berkata apa-apa kepadanya. Hanya sorot mataku ingin berkata : “Hei, kamu anjing jelek”. Kami pun berpapasan dengan damai. Tetapi, sekejap kemudian, saya rasakan sebuah gigitan mencengkeram tumit saya. Anjing itu rupanya memahami bahasa nonverbal saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung rabies tidak mendera saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grigri dan Anez, sungguh ajaib,   menjadi pemicu terbitnya buku kumpulan lelucon satwa, yang saya tulis, &lt;u&gt;Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa&lt;/u&gt; (Andi, 1987).  Begitulah modal rayuan saya. Perasaan jatuh cinta yang mendalam  telah  berujung dengan terbitnya sebuah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kutipan sebagian isinya :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; “Apakah Grigri seekor anjing penjaga yang baik, Anis ?” “Yah, lumayan. Kalau mendengar gemerisik di malam hari,  aku harus membangunkan dia dan barulah ia menyalak.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Aku telah menghabiskan waktu 5 bulan untuk melatih anjingku agar menjadi anjing penjaga yang baik dan berani. Istriku juga mengajarinya membawakan keranjang belanjaan dan surat kabar. Suatu hari rumahku didatangi pencuri, dan apa yang terjadi ? Anjing sialan itu memegangi obor dan menerangi pencuri dalam beraksi. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sebuah perusahaan industri makanan anjing berhasil mengeruk keuntungan yang melimpah lewat produknya yang terbaru. Konon makanan itu cita rasanya persis sama dengan kaki pegawai pengantar pos !&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses (penulisan buku) yang terjadi memang menggairahkan, mungkin tercampur dengan mabuk, terpagut ekstasi, sekaligus tidak memikirkan apa hasil akhir yang terjadi.  Kalau Anda percaya, itulah fenomena menakjubkan yang disebut sebagai &lt;i&gt;flow&lt;/i&gt;, mengalir, temuan psikolog Mihaly Csikszentmihalyi dari Universitas Chicago.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Flow&lt;/i&gt; adalah kondisi bahagia dan terkonsentrasi yang seakan-akan tidak dibatasi waktu, yang Anda raih ketika pekerjaan tidak terlalu sulit tetapi juga tidak terlalu sederhana, namun cukup menarik untuk memikat seluruh perhatian Anda. &lt;i&gt;Flow&lt;/i&gt; sering bersamaku ketika menulis surat-surat rayuan yang panjang atau bergulat merampungkan tulisan-tulisan yang membahagiakan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengilas balik di antara momen-momen interaksi yang istimewa dan terjadi dengan Anez, adalah ketika saya ikut makan malam dengan ayah dan ibunya. Beliau adalah seorang duta besar di pelbagai negara &lt;i&gt;francophone&lt;/i&gt;, negara-negara yang kuat dipengaruhi budaya Perancis, di benua Afrika. Terakhir menjadi duta besar di Kamboja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika malam itu obrolan bergulir tentang makanan, saya menyinggung kegemaran orang Perancis  yang keranjingan makan &lt;i&gt;escargot&lt;/i&gt;. Bekicot. Saya memberanikan diri nyeletuk, “Orang Perancis suka makan bekicot, membuat mereka jadi lamban ketika  ditagih bayar hutang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak dutabesar meledak dalam tawa. Tetapi putrinya saat itu tidak antusias untuk ikut tertawa. Sinyal lampu merah tentang masa depan &lt;i&gt;pdkt&lt;/i&gt;, pendekatan saya telah menyala. (Cuplikan dari posting di blog Esai Epistoholica No. 21/Juni 2005/Selasa, 14 Juni 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986.  Sabtu, 20 September. Rawamangun, Jakarta Timur. &lt;/b&gt;    Bangun jam 09.00, nerusin halaman 4 surat untuk Ria, tapi ogah memposinnya segera. Jam 12.00 keluar, &lt;i&gt;inner&lt;/i&gt;ku bilang, “kalau kamu pas &lt;i&gt;goreh&lt;/i&gt; begini, tidak sarapan, pucat begini, kisruh begini...jangan-jangan ntar malah kepergok Anez.”  Aku ke kantor pos : dapat 5 wesel dan 1 surat untuk ITSC (Ideas T-Shirt Club) dari  tetangganya Ria, sama-sama Tawakal ; memposin surat ke Ria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas baru, nongkrong di shelter : jam 12.15. &lt;i&gt;Inner&lt;/i&gt;ku benar, di seberang sana, jalan sendirian, di mulut gang bertemu teman-temannya, ada cewek berjean dan baju merah kecoklatan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Anez, Widhiana Laneza, cewek Arkeologi 82 yang sejak 1981 telah memenjarakanku dalam impian, “aku itu pengin mencintai dia, tapi jalan pengecutku selama ini, udah 5-6 kontak via surat, tak ada hasilnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, kerna perfeksionisku, aku memutuskan untuk &lt;i&gt;off&lt;/i&gt;, ke fotokopi. “Hati gundah. Oalah, betapa kerdilnya aku ini” (Buku Harian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Selasa, 30 September. Rawamangun, Jakarta Timur. &lt;/b&gt;   Bangun jam 08.00, ke JIP (kampus FSUI). Ke BAP : aku ambil ijazah SIP-ku, hari ini, dan sudah jadi. Ijazahku itu (baru dua tahun kuambil setelah kelulusanku) tak berdampak apa-apa padaku, “kenapa ya ?”. Keluar dari kampus FSUI... Jam 11.30. aku sudah di shelter, nongkrong. Ada bis 38, kukira 39, dan intuisiku berkedip-kedip, “Anez mana ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pintu depan tak ada, ketika &lt;i&gt;panning&lt;/i&gt; ke pintu belakang, “Ya Tuhan, itu Anez !”, gadis yang selama 4-5 tahun ini hanya hidup di angan-anganku. Hari ini  ia berjean lusuh, t-shirt beige (coklat kemerah-merahan) dengan lengan dipotong, rambut tergerai nampak kusut, ia nampak kurus, berjalan tak acuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh badanku terasa beku : aku mau apa saat itu ? Mulutku tak bisa memanggilnya, aku cuman berjalan untuk memandanginya. Anez terus saja melangkah. Tanpa hirau.  (Buku Harian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Sembilan Belas Tahun Lalu :  1986. Selasa, 4 November.  Rawamangun, Jakarta Timur. &lt;/b&gt;  Hari ini, beberapa menit yang lalu, aku memberanikan diri untuk ketemu dan ngobrol a la kadarnya dengan Anez, Widhiana Laneza, di shelter Sunan Giri (15.30 WIB).  Sebelumnya aku emang nunggu di shelter Rawamangun, eh dia malah lewat bersama temennya, acuh tak acuh di depanku, ke timur. “Apa yang harus aku lakukan ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku lalu membuntuti.  Ia berhenti di shelter Sunan Giri : bercelana panjang warna khaki, baju garis-garis kecil warna coklat merah, menenteng tas kulit, saat itu temennya baru naik. Aku lalu berdiri di kirinya.  Aku sapa :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anez ya ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menengok. Aku mengajak salaman. Ia mau dan ramah. Aku bilang : “Aku yang pernah kirim surat kepada Anez”  Dia tanya : “Sekarang kerja dimana ?’ Aku jawab, “bukan dimana, tetapi apa. Aku menulis”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bilang, “aku malu, aku kan sulit ngomong, maka aku tulis surat”. Dia bilang, “iseng saja”. Kusahut : “tapi aku serius lho...”. Sambil ngomong itu aku memukul lembut pundaknya. Ia tak ada kesan benci atau menolak atas perlakuanku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya aku tadi bilang : “Anez sekarang dimana sih ?” Ia nyebut alamat yang aku sudah tahu. “Saya pengin ngobrol atau main. Boleh engga sih ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bilang : “boleh” (Buku Harian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Rabu, 12 November. Rawamangun, Jakarta Timur. &lt;/b&gt;   Terima kasih, Tuhan, aku telah ketemu lagi sama Anez, di rumahnya.  Sepanjang senja dan malam tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar tamu yang sederhana interiornya. Di tembok kiriku ada foto besar, pengangkatan babenya Anez,  Taufik Rachman Soedarbo, sebagai duta besar di Senegal (?), 11 Juni 1982. Berfoto bersama Bapak/Ibu Presiden RI. Anez dalam foto itu berkain, nampak langsing, tinggi, di dekat babenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Anez keluar, dikerubuti anjing-anjingnya. Yang hitam bernama Grigri (jimat dalam bahasa Perancis) dan anjing merah bernama Pancho atau Cakil. Anjing putih yang di luar,  galak (yang menyalakku kemarin Sabtu) dia sebut Minggo. Anez saat itu berdress : celana jean biru, baju biru, di kaki ada gelang emas, tangan bergelang, pakai jam tangan seperti di foto opspek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anez nampak antusias cerita tentang anjing. Aku berusaha menimpali dengan tanya, “anjingnya Liz Taylor yang bisa dikantongi itu jenis apa ?” sampai cerita humor seputar anjing yang bikin redaksi (koran) kalang kabut.  Anez juga cerita tentang kakaknya yang kuliah di Paris, Sekolah Teknik Tinggi dan satunya lagi di komputer. Anez pengin ambil kursus komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, hmmm, aku ikut makan malam bersama ayah dan ibunya Anez. “Ini orang Jawa asli”, kata Anez mengenalkanku. Pak Taufik tanya, “Dari mana ? Jawa Timur ?” Aku bilang, Jawa Tengah. Wonogiri. Solo ke selatan. Beliau tidak tahu. “Engga pernah dapat pelajaran ilmu bumi”, kilah beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak dan Ibu Taufik makannya pakai tangan.  &lt;i&gt;Muluk&lt;/i&gt;. Ketika saya nanya mengenai makanan khas Afrika, cerita Pak Taufik banyak sekali dan aku asyik mendengarkannya. (Buku Harian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Kamis, 13 November. Rawamangun, Jakarta Timur. &lt;/b&gt;    Jam 19.30 : aku sampai ke rumah Ria.  Ngobrol tentang buku humor dokter, juga tentang surat kabar kampus &lt;u&gt;Warta UI&lt;/u&gt; (Ria jadi anggota redaksinya). “Kayak baca &lt;u&gt;Suara Karya&lt;/u&gt;”, celetukku.  Ria bilang, “Makasih Mas Hari”.  Sambil ngakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ria bilang (dirinya) udah damai sama papanya.  Udah (pula) kursus Perancis. Akhirnya aku buka kartu ke Ria : “aku kini lagi berburu cewek.” Aku suka sama dia engga (ada bumbu) romantisnya, engga ada &lt;i&gt;sexual drive&lt;/i&gt;, tapi datar-datar saja. Rasional. Cewek itu anonim bagi Ria. (Kusebut juga) suka Perancis dan aku sebut ia (sebagai) Garuda : terbang sendiri dan mandiri. (Buku Harian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 15 November. Rawamangun, Jakarta Timur. &lt;/b&gt;   Jam 11.30 berangkat pula jadinya, dan, di shelter Rawamangun terus tergambar Anez di sana. Sampai di JIP-FSUI, temu Ibu Soma (Ketua Jurusan). Hasil revisi skrip (yang aku tulis untuk televisi) diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Engga banyak obrolan. Beliau cuman nawarin ; “&lt;i&gt;mbok&lt;/i&gt; kamu belajar komputer, biar komputer ini engga &lt;i&gt;underuse&lt;/i&gt;”. Aku jawab ya (dengan hati senang). Pulang. Mampir PO Box : dapat 2 surat ke ITSC, 1 tagihan dari Yani, dan &lt;u&gt;Infokilat PDIN&lt;/u&gt;, (isinya antara lain daftar isi ) majalah &lt;u&gt;Discover&lt;/u&gt; (September) yang ada artikel arkeologi : “moga-moga Anez bulan ini juga telah menerimanya”. (Buku Harian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 29 November. Rawamangun, Jakarta Timur. &lt;/b&gt;   Baru saja aku nelpon Anez. “Ada apa ?’, tanya Anez. Aku agak &lt;i&gt;nervous&lt;/i&gt;  nanya bab seminar Arkeologi Publik, 2-3 Desember 1986. “Sebagai pendengar boleh kok”, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, kabarnya Grigri ?”, tanyaku. “Baik-baik aja. Sekarang baru mau makan”, jawab Anez. “(Anjing) yang kecil, siapa sih ?”. Anez jawab, “Bobi. Dan makasih untuk fotokopinya. Sudah diterima”  Aku : “Yeah, mudah-mudahan ada gunanya” (Anez mengiakan : “ada gunanya, kok”).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udahan ya, Anez”&lt;br /&gt;Jawab dia : “Kalau mau nelpon, nelpon aja”&lt;br /&gt;“Yuk. Dadag” (Buku Harian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Selasa, 2 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. &lt;/b&gt;   Jam 9 sudah tiba di (gedung pertemuan di komplek UI Rawamangun) Sarwahita.  Upacara seminar dibuka, aku masuk. Suasana orang-orang Arkeologi FSUI adalah, “yeah, suasana jurusan yang kering, tidak favorit, &lt;i&gt;underdog&lt;/i&gt;, tersingkir”, gitu kesanku. Seperti juga jurusanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ikut mendengarkan makalah pertama, “Museum dan Arkeologi”, oleh Bambang Soemadio dan penanggap Aristides Katopo. Isunya : bagaimana meningkatkan kesadaran publik tentang museum dan arkeologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 12, aku cabut, dipelototi banyak mata. Nampaknya Anez tidak ada di antara mereka. Di pintu temu Paulina, Arkeologi 1986, (sebelumnya aku kenal sebagai) anak Himpunan  Astronomi Amatir Jakarta/HAAJ.  Ngobrol sebentar. Lalu aku &lt;i&gt;off&lt;/i&gt; ke (perpustakaan) PPIA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat cewek berkaki putih, &lt;i&gt;inner&lt;/i&gt;ku bilang : “Itu Upik kah ?”. Tapi aku membantah sendiri. Tapi ya, ia bener-bener Upik. Kita (lalu) terlibat ngobrol. Ia belum lulus (Sastra Inggris UI). Daftar artikelku dulu (untuknya) mubazir. Ya udahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkomentar mengenai surat pembaca (yang ia tulis) di majalah &lt;u&gt;Tempo&lt;/u&gt;. “Wah, kayak Cory Aquino”. Ia nampak senang, dengan sikap mau memukul. Komentarku lanjut : “mau jadi golput ya ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upik Syahrir pergi ke rak, aku &lt;i&gt;scanning&lt;/i&gt; majalah &lt;u&gt;Scientific American&lt;/u&gt;. Nampak ia mau cabut, aku pura-pura tak tahu. Eh, Upik menghampiri kursiku dan bilang, “duluan, ya”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan PPIA tak lagi menarik. Aku pulang, sambil menyapa “mBak PPIA” (yang kukira udah pindah). Ia bilang, “lama tidak ke sini ya ?” Aku jawab : “sore hari”. Pulang, jam 13.30. &lt;i&gt;Scanning&lt;/i&gt; shelter UI (Rawamangun) : tak ada Anez. (Buku Harian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986.  Senin, 8 Desember.  Rawamangun, Jakarta Timur. &lt;/b&gt;   Hari ketemu banyak orang : Museum Satria Mandala, aku ikut acara Pengarahan Kursus Perpustakaan Mabes ABRI 86/87. Aku tiba &lt;i&gt;on time&lt;/i&gt;, temu banyak ABRI : letnan kolonel. Aku duduk di barisan (dosen-dosen) UI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke PDII, temu mbak Jati dan Suwarto. “Untung deh gue”. Riset majalah &lt;u&gt;Romantika Arkeologia&lt;/u&gt; (FSUI) : temu berita bagus : Anez baca makalah tentang perkotaan kuno pra-Islam di acara diskusi. “Hebat juga anak satu ini ; dan aku tidak salah pilih ya ? Ia ilmuwan, aku juga, he..he”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mengkhayal bab Anez : “kurasa dia itu juga cinta ilmu seperti juga aku ; dari luar sederhana tapi isi kepalanya cukup kompleks; dan pendekatanku selama ini kira-kira cocok engga ? Ya, &lt;i&gt;embuh&lt;/i&gt;lah.....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari PDII, aku tur ke Redaksi &lt;u&gt;Pelita&lt;/u&gt; : ambil honor artikelku (“Terorisme Media”), 4 Nov 1986, “dapat Rp. 30.950,00”. Okay.  Mampir American Cultural Center (Wisma Metropolitan 2), melamar jadi anggota. Ketemu bu Is Prayoga (kepala perpustakaannya dan dosenku) : “Buset, kerjaku &lt;i&gt;freelance&lt;/i&gt; dikaitkan sama status singleku.  Dia bilang aku harus cepat-cepat kawin”. Wah, aku menjawab : “Nasehat ibu saya dengarkan”. He-he, status &lt;i&gt;freelance&lt;/i&gt;-ku kok tidak bercitra positif ya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haus fotokopi artikel, eh, ketemu bab “melatih anjing”, aku ingat Anez : 24 halaman. Aku sangsi, jadi atau engga ? Akhirnya, demi cinta, harga segitu kupandang murah atau tak seberapa. Okay, aku fotokopi aja (artikel) “Four Ways To Walk a Dog” dari majalah &lt;u&gt;Atlantic Monthly&lt;/u&gt; (April 1986) itu. (Buku Harian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt; Sembilan Belas Tahun Lalu : 1986. Sabtu, 20 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. &lt;/b&gt;   Bangun pagi, tak ada orientasi. Seharian merampungkan desain (t-shirt)  ITSC : Reagan – selesai. Pagi : menyalin dan menyalin surat cinta untuk Anez, “tapi gundah lagi, ditunda lagi”. OK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mandi sore untuk meredakan gundah dan bara di kepala dan dadaku sehubungan dengan cintaku pada Anez dan kesepian-kesepianku. Belum reda.  Malam : box, blong, dan rasa sepi itu makin merujit-rujit. Ya Tuhan, begini hidupku. &lt;i&gt;Escape&lt;/i&gt; : makan soto, kenyang, agak adem hati ini. (Buku Harian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sembilan Belas Tahun Lalu :1986. Senin, 29 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. &lt;/b&gt;  Hari bersejarah dalam karirku sebagai penulis. Aku menyerahkan naskah kepada penerbit : naskah sebuah buku, buku kumpulan humor satwa, dengan motivasi :  mempersembahkan karya itu bagi orang yang ingin aku cintai, Widhiana Laneza ! Anez, sebutannya. (Buku Harian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="”center”"&gt;&lt;img src="http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Buku_2_8cm.jpg" alt="Image hosted by Photobucket.com" /&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Petikan isinya lagi :&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;”Mengapa  engkau menangis, Ani ?”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Aku sedang sedih karena anjingku mati pagi ini”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Lho ? Mertuaku juga baru saja mati, tetapi aku tidak bersedih seperti kamu saat ini.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Iya, habis kamu tidak membesarkan mertuamu sejak kecil” &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;”Aku telah menemukan cara terbaru untuk mengusir pinjal dari tubuh anjingku.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Bagaimana caranya ?”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;”Gampang ! Anjingku kuajak naik pesawat terbang, lalu pilotnya kusuruh untuk berakrobat di udara. Pinjal-pinjal itu menjadi ngeri dan mereka pun berhamburan pergi.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Seekor ayam babon tua memanggil sekelompok ayam babon muda. “Maukah kalian mendengar nasehatku ?”, tanya si Tua.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Nasehat apa ?”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Sehari sebutir telur menjauhkan lehermu dari pisau dapur”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sembilan Belas Tahun Lalu :1986.Rabu, 31 Desember. Rawamangun, Jakarta Timur. &lt;/b&gt;  Aku nelpon Anez. Ia bilang, fotokopi tentang anjing itu telah ia terima. Juga cerita tentang jadwal ujiannya, awal Januari 1987, dan bahkan ia cerita pengin  kerja &lt;i&gt;freelance&lt;/i&gt;. “Kerja apa ?”, tanyaku. “Engga tahu. Bapak yang mencarikannya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada diri Anez apa yang bisa dijual ?”, tanyaku.  Bercanda secara otomatis muncul. Terdengar dia tertawa besar. Segar. “Maksudku, &lt;i&gt;skill&lt;/i&gt;nya”, jelasku. “Bahasa”, kata Anez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anez nanya ; “Apa acara Tahun Baru ?”.  “Evaluasi tahun 1986,” kataku, dan “rencana tahun 1987”,  Anez menambahkan. Aku bilang : “biasanya semangat tinggi ada di bulan Januari, sesudah itu biasa-biasa lagi” (Buku Harian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Delapan Belas Tahun Lalu : 1987. Jumat, 9 Januari. Rawamangun, Jakarta Timur. &lt;/b&gt; Aku nelpon Anez. Ia cerita anjingnya yang hilang. Si Cakil atau Pancho. Dicuri orang ? Ia cerita tentang pagar rumahnya yang bolong. “Anez nangis engga ?”, godaku. “Engga. Mudah-mudahan dicuri oleh pemiliknya”, kata Anez. “Lalu anjing baru, jenisnya apa ?”, tanyaku. Dan jawabnya : “Biasa. Anjing kampung”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi semua (anjingmu) serba kampungan ya ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anez tertawa. Aku lalu nanya bab anjing Labrador, Alsatian, dan melucu tentang anjing Dachshund yang bisa dikomersilkan : untuk membersihkan cerobong asap. Anez bilang : “jangan kejam-kejam dong.”  Aku me-&lt;i&gt;recall&lt;/i&gt; humor tentang cewek yang disukai anjing bukan karena cantiknya, tetapi &lt;i&gt;“she has a good bone structure. Anyway, all the dogs loves her”&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anez inisiatif buka obrolan lain. Kali ini  tentang rencana pertunjukan maestro ballet di Jakarta. “Rudolph Nureyev, kan ?”, sergahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tapi karcisnya mahal”. Anez menjawab : “Ya. Karcisnya mahal”. Aku usulkan : “lebih baik nonton videonya, lebih murah. Oh ya, Anez, aku sering terkicuh antara Nureyev dengan....”, dan Anez gantian cepat menjawab : “Mikhail Baryshnikov”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cocok. Nyambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku nelpon kali ini tanganku yang pegang &lt;i&gt;handle&lt;/i&gt;  gemetaran. Lapar ? Masih soal Baryshnikov aku berkata : “kan dia kini lagi main film”. Anez kembali cepat menimpali : “White Night”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cocok dan nyambung lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anez suka film semacam Return To Eden ?”  Ia bilang : dulu suka, tapi sesudah melingkar-lingkar, ia bilang tidak mengikuti. “Itulah opera sabun”, kataku, dan kusambung cerita tentang penulis opera sabun versus istri tukang ledeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;i&gt;Konon, ada penulis opera sabun yang  pipa ledeng di rumahnya rusak. Ia nelpon tukang ledeng, tetapi yang menerima istrinya. Istri itu surprise setelah tahu yang menelpon itu penulis opera sabun favorit yang sering ia tonton di televisi. Ia lalu tergoda pengin tahu bagaimana kelanjutan kisah si tokoh utama. Katanya, “ kalau saya dibocorin lanjutan kisah si tokoh, saya akan meminta suami saya untuk membantu Anda. Kalau tidak dibocorin, saya akan tutup telepon ini” Si penulis opera sabun itu menyerah&lt;/i&gt;.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anez terdengar tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bersiap menutup pembicaraan. Ketika koin keempat jatuh, menit ke 9 -12 mulai, aku bilang : “Tahu engga, bahwa Anez itu menarik ?”  Anez tertawa.  &lt;i&gt;Surprise&lt;/i&gt;. Dapat tembakan rayuan.  Tapi dia hendak mengelak : “Engga kok. Tapi engga tahu deh anggapan orang lain”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu aku hendak nerangin soal Johari Window, tapi tak jadi. Aku bilang lagi : “Bener kok, Anez itu menarik”. Ia tertawa lagi dan dengan cerdas ia berkelit. &lt;i&gt;“Anyway, thank you”&lt;/i&gt;, katanya dengan tutur yang luwes. Sambil tertawa gembira. Aku juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yuk, dadag”, tutup Anez. (Buku Harian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;FAST FORWARD :&lt;/i&gt; Hari ini : 2005. Kamis, 22 Desember 2005. Wonogiri, Jawa Tengah. &lt;/b&gt;  Saya menulis email balasan berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear Mas Anto,&lt;br /&gt;Terima kasih untuk email Anda, Mas Anto.  Salam kenal. Saya mengingat, kalau tak salah ingat, Anez pernah cerita tentang kakaknya yang kuliah di Paris. Di elektro ? Apakah itu Mas Anto ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anez bercerita sepintas hal itu di rumah, sambil direcoki oleh Grigri (kata Anez, artinya "jimat" dalam bahasa Perancis) dan si Cakil, keduanya adalah anjing kesayangannya. Gara-gara anjingnya Anez itu sampai saya tergerak menyusun buku kumpulan humor satwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat di telepon Anez  cerita bahwa si Cakil itu pergi. Saya tanya ke Anez, apa jenis anjingnya itu ? Anez bilang, anjing kampung. Lalu saya tanya : semua anjingmu itu kampungan ya ? Anez hanya tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga saya katakan di telepon : "Anez itu menarik" Kalau saya ketemu sekarang, masih akan saya katakan : "Anez itu menarik" Saya yakin kini Tuhan Yang Maha Penyayang juga akan mengatakan bahwa Widhiana Laneza itu menarik, sehingga ia dipanggil lebih cepat untuk menghadapNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ikut merasa kehilangan, Mas Anto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Mas Anto, suaminya Anez,  Ibu dan Bapak Taufik ("saya senang ketika diberi cerita beliau tentang makanan khas Senegal") dan keluarga besar di sini diberi ketabahan dan kekuatan iman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; "Selamat jalan Anez, semoga  kau di surga sana mendapat tugas arkeologi yang lebih menantang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hormat saya,&lt;br /&gt;Bambang Haryanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;FAST FORWARD :&lt;/i&gt; Hari ini : 2005. Kamis, 22 Desember 2005.  Wonogiri, Jawa Tengah. &lt;/b&gt; Sebelumnya saya mendapat email tak terduga-duga berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Bambang,&lt;br /&gt;Ketika saya ketik nama adik saya, Widhiana Laneza,  google.com memberikan situs blog anda "Buka Buka Beha", dan saya melihat nama adik saya termasuk dalam &lt;i&gt;list&lt;/i&gt;  “wanita-wanita terindah” Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya ingin memberi tahu bahwa adik saya telah berpulang ke pangkuan Allah SWT pada hari Selasa, tanggal 20 Desember 2005, 3 hari setelah pernikahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;Anto,&lt;br /&gt;kakaknya Anez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Apa Daya Saya Hanya Manusia.&lt;/b&gt; Penyair Jerman Rainer Maria Rilke telah bilang, dalam cinta satu-satunya hal yang harus dipraktekkan adalah :  berilah kebebasan bagi orang-orang yang Anda cintai. Kalau ingin membelenggunya, itu perkara mudah, kita tidak usah belajar tentangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebebasan Anez, kebebasanku dan  kebebasan kami, akhirnya  membuat jatuh cintaku kepada Anez kandas. Aku bisa mengerti. Karen Carpenter, penyanyi favoritku yang mati muda di usia 33 tahun  dalam “When I Fall In Love” seolah mengabadikan kepedihan itu  :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;In a restless world like this,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;love is ended before it’s begun&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini pun, Anez, juga bisa aku mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi memperoleh kabar bahwa Widhiana Laneza telah dijemput kebebasan puncaknya sebagai manusia untuk kembali  keharibaan Tuhan di bulan Desember ini, betapa momen menggetarkan dan penuh misteri dariNya tersebut masih terasa  sulit untuk bisa aku mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa daya, saya hanya manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri, 22-23 Desember 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-113539029680810898?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/113539029680810898/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/12/widhiana-laneza-20-desember-2005.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/113539029680810898'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/113539029680810898'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/12/widhiana-laneza-20-desember-2005.html' title='Widhiana Laneza :   20 Desember 2005'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-113176826597900321</id><published>2005-11-11T19:59:00.000-08:00</published><updated>2005-11-25T04:56:49.916-08:00</updated><title type='text'>Please, Mister Postman, Kartupos Adis dan Surat November Untuk Seorang Calista</title><content type='html'>Oleh : &lt;a href="http://bukabeha.blogspot.com/"&gt;Bambang Haryanto&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Email : &lt;a href="mailto:epsia@plasa.com"&gt;epsia@plasa.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;There must be some word today&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;From my boy friend so far away&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Please Mister Postman, look and see&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;If there's a letter, a letter for me&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;I've been standin' here waitin' Mister Postman&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;So patiently&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;For just a card, or just a letter&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sayin' he's returnin' home to me&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Carpenters, “Please Mister Postman”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;h2 style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: normal;font-size:100%;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;b&gt;SENSASI MENANTI PAK POS TIBA&lt;/b&gt;. Kartupos itu bergambar lanskap kota Sevilla, ibukota Andalusia, Spanyol Selatan. Lain kali panorama Birmingham, Inggris, Istana Terlarang dan poster foto Ketua Mao di Beijing atau Guangzhou di Cina, stadion PSV di Eindhoven, Belanda, sampai Atlanta di Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kontak lewat e-mail, adik saya Broto Happy W. yang berprofesi sebagai wartawan olahraga selalu mengirimkan kartupos dari tempat ia meliput &lt;i&gt;event &lt;/i&gt;olahraga kelas dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas sederhana itu kemudian ia jadikan tradisi dan kini ia tularkan pada putrinya, Adis, (komplitnya : Gladys Erika Septeria) yang masih TK. Setiap ke luar kota, putrinya ia ajak membeli kartupos bergambar khas kota setempat. Lalu mengajarinya untuk menulisi kartupos itu dengan satu-dua kata atau coretan gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan Adis sudah lancar menulis namanya sendiri, alamat, juga nama kakak, orang tua dan kakek-neneknya. Kartupos-kartupos itu lalu dimasukkan ke bis surat, ditujukan pada dirinya sendiri dan orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tiba kembali ke rumahnya di Bogor, sensasi mulai ia rasakan. Mungkin mirip situasi komedik-romantik dari lagu “Please, Mister Postman” dari The Beatles dan juga dinyanyikan oleh Carpenters dulu-dulu itu. Yaitu mengharap-harap kartuposnya tiba, merasakan kegembiraan ketika mendengar suara pak pos memanggil, dan terutama ketika menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja diperkaya dengan cerita-cerita seisi keluarga menyambut tibanya kartupos-kartupos tersebut. Secara tidak langsung, sejak dini ia merasakan kegembiraan dalam menulis, merasakan keajaiban dan manfaat kata-kata tertulis, dan tentu saja mulai terbina mencintai aktivitas membaca dan menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua keluarga mampu melakukan hal yang sama, menjadikan menulis kartupos sebagai tanda awal cinta anak-anak mereka terhadap aktivitas belajar tanpa henti, sepanjang hayat, yang semakin dibutuhkan oleh tiap insan di tengah cepatnya perubahan global dewasa ini. Menulis dan membaca. Silakan, hari ini Anda pun dapat memulainya untuk putra-putri tercinta Anda !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KULIAH CINTA DAN AIRMATA&lt;/b&gt; Sensasi menantikan datangnya surat –surat cinta pernah saya alami sekitar tahun 1982-an. Atau tahun 1983. Sebagai mahasiswa dan anak kos yang pendatang baru di Rawamangun, Jakarta, dengan kemungkinan harus jadi &lt;i&gt;nomad&lt;/i&gt;, alias sering pindah-pindah alamat, saya memutuskan untuk menyewa fasilitas kotakpos di kantor pos pembantu Rawamangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nomor saya adalah Kotakpos 55/JNG-RA Jakarta 13220. Lalu diubah oleh fihak pos menjadi 55/Jatra. Terakhir, di tahun 90-an berubah lagi menjadi 6255/Jatra. Saya menyewa fasilitas kotakpos itu selama hampir 15 tahun !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantorpos Rawamangun saat itu cukup ramai karena kampus Universitas Indonesia (UI) seperti Fakultas Sastra, Hukum, Ilmu Sosial dan Politik, juga Psikologi, masih berada di Rawamangun. Belum lagi ikut berdempet pula kampus IKIP Jakarta, yang kemudian berganti nama menjadi Universitas Negeri Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh komedian mahasiswa saat itu, Pepeng (Ferasta Subardi, yang Sersan Prambors, dan kini menderita lumpuh pinggang ke bawah), IKIP Jakarta itu sering dia jadikan lelucon dengan menyebutnya sebagai “USU”. Tentu saja bukan “Universitas Sumatra Utara”, melainkan “Universitas Sebelah UI”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantorpos ini pernah aku lihat artis Ira Wibowo, blasteran Jawa-Jerman yang kelahiran Berlin. Saat itu ia tercatat sebagai mahasiswa FISIP-UI. Demikian juga pernah aku temui, penyanyi Louise Hutahuruk. Juga dari FISIP-UI pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitas kotakpos itu di tahun 1982 pernah, salah satunya, aku jadikan alamat Universitas Kecil Indonesia (UKI). “Universitas” ini adalah milikku, yang aku gagas sebagai ajang korespondensi melalui surat guna mendorong anak-anak SD-SMP belajar menulis, mengungkapkan gagasan ke dalam bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu “mahasiswi”-ku saat itu adalah Riaty Raffiudin. Saat itu ia duduk di kelas 3 SMP Regina Pacis, Palmerah Utara, Jakarta Barat. Kontak kita terus berlanjut sampai 4 atau 5 tahun kemudian, hingga Ria menjadi mahasiswa Jurusan Ilmu Politik di FISIP UI, di Rawamangun pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyebutku sebagai Mas Hari. Ia anak pertama dari 3 bersaudara, dan ia seperti menemukan seorang kakak yang bisa diajak &lt;i&gt;curhat&lt;/i&gt; pada diriku. Saking lama atau intensifnya kontak kita, sampai ia tahu kalau aku marah, yang ia sebut sebagai “marahnya kaum intelektual”. Menurut Ria, marahku itu tidak nampak di permukaan, tetapi dapat ia rasakan. Ia pun menyebutku sebagai perhiasan kristal. Maksudnya, kalau pecah atau retak, bisa ditangkupkan kembali, tetapi tetap ada cacat yang tersisa. Hmmm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu malam aku main ke rumahnya. Duduk di teras, pagar tanaman bambu taman mengepung kita. Kita berdua sampai berurai air mata. Gara-gara tertawa saat membedah humor-humor seks dari buku-bukunya Larry Wilde. Atau di momen lain, aku sampai menangis terharu, menerima hadiah ulang tahun unik darinya : 33 butir permen Fox warna-warni yang berkilauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;FOR ALL WE KNOW&lt;/i&gt; UNTUK CALISTA.&lt;/b&gt; “Mahasiswi”-ku yang istimewa lainnya adalah Calista. Sosoknya ramping, walau tak sekurus artis Calista Flockhart yang pemeran utama &lt;i&gt;Ally McBeal&lt;/i&gt; yang saya sukai itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata ia malah sudah lulus SMA Kristen 1, Pintu Air, Jakarta Pusat. Calista yang pengin meneruskan kuliah ke Fakultas Hukum, tetapi saat itu meneruskan bisnis perusahaan sepatu perempuan milik keluarganya. Ia pernah memintaku untuk membuatkan sesuatu merek untuk produk sepatunya. Atau minta diantar ke perpustakaan untuk mencari-cari buku yang membahas seluk-beluk desain sepatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah ia agak “memaksa” agar aku mau belajar menjadi &lt;i&gt;sales&lt;/i&gt;, keliling pasar, untuk menjajakan sepatunya. Maksud Calista baik. Ia pengin membantuku, dengan memberikan kail. Bukan memberiku ikan. Sebab saat itu aku yang selain dikejar untuk menyelesaikan kuliah juga harus mencari uang untuk menopang kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calista sempat memberiku &lt;i&gt;support&lt;/i&gt;, “anggap saja sepatu-sepatu ini merupakan produk perusahaan Mas Hari sendiri”. Pembekalan yang bagus, tetapi belum cukup membuatku bisa tegar sebagai penjaja kelilingan. &lt;i&gt;Training&lt;/i&gt;-nya kurang lama, kurang intensif. Aku kemudian memang masuk pasar, tetapi lewat pintu lain, aku terus saja pulang. Rada &lt;i&gt;ngambek&lt;/i&gt;. Calista kemudian menjadi kebingungan. Lalu ia pun mungkin bisa mengerti, keterampilanku terbaik bukan di bidang yang memerlukan &lt;i&gt;social skill&lt;/i&gt; yang tinggi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Ria, Calista ini melarangku untuk main ke rumahnya. Ia takut terhadap reaksi ayahnya. Ia gadis keturunan Tionghoa. Diskusi awal kita bertopik hal-hal yang klasik. Dirinya sebagai warga etnis minoritas selalu merasa tidak aman bila berhubungan dengan orang-orang pribumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku maklum dan mengerti kecemasan tipikal seperti itu. Pelan-pelan, lewat obrolan dan surat-surat yang panjang, akhirnya kita dapat menerima masing-masing apa adanya. Ternyata kita sebagai manusia banyak memiliki kesamaan. Ingin mencintai dan dicintai, ingin pula diterima seperti apa adanya. &lt;i&gt;Rendezvous&lt;/i&gt; kita lalu terjadi di Pasar Baru, bioskop seputar Gunung Sahari, atau tempat kosku di Rawamangun. Pertemuan-pertemuan rahasia yang singkat-singkat, temponya selalu tergesa-gesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula ia tampil sebagai perempuan yang keras hati, tetapi nampak, sori, agak &lt;i&gt;awkward&lt;/i&gt; dalam berinteraksi. Ia merasa kekurangan waktu. Kurang &lt;i&gt;flow&lt;/i&gt;. Serba tergesa. Ia mengaku, baru pertama kali ini ia mengenal lelaki. Aku juga merasakan belum harmoninya reaksi kimia antara kita, yang mungkin tepat tergambar seperti isi lirik dari lagu “For All We Know”-nya Carpenters berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Love, look at the two of us&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Strangers in many ways&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Let's take a lifetime to say&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;I knew you well&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;For only time will tell us so&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And love may grow&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;For all we know. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari minggu siang di bulan November, setelah melakukan &lt;i&gt;rendezvous&lt;/i&gt; penuh bara di Rawamangun, aku mengantar Calista, naik bus pulang. Rumahnya di kawasan Gunung Sahari. Tetapi di depan kampus UI Salemba aku turun, pengin menonton pagelaran rutin yang diselenggarakan oleh mahasiswa FEUI, yaitu &lt;i&gt;Jazz Goes To Campus 1984&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calista pulang sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya saat itu aku telah melakukan kesalahan besar dan fatal yang tidak aku sadari. Mungkin reaksinya merupakan puncak dari akumulasi masalah dari gesekan atau interaksi kita yang selama ini terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Love, look at the two of us&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Strangers in many ways&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangku, lihatlah kita berdua ;&lt;br /&gt;kita adalah orang asing satu sama lain dalam pelbagai hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu Calista tidak lagi menjadi “mahasiswi”-ku lagi. Tidak ada pula penjelasan darinya secara verbal : mengapa. Ternyata kita memang masih saja asing satu sama lainnya. Kuliah cinta kita usai. Waktu yang ada memang tidak berpihak kepada kita, baik padaku dan dan juga pada Calista.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas yang konon sering membutuhkan waktu seumur hidup bagi pasangan untuk akhirnya bisa saling bilang, “aku memahami dirimu sepenuhnya”, kemudian cinta itu pun tumbuh, tentu saja hanyalah menjadi fata morgana bagi kita berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 2005 ini, Calista dan sepotong kisah dari kotakpos di Rawamangun, menggoda atensi untuk sekedar dikenang. Tulisan ini anggaplah sebagai surat maya untuk dia, seorang Calista yang motif tulisan tangannya begitu indah, yang kini entah berada di mana. Walau mungkin pula, tidak seperti halnya harapan dan kerinduan yang dijeritkan oleh Carpenters, Calista justru tidak mengharap-harapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, yang pasti, dengan menuliskannya aku berikhtiar berdamai dengan masa lalu. Juga mereguk hikmah darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri, 28/10 – 12/11/2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-113176826597900321?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/113176826597900321/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/11/please-mister-postman-kartupos-adis.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/113176826597900321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/113176826597900321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/11/please-mister-postman-kartupos-adis.html' title='&lt;i&gt;Please, Mister Postman&lt;/i&gt;, Kartupos Adis dan Surat November Untuk Seorang Calista'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-112969733470096562</id><published>2005-10-18T21:44:00.000-07:00</published><updated>2005-10-21T21:05:29.530-07:00</updated><title type='text'>Patah Hatinya Carpenters  Sampai Dicari Komedian Indonesia Yang Marah Dan Frustrasi !</title><content type='html'>Oleh : &lt;a href="http://bukabeha.blogspot.com"&gt;Bambang Haryanto&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Email : epsia@plasa.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;It's such a dirty old shame&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;When you got to take the blame for a love song&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Because the best love songs are written&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;With a broken heart&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Carpenters, “All You Get From Love Is A Love Song”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;b&gt;Lagu Lagi Patah Hati.&lt;/b&gt;&lt;/strong&gt; Phoebe Buffay yang dimainkan oleh Lisa Kudrow adalah tokoh dalam sitkom “Friends” yang paling saya sukai. Karakternya jujur, kadang suka menipu, tidak &lt;i&gt;jaim&lt;/i&gt; dan suka berterus terang. Karakter yang dalam khasanah &lt;i&gt;comedy writing&lt;/i&gt; disebut sebagai &lt;i&gt;outrageous character&lt;/i&gt;, karakter nyeleneh, dan urakan. Tetapi justru kehadirannya merupakan formula penting hidupnya suatu komedi situasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar ilustrasi : Phoebe pernah bertamu guna menemui orang tua pacarnya, Mike Hanigan, yang berasal dari golongan elite. Saat ditanya, ia enak saja mengenalkan diri. Katanya, dia pernah mengidap sakit hepatitis gara-gara seorang mucikari meludahi mulutnya. Ibunya ia katakan, terus terang, tewas akibat bunuh diri. Kalau dipuji bahwa dirinya cantik, ia akan polos mengaku, “ya, saya memang cantik”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Mike, di kesempatan lain, memutuskan bahwa dia tidak ingin menikah akibat trauma dengan kegagalan perkawinannya yang pertama, membuat hubungan Phoebe-Mike merenggang. Phoebe, sebagai wanita pada umumnya, tentu saja ingin menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Mike tetap menolak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hati hancur, Phoebe mengadu pada Monica. Antara lain, ia mengaku dirinya sampai kesulitan menggubah perasaan galau dan deraan patah hati itu untuk menjadi sebuah lagu !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Anda yang setia menonton sitkom garapan produser eksekutif David Crane, Marta Kauffman dan Kevin S. Bright (ia kenal sama Artika Saridewi yang Putri Indonesia), pengakuan &lt;i&gt;sok&lt;/i&gt; gaya model Phoebe ini pastilah memicu bahak tawa. Karena senyatanya Phoebe adalah penyanyi dan gitaris yang hanya bermodal nekad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba cerna, kalau judul-judul lagu yang ia ciptakan seperti &lt;i&gt;Shut Up and Go Home&lt;/i&gt; sampai &lt;i&gt;The Pervert Parade&lt;/i&gt; ? Nyanyian dan petikan gitarnya jelas kalah kualitas dan jauh dari enak didengar bila dibandingkan, misalnya, dengan para pengamen yang piawai menyanyikan (juga oleh Carpenters) &lt;i&gt;Ticket To Ride&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;I Saw You Standing There&lt;/i&gt;-nya The Beatles di Stasiun KRL Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Phoebe Buffay memang tidak seperti Karen Carpenter yang menyatakan bahwa “lagu cinta terindah justru tercipta ketika seseorang sedang patah hati.” Bahkan mampu pula membuktikannya saat menampilkan lanskap suasana hati khas Carpenters, di mana patah hati pun terasa indah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Air mata di mataku selalu membutakanku / masa depan yang terhampar di hadapanku tak mampu kulihat / walau kutahu esok hari matahari kan bersinar / menerangi dunia untuk siapa pun, tetapi bukanlah untuk diriku”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;b&gt;Anjing Hitam Lord Byron.&lt;/b&gt;&lt;/strong&gt; Suasana hati yang kelabu, tidak semata bisa dipicu oleh patah hati. Melainkan juga, misalnya, oleh depresi. Novelis Kanada, Robertson Davies (1913-1995) pernah mengatakan bahwa depresi itu disebut sebagai anjing hitam oleh penyair Inggris legendaris, penulis satir &lt;i&gt;Don Juan&lt;/i&gt;, yaitu Lord Byron (1788–1824).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diungkap Susan Shaughnessy dalam bukunya &lt;u&gt;Walking on Alligators : A Book of Meditations for Writers&lt;/u&gt; (1993) yang edisi bahasa Indonesianya berjudul &lt;u&gt;Berani Berekspresi : Buku Meditasi Untuk Para Penulis&lt;/u&gt; ( 2004), betapa depresi itu sering dirasakan oleh para penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mereka terus menulis di tengah depresi. Depresi bisa melumpuhkan, tetapi jika Anda dengan disiplin yang kuat, mampu mengalahkannya dan tetap bertahan di tempat Anda menulis, Anda akan tercengang melihat kualitas karya Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robertson Davies menimpali, “Saya belum pernah tahu atau mendengar ada seorang penulis yang tidak kenal dengan Anjing Hitam itu. Tetapi bagaimana pun, buku itu akhirnya berhasil ditulis, dan kadang-kadang bagian yang ditulis saat Anjing Hitam itu sedang buas-buasnya, merupakan bagian yang terbaik”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;b&gt;Butir Pasir Yang Menyakitkan !&lt;/b&gt;&lt;/strong&gt; Patah hati, depresi sampai frustrasi, bagi kalangan komedian merupakan bahan mentah yang berharga sebagai materi lawakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar cerita : tanggal 13/9/2005 saya mendengarkan siaran radio Voice of America (&lt;a href="http://www.voanews.com"&gt;VoA&lt;/a&gt;) seksi Indonesia. Siaran jam 18.45 itu mengudarakan Kennedy Muslim sedang menceritakan kelompok musik &lt;a href="http://"&gt;Switchfoot &lt;/a&gt;asal San Diego. Kelompok ini baru-baru ini (13 September) merilis sebuah album baru berjudul "Nothing is Sound" yang diluncurkan di AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kennedy Muslim saat itu mengutip pendapat vokalis Switchfoot, Jon Foreman, bahwa dalam album terbaru mereka menggubah pengalaman hidupnya dengan memakai metafora yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu, tentang sebutir pasir yang masuk dalam cangkang kerang. Tentu saja pasir, benda asing itu, sangat menyakitkan bagi kerang bersangkutan. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu membuat hal-hal yang semula menyakitkan tersebut justru mampu mereka olah sehingga akhirnya berubah menjadi mutiara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Metafora indah itu yang membuat saya tergerak memberanikan diri, mengirimkan email kepada Kennedy Muslim di kantor VoA, di Independence Avenue, Washington D.C., Amerika Serikat. Kennedy Muslim, dan sebelumnya juga penyiar VoA lainnya yaitu Ni Made Yoni, berbeda dari respons yang biasa saya peroleh dari pekerja media, mereka justru bermurah hati. Mereka membalas email saya, juga memberikan cerita sana-sini, yang membuat saya merasa tersanjung dan terhormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butir pasir di cangkang kerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua, baik warga biasa atau pun para komedian pastilah sama-sama pernah mengalami penderitaan atau kesengsaraan. Tetapi yang membedakan antara orang biasa dan komedian adalah bahwa kemarahan sampai penderitaan yang dialami itu, oleh seorang komedian, mampu mereka ubah dan mereka gubah menjadi sebuah hiburan. Di atas panggung, para komedian itu mengusung penderitaan, obsesi kesedihan, nasib buruk, ketakutan sampai bencana, sengaja mereka bedah guna mengguncang tawa audiensnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patah hati mampu menelorkan lagu cinta yang terindah, begitu senandung Karen Carpenter. Lalu kondisi macam apa yang mampu melahirkan seorang komedian ? Steve Silberberg, moderator &lt;i&gt;newsgroup&lt;/i&gt; alt.comedy.standup, mengatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“But just as pressure and heat transform coal into diamonds, it's that frustration, social pressure and the heat of anger that transforms us into comedians”&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebagaimana gencetan dan panasnya api mampu mengubah arang menjadi intan, maka frustrasi, tekanan sosial dan panasnya api kemarahan mampu pula mengubah diri kita menjadi seorang komedian”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah hal serupa juga terjadi di kalangan &lt;a href="http://komedian.blogspot.com"&gt;komedian di Indonesia&lt;/a&gt; ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, di Indonesia dewasa ini, sepertinya hal tersebut tidak terjadi. Sekadar ilustrasi aktual : kenaikan harga BBM yang benar-benar mencekik leher rakyat banyak, tim perekonomian SBY-Kalla yang gagal total, merebaknya wacana penghidupan kembali komando teritorial yang mengancam embrio kehidupan berdemokrasi yang mulai mekar sampai ledakan bom Bali 2, justru tidak nampak memicu empati, kemarahan sampai rasa frustrasi kalangan komedian Indonesia untuk tampil menyuarakan nurani dan akal sehatnya. Lelucon-lelucon mereka tidak pernah memihak kepada rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin mereka memang tidak punya nyali. Atau sudah tuli ? Atau sudah tidak pula punya nurani ? Apa pendapat Anda ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri, 3/9 – 18/10/2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-112969733470096562?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/112969733470096562/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/10/patah-hatinya-carpenters-sampai-dicari.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/112969733470096562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/112969733470096562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/10/patah-hatinya-carpenters-sampai-dicari.html' title='Patah Hatinya Carpenters  Sampai Dicari Komedian Indonesia Yang Marah Dan Frustrasi !'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-112752658680246597</id><published>2005-09-23T18:42:00.000-07:00</published><updated>2005-09-29T18:46:01.760-07:00</updated><title type='text'>Carpenters, Man Smart, Woman Smarter dan Kenangan Untuk Ibu</title><content type='html'>Oleh : &lt;a href="http://bukabeha.blogspot.com"&gt;Bambang Haryanto&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Email : &lt;a href="mailto:epsia@plasa.com"&gt;epsia@plasa.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;I LOVE YOU, POPCORN !&lt;/b&gt; Anda kaum perempuan dan termasuk kelompok mayoritas yang kini selalu merasa terintimidasi oleh teknologi, simaklah gambaran aktivitas rutin Anda di pagi hari, di masa depan yang tak terlalu jauh ini. Untuk kaum pebisnis, simaklah kata-kata berhuruf miring di bawah ini. Lalu persiapkanlah diri Anda untuk siap-siap menyabet subjek bersangkutan menjadi lahan bisnis Anda di masa depan. Bisnis untuk melayani kaum perempuan, bisnis signifikan di masa depan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat ini pukul 06.00 dan elektroda pembangun saya dengan lembut menyadarkan saya. Lima belas menit sebelumnya, Intel smart home saya telah mengembuskan aroma vanila dengan &lt;i&gt;aromaterapi&lt;/i&gt; jahe ke dalam kamar saya. Untuk menaikkan semangat saya pada hari yang diramalkan akan mendung dan berawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih banyak jahe ditambahkan hari ini karena &lt;i&gt;sensor&lt;/i&gt; bantal saya (dibuat oleh Sun Microsystems, yang menjual dengan &lt;i&gt;positioning&lt;/i&gt;, “Awali Hari Anda Dengan Sedikit Sun” (matahari) mendeteksi rendahnya imunitas pada sistem darah saya, tanda awal akan terserang flu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di latar belakang, &lt;i&gt;lemari baju otomatis&lt;/i&gt; saya memilihkan baju untuk saya, berdasarkan laporan cuaca dan semua saran yang diberikan oleh &lt;i&gt;penganalisis mimpi &lt;/i&gt;pada bantal saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya memasuki kamar mandi, &lt;i&gt;laporan pagi&lt;/i&gt; Sony &lt;i&gt;yang telah dikostumisasi&lt;/i&gt; milik saya melaporkan secara lengkap berita setempat mau pun global (dipilihkan sesuai dengan bidang yang saya minati), &lt;i&gt;e-mail suara&lt;/i&gt;, dan daftar pekerjaan saya hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan pagi saya termasuk pesan produk yang ditata dengan cermat : informasi lembut dari Amazon.com yang memberi tahu saya kalau penyanyi jazz kesayangan saya, Chet Baker, telah meluncurkan CD terbarunya ; pesan dari United Airlines yang meminta saya memerikasa email hari ini karena kemungkinan penerbangan sore saya ke California ditunda akibat kabut ; dan peringatan dari TwinLab agar saya meminum vitamin penambah daya tahan tubuh dan formula herbal berdasarkan pindaian bantal saya semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, di kamar sebelah putri saya bersiap untuk pergi ke sekolah. &lt;/i&gt;Perlengkapan Internet&lt;/i&gt;-nya menyajikan laporan pagi yang telah terkostumisasi, termasuk jadwalnya hari ini dan pengingat pekerjaan rumah, ciptaan Disney. Dia juga bisa melacak jalur bus sekolahnya hingga dia bisa tiba di pemberhentian bus pada saat yang tepat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai sarapan pagi ia berjalan membawa &lt;i&gt;Smart Backpack&lt;/i&gt; buatan Apple. Saat dia mengambilnya, sebuah suara kecil mengingatkannya, “hari ini tak ada pelajaran fisika, jadi tak usah membawa &lt;i&gt;e-book&lt;/i&gt; beratmu itu, kecuali kau mau belajar di ruang belajar pukul 14.00. Dan, kau melupakan sabuk karatemu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fantastis ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah masa depan. Itulah paparan Faith Popcorn, konsultan pemasaran dan peramal tren pasar, bersama Lys Marigold dalam bukunya &lt;u&gt;EVEolution : 8 Secrets of Marketing to Women&lt;/u&gt; (2000).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah lama suka sama Faith Popcorn. Ketika di tahun 80-an kita banyak dihebohkan oleh ramalan masa depan oleh John Naisbitt dan Patricia Aburdene dengan buku sohornya, &lt;u&gt;Megatrends&lt;/u&gt;, saya lebih suka mengamati dan mencoba mencerna isi buku &lt;u&gt;Clicking&lt;/u&gt;, yaitu bukunya Faith Popcorn yang terbit terdahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paparan di atas adalah ilustrasi dari Kebenaran Ketiga dari EVEolusi, yang mereka kemukakan, dalam memasarkan produk atau jasa kepada wanita. Kebenaran itu berbunyi : “Jika Dia (Wanita) Harus Bertanya, Sudah Terlambat”. Katanya, untuk bisa berhasil memasarkan kepada wanita, Anda harus mengerti apa yang membuat wanita senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Anda tahu apa yang membuat perempuan senang ? Apa sih yang diinginkan oleh wanita ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda merasa pusing mencari jawabnya, Anda tidak sendirian. Bahkan seorang sekaliber Sigmund Freud (1856-1939), psikiater Austria dan penemu psikoanalisis, pernah &lt;i&gt;curhat&lt;/i&gt; berat begini : &lt;i&gt;The great question that has never been answered and which I have not yet been able to answer, despite my thirty years of research into the feminine soul, is "What does a woman want?'"&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan terbesar yang tak pernah terjawab dan yang belum bisa saya jawab meski saya telah tiga puluh tahun melakukan penelitian ke dalam jiwa wanita adalah, “Apa yang diinginkan wanita ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faith Popcorn menggertak lagi, yang bisa membuat kaum pria dan pebisnis jadi ciut nyali. Katanya : Jika Anda menunggu sampai wanita mengutarakan pikirannya, coba tebak ? Anda terancam dicampakkan. Apakah Anda seorang pacar, suami, bos, bawahan, atau merek !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KOMPUTER SI BIANG KEROK&lt;/b&gt;. Salah satu industri yang dituduh berat tidak mengetahui kemauan atau kebutuhan kaum perempuan adalah industri komputer. Julie Connelly di majalah bisnis bergengsi &lt;u&gt;Fortune&lt;/u&gt; (14/11/1994) menulis kolom berjudul “Why I Fear and Loathe My Computer” yang provokatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan ucapannya, betapa ia terus terang merasa takut dan benci kepada komputer. Julie pun mengaku dirinya sebagai pengidap teknofobia. Takut teknologi. Fenomena ini bersifat universal. Salah satu akibat sampingnya, kaum perempuan seringkali pula menjadi objek guyonan bila dikaitkan dengan teknologi informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai &lt;a href="http://komedian.blogspot.com"&gt;pengkaji dan penggemar komedi &lt;/a&gt;jenis yang cerdas dan bermutu, saya rada beruntung bisa mengajak Anda mengunjungi situs blognya &lt;a href="http://johnhendrawan.blogspot.com/2005/08/dunia-komputer-dan-wanita.html"&gt;John Hendrawan &lt;/a&gt;yang &lt;i&gt;shio&lt;/i&gt;-nya sama dengan saya ini. Insinyur kimia yang kini berburu jutaan riyal di Doha, ibukota negara kaya minyak Qatar, rupanya suka mengoleksi lelucon seputar perempuan dan komputer. Saya petikkan beberapa di bawah ini. Untuk kaum Hawa yang tersinggung, silakan protes kepada Hendra. Bukan kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita INTERNET,&lt;br /&gt;Wanita yang sulit diakses...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita SERVER,&lt;br /&gt;Selalu sibuk saat Anda butuhkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita WINDOW,&lt;br /&gt;Semua orang tahu bahwa dia tidak dapat melakukan sesuatu dengan baik, namun tak seorang pun yang bisa hidup tanpanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita E-MAIL,&lt;br /&gt;Tiap sepuluh hal yang dia katakan, maka yang delapan adalah bualan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apa reaksi Julie Connelly bila membaca lelucon tadi. Tetapi dirinya yang merasa terteror oleh teknologi, nyatanya tidaklah sendirian. Menurut riset Dell Computer, sebanyak 55 persen warga Amerika resisten atau terkena fobi bila berurusan dengan produk-produk teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan menganggap fobi ini hal main-main. Sebab seorang Jack Welch, CEO dari General Electrics, juga tidak pernah memakai komputer pribadinya. John Akers, boss IBM, memang memiliki komputer di kantornya tetapi tak pernah menyentuhnya sama sekali. Gene Amdahl, pendiri Amdahl Corp. dan yang menelorkan komputer &lt;i&gt;mainframe&lt;/i&gt; IBM System/360, juga tidak pernah menggunakan komputer. “Saya goblog memakai papan ketik. Saya tak pernah belajar”, akunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tahu, seorang David Beckham juga buta komputer ? Ketika melongoki toko buku Newslink di Terminal 1 Bandara Changi Singapura, Januari 2005, saya pergoki buku menarik. Buku tentang bintang sepakbola Inggris yang glamor, suami dari Victoria “Spice Girls” Adams, dan kini bermain di Real Madrid itu. Sebelumnya saya pernah baca-baca biografi Beckham yang berjudul &lt;u&gt;My World&lt;/u&gt; (2000). Salah satu isi buku yang saya curi baca di Changi itu berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pertanyaan : Bagaimana Anda tahu kalau komputer Anda baru saja dipakai David Beckham ? Jawab : Banyak bekas Tipp-Ex di monitornya !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku tersebut memang buku kumpulan lelucon tentang Beckham. Termasuk melucukan istrinya, yang penyanyi dengan kaki belalangnya yang menawan itu. Saya kadang muter CD-nya saat ia dan kelompok Spice Girls konser bersama Luciano Pavarotti dan kawan-kawan untuk anak-anak korban perang di Liberia. Konser di kota Modena, Italia, 1998, diramaikan pula oleh Celine Dion, The Corrs, Eros Ramazzoti, Florent Pagny, Jon Bon Jovi, Natalie Cole, Pino Daniele, Stevie Wonder, Trisha Yearwood sampai Vanessa Williams.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelucon tentang istrinya Beckham itu berbunyi : “Kapan Victoria Adams bernyanyi dengan suara fals ? Pada semua lagu-lagunya !”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KARTINI JANGAN TERBUNUH DI SEKOLAH&lt;/b&gt;. Fobi terhadap komputer yang diidap Julie Connely dan jutaan warga AS jelas bukanlah lelucon. Tahun lalu, menjelang Hari Kartini 2004, saya telah menulis artikel untuk Harian &lt;u&gt;Suara Merdeka&lt;/u&gt; (20/4/2004). Judulnya&lt;a href="http://www.suaramerdeka.com/harian/0404/20/opi4.htm"&gt;, “Kartini Jangan Terbunuh Di Sekolah”&lt;/a&gt;. Intinya, saya mempersoalkan betapa banyak perempuan tidak mampu mengakses dan menggunakan peranti teknologi informasi akibat dari bias jender yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah &lt;u&gt;Newsweek&lt;/u&gt; satu dekade lalu , edisi 16 Mei 1994, memajang laporan utama mengenai kesenjangan jender di dunia teknologi tinggi, yaitu komputer. Mengutip laporan LIPI-nya AS, National Science Foundation, jumlah lulusan sarjana ilmu komputer berbanding 3-1 untuk keunggulan pria, dan angka itu semakin melebar. Fenomena yang kurang lebih sama juga terjadi di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siti Nur Aryani (2004), mengutip kajian BPPT, memperkirakan kaum perempuan Indonesia yang memanfaatkan Internet pada tahun 2002 hanya 24,14 persen. Sementara itu peran kaum Kartini kita pun dalam ketenagakerjaan TI lebih dominan pada posisi administratif, seperti menangani surat elektronik, memasukkan data, atau operator komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sedikit perempuan pada posisi tenaga ahli dan profesional, apalagi dalam struktur pengambilan keputusan dalam industri TI. Bahkan menurut pengalamannya, tidak banyak perempuan berperan sebagai ilmuwan komputer dan programmer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpulnya, penyebab dari gambaran suram di atas, antara lain, akibat masih kuatnya cengkeraman kesenjangan jender di dunia industri dan akarnya mudah ditemui ketika Kartini-Kartini muda kita duduk di bangku sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kevin Treu, Professor Ilmu Komputer dari Furman University, South Carolina, AS (&lt;u&gt;Technology &amp;amp; Learning&lt;/u&gt;, 5/1997), menyebutkan bahwa ilmu komputer dikarakterisasikan dengan apa yang disebut sebagai efek pipa ledeng. Semula tidak ada perbedaan prestasi antara pelajar laki-laki dan perempuan dalam mata pelajaran komputer di tingkat sekolah dasar. Mereka sama-sama menunjukkan minat yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Pluto Institute, lembaga penelitian media di AS, pada tahun 1996 mengukuhkan hal yang sama ketika mengeluarkan buku putih berjudul &lt;u&gt;Perempuan dan Revolusi Digital&lt;/u&gt;. Mereka melakukan kajian terhadap 140.000 perempuan AS dari tingkat pra-sekolah, kelas 1 SD, 5 SD, 2 SLP, 3 SLA dan tingkat mahasiswa, mengenai persepsi mereka tentang teknologi informasi (TI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya menggembirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika diajukan pertanyaan, apakah perempuan mampu seperti halnya lelaki dalam berurusan dengan informasi digital, sebanyak 23 persen menjawab sama mampu, 2 persen kurang mampu dan 75 persen mengatakan lebih mampu. Sebanyak 80 persen menyatakan bahwa revolusi digital memberikan peluang bagi kaum perempuan yang semula belum terbuka untuk mereka dan 20 % menyatakan sebaliknya. Ketika didesak mengapa, 6 persen tidak menjawab dan 94 persen menyatakan karena teknologi tidak mengenal jender.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh menarik : simaklah sosok Emy Maslina Zubaiti. Gadis remaja kelahiran 1 November 1991 ini duduk di bangku kelas II SLTP Alternatif Qaryah Thayyibah, di desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah. Di rumahnya yang berdinding kayu rapuh, anak dari Ismanto (43) yang tukang servis mebel dan Latifah (37) yang penjual jamu &lt;i&gt;gendong&lt;/i&gt;, tiap hari bisa bersibuk-ria merancang animasi bersuara di komputernya. Emy, komputer, keluarganya dan kehidupannya sehari-hari telah menjadi subjek esai foto yang menyentuh, karya wartawan foto Harian &lt;u&gt;Kompas&lt;/u&gt; Eddy Hasby di &lt;u&gt;Kompas Minggu&lt;/u&gt; (15/5/2005 : 12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan di sekolahnya, yang tidak jauh dari rumahnya, Emy juga terbiasa mengakses Internet untuk memanfaatkan &lt;i&gt;account&lt;/i&gt; emailnya, &lt;a href="mailto:emy123@plasa.com"&gt;emy123@plasa.com&lt;/a&gt;, guna menyapa dan disapa oleh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah Emy adalah sekolah alternatif yang pantas dibanggakan. Karena mampu menjangkaukan akses anak didiknya yang berasal dari keluarga berpenghasilan minimal sehingga mampu memiliki perangkat teknologi informasi, komputer, sebagai sarana belajar dan berpikir mereka. Dengan cara mencicil, seribu rupiah tiap harinya. Persoalan klasik kemudian muncul, bagi Emy dan teman-teman perempuan sebayanya, apakah mereka akan juga beruntung di masa depan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KOMPUTER ITU BARANG PRIA !&lt;/b&gt; Kita belum tahu. Sebab dalam realitas, seperti analisis Kevin Treu, pada setiap tingkat proses pendidikan peserta perempuan bila terkait dengan interaksinya dengan teknologi informasi, semakin banyak yang berguguran. Di tingkat SLTA semakin sedikit pelajar putri terjun dalam aktivitas memakai komputer, misalnya keikutsertaannya dalam lomba pemrograman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berkuliah, semakin sedikit mahasiswi mengambil jurusan ilmu komputer dibanding teman prianya. Akibatnya, makin sedikit pula perempuan yang mengambil jalur pasca-sarjana di bidang ilmu komputer, demikian juga ketika terjun berkarier sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesenjangan jender itu, menurut Treu, terjadi akibat kuatnya prasangka subtil yang mendera kalangan siswa perempuan selama duduk di bangku pendidikan. Contohnya, kalau anak-anak lelaki dibiarkan oleh orang tuanya untuk bermain-main lumpur, tetapi anak perempuannya diharuskan bersih dan rapi, hanya boleh bermain dengan bonekanya. Anak perempuan juga sering ditakut-takuti mengenai angkernya pelajaran sains dan matematika, tidak hanya oleh sekolah, tetapi juga oleh orang tua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beragam isyarat atau teror halus yang tidak direncanakan itu, baik ditunjukkan oleh kalangan guru, baik pria atau pun wanita, dan juga orang tuanya, berdampak terciptanya harapan yang lebih rendah bagi kalangan pelajar perempuan untuk terpacu menguasai teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sarah Douglas, professor ilmu komputer dari Universitas Oregon, dalam eksperimennya memajang komputer yang telah diisi aneka program menarik dalam sebuah bursa kerja. Tujuannya untuk mengenalkan profesi-profesi baru yang belum populer dikenali para mahasiswi. Hasilnya saat itu, tak ada satu pun mahasiswi yang singgah di kiosnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya, para mahasiswi itu menjelaskan bahwa komputer itu “barang” dan “dunia” kaum pria, di mana ketika mereka ingin mencoba memasukinya, mereka akan diusir dan dilecehkan. Akibatnya, para perempuan muda terdidik itu menjadi frustrasi dan akhirnya minatnya pun menjadi mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencoba memperbaiki keadaan, Kevin Treu merancang ulang mata kuliah Pengantar Komputasi dan Ilmu Komputer yang diajarkannya. Tujuan kuliah tetap, tetapi isinya mengalami perubahan, kini dengan sentuhan yang lebih ramah terhadap perempuan. Ketika membahas sejarah komputasi, ia tekankan pentingnya kontribusi kaum perempuan dalam pengembangan ilmu komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, salah satu programer komputer yang pertama adalah seorang perempuan. Dia adalah Ada Lovelace yang bekerja bersama Charles Babbage pada tahun 1800 saat merancang komputer mekanis yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau selama ini kalangan laki-laki selalu menganggap komputer sebagai peralatan mandiri yang canggih, sementara itu kaum perempuan lebih cenderung mengharapkannya sebagai alat yang berguna secara praktis dan relevan bagi kepentingannya sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk hal itu, Treu kemudian merancang mata pelajaran praktik yang melibatkan bahasan manfaat komputer dalam kehidupan nyata. Perubahan ini berimbas pada perubahan suasana dan aktivitas kelas. Ia mendorong mereka untuk bekerjasama dalam sebuah tim, memaksimalkan pengalaman sosial masing-masing dalam memecahkan masalah dan meminimalkan pola kerja individualis yang penuh persaingan, pola kerja yang tidak disukai kaum perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan dalam materi kuliahya termasuk ditambahkannya pelajaran etika dan kajian mengenai semakin pentingnya peran komputer dalam aktivitas bekerja jarak jauh (&lt;i&gt;telecommuting&lt;/i&gt;), bedah jarak jauh dan pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riset menunjukkan bahwa kalangan perempuan lebih tertarik bila dibukakan pemahamannya mengenai manfaat komputer sebagai sarana untuk menolong orang lain dan mempersatukan mereka. Lanskap dunia teknologi informasi pun kemudian berubah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PEREMPUAN KINI PRIMADONA !&lt;/b&gt; “It’s Not Just E-Male : Multimedia is hot, and these women are at the top of the game”, demikian salah satu judul artikel dari majalah &lt;u&gt;Working Woman&lt;/u&gt; (June 1996) yang terbit spesial mengupas teknologi informasi. Simak pengantarnya yang berkobar-kobar sikap optimismenya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah industri tanpa kaum mapan. Industri yang tidak dikangkangi koneksi para kaum lelaki. Tidak ada langit-langit gelas yang harus dipecahkan. Multimedia, yang meliputi Internet, CD-ROM dan TV Interaktif, merupakan &lt;i&gt;boom&lt;/i&gt; lahan kerja teknologi tinggi untuk kaum perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaannya tidak berkutat seputar penulisan kode-kode program yang hanya dimengerti oleh komputer dan para pemrogram lainnya, melainkan menciptakan isi yang mampu merenggut atensi para pakar dan juga pemula, seperti situs Web yang menawan, CD-ROM yang mengundang aksi petualangan dan program TV interaktif yang menyerap perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik beratnya bertumpu kepada keterampilan yang melimpah ruah dimiliki kaum perempuan : penulisan, desain, juga pemasaran. Semua yang mencebur dalam bidang ini adalah para pionir. Mereka itu (untuk detilnya, manfaatkan mesin penelusur Google) antara lain :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kim Polese. Connie Connors. Caitlin Curtin. Shelley Day. Michelle DiLorenzo. Esther Dyson. Lucie Fjeldstatd. Deborah Forte. Jessica Helfand. Stacy Horn. Roberta Katz. Susan Lammers. Liza Landsman. Ilene Lang. Jane Metcalfe. Sherry Miller. Sally Nardick. Nancy Rhine. Sharleen Smith. Victoria Wayne. Ann Winblad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara mereka, saya agak mengenal sama Esther Dyson. Salah satu pendiri Electronic Frontier Foundation dan putri maha fisikawan Freeman Dyson. Kolom sindikasinya pernah muncul di &lt;u&gt;Kompas&lt;/u&gt;, menggantikan kolomnya Nicholas Negroponte. Sayang, baru beberapa kali muncul, tidak dilanjutkan. Saya juga suka sama Sherry Miller yang memiliki slogan unik : Wanita Tertua Di Web.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk Anda yang berminat memoles isi blog atau webnya agar semakin menawan, simak nasehat Sherry Miller di bawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kebanyakan isi gagal karena tidak tampil sebagai sebuah cerita. Oleh karena itulah saya membaca novelnya Stephen King dan Tom Clancy – dan mempelajarinya secara osmosis, ketimbang memakai teknik analisis atau dekonstruksi, untuk menyerap daya dan dampak dari penceritaan. Saya juga membaca materi populer yang dimuat di koran, majalah dan juga buku-buku untuk menghayati apa saja yang mereka baca”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya boleh menambahkan daftar perempuan mempesona di atas, antara lain dengan nama-nama : Patricia Beckmann. Stephanie Bergman. Bonnie Bracey. Janette Bradley. Mala Chandra. Jayne Cravens. Karan Eriksson. Ruann Ernst. Carly Fiorina. Roberta Furger. Mary “ThirdMedia” Furlong. Megan Gaiser. Doreen Galli. Monika Henzinger. Louise Kirkbride. Joan Korenman. Mie-Yun Lee. Mari Matsunaga. Katharine Mieszkowski. Carol Muller . Ann Navarro. Netochka Nezvanova. Evelyn Pine. Tracey Pettengill. Ardith Ibanez Rigby. Sharron Rush. Aliza “Cybergrrl” Sherman. Tiffany Shlain. Barbara Simons. Meg “Ebay” Whitman. Julie Wainwright. Tracy Wilen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar perempuan yang berkiprah di dunia teknologi informasi, jelas akan semakin panjang. Seorang ilmuwan perempuan Indonesia, Dr. Karlina Leksono-Supelli, pernah dalam wawancara di harian &lt;u&gt;Republika&lt;/u&gt; (5/10/1997), dengan lantang bilang : “Bila wanita menguasai teknologi, pria bisa tersaingi”. Pernyataan ini jelas sesuai dengan isi nyanyiannya &lt;a href="http://www.amazon.com/exec/obidos/ASIN/0967597315/ref=ase_bookstorenow/102-0350391-9947343"&gt;Carpenters&lt;/a&gt;, &lt;i&gt;Man Smart, Woman Smarter&lt;/i&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Let us put man and woman together&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And see which one is smarter&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Some say man, but I say no&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;The women got the man like a puppet show&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;It ain't me, it's the people that say&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;The men are leadin' the women astray&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;But I say, that the women today&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Are smarter than men in every way&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Well, that's right, the women are smarter&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;That's right, the women are smarter&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;LALU APA MANFAAT PRIA ?&lt;/b&gt; Kalau di masa depan kaum perempuan semakin cakap dan bahkan melebihi kaum laki-laki, oh, betapa makin susahnya menjadi laki-laki. Apakah nasib lelaki nantinya hanya seperti pejantan laba-laba Janda Hitam, yang setelah memenuhi kuwajiban seks lalu habis dimakan oleh sang betinanya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba simak pula pendapat tokoh wartawan dan feminis Amerika Serikat, pendiri majalah &lt;u&gt;Ms.&lt;/u&gt;, Gloria Steinem (1934- ) yang mengatakan, “perempuan tanpa laki-laki ibarat ikan tanpa sepeda !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa &lt;i&gt;mangsud&lt;/i&gt; Anda, mbak Gloria ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketakutan lelaki terhadap perempuan pernah mencuat saat peristiwa heboh yang terjadi di Grinnel College (Iowa, AS), tahun 70-an. Saat itu perwakilan majalah &lt;u&gt;Playboy&lt;/u&gt; hendak memaparkan topik mengenai filosofi majalahnya. Sebagian yang hadir adalah para mahasiswi, mereka sengaja datang dengan telanjang bulat. Mereka bersiteguh agar perwakilan dari &lt;u&gt;Playboy&lt;/u&gt;, yang seorang lelaki, untuk tampil bertelanjang juga. Pria tersebut kabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Margaret “Wanita Besi” Thatcher yang Perdana Menteri Inggris (1979 -1990) pernah bilang, “Dalam politik, bila untuk berbual-bual bicara, pilihlah pemimpin pria. Tetapi bila ingin tugas dituntaskan, pilihlah wanita”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bila dikaji menurut kriteria panjangnya usia, daya tahan terhadap penyakit dan stres, kemampuannya menyesuaikan diri dengan lingkungan dan sebagainya, maka lelaki merupakan fihak yang lebih lemah di antara dua jenis seks” – kata Landrum B. Shuttles, M.D., Ph.D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nancy Reagan (1923– ), bintang film dan istri Presiden AS, Ronald Reagan, bilang : “Perempuan itu ibarat kantung teh celup – hanya dalam air panas Anda jadi tahu betapa kuat diri mereka”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu saya almarhumah Sukarni, yang sampai mempunyai &lt;a href="http://www.sivalintar.com"&gt;anak 11 orang&lt;/a&gt;, satu meninggal, gemar melucu di rumah juga di panggung dengan riasan sebagai Petruk dalam acara organisasi istri tentaranya, serta suka menulis surat yang panjang-panjang untuk saya, sering saya lupakan untuk tercatat sebagai perempuan yang mengagumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi saya sebagai bujangan tua, kini saya merasa sulit untuk mengakhiri atau meneruskan tulisan ini. Apalagi mengambil kesimpulan. Mungkin ini merupakan sinyal jelas betapa memang tidak mudah untuk memahami kaum perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, dirinya bisa hadir &lt;i&gt;fragile e innocente&lt;/i&gt; seperti anak merpati yang baru keluar dari cangkang telurnya, nampak rapuh ketika merintih “peluk aku”, tetapi di kesempatan lain mampu membuat hati lelaki ini hancur berkeping-keping karena saya tak dikaruniai mukjijat &lt;i&gt;mind reader&lt;/i&gt; untuk mengetahui apa mau dirinya. Faith Popcorn memang benar, “Jika dia (wanita) harus bertanya, sudah terlambat”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suasana limbung, mungkin seperti Freud yang bingung, aku menjadi tertarik menyimak komentar John Hendrawan tentang wanita setelah ia memposting tulisan “Dunia Komputer dan Wanita” di situs blognya sendiri. Angka-angka yang ada dalam pernyataan di bawah ini adalah tambahan dari saya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahhh aku yg duluan kasih koment..aku suka (1) wanita karier, (2) pinter, (3) sibuk dan (4) asik di ajak diskusi...!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolehkah saya berbisik kepadanya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“John, mungkinkah Anda kini lagi terbius oleh budaya Timur Tengah, tempat Anda bekerja kini? Di dunia yang semakin terspesialisasi, cita-cita Anda tersebut sungguh luar biasa. Benarkah Anda nyata-nyata ingin melakukan poligami ? Sekaligus dengan empat istri ?Bayangkan bila nama-nama mereka itu Arlene, Ophelia,Rita dan Katrina !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri, 19-23 September 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-112752658680246597?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/112752658680246597/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/09/carpenters-man-smart-woman-smarter-dan.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/112752658680246597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/112752658680246597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/09/carpenters-man-smart-woman-smarter-dan.html' title='Carpenters, &lt;i&gt;Man Smart, Woman Smarter&lt;/i&gt; dan Kenangan Untuk Ibu'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-112683809896952183</id><published>2005-09-15T19:31:00.000-07:00</published><updated>2005-09-23T18:40:06.636-07:00</updated><title type='text'>Ketawang Puspawarna,  Carpenters  Dan Cinta Yang Menari Di Antara Kerlip Bintang</title><content type='html'>Oleh : &lt;a href="http://bukabeha.blogspot.com"&gt;Bambang Haryanto&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Email : &lt;a href="mailto:epsia@plasa.com"&gt;epsia@plasa.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Somewhere out there&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;beneath the pale moonlight&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;someone's thinkin' of me&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;and loving me to night&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Somewhere out there&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;someone's saying a prayer&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;that we'll find one another&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;in that big somewhere out there.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(“Somewhere” - The Sound of Music)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MUSIK SOLO SAPA LUAR ANGKASA&lt;/b&gt;. “Andai makhluk ruang angkasa memang ada, bayangkan apa reaksi mereka mendengar musik ciptaan manusia di Bumi. Mana yang lebih cocok dengan pendengaran makhluk luar angkasa, musik ciptaan Johann Sebastian Bach, Ludwig von Beethoven, Mozart, atau musik lain yang belum semasyhur karya-karya mereka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda tanya ini memang belum terjawab sampai kini, meski tahun 1977 pesawat Voyage dalam misinya ke angkasa luar membawa serta 27 rekaman musik, di antaranya sejumlah komposisi ciptaan ketiga komposer klasik tadi. Para ahli pasti penasaran dan kita juga boleh penasaran. Soalnya satu dari musik yang dipilih untuk dibawa adalah musik asal Indonesia. Tepatnya asal Jawa, yaitu gending &lt;i&gt;Ketawang Puspawarna&lt;/i&gt;, ciptaan Mangkunegara IV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam urut-urutan 27 musik yang dibawa ilmuwan NASA itu, &lt;i&gt;Ketawang Puspawarna&lt;/i&gt; ada pada urutan kedua, dengan durasi empat menit 43 detik, sesudah &lt;i&gt;Bradenburh Concerto No 2 in F&lt;/i&gt; karya Johann Sebastian Bach” (&lt;u&gt;Kompas&lt;/u&gt;, 22/5/2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gending &lt;i&gt;Ketawang Puspawarna&lt;/i&gt; itu bisa saya saksikan ketika menjadi penutup pagelaran musik Megalitikum-Kuantum 29-30 Juni 2005 di Plenary Hall Jakarta Convention Center, saat disiarkan ulang di Stasiun TV7, 10 Juli 2005. Digarap dalam semangat kolaborasi menawan antara musik pop dan gamelan Jawa, diwakili masing-masing oleh pemusik Dwiki Dharmawan dan etnomusikolog asal Solo, Rahayu Supanggah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya terasa agung, mistis, indah, metalik dan luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijalin antara lain oleh suara pesinden muda berbakat Peni dengan ornamen timpalan &lt;i&gt;yodel&lt;/i&gt; dari Ubiet, vokalis Aceh untuk mewakili ekspresi gaya vokal luar Jawa, dipadu upaya visualisasinya dengan rangkaian interpretasi gerak tari oleh Didi Nini Thowok dalam bentuk sajian siluet yang berselang-seling panorama layar multimedia yang menyuguhkan eksotika isi angkasa raya. Jiwa yang tampil mewadag kental rasa Jawanya, tetapi sekaligus terasa &lt;i&gt;alien&lt;/i&gt; eksotika yang dihadirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggagas konsep Megalitikum Kuantum, Rizaldi Siagian, mengatakan tentang sajian baru gending &lt;i&gt;Ketawang Puspawarna&lt;/i&gt; itu : “Ini kesempatan buat kedua musisi untuk menginterpretasi, andai benar ada &lt;i&gt;alien&lt;/i&gt;, bagaimana makhluk-makhluk itu mendengar gamelan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KABUT ANDROMEDA !&lt;/b&gt; Upaya umat manusia menggalang kontak dengan makhluk luar angkasa, termasuk dengan bunyi-bunyian gamelan, menunjukkan betapa luar angkasa dan makhluk-makhluknya, sudah lama menjadi obsesi, baik visi sampai impian, baik atau buruk, pada diri umat manusia. Luar angkasa tak pelak merupakan &lt;i&gt;the final frontier&lt;/i&gt;, perbatasan akhir, yang sarat pesona, juga misteri, seperti diungkap dalam film seri fiksi-ilmiah &lt;u&gt;Star Trek&lt;/u&gt; yang terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya tarik &lt;i&gt;the final frontier&lt;/i&gt; tidak hanya dalam fiksi. Realita ilmiah kadang jauh lebih mengagumkan. Simak siaran radio BBC (13/9/2005) yang mewartakan bahwa satelit NASA baru-baru saja ini mencatat kilatan cahaya dari tepian luar angkasa. Kilatan itu merupakan ledakan bintang mati yang berjarak 12,5 milyar tahun cahaya dari bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar info : satu tahun cahaya adalah satuan jarak yang digunakan dalam disiplin ilmu astronomi. Yaitu jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam ruang hampa selama satu tahun. Satu tahun cahaya (!) itu setara dengan 9.4650 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 meter atau 5.8785 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 x 10 mil. Jarak sejauh 12,5 milyar tahun cahaya tersebut mengindikasikan betapa bintang bersangkutan lahir jauh sebelum matahari beserta tata surya yang kita kenal ini terbentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misteri dan rasa ingin tahu manusia yang kental terhadap luar angkasa menimbulkan harapan sekaligus ancaman. Dalam ranah penciptaan di bidang sastra, luar angkasa merupakan papan permainan yang menggairahkan untuk karya-karya fiksi ilmiah. Di ranah menggetarkan ini tercatat raksasa pengarang seperti Jules Verne, H.G. Wells, Robert A. Heinlein, Isaac “Bapak Robot” Asimov, Poul Anderson, Edgar Rice Burroughs, A.E. van Vogt, Arthur C. Clarke, Fritz Leiber, Henry Kuttner, sampai Ursula K. Le Guin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun yang lalu, dalam buku katalog yang menyertai Pameran Buku Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) 1985, 4 – 14 Mei 1985 di Balai Sidang Senayan Jakarta, saya telah menulis artikel berjudul, “Fiksi Ilmiah : Bekal Anak-Anak Menghadapi Zaman Serba Teknologi”. Antara lain saya tuliskan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cerita-cerita sains-fiksi atau fiksi ilmiah dalam kerangka menghadirkan dunia-dunai tidak dikenal sebenarnya tidak jauh dari usaha memberi kemasan baru bagi proyeksi yang jauh-jauh hari telah dilakukan. Misalnya saja konsep teologi &lt;i&gt;inferno&lt;/i&gt; dari Dante.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksplorasi ke dunia tidak dikenal tersebut juga merupakan ekstensifikasi tema-tema karya pengarang abad 18-an yang berusaha meyakinkan adanya realitas dalam karyanya dengan mematok seting ceritanya pada daerah yang eksotis saat itu : satu-dua pulau terpencil di lautan Pasifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang hari ini ketika tidak ada lagi bagian dunia yang belum terjamah oleh manusia, proyeksi daerah tidak dikenal itu segera mendongak ke atas : Planet Cygnus. Perang Antargalaksi. Kabut Andromeda. Angkasa Raya !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;EFEK MOZART DAN KECERDASAN&lt;/b&gt;. Alunan gamelan dalam gending &lt;i&gt;Ketawang Puspawarna&lt;/i&gt; mungkin kini sudah menjadi &lt;i&gt;top hit&lt;/i&gt; atau menjadi nomor klasik di kalangan makhluk angkasa luar. Mungkin mereka menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaan spekulatif ini ditopang asumsi yang selama ini kuat terbangun bahwa makhluk- makhluk angkasa luar memiliki kecerdasan yang tinggi. Steven &lt;i&gt;“I dream for a living”&lt;/i&gt; Spielberg dengan film &lt;i&gt;ET&lt;/i&gt;-nya telah menghadirkan fantasi manusia tentang makhluk angkasa luar yang cerdas dalam cerita di layar putih yang mempesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan merujuk asumsi tersebut maka merupakan pilihan yang jenius bila kehendak manusia bumi untuk mengontak mereka adalah melalui musik. Sebab musik merupakan determinan yang sangat erat terkait dengan kecerdasan, bukan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak saja pendapat seorang Joseph Chilton Pearce ketika mengantar bukunya Don Campbell yang terkenal, &lt;u&gt;The Mozart Effect for Children&lt;/u&gt; (2000), yang antara lain menulis :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pencinta musik seumur hidup, saya ingat pernah membaca bahwa sekitar akhir tahun 1940-an, para ilmuwan atom di Oak Ridge, Tennesse, berkumpul pada saat-saat senggang mereka di malam hari untuk memainkan kuartet alat musik gesek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terkesan sekali ketika membaca jawaban penerima hadiah Nobel, David Hubel, seorang ilmuwan saraf, sewaktu ditanyai tentang apakah ia punya minat lain di samping bidang keahlian yang ditekuninya, penelitian otak yang berhubungan dengan penglihatan. Jawabnya adalah, “Sesungguhnyalah rupanya saya telah menghabiskan sebagian besar masa hidup saya di depan piano”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paparan Pearce itu kemudian mudah mengingatkan pada sosok Albert Einstein (1879–1955), fisikawan termasyhur yang lahir di kota yang kini jadi tempat tinggalnya Tina, “Sang Putri Duyung Jelita Dari Sungai Donau” (klik &lt;a href="http://meerjungfrau.blogspot.com/2005/09/makasih-pakde.html"&gt;Love for All Season &lt;/a&gt;untuk menemui blog dan foto diri Tina yang menawan), yaitu Ulm, Jerman. Kisah cinta yang panjang antara Einstein dengan biolanya telah dikenal oleh banyak orang.  Dunia tentu tidak bisa melupakan kenangan terhadap peristiwa  yang terjadi di tahun 1921, saat Einstein hendak berangkat ke Stockholm guna mengambil hadiah Nobel yang dimenanginya. Ia naik kereta api kelas 3 dengan di ketiaknya terkempit biola kesayangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;CINTA UNTUK KAREN TERCINTA&lt;/b&gt;. Upaya umat manusia menggalang kontak dengan media musik untuk para penghuni luar angkasa juga menjadi salah satu balada dalam lagu kelompok &lt;a href="http://shopping.yahoo.com/p:The%20Carpenters:1927003255;_ylt=AmZnmrS.1BhiDqrs_8QonOxUvQcF;_ylu=X3oDMTBtMjVyMGQxBF9zAzg0MzkzMzAwBHNlYwNhcnRuYXY-"&gt;Carpenters&lt;/a&gt;. Inilah kelompok musik soft rock legendaris era 70-an. Terbentuk tahun 1968, di New Haven, Connecticut, yang dimotori oleh Richard Carpenter (1946- ) sebagai pianis dan produser, dan adiknya, Karen Carpenter (1950-1983), sebagai penyanyi utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang &lt;i&gt;fan&lt;/i&gt; menuliskan : &lt;i&gt;Karen Carpenter's voice can make anyone fall in love&lt;/i&gt;. “Suara Karen Carpenter mampu membuat semua orang jatuh cinta”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lain mengimbuhi tak kalah indah : “Dia dan suara uniknya tatkala membawakan cinta akan menyentuh semua hati di antara kita, dan bakal abadi selamanya. Mendengarkan lagu-lagunya membuat kita serasa kembali ke jaman ketika kelompok ini baru tampil...dan ketika kita masih pula berusia muda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karen Carpenter meninggal dunia pada usia 32 tahun, pada tanggal 4 Februari 1983. Ia meninggal karena gagal jantung akibat komplikasi penyakit anoreksia nervosa yang lama ia perjuangkan untuk memperoleh kesembuhannya. Ketika denyut jantungnya berhenti, jutaan jantung penggemarnya di seluruh dunia terguncang karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penggemar tak ayal menulis rasa dukanya yang mendalam : “Karen memiliki vokal yang unik. Jadi sungguh menyedihkan ketika Tuhan memanggilnya pulang dalam usia mekar 32 tahun. Duka kami tersalur lewat lagu-lagunya...Semoga Tuhan memberkati arwahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simaklah juga betapa cintanya kepada sosok Karen Carpenter sampai seorang penggemarnya yang lain menuliskan kesan seperti menulis surat wasiat yang mengharukan : “Suara Karen sungguh luar biasa dan demikian pula musiknya yang mampu mengisi hati saya dengan kebahagiaan ketika mendengarnya...Saya katakan kepada anak saya, seumpama terjadi sesuatu pada diri saya (yaitu kematian), tempat untuk mengenangku kembali adalah pada musik Karen Carpenter... Tidak ada kata-kata lain yang lebih pantas untuknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lagu &lt;i&gt;Calling Occupations of Interplanetary Craft&lt;/i&gt; telah digambarkan betapa makhluk luar angkasa yang justru berprakarsa mengontak umat manusia. Dalam acara permintaan lagu-lagu dari stasiun radio &lt;u&gt;All Hits Radio&lt;/u&gt;, penyiarnya tiba-tiba dibuat bingung karena muncul penelpon bersuara metalik yang tidak dikenal, kemudian terdengar mengabarkan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;We are observing your earth&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And we'd like to make&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;a contact with you. Baby.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para makhluk luar angkasa itu sedang mengamati bumi. Mereka pun ingin mengontak umat manusia. Mereka melakukan kontak melalui gelombang radio. Media kontak yang dipilih makhluk luar angkasa, yaitu melalui gelombang radio, tentu tidak bisa dipisahkan dari perkembangan ilmu radio astronomi, yang dipelopori oleh Karl.C. Jansky (1905-1940), ilmuwan pada Bell Laboratory, sejak tahun 1932. Jansky yang pertama menemukan gelombang radio yang berasal dari luar atmosfir bumi, yaitu dari galaksi Bima Sakti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disiplin ilmu radio astronomi ini, yang kemudian menjadi cabang terpenting astronomi, adalah mengkaji objek-objek luar angkasa melalui gelombang radio yang mereka pancarkan. Perkembangan ini menghadirkan perangkat teleskop radio yang menggantikan teleskop optik astronomi visual yang lama. Fasilitas teleskop radio terbesar di dunia dengan piring parabola berdiameter sampai 305 m adalah Observatorium Arecibo di Puertorico.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;CINTA DI ANTARA KERLIP BINTANG&lt;/b&gt;. Lagu indahnya Carpenters, yang diawali bunyi mirip sirene lembut, antara lain mengabarkan pesan-pesan damai umat manusia untuk para makhluk luar angkasa. Seolah digambarkan mereka sedang menaiki kendaraan luar angkasanya dalam misi perjalanan menjelajah antarplanet di angkasa raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;”And please come on peace, we beseech you”&lt;/i&gt;, demikian pinta Karen Carpenter. “Hanya dengan mendarat di bumi, mengajari kami, karena tanpamu maka bumi ini tak akan lestari, maka kumohon segera kedatanganmu.” Mereka pun, sekali lagi, menjawab :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;We've been observing your earth&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And one night we'll make a contact with you&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;We are your friends&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa untuk bisa mengontak makhluk-makhluk luar angkasa sepertinya harus terjadi di malam hari ? Pengarang Amerika, Ursula K. Le Guin (1929– ), mengajukan tesis yang menarik. Katanya, selama ini kita hanya terbiasa berpikir bahwa hidup kita selalu berada di siang hari. Tetapi sebenarnya setengah dari dunia ini selalu gelap ; dan oleh karena itu fantasi, demikian juga puisi, berbicara dalam bahasa malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eksotika malam hari telah diungkap oleh sosiolog dari Universitas Boston, Murray Melbin dalam bukunya &lt;i&gt;Night as Frontier&lt;/i&gt; (1987). Berdasarkan sensus, terdapat 29 juta warga Amerika terbangun ketika lewat tengah malam. Diperkirakan 20 juta dari mereka beraktivitas untuk menghamburkan uang, dengan makan-makan di restoran, berbelanja atau bepergian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang sebanyak 7,1 juta melakukan pekerjaannya. Bahkan pada jam tiga dan empat dini hari, pada saat paling sepi menjelang fajar, terdapat 10,6 juta warga yang terjaga dan terhitung 4,1 adalah mereka yang bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesona malam menjadi lahan kreatif penyiar radio Neil Myer yang mengudara antara jam satu sampai empat pagi di acara &lt;u&gt;Talknet&lt;/u&gt; pada jaringan radio NBC. Seperti dilaporkan Gurney Williams III di majalah &lt;u&gt;Reader’s Digest&lt;/u&gt; (10/1988), acara &lt;u&gt;Talknet&lt;/u&gt; itu mempunyai pendengar 7,5 juta tiap mingggunya yang terentang pada 270 kota. Telepon di studio pusatnya di New York, selalu kebanjiran telepon yang memacetkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang tipe “kelelawar”, &lt;i&gt;nocturnal&lt;/i&gt; ini, menurut Myer tidak memiliki stereotip tertentu. “Mereka memiliki beragam pekerjaan. Mereka menelepon ketika mau berangkat kerja atau baru datang dari kantor. Tak ada dari mereka yang menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Bahkan sepuluh persen penelpon adalah anak-anak, yang saya pikir mereka seharusnya sudah mendengkur di atas kasur”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang bekerja dengan komputer, penyair dan pekerja kreatif lainnya sering pula digambarkan sebagai orang-orang malam. Nicholas Negroponte, nabi digital dari Media Labs MIT (Massachusetts Institute of Technology) dan pengarang buku sohor favorit saya, &lt;u&gt;Being Digital&lt;/u&gt; (1995), mengaku dirinya terkena &lt;i&gt;mild imsoniac&lt;/i&gt;, orang yang agak sulit tidur di malam hari. Ia sering terbangun di dini hari, lalu menghidupkan komputer untuk membalas beberapa email atau menulis. Kemudian tertidur lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negroponte tentu tidak sendirian. Akhir-akhir ini aku juga tertarik meneliti jam saat seseorang mengirimkan email atau memposting sesuatu informasi untukku. Dengan bantuan &lt;u&gt;World Time Chart&lt;/u&gt; (sebelumnya sih pakai PDA, tetapi karena PDA-ku hilang di Singapura, Januari 2005 lalu, maka terpaksa harus pakai tabel manual itu), aku surprise melihat, misalnya ada postingan pada jam mendekati jam dua dini hari dan setengah tiga dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira apa penyebab yang mendorong ia melakukan aktivitas ini justru ketika kebanyakan orang tidur di keheningan dini hari ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murray Melbin menjawab : karena orang-orang “kelelawar” tersebut nyata-nyata lebih bersahabat dibanding orang-orang siang. Keramahtamahan dalam pergaulan dan kooperasi, kerja sama, ritmenya mencapai puncaknya di malam hari, tambahnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah rupanya satu sisi keajaiban malam yang melimpah sebagai berkah pada diriku. Terima kasih. &lt;i&gt;Aku mengerti&lt;/i&gt;. Pesan itu sampai. Persahabatan, ramah tamah, kerja sama, bahkan puisi dan fantasi, seperti simpul Ursula K. Le Guin, rupanya memang bahasa malam hari. Malam identik keheningan. Konsentrasi. Kontemplasi. Momen terbaik untuk membebaskan pengembaraan khayalan tanpa batas. Juga persemaian subur untuk impian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Karen Carpenter ketika melanjutkan nyanyiannya, ia pun mengajak dirinya sebagai manusia dan makhluk luar angkasa untuk melakukan kontak dengan saling berkonsentrasi di malam hari :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;With your mind you have ability to form&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And transmit thought energy far beyond the norm&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;You close your eyes, you concentrate&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Together that's the way&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;To send the message&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;We declare world contact day&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan pikiran yang terkonsentrasi mampu memancarkan energi yang luar biasa. Kita bisa melakukan konsentrasi itu dengan memejamkan mata. Pesan-pesan akan sampai. Kontak pun akan terjadi pula karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam karya sastra, seorang pengarang wanita Italia, Susana Tamaro dalam novelnya yang indah, &lt;i&gt;Va’Dove Ti Porte Il Cuore&lt;/i&gt; (Pergilah Kemana Hati Membawamu), juga sekilas menceritakan upaya kontak dua hati, yang digelayuti kerinduan menggunung, dengan masing-masing mengonsentrasikan pikiran guna melambungkan pesan-pesan antarkeduanya di antara kerlipan bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel ini merupakan percakapan panjang melalui surat antara seorang nenek dengan cucu perempuannya, yang kini terpisah. Terpisah jarak karena beda benua dan seringkali pula beda jalan pikiran. Hanya hati mereka yang masih mampu mempertemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila rindu antara mereka begitu mendesak, sang nenek telah meminta cucunya pada malam-malam tertentu untuk keluar rumah, membawa foto dirinya di pucuk malam. Melangkah tiga kali, membentuk tanda salib dan berbisik kepada langit : “Ini aku. Aku di sini”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampaikah pesan-pesan antarmereka ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nora Ephron, pengarang dan sutradara film kelahiran New York 19 Mei 1941 rupanya percaya akan kekuatan takdir dan bahasa getar-getar langit. Dalam garapan film komedi romantis &lt;u&gt;Sleepless in Seattle&lt;/u&gt; (1993) yang tokohnya diperani Tom Hank dan Meg Ryan, ia kisahkan sejak awal betapa domisili antara mereka saling berjauhan ribuan kilometer jaraknya. Mereka pun tidak saling kenal satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi cinta antarmereka dapat bertaut berkat program siaran radio yang mereka dengar. Kesamaan perasaan akan kerinduan, penghargaan, kasih sayang dan cekikan kesepian, hal-hal yang sungguh manusiawi, membuat diri mereka tergerak melangkah saling mendekat untuk meraih kesempurnaan dalam kebersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film yang unik, karena kedua tokohnya hanya bertemu pada lima menit terakhir. Di puncak Empire State Building, New York. Inilah pertemuan yang sudah tertakdir dalam garis-garis getar kosmis hanya untuk mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;WHEN MY LOVE FOR LIFE IS RUNNING DRY. &lt;/b&gt;Dini hari Rabu (14/9), ketika waktu menunjuk sekitar jam tiga dini hari, saat jeda pertandingan sepakbola Liga Champion antara Villareal melawan Manchester United (Wayne Rooney mendapatkan kartu merah), aku keluar rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengkung langit di atas Wonogiri terasa agak muram. Tidak banyak bintang bertebaran. Kabut pagi mulai pekat mengambang. Sungguh ajaib, dari radio tetangga masih terdengar nyaring alunan lagu indah, &lt;i&gt;If&lt;/i&gt;, lagu klasik dari grup musik Bread. Lagu itu berasal dari acara &lt;u&gt;Wonderful Night&lt;/u&gt;-nya Radio Karavan FM Solo yang akan berakhir jam 4 dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And when my love for life is running dry,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;you come and pour yourself on me.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;If a man could be two places at one time,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;I'd be with you&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tomorrow and today, beside you all the way&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;If the world should stop revolving&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Spinning slowly down to die, &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;I'd spend the end with you&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And when the world was through,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Then one by one the stars would all go out,&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And you and I would simply fly away&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendongak ke langit.&lt;br /&gt;Memejamkan mata. Menyapa bintang-bintang.&lt;br /&gt;Sambil menyebutkan sebuah nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian membiarkan kelompok Bread meneruskan pesan hatiku kepadanya. Pesan itu pun segera melesat terbang di antara kerlip bintang yang menari. Dan di luar sana, &lt;i&gt;somewhere out there&lt;/i&gt;, aku yakin ada hati yang mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri,12-15 September 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-112683809896952183?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/112683809896952183/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/09/ketawang-puspawarna-carpenters-dan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/112683809896952183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/112683809896952183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/09/ketawang-puspawarna-carpenters-dan.html' title='Ketawang Puspawarna,  Carpenters  Dan Cinta Yang Menari Di Antara Kerlip Bintang'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-112623269677231977</id><published>2005-09-08T19:07:00.000-07:00</published><updated>2005-09-12T19:33:17.256-07:00</updated><title type='text'>Nubuat Para Nabi di Blog, Carpenters dan  Apakah Diriku Seorang Desperado Yang Sudah Terlambat ?</title><content type='html'>Oleh : &lt;a href="http://bukabeha.blogspot.com"&gt;Bambang Haryanto&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Email : &lt;a href="mailto:epsia@plasa.com"&gt;epsia@plasa.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MINDSET KAUM BLOGGER&lt;/b&gt;. Hari ini, 25 Agustus 2005, aku menapaki hari pertama untuk memasuki umur 53 tahun. Pagi-pagi aku bergairah menulis untuk milis komunitas BlogFam yang antara lain aku ingin mengabarkan sisi-sisi positif budaya interaksi antarkaum blogger. Aku ingin mengutip isi artikel John Ellis di majalah &lt;u&gt;Fast Company&lt;/u&gt; (April 2002).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Majalah &lt;u&gt;.Fast Company&lt;/u&gt; ini pernah aku pergoki di toko buku QB, Jl. Sunda, dekat Sarinah, Jakarta Pusat. Kalau majalah dalam negeri seharga belasan ribu rupiah, majalah ini sampai 125 ribu. Sementara majalah &lt;u&gt;Harvard Business Review&lt;/u&gt;, hingga 300 ribu. Terlalu maha berat untuk bisa terjangkau kantong &lt;i&gt;wong&lt;/i&gt; Wonogiri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut John Ellis, berbeda dibanding &lt;i&gt;mindset&lt;/i&gt; para pengelola media cetak atau situs web, para blogger rata-rata berasumsi bahwa pembaca blognya adalah &lt;i&gt;as smart as they are, if not smarter&lt;/i&gt;, secakap dirinya atau bahkan melebihinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus kecil yang pernah aku alami : aku pernah agak lancang dengan mengirimkan email untuk usil mendiskusikan suatu tulisan kepada wartawan yang bersangkutan. Ada yang dijawab dengan nada tinggi, tetapi kebanyakan tidak pernah dijawab sama sekali. Itulah beda kontrasnya &lt;i&gt;trait&lt;/i&gt;, karakter, antara pengelola “media lama” dengan kaum blogger. John Ellis menulis lagi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bloggers spend most of their time engaged in constant communication with their readers. In so doing, they create a network of sources who are always on the lookout for interesting articles, columns, stories, and items&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum blogger menghabiskan sebagian besar waktunya untuk terlibat dalam komunikasi secara teratur dengan para pembaca situs-situs blognya. Dengan demikian antarmereka terbentuk suatu jaringan sumber informasi yang senantiasa memantau artikel-artikel baru, tulisan kolom, cerita dan hal-hal lainnya yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaringan sumber informasi, &lt;i&gt;network of sources&lt;/i&gt; itu saya bahasakan sebagai jaringan pulau-pulau cendekia. David Weinberger, pakar Internet Amerika, punya istilah &lt;u&gt;small pieces, loosely joined&lt;/u&gt;, yang kemudian menjadi judul bukunya. Menurutnya, berkat Internet kini pelbagai pulau itu bisa secara mudah terintegrasi satu dengan lainnya. Komunitas &lt;a href="http://www.blogfam.com"&gt;BlogFam&lt;/a&gt; kita ini, adalah representasi dari &lt;i&gt;network of sources&lt;/i&gt; itu, bukan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam blog saya, Esai Epistoholica No. 9/September 2004 berjudul &lt;a href="http://esaiei.blogspot.com/2004/09/nubuat-nabi-nabi-tertulis-di-tembok.html"&gt;Nubuat Nabi-Nabi Tertulis Di Tembok-Tembok Subway&lt;/a&gt; telah saya tuliskan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pulau-pulau cendekia yang kecil-kecil itu akan berdampak dahsyat bila tergabung dalam sebuah jaringan. Akumulasi pengetahuan, pengalaman (terlebih lagi, seperti kata ibu Asrie M. Iman, seorang epistoholik senior dari Jakarta, pengalaman yang hanya bisa didapatkan melalui perjalanan waktu), keahlian sampai kearifan, nantinya berharga sebagai rujukan atau pos informasi tempat kita untuk saling bertanya, meminta nasehat, berbagi informasi, saling menyemangati dalam menempuh kehidupan di dunia, yang dalam nyanyian Karen Carpenter disebut sebagai &lt;i&gt;a restless world&lt;/i&gt;, dunia yang gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia yang gelisah, dunia yang membutuhkan nubuat nabi-nabi. Di tahun 1970-an duo legendaris Simon &amp;amp; Garfunkel dalam lagu &lt;i&gt;Sound of Silence&lt;/i&gt; mencoba memberi petunjuk, dikutip sebagai judul tulisan ini : &lt;i&gt;the words of the prophets are written on the subway walls&lt;/i&gt;. Siapa tahu, di era Internet ini, akan ada penyanyi lain yang menggubah lagu dengan lirik baru : tentang nubuat nabi-nabi yang tertulis dalam situs-situs blog masa kini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;INDAHNYA DANUBE BIRU JOHANN STRAUSS&lt;/b&gt;. Setelah memposting, aku keluyuran menjelajahi blog warga BlogFam lainnya. Saya sengaja mengunjungi situs blognya &lt;a href="http://meerjungfrau.blogspot.com"&gt;Zeventina&lt;/a&gt;, di mana pemiliknya adalah sebagian dari fenomena keajaiban Internet yang aku pergoki akhir-akhir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar cerita, pada artikelku di blog Esai Epistoholica No. 26/Agustus 2005 yang berjudul &lt;a href="http://esaiei.blogspot.com/2005/08/menari-bersama-jerangkong-blogger.html"&gt;Menari Bersama Jerangkong : Blogger, Lurker, dan Miduk Dalam Kenangan Seorang Epistoholik&lt;/a&gt;, pada bagian akhir aku tuliskan kalimat : “Melalui situs blog ini, tarian jerangkong saya, tarian perayaaan bagi kebebasan jiwa itu, bisa saya kabarkan kepada dunia.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia pun rupanya bermurah hati menanggapinya. Melalui kebaikan hati seseorang yang sebelumnya tidak pernah aku kenal sama sekali, dan bahkan secara geografis antara kita terpisah ribuan kilometer jaraknya. Tetapi berkat Internet, dirinya telah sudi menuliskan komentar yang &lt;i&gt;encouraging&lt;/i&gt; untuk tulisan saya di atas. Dia yang baik hatinya itu adalah Tina. Saya harus membalas kebaikannya, dengan mengunjungi situs blognya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blognya Tina cerah-ceria. Menyejukkan hati dan mata. Tina meracik blog indahnya tersebut dari Ulm, kota industri di tepian sungai Danube (ingat nomor indahnya Johann Strauss, &lt;i&gt;Blue Danube&lt;/i&gt;?) di negara bagian Baden-Württemberg, Jerman. Pasukan Napoleon tercatat pernah meluluh lantakkan bala tentara Austria di kota ini pada tahun 1805. Ulm adalah pula kota kelahiran fisikawan termashur, Albert Einstein. Hmmm, gara-gara Tina, aku jadi belajar tentang kota Jerman dan juga Ulm....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog Tina tampil elegan. Dihiasi foto pemiliknya yang cantik dan menawan. Pemotretnya pasti profesional. Artisnya juga dong :-). Kalau boleh berkomentar, aku menyayangkan hadirnya ornamen bintang dalam foto Tina tersebut. Menurutku kok justru merusak dan memecah fokus. Silakan berkunjung, Anda akan disambut puisinya Tina yang indah dan menebarkan optimisme :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;If you can look at the sunset and smile, &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;then you still have hope. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;If you can find beauty in the colors of a small flower, &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;then you still have hope. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;If you can find pleasure in the movement of a butterfly, &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;then you still have hope. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;If receiving an unexpected card or letter still brings a pleasant surprise, &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;then you still have hope. &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ini favorit saya, karena tiba-tiba, tak disangka blog saya ketiban komentar menyenangkan dari seseorang yang tak aku kenal, dari Jerman sana....)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lanjutan puisinya Tina masih puanjang,&lt;br /&gt;indah-indah, makin bernas dan inspiratif!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS : Apa Tina itu masih punya hubungan famili dengan penulis Amerika terkenal, Studs Terkel ? Nama ini pernah muncul selintas dalam sitkom &lt;u&gt;Friends&lt;/u&gt;, tertera di sampul buku yang dipegang oleh dosen dinosaurus, Ross Geller. Studs Terkel terakhir menulis buku &lt;u&gt;Hope Dies Last: Keeping the Faith in Difficult Times &lt;/u&gt;. Apakah Tina terinspirasi dari buku ini atau sebaliknya ? Ditunggu cerita-ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;WE’VE ONLY JUST BEGUN&lt;/b&gt;. Setelah menorehkan komentar (pemajangan asesori kotak komentar untuk blog, saya sudah tahu sumbernya, tetapi aku masih &lt;i&gt;gaptek&lt;/i&gt; untuk mencobanya di blogku !), aku menelusuri para pengunjung blognya Tina. Tina rupanya memang figur yang populer di jagat blogosfir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku men-klik salah satu nama, yaitu “Emil”, dan segera di bawa menuju blog &lt;a href="http://emilmansur.blogspot.com"&gt;Emil Mansur&lt;/a&gt; yang berpangkalan di kota Karlsruhe, masih juga di Jerman. Pria Jakarta dan lulusan ITB ini sedang kuliah (atau bekerja ?) di kota pada tepian sungai Rheine di Jerman bagian barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pendukung tim sepakbola nasional Jerman sejak tahun 1974, sekaligus tim Bayern Muenchen, saya tahu kota Karlsruhe adalah tempat kelahiran salah satu pemain tim nasional Jerman yang saya sukai : Thomas Hassler. Pemain yang posturnya kecil ini, 168 cm, adalah eksekutor untuk bola-bola mati yang mematikan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi blog Emil Mansur antara lain menceritakan peristiwa pernikahannya dengan Sandra, di Bandung. Saya pun, setelah memuji penampilan blognya (karena blog-blogku memang polos, tanpa asesori, ibaratnya masih hidup di jaman pak Flintstone !) tergerak pula untuk ikut mengucapkan selamat untuk pengantin baru itu. Saya selipkan rayuan agar mereka sudi menyimaki isi lagunya Carpenters, &lt;i&gt;We’ve Only Just Begun&lt;/i&gt;. Lagu wajib yang teramat indah untuk para pengantin baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu ini menurut Robert T. Kiyosaki dalam bukunya yang berjudul &lt;u&gt;Rich Dad’s Guide To Investing : What The Rich Invest In, That The Poor and Middle Class Do Not !&lt;/u&gt; (2000), telah ia daulat sebagai &lt;i&gt;soundtrack&lt;/i&gt; semangat jaman bahwa dunia kita ini baru mulai. Kiyosaki merujuk sinyalemennya itu kepada isi iklan lembaga keuangan sohor Meryll Lynch yang terpasang sehalaman penuh pada koran-koran AS tanggal 11 Oktober 1998, yang memproklamasikan bahwa dunia baru berusia 10 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa baru 10 (kini : 17) tahun ? Sebab baru sekitar sepuluh tahun Tembok Berlin dirubuhkan. Pembongkaran Tembok Berlin adalah peristiwa yang digunakan oleh para sejarawan ekonomi untuk menandai akhir abad Industri dan awal Abad Informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robert T. Kiyosaki menulis : “Karen dan Richard Carpenter menyanyikan sebuah lagu besar &lt;i&gt;We’ve Only Just Begun&lt;/i&gt;. Bagi mereka yang mengira mereka terlalu tua untuk mulai dari nol lagi, ingatlah selalu bahwa Kolonel Sanders mulai dari nol lagi pada usia 66 tahun. Keunggulan yang kita miliki dibandingkan Kolonel Sanders adalah kita semua sekarang hidup di Abad Informasi, di mana yang penting adalah seberapa muda kita secara mental, bukan seberapa tua kita secara fisik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, ucapan Kiyosaki tersebut dan lagunya Carpenters ini memang indah dan sarat makna :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;We've only just begun to live&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;White lace and promises&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;A kiss for luck and we're on our way&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Before the rising sun we fly&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;So many roads to choose&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;We start out walking and learn to run&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sharing horizons that are near to us&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Watching the signs along the way&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Talking it over just the two of us&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Working together day to day, together&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;And yes we're just begun to live&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di warnet SalsaNet, setelah merampungkan kuajiban untuk komunitas BlogFam, juga mengucapan terima kasih ke Tina, aku masih penasaran terhadap isi situs yang memuat foto-foto upacara pemakaman yang bertajuk&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.master.or.id/bambang"&gt;&lt;i&gt;In Memoriam Bambang Haryanto&lt;/i&gt;&lt;/a&gt; &lt;/a&gt;itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan : seseorang yang namanya sama dengan diriku telah meninggal dunia. Foto-foto prosesi dan upacara pemakamannya dipajang di media berskala global, Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi setelah mengopi foto-fotonya dalam format lebih besar, aku semakin terperanjat : Bambang Haryanto itu orang Wuryantoro, Wonogiri. Melihat ciri-ciri lingkungan pemakamannya, aku yakin adalah makam yang sama tempat kakekku, Kasan Luwar, dan pakdeku, Juhar, juga disemayamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa aneh dan luar biasa ini telah aku tuliskan dalam Esai Epistoholica No. 27/Agustus 2005 – &lt;a href="http://esaiei.blogspot.com/2005/08/blog-internet-dan-kematian-menurut.html"&gt;Blog, Internet dan Kematian : Menurut &lt;i&gt;Yahoo&lt;/i&gt; Namaku Telah Meninggal Dunia Tetapi Seseorang Di Paris Juga Telah Mencatatnya.&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;LOVE IS SURRENDER&lt;/b&gt;. Malamnya, dalam acara Selekta Malam di Radio Solopos FM (103.00 Mhz), selepas jam 22 malam, aku mengirimkan SMS meminta lagu. Tentu saja, lagunya Carpenters. Penyiarnya saat itu adalah Yanto Martono. Radio ini studionya berada satu gedung dengan koran &lt;u&gt;Solopos&lt;/u&gt;, di Solo. Antara Solo dan Wonogiri dipisahkan jarak sekitar 32 km.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa malam sebelumnya, aku mendapat telepon kejutan dari Yanto Martono ini. Gara-gara malam itu aku mengirim teka-teki mengenai judul lagunya Carpenters, yang aku ubah dalam bahasa Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tulis : &lt;i&gt;Tresno Iku Pasrah Bongkokan&lt;/i&gt;. Silakan tebak. Sudah pula aku beri isyarat, &lt;i&gt;clue&lt;/i&gt;, yaitu kata &lt;i&gt;Love is...&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Yanto menelepon, dirinya langsung bilang : “Menyerah...”. Kami lalu terlibat obrolan di saat jeda, sementara radionya masih mengudarakan lagu. Akhirnya aku bocorkan jawabannya : &lt;i&gt;Love Is Surrender&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin terinspirasi oleh situs yang memajang foto-foto penguburan, aku meminta lagunya Carpenters yang agak “berisik”, &lt;i&gt;Deadman’s Curve&lt;/i&gt;. Lagu ini termuat dalam album &lt;i&gt;Now And Then&lt;/i&gt;. Aku juga mengajukan pilihan lain, lagu yang lebih manis dan mesra, salah satu dari album &lt;i&gt;Made In America&lt;/i&gt;, yaitu &lt;i&gt;Those Good Old Dreams &lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;It's a new day for those good old dreams&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;One by one it seems they're comin' true&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Here's the morning that my heart had seen&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Here's the morning that just had to come through&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Same old stage but what a change of scene&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;No more dark horizons, only blue&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;It's a new day for those good old dreams&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;All my life I dreamed of lovin' you&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata lagu yang diputar, menjelang acara Selekta Malam itu berakhir, adalah lagu Carpenters yang lain. Lagu ini belum pernah aku dengar sebelumnya. Judulnya, &lt;i&gt;Desperado&lt;/i&gt;. Terjemahannya : penjahat yang nekad, bandit atau bajingan. Lagu ini aslinya dibawakan Eagles, 1973. Judul yang sama juga menjadi judul film yang dibintangi Antonio Banderas dan Salma Hayek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Liriknya, oh, merujit-rujit nurani. Mencabik-cabik hatiku. Mengapa Yanto Martono bisa “pas” menemukan lagu satu ini ? Apakah ia sengaja memilihnya, untuk menyindirku dan hidupku ? Apakah ada sesuatu getar-getar kosmis di Atas Sana yang telah menuntunnya, karena lagu ini kemudian berubah menjadi sebuah “wahyu” pencerahan bagiku ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impian-impian lama yang indah mengenai keinginan untuk mencintai seseorang, dan sebaliknya, yang pernah terjadi tetapi tidak bisa lestari atau justru kandas sebelum mulai, kini menghadapkanku pada realitas yang lebih &lt;i&gt;rough&lt;/i&gt; dan nyata. Antara lain ketika kini waktu tak lagi punya kompromi. Semua konsekuensi itu terjadi, karena diriku adalah seorang &lt;i&gt;desperado&lt;/i&gt; selama ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Desperado&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Why don't you come to your senses&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;You been out ridin' fences&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;For so long now&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Oh, you're a hard one&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;But I know that you've got your reasons&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;These things that are pleasin' you&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Can hurt you somehow&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya – dalam hal tertentu, saya adalah seseorang yang berkepala batu. Idealis. Perfeksionis. Soliter. Walau pun demikian saya juga memiliki alasannya. Tetapi juga dengan jujur mengakui tatkala seorang Marina Margaret Heiss ketika menulis profil seorang INTJ (&lt;i&gt;Introverted, iNtuitive, Thinking, Judge&lt;/i&gt;), profil yang mendekati diriku dalam tes Humanmetrics, telah menyebutkan sisi kelemahan INTJ. Katanya, hubungan pribadi, terutama yang romantis, merupakan tumit Achilles, &lt;i&gt;pengapesan&lt;/i&gt;, atau kelemahan pokok dari sosok INTJ ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Heiss,walau INTJ mampu memberikan perhatian secara mendalam bagi orang lain (sedikit dan terpilih), bersedia berkurban waktu dan usaha dalam membina hubungan, tetapi pengetahuan dan rasa percaya diri yang mengantarnya mampu meraih sukses dalam bidang tertentu tiba-tiba justru merusak atau menyesatkan dalam situasi hubungan antarpribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini sebagian terjadi akibat kaum INTJ itu tidak memahami ritus sosial. Misalnya, mereka cenderung memiliki kesabaran yang tipis dan kurang memahami pentingnya hal-hal “remeh temeh” seperti mengobrol atau pun merayu, di mana sebagian besar orang menganggapnya sebagai setengah dari keasyikan sesuatu hubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih membuat rumit lagi, sosok INTJ seringkali adalah seseorang yang penyendiri, &lt;i&gt;through this world all alone&lt;/i&gt;, tanpa emosi, hingga mudah sekali untuk menjadi korban “salah baca” dan mudah pula disalahfahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Freedom, ah freedom&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;That's just some people talkin'&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;You're prisoners walkin'&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Through this world all alone&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah paling pokoknya, tegas Heiss lebih lanjut, sosok INTJ menginginkan orang lain berperilaku masuk akal. Hal ini jelas menjerumuskannya untuk berlaku naif. Alih-alih dirinya berusaha melimpahi seseorang dengan kasih sayang dan empati dalam hubungan yang romantis, kaum INTJ justru mengharapkan hal-hal yang logis, serba langsung, dan terus terang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Desperado&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Why don't you come to your senses&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Come down from your fences&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Open the gate&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang masih terkungkung di balik jeruji penjara. Penjara buatanku sendiri. Penjara yang aku anggap sebagai istana. Pintu gerbang hati saya untuk cinta, setelah Miduk pergi sampai Thya pergi, aku masih saja trauma untuk membukanya. Padahal itu terjadi sudah lama sekali. Bahkan mereka sendiri pun pasti sudah pula melupakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Desperado&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Oh you ain't gettin' no younger&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Your pain and your hunger&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;They're drivin' you home&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Benar - aku jelas tidak muda lagi. Hari ini aku menjalani hari pertama untuk melangkahkan kakiku menuju usia 53 tahunku. Di dunia masa kini yang begitu memuja kemudaan, bertambahnya umur seringkali bukan hal yang mudah untuk diterima dengan ikhlas dan &lt;i&gt;legawa&lt;/i&gt;. Anda juga selalu pengin awet muda ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komedian Bob Hope pernah mengajukan rahasia &lt;i&gt;cespleng&lt;/i&gt; agar seseorang selalu awet muda. Katanya, “Saya punya rahasia agar saya selalu awet muda. Saya berbohong tentang umur saya sebenarnya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu tokoh ayah kaya dari Robert T. Kiyosaki, seperti yang ia ungkapkan dalam bukunya &lt;u&gt;Rich Dad’s Guide To Investing&lt;/u&gt; (2002), telah memberi wawasan lain yang menarik mengenai bagaimana seseorang menyikapi usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Secara fisik kamu pasti akan lebih tua, tapi itu tidak berarti secara mental kamu akan lebih tua. Jika kamu ingin awet muda lebih lama, pakai saja ide-idemu yang lebih muda. Orang-orang menua atau ketinggalan zaman karena mereka berpegang pada jawaban-jawaban benar yang sebenarnya adalah jawaban-jawaban lama”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ucapan Kiyosaki tersebut merupakan sebuah &lt;i&gt;pain killer&lt;/i&gt; yang berguna ? Juga bagiku ? Yang pasti, akhirnya setiap orang memang bebas untuk memilih. Boleh memilih sikap pesimistis atau sikap optimistis dalam menjalani hidup ini. Carpenters masih menyanyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;It may be rainin'&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;But there's a rainbow above you&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda lebih memilih menggerutu karena jatuhnya hujan ?&lt;br /&gt;Atau memilih takjub saat menikmati keindahan sebentuk lengkung pelangi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagiku, ucapan Kiyosaki dan baris akhir lirik lagu &lt;i&gt;Desperado&lt;/i&gt;-nya Carpenters masih memberiku secercah sinar optimisme :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;You better let somebody love you&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;You better let somebody love you&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Before it's too late&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri, 25/8-5/9/2005.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-112623269677231977?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/112623269677231977/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/09/nubuat-para-nabi-di-blog-carpenters.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/112623269677231977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/112623269677231977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/09/nubuat-para-nabi-di-blog-carpenters.html' title='Nubuat Para Nabi di Blog, Carpenters dan  Apakah Diriku Seorang &lt;i&gt;Desperado&lt;/i&gt; Yang Sudah Terlambat ?'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-112606433644955705</id><published>2005-09-06T20:35:00.000-07:00</published><updated>2005-09-09T19:02:50.486-07:00</updated><title type='text'>Radio (dan Carpenters) Dalam Kehidupan Seorang Epistoholik</title><content type='html'>Oleh : &lt;a href="http://bukabeha.blogspot.com"&gt;Bambang Haryanto&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Email : epsia@plasa.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;When I was young&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;I'd listen to the radio&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Waitin' for my favorite songs&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;When they played I'd sing along&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;It made me smile.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;(“Yesterday Once More”, Carpenters).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;All we hear is radio ga ga&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Radio goo goo, radio ga ga&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;All we hear is radio ga ga, radio bla bla&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Radio what's new ? &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Radio, someone still loves you! &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;(“Radio Ga Ga”, Queen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RADIO KARAVAN FM, SOLO&lt;/b&gt;. Akhir-akhir ini saya mencoba mempromosikan Epistoholik Indonesia melalui radio. Tentu saja bukan seperti produk balsem atau bengkel jok mobil yang berpromo melalui iklan. Saya mempromosikan Epistoholik Indonesia melalui acara-acara musik di radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu (3/4) sore melalui acara &lt;i&gt;Jazz On Sunday&lt;/i&gt;-nya Radio Karavan FM Solo (107.30 MHz), melalui SMS saya meminta lagu. Dengan menyebutkan nama diri dan Epistoholik Indonesia, yang lalu di &lt;i&gt;ad-lib&lt;/i&gt;-kan penyiarnya, saya menikmati sensasi kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk sensasi memutar kenangan saat nomor &lt;i&gt;Angela&lt;/i&gt;-nya Bob James, yang saya minta itu, mengalun di udara. Sekadar Anda tahu, nomor instrumentalia indah ini adalah lagu tema sitkom &lt;i&gt;Taxi&lt;/i&gt; yang dibintangi Judd Hirsch dan Danny de Vito, diputar di TVRI setiap Sabtu petang, tahun 1980-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada cerita kecil. Di tahun 80-an saya mencari-cari kaset Bob James ini di bilangan Pasar Sunan Giri, Rawamangun, Jakarta Timur, oh, rupanya menarik perhatian pengunjung lain. Ngobrol punya ngobrol, seputar musisi Bob James dan karya-karyanya, sobat baruku itu bernama Dudi, anak Teknik UI. Tinggalnya di Asrama UI Daksinapati, dimana sering nampak Imam Prasodjo sampai Yusril Ihza Mahendra nongkrong di kantin Daksinapati-nya Tuti. Dudi, mungkin terkecoh atas selera musikku, sampai-sampai menawari saya untuk bergabung dalam orkestranya UI, Mahawaditra. Ajakan yang harus saya tolak !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan lain ketika radio yang sama menggelar acara rutin bertajuk Symphony Boulevard (Senin, 22.00 sd 24.00), saat malam merambat saya dimanjakan dengan disebutnya Epistoholik Indonesia oleh penyiarnya, Ratih Ramadinta, ketika mengawali hadirnya &lt;i&gt;Rainy Days And Mondays&lt;/i&gt;-nya Carpenters. Intro harmonika lagu ini begitu indah tetapi pesan yang hadir sangatlah merujit-rujit hati :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Talkin' to myself and feelin' old&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sometimes I'd like to quit&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nothing ever seems to fit&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Hangin' around&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nothing to do but frown&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Rainy Days and Mondays always get me down&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri saat-saat ini memang lebih sering diterpa hujan. Membuat suasana hati cenderung menjadi &lt;i&gt;gloomy&lt;/i&gt;, jidat terlipat, tetapi sekaligus juga merupakan momen menawan untuk pijakan melakukan sekadar bernostalgia, menganyam kembali masa-masa silam. Tentu saja termasuk tentang radio. Juga berintrospeksi mengenai hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RRI SURAKARTA&lt;/b&gt;. Radio menjadi barang ajaib ketika saya duduk di kelas 2 SD. Tahun 1960-an. Saat itu om saya, yang seorang prajurit TNI-AD, baru saja pulang dari Kongo, Afrika. Ia bertugas dalam kontingen Garuda III, menjaga keamanan di negara yang terkenal dengan presiden Patrice Lumumba itu. Ketika pulang, ia membawa motor Vespa dan radio Philips. Diajari memutar-mutar tombol gelombang radio, yang kebanyakan hanya memunculkan suara desis, pengalaman itu sudah seperti sebuah sensasi yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radio transistor menjadi perabot di rumah saya baru terjadi pada tahun 1968. Mereknya Telesonic. Warnanya biru tosca. Sebelum kehadiran radio itu saya dan adik-adik saya terpaksa bermain ke tetangga, Bapak Maryomo, bila ingin mendengarkan siaran langsung pertandingan sepakbola perserikatan. Momen yang paling saya ingat adalah pertandingan Persib Bandung melawan Persija Jakarta. Sepulang dari nguping pertandingan tadi, saya mencoba merekonstruksi pertandingan tersebut dalam sebuah karangan. Untuk dibaca sendiri. Kata favorit saya saat itu adalah &lt;i&gt;scrimmage&lt;/i&gt;, yaitu keadaan kacau di mulut gawang, sekaligus suasana yang menegangkan, terjadi gol atau sebaliknya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia SMP itu lagu-lagu favorit saya antara lain &lt;i&gt;Don’t Forget to Remember &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Massachusetts&lt;/i&gt; (The Bee Gees) sampai &lt;i&gt;Aline &lt;/i&gt;(Christophe). Acara Siaran ABRI RRI Surakarta, acara permintaan lagu-lagu dengan penyiar terkenal Kak Mulato, menjadi favorit. Saya pernah meminta lagu yang saya tujukan kepada ayah saya, seorang TNI-AD yang saat itu bertugas di Yogya (keluarganya tetap di Wonogiri). Esoknya, kelas saya, III B di SMP Negeri I Wonogiri, rada heboh guna membincangkan “pemunculan” saya di media radio tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara favorit lainnya, Tangga Lagu-Lagu Pop Indonesia RRI Surabaya. Setiap Sabtu sore, sebelum acara itu mengudara, saya siapkan tabel untuk memasukkan data : berapa minggu sesuatu lagu muncul dalam daftar, berada di urutan berapa, dan lagu-lagu apa yang baru masuk atau keluar dari daftar &lt;i&gt;chart&lt;/i&gt; atau daftar tangga lagu-lagu itu. Nama penyanyi besar saat itu termasuk Anna Mathovani, Erni Johan, Tetty Kadi, sampai Titiek Sandhora. Saya pribadi menyukai penyanyi imut asal Solo, Inneke Kusumawati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RADIO GERONIMO, YOGYA&lt;/b&gt;. Tahun 1970, saya bersekolah di Yogya. Saya sudah diterima di SMA Negeri V (saat itu jadi satu dengan SMA Bopkri I), tetapi akhirnya memutuskan untuk masuk ke STM Negeri II, Jetis. Pilihan yang berbuntut dengan konsekuensi yang tak mudah dalam hidup saya hari-hari mendatang. Tetapi itu cerita yang lain lagi. Tinggal saya saat itu di messnya ayah, di Jl. Ahmad Jajuli, Kotabaru (kini sudah jadi rumah tinggal), dan tidak ada radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru pada tahun 1971 ayah saya membeli radio Philips. Warnanya hitam dengan lapisan ornamen serat kayu coklat kemerahan. Saat itu saya tinggal di bilangan Jalan Dagen, sepelemparan batu dari Jalan Malioboro. Kehadiran radio kali ini seolah sinkron dengan makin terpaparnya diri saya terhadap perkembangan musik Indonesia dan dunia. Saya membaca majalah &lt;u&gt;Aktuil&lt;/u&gt;, bacaan wajib generasi muda saat itu. Sering saya tidak harus membeli, karena kiriman humor-humor saya dimuat sehingga selain mendapatkan honor, saya juga memperoleh nomor bukti majalah bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radio favorit saya saat itu adalah Radio Geronimo. Karena radio ini hanya memutar lagu-lagu Barat. Lewat radio inilah saya terpapar nama-nama agung seperti Deep Purple, Led Zeppelin, Grand Funk Railroad, Uriah Heep, Black Sabbath, Three Dog Night, sampai Blood Sweat &amp; Tears. Juga Crosby, Still, Nash &amp;amp; Young. James Taylor. Caroline King. Carpenters. Don McLean. Conway Twitty. Glen Campbell. Sonny &amp; Cher. Shocking Blue. Dawn. Eagles. Simon &amp;amp; Garfunkel. America. Kali ini tidak hanya musiknya, tetapi juga kisah personil dan tur-tur mereka. Wartawan idola saat itu adalah wartawan musik Denny Sabri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah dalam kertas ulangan, pada bagian bawah saya tambahkan tulisan judul lagunya Simon &amp; Garfunkel yang baru saya gandrungi, &lt;i&gt;The Only Living Boy In New York&lt;/i&gt;. Ketika kertas ulangan itu dikembalikan kepada masing-masing murid oleh guru STM saya, Pak Sumarto, ternyata ada tulisan tambahan dari beliau : “But, why do you live in Yogya ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat yang sama saya merasa sebagai sebuah generasi yang hilang terutama untuk kelompok The Beatles. Selain nomor &lt;i&gt;Oh Darling&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;Don’t Let Me Down&lt;/i&gt;, saya tidak tahu banyak tentang lagu-lagu sebelumnya dari John Lennon dkk asal Liverpool ini. Untuk Bee Gees atau pun The Rolling Stones, saya masih merasa beruntung. Karena mereka terus berkarya, sementara The Beatles bubar, sehingga saya masih menikmati ketika di akhir 70-an The Bee Gees hadir dalam kemasan disco dalam &lt;i&gt;How Deep Is Your Love&lt;/i&gt; (dikenalkan oleh Krisdinah “Miduk” Purnamaningsih, yang punya senyum gemintang menyilaukan, mirip Baby Spice-nya Spice Girls, tahun 1978) atau Mick Jagger dkk dalam &lt;i&gt;Angie&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Brown Sugar&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai The Beatles bubar, saya masih memperoleh sisa-sisa kejeniusan pentolan-pentolannya. Misalnya Paul McCartney dan Wings dalam &lt;i&gt;Uncle Albert Admiral Halsey&lt;/i&gt;, George Harrison dalam &lt;i&gt;Bangladesh&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;All Thing Must Pass&lt;/i&gt; dan tentu saja, &lt;i&gt;My Sweet Lord&lt;/i&gt;. Ringo Starr dengan &lt;i&gt;Back Off Bogaloo&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;It Don’t Come Easy&lt;/i&gt;. Sementara John Lennon dengan karya-karya agungnya seperti &lt;i&gt;Imagine&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Jealous Guy&lt;/i&gt; sampai &lt;i&gt;Mind Games&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1972, saya sempat bermain-main di radio Waringin Kencana, Yogya. Kisahnya ada seorang &lt;i&gt;tauke&lt;/i&gt; yang suka mengoprek radio, lalu bekerjasama dengan fihak Kodim 0735 Yogyakarta, mendirikan pemancar radio setengah resmi sebagai corong promosi Golkar. Dengan koneksi ayah saya, saya bisa gabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segalanya masih serba amatiran. Dua-tiga kali saya juga tampil sebagai penyiar. Bonus dari aktivitas itu adalah : saya memperoleh bungkus piringan hitam dari album The Bee Gees, yang antara lain berisi lagu &lt;i&gt;Massachusetts&lt;/i&gt;. Dibawa-bawa ke sekolah, untuk nampang di antara kawan-kawan. Terutama untuk unjuk gigi kepada teman sekelas saya, Bambang Tamtomo Adiguno, asal Magelang, yang perbendaharaan lagu The Bee Gees (ia mampu menyanyikannya mirip suara khas Robin Gibbs) dan pengetahuannya tentang film sering membuat saya iri hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kita berdua, ditambah Muhammad Umar Hidayat, asal Demangan, seolah membuat kubu sebagai penikmat lagu-lagu barat “berkualitas tinggi”. Kita pun sering menertawakan kelompok lain yang saat itu baru getol menyenandungkan lagu-lagunya Koes Plus, Panbers atau lagu Baratnya penyanyi seperti Victor Wood sampai Eddie Peregrina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MLOYOSUMAN BROADCASTING CORPORATION, SOLO&lt;/b&gt;. Tahun 1972, saya meninggalkan Yogya. Saya pindah ke Solo, meneruskan kuliah di Fakultas Keguruan Teknik, IKIP Surakarta (kemudian menjadi UNS Sebelas Maret).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tinggal di Tamtaman, Baluwarti, di lingkaran dalam tembok Keraton Surakarta. Saya tinggal di lingkungan rumahnya Eyang Laksmintorukmi, salah satu &lt;i&gt;garwo ampil&lt;/i&gt; dari Paku Buwono XI. Kalau mendapat kiriman obat-obatan yang petunjuknya berbahasa Inggris, saya menjadi “apoteker” untuk menerjemahkan aturan pemakaian obat bersangkutan kepada Eyang Laksminto. Ia adalah penasehat spiritual sekaligus guru menarinya Guruh Soekarnoputra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali beberapa tahun, saat itu, saya terputus dari radio. Baru pada tahun 1978-an, seorang tetangga, Unggul, yang berkuliah di UGM Yogyakarta, mengutak-atik perangkat elektronik hingga tercipta pemancar radio mini. Bisa ditangkap oleh radio penerima dalam radius sekitar ratusan meter, suaranya pun termasuk jelek. Jadilah kami mengudara, Mloyosuman Broadcasting Corporation (MBC) !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu yang sering diputar saat itu adalah nomornya Alice Cooper, &lt;i&gt;School’s Out”&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;No More Mr. Nice Guy&lt;/i&gt;. Juga &lt;i&gt;Blockbuster&lt;/i&gt;-nya Sweets. Saya juga menyiar. Gemar menyontek gaya penyiar radio Geronimo, Yogya. Yaitu banyak memakai istilah sok Inggris, temponya dibuat cepat dan enerjik. Sebutan untuk penyiar pun menyontek radio Geronimo, di mana penyiar menyebut diri dengan Senator. Di Mloyosuman, Baluwarti, Solo ini, saya menyiar dengan nama Senator Harry Nillson !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan di dekat kos saya, tinggal beberapa bule asal Australia. Mereka dapat disebut pelopor “bule masuk kampung” ya ? Mereka mengontrak rumah, yang jauhnya hanya 5 meter dari tempat saya. Salah satu penghuninya adalah cewek asal Melbourne, Victoria Monk. Matanya biru. Saya merasa enak berinteraksi dengannya. Kaos saya pernah dilukis logo Penguin dengan tinta akrilik olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat saya pernah ia siksa, ketika harus mengantarnya jalan-jalan memutari Yogyakarta. Kaki saya sangat kecapekan. Tetapi Tory juga baik hati. Ia mau menemaniku nonton wayang di Sriwedari saat ada pesta mahasiswa, juga senang hati mengantarku hingga kereta api berangkat dari stasiun Solo Balapan ketika aku kepingin keluyuran sendiri ke Bali. Sebelumnya ia mengajariku main harmonika untuk menyenandungkan lagu “500 Miles”, hitnya Paul, Peter and Mary :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;If you missed the train I’m on&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;You will know that I’m gone&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;You can hear the whistle blow&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;A hundred miles&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa teman Tory itu pernah aku ajak ngobrol di depan mik radio super-amatiran Mloyosuman Broadcasting Corporation itu. Beda bangsa, tetapi musik mendekatkan kita. Lagu dan musik adalah bahasa universal. Tak aneh bila mendiang Paus Johanes Paulus II ketika kembali pulang ke Polandia tahun 1979, lalu disuguhi nyanyian gereja bergaya folk-rock, ia pun berkomentar : “Saya punya kegemaran yang amat sangat terhadap lagu dan musik. Inilah dosa yang saya bawa dari kebangsaan Polandia saya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, dengan lagu dan musik, di depan mik itu pula saya seperti memperoleh keberanian ekstra untuk menyapa cewek-cewek Baluwarti yang selama ini bila ketemu di jalanan hanya bertukar senyum. Sokurlah, sebagian mereka sepertinya (GR berat !) suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, saat itu &lt;i&gt;Kenil&lt;/i&gt;, salah seorang putri tokoh terhormat dan berdarah biru Kraton Surakarta, Pak Panji Mloyosuman, masih imut. Beberapa tahun kemudian baru ketahuan pesona &lt;i&gt;Kenil&lt;/i&gt; yang sebenarnya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun-tahun itu, 1977-1980, saya lalu tinggal di Galeri Mandungan, Muka Kraton Surakarta. Tempat ini ya workshop seni lukis anak-anak, pusat aktivitas kesenian, asrama gratisan, tempat bertanding scrabble, juga untuk cuci mata. Baik ketika menonton turis-turis yang berkunjung ke Kraton Solo, sampai menyambut rutin lambaian tangan dan senyum penuh makna dari &lt;i&gt;Kenil&lt;/i&gt; yang menggetarkan sukma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuliah saya saat itu boleh dibilang berantakan, karena lebih tergiur untuk berseniman-ria. Menggeluti seni lukis, kine klub, menyair, jadi wartawan musik, juga belajar sinematografi. Baru tahun 1979 bisa lulus. Saat itu pernah seorang teman main berkesenian, yang reporter RRI Surakarta, Mansur (adik sastrawan Budiman S. Hartoyo), menyodorkan tape recorder. Lalu ia bertanya seputar kesanku tentang kehidupan kesenian dan kebudayaan di Solo. Saya pikir ini hanya guyonan. Beberapa hari kemudian, salah seorang staf kampus saya mengomentari wawancara radio-ku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PRAMBORS RASISONIA, JAKARTA&lt;/b&gt;.Kalau Anda membaca bukunya John Howkins, &lt;u&gt;The Creative Economy : How People Make Money From Ideas&lt;/u&gt; (Penguin, 2001), mungkin Anda akan terkejut membaca salah satu formula untuk memperoleh sukses di dunia ekonomi kreatif dewasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Be nomadic&lt;/i&gt;, katanya. Jadilah pengembara. Jadilah insan yang suka keluyuran, berpindah-pindah tempat hidup. Kaum nomad itu, katanya, menghargai baik padang pasir atau pun oasis, seperti halnya daya kreatif membutuhkan baik kesunyian atau pun kegaduhan, berpikir sendirian dan bekerja bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1980, saya jadi kaum nomad lagi. Kali ini pindah ke Jakarta. Kuliah di UI. Teman sekos saya, desainer tekstil untuk PT Centex, memiliki radio Philips hitam. Lewat sarana inilah saya menguping, kebanyakan, Radio Prambors. Anak muda harus berani, kreatif dan jujur, begitu slogannya. Di radio ini pula saya untuk pertama kalinya mendengar suara lembutnya Tika Bisono, yang saat itu mahasiswa Fak. Psikologi UI, selain juga mengidolai Louise Hutahuruk yang mahasiswi FISIP UI. Kalau tak salah, mereka menyanyikan lagu-lagu album Dasa Tembang Tercantik, hasil kontes penulisan lagu oleh Prambors.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiar Prambors yang terkenal adalah Sys NS. Juga Marwan Al-Katiri. Lagu yang mencolok saat itu seperti &lt;i&gt;99 Red Baloons&lt;/i&gt; sampai &lt;i&gt;Get Out My Dream, Get Into My Car&lt;/i&gt;. Artis-artis yang lewat meliputi The Police. Leon Haynes Band. Paul Young. Reo Speedwagon. Scorpion. Kools &amp;amp; Gang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang mahasiswi Desain Universitas Trisakti, Cresenthya Hartati (lahirnya sama dengan mendiang Paus Johanes Paulus II, 18 Mei) menghadiahiku teks lagu lembutnya Gerard Joling, &lt;i&gt;Everlasting Love&lt;/i&gt;, yang masih sering menggaung di radio-radio Solo saat ini. Yang paling menarik bila ia menyenandungkan &lt;i&gt;Time for Us&lt;/i&gt;, yang juga lagu tema film &lt;u&gt;Romeo &amp; Juliet&lt;/u&gt; garapan sutradara Franco Zeffireli (1968). Sekarang, kau ada dimana Hartati ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;BBC DAN VOA&lt;/b&gt;. Tahun 1997 saya dipaksa oleh &lt;i&gt;krismon&lt;/i&gt; untuk pulang kampung. Ke Wonogiri. Tahun 2001-2002 sempat balik ke Jakarta lagi. Lalu kembali lagi, hingga kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2000 ketika sebagai Menteri Propaganda Pasoepati, kelompok suporter sepakbola Solo, saya memanfaatkan radio untuk membangun suasana. Perjalanan tur-tur Pasoepati keluar kota, yang pertama untuk kelompok suporter sepakbola di Indonesia, adalah dengan menetapkan &lt;i&gt;tagline&lt;/i&gt; tertentu. Ia merupakan tema dan roh tur tersebut. Untuk menguatkan pesan itu, lagu berperan di dalamnya. Ya seperti dalam film, tur Pasoepati seolah juga ada &lt;i&gt;original soundtrack&lt;/i&gt;-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, tur ke Yogya membawa &lt;i&gt;I Want to Hold Your Hand&lt;/i&gt;-nya The Beatles. Pada Hari-H, radio-radio Solo mengudarakan pesan-pesan tur dan alunan lagu tersebut. Ketika tur ke menemui kelompok suporter Slemania, Sleman, muka baru dalam arena dunia suporter sepakbola nasional, Pasoepati membawa top hitnya The New Seekers tahun 1970-an, &lt;i&gt;I’d Like To Teach The World To Sing&lt;/i&gt;. Saya Akan Mengajari Dunia Untuk Menyanyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas lain terkait dengan radio, saya sebagai pencetus gagasan bagi Presiden Pasoepati saat itu, Mayor Haristanto, agar diundang wawancara radio. Yang terselenggara saat itu adalah Siaran PRSSNI, yang direlai semua stasiun radio swasta di Solo. Juga wawancara saat jeda siaran langsung pertandingan sepakbola oleh RRI Surakarta. Saya sendiri mencoba mendirikan biro iklan untuk liputan siaran langsung radio ini, Radio Arena, tetapi gagal di tengah jalan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi dengan insan radio, yang agak baru, adalah datangnya surat dari kreator &lt;i&gt;CPP Biggest Hits&lt;/i&gt;, program mengenai bintang-bintang dan perjalanan kariernya untuk disiarkan di pelbagai radio anggota jaringannya. Seperti sindikasi artikel. Hal itu terjadi di tahun 2004 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang bermarkas di Radio Polaris Magelang itu tertarik kepada isi surat pembaca saya bertopik Internet sebagai gempa bumi berkekuatan 10,5 Skala Richter yang mengguncang sendi-sendi ekonomi dan sosial umat manusia Mereka berpendapat bahwa saya mampu menciptakan program radio yang katanya, mampu memberi &lt;i&gt;value&lt;/i&gt; tinggi tertentu. Surat itu saya balas, meminta petunjuk dan kejelasan lebih lanjut. Tetapi, oh, tak ada balasan apa pun dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terkadang ikut mengirimkan opini atau esai ke Radio BBC Siaran Indonesia, London. Atau ke VOA (Voice of America), Washington DC, AS. Saya memperoleh kaos dari BBC, setelah opini saya diudarakan. Sementara ke VOA, pernah kirim email ke salah satu penyiarnya, Nadia Madjid, putri cendekiawan muslim Nurcholish Madjid. Isinya, usulan agar Cak Nur kalau mendeklarasikan sesuatu gagasan, ajaklah anak muda. Saya mengilustrasikan, di tengah acara itu akan hadir berderet anak-anak muda dengan laptop masing-masing, lalu mem-virus-kan ide Cak Nur itu agar mendunia !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa aku mau repot-repot mengerjakan hal semacam ini, yang tidak ada duitnya itu ? Karena aku merasa dikaruniai dengan gagasan yang melimpah-ruah, juga mampu menulis, sementara cara pengirimannya pun murah, apalagi yang harus ditunggu ? Dengan mengerjakan hal yang aku sukai itu aku ingin menjadi bagian dari dunia ini dan terhubung dengan orang-orang di luar diriku. Andrew Weil, M.D., seorang &lt;i&gt;guru&lt;/i&gt; di bidang penyembuhan, lulusan Sekolah Kedokteran Harvard, pernah bilang : &lt;i&gt;human connectedness is a powerful healer&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RAKOSA FEMALE RADIO YOGYA&lt;/b&gt;. Insan radio yang saya temui awal tahun 2005 ini adalah Wiwin Perdana, pembawa acara olahraga untuk TV7. Saat rombongan dari Solo mampir ke TV7 untuk mengisi acara One Stop Football (8/1/2005), di situlah kami mendengar dirinya pada awalnya sebagai insan radio. Fenomena yang lajim, karena banyak insan radio yang berpindah jalur ke layar kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk pula kiranya Erika Michiko, reporter rumah produksi (PH) Shandika Widya Sinema. Saat ia dan krunya melakukan syuting, 4/3/2005, untuk bahan tayang profilku sebagai epistoholik untuk program trivia &lt;i&gt;Busseett&lt;/i&gt;-nya TV7, terjadi obrolan. Tebakanku bahwa dirinya orang radio, ternyata benar, walau entah kenapa ia menjawabnya dengan nada agak meninggi. Bahkan kini pun Erika mengaku masih aktif pula, &lt;i&gt;ndobel&lt;/i&gt; menyiar di sebuah &lt;i&gt;female radio&lt;/i&gt; di Yogyakarta. Rakosa Female Radio, Yogyakarta ? Aku belum pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengetahui seberapa andal dia sebagai penyiar, Anda dapat mendengar suaranya saat mengantar fasilitas &lt;i&gt;voice mail&lt;/i&gt; Communicatornya. Suaranya merdu. &lt;i&gt;Tit !&lt;/i&gt; Microphonic. &lt;i&gt;Tit !&lt;/i&gt; Tetapi saya tidak tahu apakah kariernya kini sebagai reporter acara televisi yang terus di belakang kamera, dan &lt;i&gt;mobile&lt;/i&gt; menjelajah antarkota untuk menguber hal-hal trivia, yang menurutku (kalau kelamaan) kurang menantang untuk merentang-rentang kreativitas dan intelijensianya itu, akan terus ia tekuni. Kabar terakhir, sepertinya ia mendapat job baru di Jakarta. Moga-moga kelak Erika bisa tampil di depan kamera. Ia punya modal, postur dan juga voice, yang diperlukan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bila pengin mengetahui selera musiknya, sebelum HP-nya ia angkat maka si penelepon akan disapa ramah dulu dengan lagu &lt;i&gt;All By Myself&lt;/i&gt;-nya Celine Dion, menyenandungkan : &lt;i&gt;All by myself/ Don't wanna be/All by myself/Anymore/All by myself/Don't wanna live/All by myself/Anymore&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti sosoknya mudah mengingatkan lirik lagu ciptaan komposer terkenal Amerika, Irving Berlin (1888–1989) bahwa : &lt;i&gt;A pretty girl is like a melody / That haunts you night and day &lt;/i&gt;(1919).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;RADIO METAFORA TAMARO&lt;/b&gt;. Mengapa orang-orang menyukai radio ? Nabi media, Marshall McLuhan dalam buku klasiknya &lt;u&gt;Understanding Media : The Extensions of Man&lt;/u&gt; (1965), menyebutkan bahwa radio ibarat genderang suku, menyatukan orang dalam rantai intimitas, kedekatan, orang per orang, suatu pengalaman yang mempribadi. Bukan suatu pemandangan yang aneh, kiranya banyak anak muda belajar pun suka ditemani radio.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat radio seseorang bisa kembali ke masa silam dan mengembangkan senyum bahagia, seperti lirik lagu Carpenters tahun 70-an di awal tulisan ini. Bahkan generasi 90-an pun, The Corrs, masih menyebutkan pentingnya radio. Ketika lagi &lt;i&gt;bete&lt;/i&gt;, kekasih tak berada di sampingnya dan sosoknya hanya “berenang-renang dalam kepala”, maka Andrea Corrs pun menemukan solusinya : &lt;i&gt;So listen to the radio (listen to the radio) / And all the songs we used to know, oh, oh&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tak salah seru Freddy Mercury dari Queen : “Radio, seseorang masih mencintaimu !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radio, dalam warna yang lain, juga menjadi metafora yang menarik di tangan seorang novelis Italia, Susanna Tamaro. Dalam novelnya &lt;i&gt;Va’Dove Ti Porte Il Cuore&lt;/i&gt; (Pergilah Kemana Hati Membawamu) yang menggambarkan komunikasi rumit, tetapi juga indah, antara seorang nenek dan cucu perempuannya, diungkap :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku berfikir manusia semakin mirip radio yang hanya mampu menyelaraskan diri dengan satu gelombang, mirip radio kecil yang sering diberikan sebagai bonus bagi pembeli deterjen mesin cuci. Meski pun seluruh frekuensi terpampang di sana, radio itu takkan bisa menangkap lebih dari satu atau dua stasiun ; sisanya hanya bergemuruh tak menentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, aku mendapatkan kesan bahwa penggunaan akal yang berlebihan menghasilkan efek yang sama : kita hanya dapat mengambil sebagian kecil dari seluruh kenyataan yang mengelilingi kita. Perasaan bingung seringkali menguasai bagian kecil ini, sebab bagian ini sarat dengan kata, dan kata-kata seringkali membuat kita berputar-putar di tempat, bukannya membawa kita ke tempat yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman membutuhkan keheningan....Kata-kata memenjarakan pikiran ; kalau pun ada irama yang cocok dengannya, itu pasti irama pikiran yang kacau. Namun hati bernafas, hanya hati satu-satunya organ yang berdenyut, dan denyutan ini menyelaraskannya dengan denyutan-denyutan yang lebih besar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri, 5-7 April 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;P.S. Tulisan ini pernah dimuat di situs blogku Esai Epistoholica, edisi No. 19/April 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-112606433644955705?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/112606433644955705/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/09/radio-dan-carpenters-dalam-kehidupan.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/112606433644955705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/112606433644955705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/09/radio-dan-carpenters-dalam-kehidupan.html' title='Radio (dan Carpenters) Dalam Kehidupan Seorang Epistoholik'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-112407404070135970</id><published>2005-08-14T19:37:00.000-07:00</published><updated>2005-08-15T20:02:57.130-07:00</updated><title type='text'>Bila Tembang Carpenters Judulnya Berbahasa Jawa Sampai Obrolan Manfaat Blog Menurut Kajian Ilmu Psikologi</title><content type='html'>Oleh : &lt;a href="http://bukabeha.blogspot.com"&gt;Bambang Haryanto&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;Email : &lt;a href="mailto:epsia@plasa.com"&gt;epsia@plasa.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear warga &lt;a href="http://episto.blogspot.com"&gt;Epistoholik Indonesia &lt;/a&gt;dan sahabatku semuanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa acara Agustusan yang paling hot dan kreatif di tempat Anda ? Apa 17-an senantiasa identik anak-anak kecil bersuka-ria lomba makan kerupuk ? Oh My God, itukah buah dari 60 tahun merdeka ? Saya sendiri, mohon doa restu, berencana mengadakan penataran untuk anak muda Wonogiri guna mengenal dan mengelola situs blog. Slogan para blogger : &lt;i&gt;bloggito ergo sum&lt;/i&gt; akan coba saya viruskan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, gaul awal saya di dunia maya, dengan para blogger, mendapatkan respons menarik. Di bawah ini saya telah memposting tulisan, dimana asumsi saya selama ini bahwa di dunia blog itu banyakkkk sekali orang-orang yang lebih smart dan lebih pandai dibanding kita, terbukti. Silakan baca dan resapi kajian dari dunia psikologi mengenai manfaat blog, yang ditulis pengajar dari UGM tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain, saya sendiri saat ini, lagi senang menekak-nekuk bahasa Jawa. Setelah artikel saya berjudul &lt;i&gt;Wis Wancine Numpak Pit Maneh !&lt;/i&gt; (Sudah Saatnya Kita Menaiki Sepeda Kembali) dimuat di Kompas Jawa Tengah (9/8/2005), saya lagi senang menghumori para penyiar Radio Karavan FM dan Solopos FM. Oh ya, artikel saya itu, menurut Triyanto yang wartawan koran Solopos (Sarjana Sastra), juga tulisan saya lainnya berjudul Ada Apa Dengan Budaya Gethok Tular ? (Solopos, 31/7/2005), ia bilang masih terlalu tinggi untuk kedua koran itu. Masukan yang menarik....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita berlanjut. Kedua radio itu selepas jam 22 ada acara permintaan lagu-lagu lama. Saya suka kelompok tahun 70-80-an, Carpenters. Lagu-lagu mereka itu, hmmm, patah hati bisa indah, kesedihan bisa indah, kesepian juga bisa indah, harapan pun jadi lebih indah. “Most wretched men /Are cradled into poetry by wrong: They learn in suffering what they teach in song” (Percy Bysshe Shelley 1792–1822).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan SMS saya minta lagu, tetapi memakai bahasa Jawa. Untuk penyiar Karavan FM, Ratih Ramadinta yang suaranya kenes tapi sophisticated, saya tulis : “Jeng Ratih, nyuwun tembang &lt;i&gt;Jawahe Nggrejih Ing Dinten Senin&lt;/i&gt; utawi &lt;i&gt;Caket Sliramu&lt;/i&gt; saking Undagi (Carpenters)”. Saat membaca SMS saya itu ia menahan ketawa. Tetapi ia bisa menebak judul asli lagu yang ia minta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal serupa, saya ulangi untuk radio Solopos FM. Penyiarnya Arif Junor, suka 50 persen menyiar memakai bahasa Inggris. Bagus. Saat membaca SMS saya, ia merasa sedang saya kerjain. Juga dengan tertawa-tawa. Ia bukan orang Jawa, ngaku lebih lancar berbahasa Inggris (oh, globalisasi !) ketimbang ber-boso Jowo. Dengan aksen rada eksotis, ia akhirnya membaca judul berbahasa Jawa untuk lagunya Carpenters itu. Sokurlah, ia bisa pula menebak tepat judul lagu yang saya minta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyebut malam itu malam yang lucu, dan bila ia pengin isu-isu lucu lainnya, saya sodorkan alamat situs blog saya Komedikus Erektus ! (&lt;a href="http://komedian.blogspot.com/"&gt;http://komedian.blogspot.com/&lt;/a&gt;). Cara manis untuk berpromosi, dan, hmm, hmmm, terbukti manjur Selain ia meminta saya untuk bisa berkunjung ke Solopos FM (di korannya Solopos saya juga banyak teman wartawan), ia pun berjanji akan mengunjungi situs blog saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang acara berakhir, nama saya ia munculkan lagi. Surprise. Janji dia di atas ternyata jauh sangaaaattt lebih cepat daripada yang aku bayangkan. Rupanya di kantor Solopos FM ada akses Internet. Sungguh surprise, inilah fenomena ajaib tentang lurker dan Internet (baca Esai Epistoholica No. 26/Menari Bersama Jerangkong : Blogger, Lurker dan Miduk Dalam Kenangan Seorang Epistoholik, &lt;a href="http://esaiei.blogspot.com/"&gt;http://esaiei.blogspot.com/&lt;/a&gt;) sehingga ia malah menemukan situs blog saya yang terbaru, yang belum pernah saya umumkan pada siapa-siapa, yaitu “Close To You” (&lt;a href="http://undagi.blogspot.com/"&gt;http://undagi.blogspot.com/&lt;/a&gt;). Arif kemudian jadi tahu saat saya jatuh cinta pertama kali kepada Carpenters pada tahun 1971, saat saya bersekolah di Yogya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK. Kalau Anda belum tahu Carpenters, ini bocoran terjemahan lagu-lagu yang saya minta tadi. 1. &lt;i&gt;Jawahe Nggrejih Ing Dinten Senin&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Udane Ra Leren-Leren Lan Dinten Senin&lt;/i&gt; = Rainy Days And Mondays dan 2. &lt;i&gt;Caket Sliramu = Close To You.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya cadangan permintaan lagu lainnya, yaitu : (1) &lt;i&gt;Owolen/Rogohen Awakku Pas Aku Nayub Karo Sliramu&lt;/i&gt;, (2) &lt;i&gt;Tresno Iku Pasrah Bongkokan&lt;/i&gt;, (3) &lt;i&gt;Saling Nglarani&lt;/i&gt;, dan (4) &lt;i&gt;Aku Ga Gelem Pas Dinaku Mati Tanpo Sinanding Sliramu&lt;/i&gt;. Anda bisa menebak jusul asli bahasa Inggrisnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya nekak-nekuk boso Jowo itu sekedar melampiaskan kumat saya, yang pengin bongkar kenangan dan gelitikan serupa, saat saya sekolah di Yogya. Dulu itu saya dan teman sehobi saya, Bambang Tamtomo Adiguno dan Muhamad Umar Hidayat, suka guyon nyebut lagunya The Beatles, Come Together, menjadi &lt;i&gt;Rawuh Sesarengan&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang nyuruh-nyuruh saya saat ini, untuk hal di atas adalah Dana A. Snow, guru lawak saya, bahwa menerjemahkan judul lagu yang sudah terkenal ke bahasa lain saja itu sudah bisa mengundang tawa. Terbukti tidak bagi Anda ? Dana A. Snow itu punya formula lawakan yang beda dari Judy Carter, juga beda dibanding Gene Perret. Mungkin disitu keunikan lawak, semakin berbeda-beda akan semakin OK saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Agustusan ! Sukses untuk Anda semua,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam Episto ergo sum,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang Haryanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAMPIRAN : DISKUSI MANFAAT BLOG DI KOMUNITAS BLOGFAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam keluarga BlogFam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai Demokrat, partainya Presiden SBY, mungkin akan segera mengumumkan bahwa para blogger akan dilarang di negara ini. Ide pelarangan itu muncul dari Roy Suryo, pakar TI asal Yogya, kini jadi tokoh TI Partai Demokrat. Mengapa ? Karena Roy Suryo pernah menulis surat-surat pembaca di Harian Suara Merdeka (2/2/05) dan Solopos (1/2/2005), dengan menyebut, walau tidak secara eksplisit, bahwa blog itu norak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda sudah pernah baca, bukan ? Apa pendapat Anda ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sori, berita pelarangan dari PD-nya SBY itu memang tidak serius. Itu berita guyon. Tetapi apa yang ditulis oleh Roy Suryo itu benar-benar ada. Sampai-sampai Komunitas Blog Indonesia (Enda Nasution dkk) memberi hadiah Valentine (2/2005) kepada Roy, dengan menyebut Roy rupanya ingin limpahan kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun sebagai blogger pemula, yang masih banyak ingin belajar dari Anda para warga BlogFam ini, ya ikutan protes. Selain nulis di kolom surat pembaca Kompas Jogja (14/6/2005) juga telah saya tulis uneg-uneg saya di blog saya Esai Epistoholica (&lt;a href="http://esaiei.blogspot.com/"&gt;http://esaiei.blogspot.com/&lt;/a&gt;), berjudul : Revolusi Blog dan Epistoholik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kabar yang lebih hot : Olimpiade 2012 bakal batal diselenggarakan di London. Mengapa ? Jawabannya, silakan Anda tengok di situs blog saya lainnya, Komedikus Erektus ! (&lt;a href="http://komedian.blogspot.com/"&gt;http://komedian.blogspot.com/&lt;/a&gt;). Dalam ocehan saya berjudul : Klub Komedi, Kapan Hadir Di Negeri Ini ? : Pertanyaan Wong Wonogiri Anggota New York Comedy Club, Amerika Serika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian dulu posting perdana saya sebagai warga milis BlogFam ini. Terima kasih untuk perhatian Anda. Mohon maaf bila ada kesalahan di sana-sini. Sampai jumpa di obrolan mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam :&lt;br /&gt;Bambang Haryanto-Wonogiri&lt;br /&gt;Jawa Tengah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diposting : Selasa, 2 Agustus 2005, Jam 10-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RESPONS -------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From: Firdaus Siagian &lt;milisdauss@yahoo.com&gt;&lt;br /&gt;Sender: bloggerfamily@yahoogroups.com&lt;br /&gt;Subject: Re: [bloggerfamily] Blog Itu Norak (Kata Roy) dan Olimpiade 2012 London Dibatalkan !&lt;br /&gt;Date: Thu, 4 Aug 2005 06:27:52 -0700 (PDT)&lt;br /&gt;To: bloggerfamily@yahoogroups.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roy Suryo butuh kasih sayang makanya ngedumel ttg blog ? Hehehe lucu juga yah Sementara dia sendiri suka ngomentarin poto bugil org beken. Mana yg lebuih norak ya? Ah, sesukaannya orang-orang emang beda-beda....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[daus]&lt;br /&gt;www.firdaussiagian.blogdrive.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From: Toar Andi Sapada &lt;toarsapada@gmail.com&gt;&lt;br /&gt;Sender: bloggerfamily@yahoogroups.com&lt;br /&gt;Subject: Re: [bloggerfamily] Blog Itu Norak (Kata Roy) dan Olimpiade 2012 London Dibatalkan !&lt;br /&gt;Date: Thu, 4 Aug 2005 22:20:30 +0800&lt;br /&gt;To: bloggerfamily@yahoogroups.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;iya ya... saya jadi kasihan sama roy suryo yang karena ketidaktahuannya akhirnya nggak merasakan nikmatnya nge-blog :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From: Firdaus Siagian &lt;milisdauss@yahoo.com&gt;&lt;br /&gt;Sender: bloggerfamily@yahoogroups.com&lt;br /&gt;Subject: Re: [bloggerfamily] Blog Itu Norak (Kata Roy)&lt;br /&gt;Date: Sat, 6 Aug 2005 10:37:10 -0700 (PDT)&lt;br /&gt;To: bloggerfamily@yahoogroups.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar nambahin komentar gue ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun terakhir ini gue sering ngamatin wacana tentang kultur cyber vs. kultur cetak (printed culture). Debat yang gue simak mulanya dari debat tentang sastra cyber dan sastra cetak (spesifiknya lagi, sastra koran, tema yang sering diusung Kompas dalam penerbitan antologi cerpen terbaik Kompas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara general, anggapan yang meremehkan kultur cyber itu adalah kualitas tulisan cyber yang "murahan" dan sampah. Nggak ada bedanya ama tulisan seorang ABG di diary. Mereka membandingkan dengan tulisan yang dimuat dalam media cetak, yang tentunya udah melewati proses seleksi redaksi. Sementara, dalam kultur cyber--apalagi blog--, seleksi pastinya dilakukan oleh si pemilik blog itu yang adalah penulisnya sendiri. Walaupun ada juga beberapa situs cyber yang menerapkan proses seleksi dalam pemuatan sebuah karya (ini biasanya dilakukan oleh sebuah situs publik macam www.cybersastra.net, misalnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model self-selected oleh si penulis sendiri ini pastinya memang subyektif. Tapi kalau membandingkan dengan proses yang dilakukan redaksi media cetak, toh sama saja. Pasti ada juga unsur subyektivitas yang ditentukan oleh selera si redaksi. (Ogut sendiri kagak percaya ama yang namanya obyektivitas murni).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Suryo bisa aja bilang blog itu norak, karena nggak memuaskan seleranya. Tapi belum tentu buat si penulis blog yang udah capek-capek nulis dan mempublikasikannya dengan harapan pemikirannya (atau, curhatannya) bisa dibaca oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ogut sendiri ngelihat tren blog sebagai proses demokratisasi: setiap orang boleh mengungkapkan pandangan, pemikiran atau sekedar curhatannya, tanpa dibebani oleh kepentingan apakah itu akan membuat orang lain merasa suka atau nggak. Dalam kultur cyber--dan weblog kalau mau dispesifikasi--ogut percaya setiap orang bebas bicara dan bertangungjawab sepenuhnya ama tulisannya. Dunia tanpa penyensoran mensyaratkan sikap tanggungjawab penuh seorang individu. Inilah yang gue pikir kelebihan blog dibanding tulisan yang dipublikasi liwat media cetak/elektronik yang sarat kepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bolehlah puisi seseorang dalam blognya dianggap nggak bagus. Tapi perlu dilihat dulu, dalam anggapan siapa? Kacamata redaktur media mapan kerapkali diberati oleh perbandingan orang yang dianggap "tokoh", dan perasaan subyektivitasnya. Saya, anggaplah sebagai misal, bisa saja menganggap puisi saya bagus dan layak dipublikasikan (baca:subyektivitas versi saya), tapi karena ditolak media mapan (baca: berdasarkan subyektivitas redaktur), maka saya salurkan dalam weblog dengan harapan bisa menyebar puisi saya, syukur-syukur menyebarkan "virus sastra" genre baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Opini-opini atawa pandangan-pandangan yang disebar liwat blog bolehlah dianggap subyektif dan tak berdasar. Tapi bukankah setiap opini memang selalu subyektif (artian opini adalah bagaimana si penulis memandang suatu hal dari sudut pandang pribadinya). Termasuk opini yang disebar liwat media mapan itu. Hanya saja perbedaannya, opini dalam media mapan pastinya ada lah persinggungan kesamaan subyektivitas dengan pandangan si redaktur atawa misi si media tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi makanya saya pikir lucu kalau Roy Suryo memandang blog-culture sebagai sesuatu yang norak. Itu pandangan subyektif Roy. Namun kita juga harus menghargai pandangannya itu sebagai proses demokrasi (yang adalah jargon penting dalam cyber-culture). Dan adalah sah-sah juga kalau mahluk blogger mengkritisi pandangan Roy. Roy nggak boleh marah atawa ngambek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Roy, dan yang lainnya, bisa mencari referensi ttg cyberpunk yang, konon menurut para penggemar cultural studies, sedikit banyak menyinggung topik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam. Semoga bisa menambah wacana :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[dausz!]&lt;br /&gt;www.firdaussiagian.blogdrive.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang Haryanto &lt;epsia@plasa.com&gt;wrote:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam keluarga BlogFam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai Demokrat, partainya Presiden SBY, mungkin akan segera mengumumkan bahwa para blogger akan dilarang di negara ini. Ide pelarangan itu muncul dari Roy Suryo, pakar TI asal Yogya, kini jadi tokoh TI Partai Demokrat. Mengapa ? Karena Roy Suryo pernah menulis surat-surat pembaca di Harian Suara Merdeka (2/2/05) dan Solopos (1/2/2005), dengan menyebut, walau tidak secara eksplisit, bahwa blog itu norak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From: "zeventina" &lt;zeventina@yahoo.com&gt;&lt;br /&gt;Sender: bloggerfamily@yahoogroups.com&lt;br /&gt;Subject: [bloggerfamily] Blog itu norak kata Roy? Masukan buat mas Firdaus Siagian..&lt;br /&gt;Date: Sun, 07 Aug 2005 19:21:46 -0000&lt;br /&gt;To: bloggerfamily@yahoogroups.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini aku sadur dari bloggerian forum. Karena isinya bagus banget buat mematahkan 'pandangan'nya Roy Suryo yang bilang Blog itu norak..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah benar ngeblog = goblog? Baiklah kita mulai menggunakan sedikit aktivitas otak kita untuk mencerna berbagai data dan fakta berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian Adi Onggoboyo dalam "Suatu Fenomena Sociocyber yang Unik dan Dinamis" pada bulan Oktober 2004 yang lalu mengungkapkan bahwa 95,26% dari 211 blogger Indonesia menyatakan bahwa mereka merasa mendapatkan hal-hal positip setelah menjadi blogger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal positip tersebut diuraikan lagi oleh Adi Onggoboyo sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meningkatkan Gairah Hidup 2,98%&lt;br /&gt;Lebih Disiplin 0,49%&lt;br /&gt;Semangat Prestatif 3,98%&lt;br /&gt;Menjalin dan memperbanyak relasi/kawan/persahabatan 48,75%&lt;br /&gt;Rajin menulis/meningkatkan kemampuan/produktivitas menulis 8,95%&lt;br /&gt;Lebih kreatif/ekspresif/inspiratif/motivatif 4,47%&lt;br /&gt;Menambah berbagai wawasan 3,98%&lt;br /&gt;Lega bisa berbagi 2,48%&lt;br /&gt;Lain-lain 7,96%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gabungan beberapa poin diatas 15,92%&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data tersebut, Adi Onggoboyo menyimpulkan bahwa blog dapat dijadikan sebuah alternatif bagi pengembangan diri dari berbagai sisi, tidak hanya sekedar tulis menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian diatas semakin menguatkan pandangan bahwa blog itu memiliki nilai manfaat yang cukup besar dibandingkan dengan nilai negatifnya. Berikut ini beberapa manfaat yang membuat aktivitas ngeblog bukanlah suatu penggoblokan belaka tapi sebaliknya ngeblog adalah aktivitas pencerdasan jika dilihat melalui bidang studi saya yaitu Psikologi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. NgeBlog itu Merangsang Otak.&lt;br /&gt;Aktivitas ngeBlog, mulai dari membuat desain blog sampai dengan menulis blog tiap waktu merupakan suatu proses mental otak yang melibatkan jutaan sel pada otak. Rangsangan tersebut membuat rantai-rantai neuron menjadi aktif dan dimulainya proses mielinisasi (myelin adalah sejenis protein lemak yang dikeluarkan oleh otak untuk melapisi hubungan antara dendrit ketika kita menerima suatu informasi yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang peneliti otak yang bernama Dr. Marian Diamond telah menghabiskan waktu tiga puluh tahun untuk mengadakan rangkaian percobaan tentang otak. Hasilnya disimpulkan bahwa pada umur berapapun sejak lahir hingga mati, adalah mungkin untuk meningkatkan kemampuan mental otak dengan rangsangan lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian prinsipnya bahwa semakin terangsang otak dengan aktivitas intelektual dan interaksi lingkungan, semakin banyak jalinan yang dibuat antara sel-sel otak. Ini dapat dibuktikan dengan membandingkan jumlah jalinan sel otak pada tikus hasil percobaan Diamond. Tikus yang otaknya terus menerus dirangsang memiliki jumlah jalinan yang lebih banyak dibandingkan tikus yang tidak diberi rangsangan pada otaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. NgeBlog itu Menyehatkan Jiwa dan Raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngeblog berkaitan erat dengan aktivitas menulis blog, penelitian Adi Onggoboyo menunjukkan bahwa 27,48% dari 211 blog berisi mengenai curhat pribadi, 21,23% adalah renungan/refleksi, dan ide-ide pemikiran14,69%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini juga dikuatkan dengan survei yang dilakukan octave.or.id yang mendapatkan 52,46% dari 122 blogger memilih menulis blognya dengan curhat/diary. Mengapa ngeblog dapat dikatakan menyehatkan jiwa? Dari hasil data survei diatas dapat diasumsikan jika sebagian besar blogger telah melakukan perilaku katarsis dengan mencurahkan perasaannya melalui tulisan pada blognya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katarsis menurut Kamus Lengkap Psikologi karangan J.P. Chaplin adalah pembebasan atau pelepasan ketegangan-ketegangan dan kecemasan-kecemasan dengan jalan mengalami kembali dan mencurahkan keluar kejadian-kejadian trumatis di masa lalu, yang semula dilakukan dengan jalan menekan emosinya ke dalam ketidaksadaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menuliskan perasaan-perasaan yang muncul terutama hal-hal negatif akan memberikan rasa puas dan lega (Dr. Pennebaker). Menulis blog sebagai media katarsis lebih bermanfaat daripada melakukan aksi kekerasan. Emosi-emosi yang tersimpan dalam ketidaksadaran akan membuat seseorang semakin cemas, dan pada saatnya kecemasan tersebut akan termanifestasikan dengan perilaku agresifitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya: Kebrutalan para polisi, Kebrutalan para pendemo, Kebrutalan seorang ayah yang tega membunuh anaknya. Blog sebagai media katarsis akan mengarahkan blog sebagai suatu media psikoterapi alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini saya dan kolega saya di UPTB (Unit Pengembangan Teknologi Belajar) Psikologi UGM sedang mengembangkan suatu sistem pemanfaatan blog sebagai media psikoterapi masa depan yang rencananya akan diimplementasikan ke publik sekitar bulan Agustus 2005 (Lagi butuh dana infrastruktur neh.. ada yang mau jadi sponsor ga? hehehe:).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada ungkapan yang mengatakan di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat, begitu pula sebaliknya karena tubuh dan jiwa merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Pelepasan emosi melalui menulis di blog akan memberikan efek relaksasi bagi tubuh sehingga fungsi tubuh akan kembali mencapai keadaan homeostatis. Keadaan stress memicu tubuh untuk selalu dalam keadaan tegang, dan semakin lama ketegangan tersebut akan memperlemah pertahanan tubuh dan selanjutnya akan mempengaruhi fungsi organ tubuh. Dengan demikian semakin kita rajin melampiaskan emosi dalam tulisan blog kita semakin terjaga tubuh kita dari berbagai ancaman penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Ngeblog itu Suatu Proses Pembelajaran&lt;br /&gt;Aktivitas menulis blog merupakan proses belajar. Ketika kita mengungkapkan perasaan kita melalui suatu blog, kita akan belajar untuk mengenal perasan-perasaan dan emosi-emosi yang muncul dari suatu peristiwa dalam keseharian kita. Semakin sering kita menyadari hal tersebut semakin lama kita semakin mengenal diri kita sendiri sehingga pada situasi yang sama, kita akan belajar untuk mengontrol emosi&lt;br /&gt;tersebut. Hal ini merupakan salah satu dari dasar pemikiran Aaron Beck yang terkenal dengan terapi kognitifnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas membaca blog orang lain juga merupakan proses belajar. Ketika kita membaca blog orang lain, tak jarang kita menerima informasi baru tentang berbagai hal. Secara tak langsung pengetahuan baru atau pengalaman orang lain tersebut akan mengendap dalam pikiran kita sehingga pada suatu saat dimana kita mengalami hal yang sama kita secara sengaja atau tidak, kita akan menggunakan pengetahuan tersebutuntuk memecahkan masalah yang kita hadapi. Hal ini dapat diterangkan lebih lanjut melalui teori belajar kognitif yang dikembangkan oleh Kohler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada perilaku-perilaku ketika ngeblog yang bisa dicurigai sebagai sebuah proses pembelajaran, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Memberikan komentar : belajar mengungkapkan pendapat, belajar menerima pendapat orang lain, belajar menerima perbedaan, belajar untuk memahami orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Memberikan sapaan dalam ShoutBox : belajar untuk memulai dan mempertahankan suatu interaksi sosial, belajar untuk memberi perhatian, belajar untuk berafiliasi satu dengan yang lain, belajar memberi apresiasi terhadap suatu blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian ngeblog merupakan suatu proses pembelajaran dan pengembangan kepribadian bagi diri blogger itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Ngeblog itu Melatih Perilaku Afiliasi dalam Interaksi Sosial&lt;br /&gt;Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar tentang hal ini, tetapi saya akan menunjukkan suatu fenomena kedekatan hubungan sosial yang tercipta antara blogger hanya karena saling membaca blog satu sama lain. Tidak jarang kita dapat melihat komentar-komentar yang mengesankan suatu hubungan keluarga dekat dalam blog seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;58,29% dari 211 blogger dalam penelitian Adi Onggoboyo mengatakan komunikasi melalui blog membuat mereka merasa cepat akrab. 51,65% dari 211 blogger merasa lebih akrab berkomunikasi via blog dengan temannya yang sudah dikenalnya dalam dunia nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saling berbagi cerita dan pengetahuan membuat seseorang mulai mengenal seseorang yang lainnya secara lebih mendalam. Keterbukaan dan kepercayaan akan menciptakan suatu jalinan afiliasi yang dapat pula menumbuhkan hubungan emosi blogger yang satu dengan yang lainnya meskipun tidak melakukan pertemuan fisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi NgeBLOG TIDAK SAMA DENGAN goBLOG. Ngeblog bukanlah suatu kegoblokan semata, hal ini baru ditinjau dari segi psikologis saja dan itupun masih banyak yang terlewat. Saya yakin teman-teman dalam bidang studi lainnya juga punya alibi yang kuat untuk menghancurkan prejudice yang semena-mena dari seseorang yang malas melakukan penelitian dan terjun di dalamnya. (maafkan diriku :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog juga bukan sekedar trend, tetapi merupakan suatu kebutuhan manusia yaitu untuk mencapai kebutuhan yang paling tinggi dalam hirarki kebutuhan Abraham Maslow yaitu Kebutuhan untuk Aktualisasi Diri. Jadi jangan heran jika dalam diri setiap orang terdapat upaya untuk menunjukkan eksistensinya sebagai manusia, dan salah satu caranya adalah dengan ngeBLOG ! Viva Blogger Indonesia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Octave Ken Manungkarjono&lt;br /&gt;Staff UPTB Psikologi UGM&lt;br /&gt;&lt;a href="http://kenz.web.ugm.ac.id/"&gt;http://kenz.web.ugm.ac.id/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;blog adalah suatu media web online yang digunakan untuk mengungkapkan&lt;br /&gt;dan mengekspresikan pikiran, emosi dan perilaku seseorang atau&lt;br /&gt;kelompok sebagai jawaban atas kebutuhan interaksi sosial dan&lt;br /&gt;aktualisasi diri untuk menunjukkan eksistensinya sebagai manusia dari&lt;br /&gt;waktu ke waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tina,&lt;br /&gt;http://www.cintaku.de/tina1&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-112407404070135970?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/112407404070135970/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/08/bila-tembang-carpenters-judulnya.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/112407404070135970'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/112407404070135970'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/08/bila-tembang-carpenters-judulnya.html' title='Bila Tembang Carpenters Judulnya Berbahasa Jawa Sampai Obrolan Manfaat Blog Menurut Kajian Ilmu Psikologi'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-15276676.post-112364123050146799</id><published>2005-08-09T19:30:00.000-07:00</published><updated>2005-08-14T19:53:34.030-07:00</updated><title type='text'>Pertama Kali Saat Jatuh Cinta Kepadamu :  Carpenters</title><content type='html'>Saya jatuh cinta kepada lagu-lagu Carpenters sekitar tahun 1971-1972. Saat itu saya bersekolah di Yogyakarta, di STM Negeri 2, Jetis, Jurusan Mesin. Saya tinggal di Dagen. Melalui Radio Geronimo, saat itu lagu Karen dan Richard Carpenter yang menyapa saya untuk pertama kali menyukainya, adalah : “For All We Know”.&lt;br /&gt;Kemudian juga “Superstar”, dan baru saya ketahui di tahun 2005 ini bahwa kedua lagu tersebut tergabung dalam Album "The Singles 1969-1973". Tahun 1973-an saya pindah ke Solo, lagu Carpenters yang hadir saat itu adalah “Yesterday Once More”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paparan lagu-lagu mereka saat itu hanya melalui radio. Baru pada tahun 2002, ketika saya memiliki komputer, saya mulai menghimpun dan menjalin keping-keping pengetahuan saya terdahulu mengenai mereka. Saya pun mengoleksi CD, kemudian melalui Internet semakin terbuka mata saya untuk mengenal kekayaan lagu-lagu mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan tidak jarang, lirik-lirik lagu mereka saya jadikan ilustrasi untuk tulisan-tulisan saya di pelbagai situs blog saya di Internet. Sekadar contoh :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya menyukai lagu-lagu Carpenters. Lagu terbaiknya, &lt;i&gt;We’ve Only Just Begun&lt;/i&gt;. Lagu ini didaulat sebagai &lt;i&gt;soundtrack&lt;/i&gt; semangat jaman yang dikobarkan Robert T. Kiyosaki, bahwa dunia kita ini baru mulai, menapaki Abad Informasi yang ditandai saat runtuhnya Tembok Berlin, 1988.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang lagunya Carpenters yang terindah, &lt;i&gt;Rainy Days And Mondays&lt;/i&gt;. Juga menyukai &lt;i&gt;American Pie&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Castles In The Air&lt;/i&gt; atau pun &lt;i&gt;Vincent&lt;/i&gt; dari Don McLean. Menyukai gelora kumpulan suporter sepakbola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senang mengoleksi humor, tetapi masih terus tak yakin diri untuk berani menerjuni impian sebagai &lt;i&gt;stand-up comedian&lt;/i&gt; seperti Steve Martin sampai Azhar Usman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Termuat di blog saya, &lt;a href="http://bukabeha.blogspot.com"&gt;BukaBuka Beha&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wonogiri, 10 Agustus 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bambang Haryanto&lt;br /&gt;Wonogiri&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/15276676-112364123050146799?l=undagi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://undagi.blogspot.com/feeds/112364123050146799/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/08/pertama-kali-saat-jatuh-cinta-kepadamu.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/112364123050146799'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/15276676/posts/default/112364123050146799'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://undagi.blogspot.com/2005/08/pertama-kali-saat-jatuh-cinta-kepadamu.html' title='Pertama Kali Saat Jatuh Cinta Kepadamu :  Carpenters'/><author><name>Bambang Haryanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03850417972401345252</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='27' height='32' src='http://i30.photobucket.com/albums/c334/humorliner/Bh_bw_175.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry></feed>
